แชร์

Tolong Aku Mas!

ผู้เขียน: PwanChaa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-01 15:54:15

Di parkiran rumah sakit, Bambang mencoba menghubungi Bianca berkali-kali tetapi tidak ada jawaban. Ia berdecak dan berjalan menuju resepsionis.

“Maaf, Dokter Bianca sedang istirahat, Bapak. Mungkin bisa ditunggu terlebih dahulu.” Kata Resepsionis. Bambang mengerutkan dahi, ia menatap tajam resepsionis itu membuat orang yang ditatapnya gemetar, “Dokter Joko ada?”

Bambang berlari ke arah ruang direktur utama rumah sakit setelah resepsionis itu mengatakan bahwa ia ada diruangannya sekarang. Saat Bambang membuka pintu ruang, Dokter Joko ternyata sudang menunggunya, “Dokter Joko, aku butuh mengecek CCTV rumah sakit.”

Dokter Joko tidak menolak, ia memberikan akses kepada Bambang melalui login di CCTV akses milik rumah sakit melalui ponselnya untuk sementara.

Bambang mengecek CCTV dan terlihat Bianca sudah dipojokkan oleh dokter senior cabul. Bambang melotot, tensinya naik, bahkan Dokter Joko berusaha menenangkannya. Dokter Joko bilang bahwa Dokter Rio adalah anak dari pemilik Rumah Sakit, kakak Dokter Joko, akan sangat susah untuk menegurnya tetapi ia juga bilang bahwa ia akan membantu Bambang untuk memberi pelajaran terhadap ponakannya sendiri. Dokter Joko juga sudah muak dengan keponakannya sendiri.

Bambang mengangguk, ia memberikan ide cemerlangnya kepada Dokter Joko.

***

Seorang gadis muda dengan setelan dokter berusia sekitar dua puluh lima tahun sedang disudutkan di jalur evakuasi rumah sakit dengan seorang pria paru baya yang menggunakan setelan yang sama, “Ayolah sayang, kamu tidak perlu ‘sok jual mahal’ begitu denganku! Layanilah dengan baik.” Pria itu memegang pundak gadis itu- yang ternyata Bianca, anak pertama Tuan Herman.

“Ayolah Bianca, kamu tidak perlu ‘sok jual mahal begitu denganku! Layanilah aku dengan baik.” Seorang pria paruh baya mencoba memegang pundak Bianca. Dia adalah Dokter Rio, salah satu dokter senior rumah sakit itu.

“Sialan, jangan sentuh aku!” Bianca menepis kedua tangan dokter senior itu. Meski begitu ia sangat takut jika namanya tercoreng atas tuduhan palsu.

Bianca, seorang gadis muda berumur dua puluh lima tahun, berwajah cantik dan tajam. Ia sangat perfeksionis dengan segala hal yang berkaitan dengan hidupnya.

“Kamu ini terlalu galak! Aku ini sudah berbaik hati untuk menawarkan jasa bantuanku. Kamu hanya perlu melayaniku dengan tubuhmu yang menggoda itu dan semua masalahmu itu beres!” Goda Rio, ia menyentuh bokong Bianca, tanpa pikir panjang Bianca menampar Rio.

Plakk!

Rio melotot, ia menarik rambut Bianca, memojokkannya ke sudut tembok. Dengan napsu yang membara, ia mengendus kasar leher Bianca. Bianca mencoba berontak, tetapi tubuh dokter senior itu lebih kuat dibandingka tenaganya.

“Tolooong!” teriak Bianca. Rio terkekeh, “Berteriaklah sesukamu sayang, tidak akan yang mendengarkan suara indahmu. Lebih baik kamu mendesah untukku saja.”

Bianca menahan tangisnya, Rio mencoba membuka baju Bianca, “Jangan ditahan sayang, buka saja!”

Kini kedua buah dada besar Bianca terlihat, ia memakai BH merah maroon yang menggoda membuat Rio mengeluarkan air liurnya.

“Wah lekuk badanmu sangat indah, benar-benar seperti pemeran aktris dewasa.” Rio mulai melanjutkan mengendus dan menjilati tubuh Bianca yang sedang terekspos sekarang.

“K-ku mohon berhentila-” Bianca menggigit bibirnya mencoba untuk tidak mengeluarkan suara agar Rio tidak semakin senang, ia merasa hina dengan kelemahannya sekarang.

“Tuhan, tolong aku! Jika ada yang menolongku sekarang. Maka aku akan membalas kebaikannya.” Bianca berdoa didalam hatinya.

“Ah.. mantap sekali dadamu.” Rio menciumi dada besar.

“T-tolong hentikan...” lenguh Bianca. Rio tidak memerdulikannya hingga-

BRAAKK!

Pintu darurat terbuka, seorang pria dengan tongkat bisbol ditangannya. Aura pria itu mematikan bahkan bisa terlihat kabut hitam disekitarnya.

“Siapa itu?!” teriak Rio, ia kaget ada seseorang bisa membuka pintu darurat padahal sebelumnya ia sudah menguncinya dari dalam.

Pria itu tidak menjawab, ia melangkah dengan berat. Memegang tongkat bisbol itu dipundaknya. Rio mengernyitkan dahinya, ia menatap pria itu dengan tatapan menyepelekan.

“Tuan, jangan menganggu orang yang sedang bercinta atau kupanggilkan satpam rs biar kamu diusir,” ucap Rio.

Bianca tertegun sejenak melihat pria yang berjalan didepannya, itu Bambang. Orang yang mengaku menjadi pengganti ayahnya, untuk apa dia berada disini? Bianca menyilangkan tangannya, menutup kedua buah dadanya yang besar.

“Tuan, kamu mendengarku atau ti-“

Tongkat bisbol ditangan bambang diayunkan, melewati wajah Rio menabrak ke tembok. Retakan bekas hantaman tongkat itu terlihat. Rio menatap mata Bambang yang dipenuhi rasa ingin membunuh.

“Jangan sentuh, Dokter Bianca!” Bambang menarik kerah baju Rio, membuat Rio tidak bisa bergerak.

“Si-siapa kamu?!”

“Apa itu penting sekarang?!” Hentak Bambang, ia melemparkan Rio ke dinding. Bambang berjalan mendekati Bianca, “Kamu baik-baik saja sekarang, tenang saja tak usah takut.”

Bambang memberikan jaket yang ia kenakan dan menutupi tubuh Bianca. Bambang menatap seseorang yang harusnya ia lindungi telah dinodai oleh dokter cabul sialan itu.

Bianca memegang lengan Bambang, “Aku takut, Mas..” tangan Bianca gemetar, air matanya hampir tumpah. Bambang memandangi wajah cantik Bianca yang terlihat ketakutan.

Tensi Bambang semakin mendidih, ia berjalan mendekati Rio yang sedang tertatih untuk bangkit, menarik kerah bajunya, dan menonjok tepat di wajah Rio hingga tiga kali.

Rio kelimpungan hampir kehilangan kesadaran, Bianca menarik lengan Bambang, “Mas.. udah mas.. Dia anak pemilik rumah sakit.”

“Biar saja, memang kenapa jika dia anak pemilik rumah sakit,” murka Bambang, Bianca menarik Bambang, membuatnya menghadap tepat kearah Bianca. Membuat jaket yang sengaja untuk menutupi tubuh Bianca terbuka.

Bambang bisa melihat, kedua aset milik Bianca yang memang menggoda. Bambang memukul kepalanya sendiri, menyadarkannya dari pikiran bejadnya.

“Kamu tidak perlu khawatir, Aku punya rencana.” Dengus Bambang memalingkan wajahnya, reflek Bianca menutupi kedua dadanya dengan jaket yang diberikan Bambang lagi.

“Bianca, aku pasti akan membuatmu dikeluarkan dari Rumah Sakit ini!” teriak Rio. Ia masih memegang kedua pipinya yang biru, sudut bibir dan hidungnya yang mengeluarkan darah. Bambang mengambil tongkat bisbol yang berada di lantai, mengintimidasi Rio untuk tidak berbicara sekali lagi.

“Kamu Dokter Rio, ‘kan?” Bambang menaikkan satu alisnya.

“Iya, Benar! Kenapa? Kamu sekarang tahu kan siapa aku! Kupastikan si wanita jalang ini dikeluarkan dari-

Bugh...

Pukulan dari tongkat bisbol mendorong mundur badan Rio, “Siapa wanita jalang yang kamu maksud, sialan!” Bambang menjulurkan tongat bisbol kearah Rio, memaksanya untuk berhenti bicara.

“Aku tidak takut denganmu, keparat! Setidaknya kamu baca dokumen ini sebelum berbicara omong kosong.” Bambang melemparkan map merah, memaksa Rio untuk membacanya.

Rio dengan segan mengambilnya, ia tidak punya pilihan. Rio hanya pria paruh baya yang cungkring dan tidak berisi, bagaimana melawan Bambang yang kekar dan berotot. Jelas kalah lah!

Rio membuka map itu, betapa terkejutnya itu adalah laporan atas nama diri untuk tuduhan pencemaran nama baik, dan pelecehan seksual. Dokumen itu lengkap dengan bukti praduga, kronologi, serta bukti pendukung foto Rio sedang memojokkan Bianca beberapa kali diruangan prakteknya.

“Sialan! Foto ini palsu!” Rio mengelak, Bambang maju mendekati Rio, membuat Rio mundur menahan dirinya agar tidak diserang tiba-tiba oleh Bambang.

“Ini adalah bukti rekaman CCTV dan aku sudah memegang rekamannya! Kalau kamu masih mengelak, aku akan membawa laporan ini langsung ke pihak berwajib.”

Rio mengepalkan tangannya, ia tidak terima dirinya diperlakukan seperti itu. Rio menyipitkan matanya, “Kalau begitu aku akan melaporkanmu atas tuduhan kekerasan.”

Bambang terkekeh, “Laporkan saja kalau kamu mau, mana buktinya!” Rio menunjuk CCTV, “Ada CCTV diarea ini! Kamu kira aku bodoh!”

Bambang tersenyum mengejek Rio, ia menjelaskan apabila Rio membuka CCTV itu maka tuduhan atas pencemaran nama baik dan pelecehan itu jelas terbukti, “Kalau begitu, kita impas, kan? Namamu sebagai dokter senior akan tercoreng dan izin praktikmu bisa dicabut sedangkan aku tidak ada masalah berhadapan dengan hukum selagi membela nonaku sendiri.”

Rahang Rio mengeras, ia menggigit bibirnya sendiri. Ia dijebak oleh kelakuannya sendiri. “Baiklah, aku tidak akan melaporkanmu dan juga membersihkan nama Bianca, tapi laporan itu kamu berikan padaku!”

“Baiklah, aku akan memberikan ini setelah kamu mencabut surat peringatan pada dokter Bianca dan mengakui itu bukan kesalahan dokter Bianca serta...

Bambang menghentakkan kakinya mendekati Rio, “Jauhi dokter Bianca, atau kupastikan bahwa praktik illegalmu ku laporkan ke Konsil Kesehatan Daerah.”

Rio melebarkan matanya, seakan ia kini berada diujung kematian. Bambang mengetahui kartu Asnya. Rio tersenyum manis-terpaksa, Bambang membalas senyuman itu sebagai tanda kesepakatan mereka berdua telah diputuskan.

Bianca melihat kejadian didepannya masih bertanya-tanya apa yang sedang mereka berdua lakukan. Ia memegang dadanya, jantungnya berdebar sedari tadi. Bambang sungguh memikat pandangannya apalagi ketika membela dirinya, ada sedikit rasa panas yang muncul dan membuatnya nyaman. Rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

**

“Terimakasih Tuan Bambang, kamu sudah menangani ponakanku itu.” Dokter Joko mengetuk pelan pundak Bambang.

“Santai saja dokter, masalah seperti ini saya biasa menghadapinya. Tolong jaga dokter Bianca selama dia praktik disini,” ujar Bambang dengan ramah. Dokter Joko tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Ngomong-ngomong, tongkat bisbolku ini kamu buat apa?” tanya Dokter Joko sembari memegang tongkat bisbolnya.

“Ah... aku hanya perenggangan tadi, tongkat itu bagus, Dok! Kapan-kapan kita bisa maen bareng hahaha” Bambang tertawa, tidak tahu saja bahwa tongkat itulah yang membuat keponakannya bertekuk lutut dengan Bambang.

Sementara itu, Bianca menunggu didalam mobil, perasaannya makin tak karuan. Ia merasa ada yang salah dengannya ketika melihat perlakuan Bambang sangat perhatian seperti itu.

Sreett

Pintu mobil terbuka, Bambang membawa teh kemasan dan memberikannya kepada Bianca, “Nona, minum dulu.”

Bianca melirik lalu menghempaskan teh kemasan itu hingga terjatuh, membuat Bambang kebingungan. Raut wajahnya memerah, Bianca menarik paksa kerah baju Bambang, membuat jarak antara wajah Bianca dengan Bambang hanya beberapa inchi saja.

“Apa yang kamu mau sebenarnya, hah!”

“Nona, aku hanya datang membantumu.” Bambang mengalihkan pandangannya, wajah Bianca yang sangat dekat membuatnya tidak bisa fokus pada topik masalah yang dibawa Bianca. Wajar saja, meski terkenal cukup galak, wajah Bianca memang sebegitu rupawannya bahkan bentuk tubuhnya pun menggoda.

“Kenapa kamu ‘sok ikut campur dengan masalahku, hah!” teriak Bianca. “Kamu pasti sama dengan pria lain yang hanya menginginkan tubuhku saja, kan!”

Bambang tidak bergeming, tidak mengelak, bahkan tidak menjawab sepatah katapun pertanyaan Bianca. Bambang yang hanya diam saja menambahkan rasa tidak nyaman dihatinya, seakan-akan mau meledak.

Wajah Bambang yang sangat dekat dengannya, membuat debaran jantungnya makin kencang. Dalam hatinya ia sudah bersumpah tadi akan membalas jasa siapapun yang menolonganya dan itu- Bambang! Jika Bambang menjawab iya sekarang juga pada pertanyaan Bianca, maka ia sudah siap menyerahkan dirinya pada Bambang.

Tiba-tiba tangan kekar Bambang menyentuh pipi Bianca dan.....

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Menunggu

    Sudah hampir 3 hari Bambang di rumah sakit, setelah mengalami demam tinggi. Setelah Bianca meninggalkannya sendirian dan Bambang menelan obatnya. Ternyata Bambang memejamkan matanya, panasnya tidak kunjung reda malah tambah tinggi.Diana yang awalnya mau menanyakan Bambang tentang kunjungan dokter selanjutnya kepada Bambang, membuka pintu kamar Bambang dan melihat Bambang yang sudah menggigil kedingin mengigau nama seseorang.“Kakek Ron… Kakek Ron..” Diana tanpa pikir panjang langsung menelpon Bianca. Itu pertama kalinya dia menelpon anak tirinya itu.Tuuut.. tuttt..“Halo, ada apa sih?” tanya Bianca dari telepon, seperti biasa ia masih sangat judes kepada Diana.Diana tidak mengambil pusing saat ini karena dia sudah amat sangat panik dengan kondisi Bambang, “Bianca, tolong mama… Mas Bambang badannya panas banget ini loh, Mama gak tahu harus apa…” Jantung Bianca seperti tersambar petir, padahal tadi ia sudah memberikan obat penurun demam kepada Bambang, kenapa masih tak kunjung reda

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Bangun

    Setelah itu Bambang hanya mengingat dirinya dibawa ke kantor polisi dan membuat sok 1 panti. Ia juga dihajar habis-habisan oleh ayah Rusdi. Seperti kata Rosyid sebelumnya, keluarga Rusdi itu keluarga terpandang, sebaiknya tidak pernah membuat masalah dengan Rusdi.Bambang kembali dengan tubuh babak belur, penuh dengan ancaman dan hinaan. Ia menggigil, tidak menjawab dengan semua ancaman yang dilantamkan kepadanya. Sampai di panti pun ia masih dicaci maki oleh pihak panti. Ia bahkan diancam akan dibuang jika tidak menjadi anak yang penurut lagi.Bambang pun mendapatkan skorsing dari pihak sekolah selama 1 bulan full, begitu pula dengan pihak panti yang mengurungnya di asrama dan hanya diberi makan 1X sehari. Bambang hanya bisa menahan rasa lapar dan hausnya setiap hari. Ia duduk di sudut kamarnya, menunggu siapapun mengajaknya berbicara tapi tidak ada yang berani mendekat ke arah kamarnya.Bambang merasa benar-benar terjatuh. Dia hanya anak kelas 3 SMP yang masih memasuki masa puber, k

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Melawan!

    “Kamu gila, Mbang?” Rosyid membelalakkan matanya tidak percaya dengan pilihan Bambang yang segila itu. Ia menepuk pundak Bambang sekali lagi, memastikan Bambang benar-benar yakin akan melakukan hal ekstrim seperti itu. Bambang hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia memang sudah memiliki niat. Ia bahkan dengan santai lanjut makan bekalnya tidak menghiraukan Rosyid yang menggelengkan kepalanya tidak percaya.“Seriuslah Mbang, yang kamu lawan itu si Rusdi. Kakak kelas kita yang dikenal rajanya tawuran. Orang tuanya itu polisi, Mbang. Udahlah mending gak usah ya,” pinta Rosyid dengan memohon kepada Bambang agar tidak mencari keributan dengan Rusdi.Bambang menepis Rosyid, “Kenapa? Kamu di pihak Rusdi atau aku?” Rosyid menggarukkan kepalanya, ia benar-benar bingung kali ini. Ia jelas memilih Bambang tapi ia tidak bisa menjamin nasib Bambang ke depannya jika berurusan dengan Rusdi.“Mbang, plis lah pikiran sekali lagi.”Bambang tidak merespon, ia malah menutup kotak bekalnya dan me

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Ngehajar!

    Kakek Ron menatap Bambang yang memohon padanya, ia lalu memegang pundak Bambang dan duduk di sebuah kursi tua yang sudah hampir ambruk. “Kenapa sebenarnya? Ini masalah percintaan atau apa?” tanya Kakek Ron, Bambang duduk di sebelah kursi yang Kakek Ron duduki. “Aku hanya ingin membuktikan bahwa diriku bukan orang yang lemah dan mudah dimanfaatkan, Kek!” ujar Bambang, ia memainkan tangannya. “Bela diri itu baik untuk dipelajari, tapi kamu hanya bisa menggunakannya untuk membela dirimu saat kamu sedang tersudut bukan untuk melawan atau membully orang yang tidak bersalah,” jelas Kakek Ron. Bambang mendangakkan kepalanya menatap Kakek Ron. “Tentu saja aku ingin membela diriku, Kek. Aku hanya ingin membuktikan bahwa diriku ini juga pantas untuk dihargai dan tidak takut meski mereka jauh lebih tua dariku.” Penjelasan itu cukup membuat Kakek Ron menganggukkan kepalanya, ia memainkan janggutnya yang panjang itu seolah sedang mempertimbangkan pemintaan Bambang. “Aku bisa saja mengajarim

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   bela diri

    Bambang dan Rosyid sama-sama terkejut, mereka bahkan tidak bisa berkata-kata.“Gila Mbang, gilaaaak!” Rosyid memukul Bambang, begitu juga dengan Bambang yang memukul balik Rosyid.“Gilaaaaakkk Syid,” ujar Bambang, meski gemetar dan jantungnya terasa seperti ditusuk jarum berulang kali tapi perbuatan Yanti benar-benar cukup berani. “Aku harus gimana, Syid?” tanya Bambang dengan suara bergetar, Rosyid menggelengkan kepalanya dengan wajah yang benar-benar kosong, ia tidak bisa memikirkan apapun.“Mending kita balik aja Syid.” Bambang menarik tangan Rosyid, ia memilih untuk mengalah daripada berjuang mempertahankan hubungan yang hanya beberapa hari.Rosyid mengangguk, mereka berbalik badan.Kreeeekk…Kaki Rosyid menginjak ranting tanaman, memecahkan keheningan yang ada membuat mereka berdua yang sedang beraktifitas di sana langsung berhenti dan cepat-cepat memakai celana.“Siapa di sana?!” teriak laki-laki itu. Ia langsung bergegas berlari ke arah sumber suara. Yanti pun mengikuti arah l

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Heran

    Bambang menarik bibir Yanti, memasukkan lidahnya ke dalam sana, Yanti kaget tetapi tidak menolak. Ia membalas ciuman Bambang yang membuat Bambang semakin ganas. Meski itu pertama kalinya untuk Bambang tapi ia sudah bergerak dengan sangat liar. Yanti adalah ciuman pertamanya.Malam dingin itu tidak lagi terasa dingin di tengah cumbuan panas mereka berdua. Benar kaya Rosyid, berciuman itu memang sangat enak sekal. Bahkan bibir Yanti benar-benar terasa sangat manis.“Mnmmnn…” desah Yanti yang sudah kehabisan napasnya. Mereka berdua menyelesaikan ciuman itu dengan tawaan yang sangat manis. Karena jam malam Yanti sudah dekat, mereka akhirnya memutuskan pulang. Bambang memanggil Rosyid yang sibuk bermain catur dengan temannya.“Berarti kita resmi pacaran, Mbang?” tanya Yanti, Bambang terdiam. Dengan malu-malu, ia mengangguk pelan.Mereka berdua saling melambaikan tangan ketika Rosyid berada di depan hadapan Bambang.“Dihh.. dihh.. siapa yang kemarin katanya gak mau pacaran sekarang malah p

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status