Home / Mafia / Obsesi Sang Penguasa / 56. Tenggang Waktu

Share

56. Tenggang Waktu

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-03-25 12:00:27

“Dia mau kemana?”

Di lobby, Ivanka tidak sengaja berpapasan dengan Byakta. Pria itu melihatnya, tapi dia tidak menyapa atau sekedar tersenyum seperti biasanya.

Agak sakit memang, tapi Ivanka justru tersenyum karena rencananya sudah berjalan lancar. Byakta mulai menjauh dan membencinya. Tanpa dia sadari, ada banyak rencana yang sedang di atur di kepala pria itu.

“Mana kuncinya—”

Ivanka melihat Byakta yang sudah mengulurkan tangan pada supirnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Sang Penguasa   81. Byakta Siuman?

    “Sialan!” Umpat Ivanka seraya melempar tasnya ke sofa. Dia mencengkram ujung meja. Wajah Davian terus terbayang di kepalanya. Saking emosinya, dia sampai tidak sadar kalau Rival sudah ada di ruang kerjanya. Pria itu menatap Ivanka heran. “Ada apa?” Suara berat Rival berhasil membuat Ivanka menoleh cepat. “Sejak kapan kamu disini?” “Cukup untuk melihatmu yang sedang emosional, hari ini.” Ivanka mendengus kasar. “Lalu… apa yang kamu lakukan di ruanganku?” Rival tidak menjawab. Dia masih menyelesaikan pengontrolan sistem Obsidian Central dengan kacamata yang sedikit turun. Karena tidak mendapat jawaban, Ivanka bergerak dan duduk di samping Rival. Dia bermaksud untuk membahas Davian. Namun ada keraguan yang sempat terlintas di kepalanya beberapa saat. “Mau bicara apa?” tanya Rival yang sudah menyadari lebih dulu. Di momen ini, Ivanka semakin yakin kalau Rival dan Byakta tidak ada bedanya. Dia sama-sama dingin, sama-sama keras, dan waspada. Dia bahkan bisa tahu niat seseoran

  • Obsesi Sang Penguasa   80. Davian

    Sudah hampir satu minggu Byakta masih belum ada perubahan. Dia seperti nyaman dengan posisinya saat ini. Tidur tanpa memikirkan tekanan dari sang ayah. Berbeda halnya dengan Ivanka yang sibuk bekerja di Bagaspati Group. Harus meeting sana-sini. Bertemu beberapa investor yang dijadwalkan akan bertemu Byakta sebelumnya. Rasanya bukan hanya Rival yang menginginkan dia sibuk sepanjang hari, tapi Bagaspati juga. Pria tua menyebalkan itu seperti sengaja tidak memberinya waktu untuk berdekatan dengan putranya. “Kopi susu satu aja,” ucap Ivanka pada pelayan barista. Kini dia sedang duduk di sebuah cafe yang cukup elit yang letaknya tidak jauh dari Bagaspati Group. “Baik.” Matanya mengedar. Karena masih saja, ada yang mengikutinya. Bukan orang jahat, melainkan orang-orang Bagaspati yang seperti tidak percaya dengan langkahnya. Baru saja hendak membuka laptopnya, siluet tegap membuat wanita itu mengangkat kepalanya. Dia mengernyit heran. Karena tepat di depannya, ada seorang

  • Obsesi Sang Penguasa   79. Seberapa Jauh Kami Akan bertindak

    “Obat?” ulangnya pelan, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri. “Jadi selama ini Ayahku memang punya cara?” Bagaspati tidak langsung menjawab. Senyum tipisnya masih tergantung, seolah menikmati bagaimana setiap potongan informasi perlahan meruntuhkan pertahanan Ivanka. “Pertanyaan yang bagus,” gumamnya santai. “Sayangnya, ayahmu bukan tipe orang yang suka berbagi sebelum waktunya tiba.” Ivanka mengepalkan tangannya. Napasnya mulai berat. Semua potongan mulai terhubung di kepalanya. Tatapannya perlahan beralih ke arah Byakta yang masih terbaring lemah. Selang oksigen terpasang, monitor terus berbunyi pelan, seolah menjadi pengingat bahwa waktu pria itu semakin sempit. “Dia sekarat, dan kalian masih bermain teka-teki seperti ini?” tanya Ivanka seraya menampilkan senyum mirisnya. Dia bahkan menggeleng merasakan ketidakwarasan para orang tua ini. Rival yang berdiri di sampingn

  • Obsesi Sang Penguasa   78. Ayah? Ayah Seperti Apa?

    Ivanka kembali duduk. Rasanya semua kenangan buruk tentang ayahnya beberapa tahun sebelum sang mama meninggal kembali membuat Ivanka tersadar sesuatu. Semua kejadian itu seperti memiliki benang yang sama. Dimulai ketika Kaveri sering mengunjungi klub malam dan berjudi sampai pagi. Dan akhirnya dia berani menggadaikan dan menjual semua harta yang selama ini mereka kumpulkan. Ivanka juga mengingat malam sebelum sang mama meninggal ada perdebatan serius di antara Kaveri dan sang mama. Kaveri seperti membahas tentang dirinya yang terlibat organisasi berbahaya. Dan memintanya untuk melakukan jalan ekstrim demi bisa menyelamatkan keluarganya. “Pantas saja Mama malam itu marah besar,” gumam Ivanka pelan. “Jadi organisasi itu adalah Arkanza—” Ivanka sedikit mengernyit ketika Bagaspati tiba-tiba saja duduk di sampingnya. Pria tua itu bahkan mengulurkan tangannya di belakang tubuh

  • Obsesi Sang Penguasa   77. Yang Baru Aku Tahu

    “Dia koma… Ivanka.”Ucapan Rival masih menggantung diudara. Ivanka masih membeku di tempatnya. Dia baru saja pergi sebentar, tapi kondisi pria itu bahkan sudah sampai separah ini. Ivanka menggeleng. Dia kembali mengingat betapa gagahnya Byakta ketika mereka pertama kali bertemu. Pria itu seperti tidak bisa disentuh sembarangan orang. Tapi sekarang, semua kondisinya jadi berbalik dengan sangat cepat.Pria dingin yang dulu selalu membuatnya muak, yang selama ini ia anggap sebagai biang masalah di kehidupannya. Kini sudah seperti mayat hidup, yang terbaring dengan ventilator dan alat medis yang tidak semuanya dia ketahui. Bahkan di bagian kepalanya ada banyak sekali kabel-kabel asing yang menempel.Jemari Ivanka yang bergetar, perlahan menyentuh kening Byakta yang sedikit berkedut. Pria itu seperti sudah tahu kalau Ivanka sedang ada di sampingnya. Ivanka sedikit membungkuk. “Aku disini,” bisiknya tepat di telinga Byakta. Tak kuasa menahan haru, air mata Ivanka jatuh tepat di kening By

  • Obsesi Sang Penguasa   76. Pesan Terakhir Byakta

    “Rival!” teriakan dokter dari kamar Byakta, membuat Rival yang baru saja hendak memejamkan mata langsung bangun. Dia berdiri, lalu berlari menuju kamar. Tubuhnya menegang saat melihat tubuh Byakta yang kembali mengejang dengan mata terpejam. Garis di monitor bergerak sangat cepat. Bunyinya yang sangat memilukan membuat bulu kuduk Rival berdiri secara bersamaan. “Ada apa?” tanya Rival dengan suara tertahan. Dia melangkah cepat, lalu memegang tangan Byakta yang kini meremas selimutnya tanpa sadar. “Tuan… Tuan besar mana?” Dokter itu kembali menatap Rival. Wajahnya tegang dan pucat pasi. Keringat di pelipisnya mulai mengalir. “Rival… Tuan mana?” Rival mengerjap cepat. Dia menatap Byakta yang masih mengejang. Lalu menggeleng samar. “Aku tidak tahu,” sahutnya. “Aku sudah mencarinya, tapi beliau tidak ada.” Rival sedikit membungkuk. Dia memegang puncak kepala Byakta dan juga tangannya. “Dok, lakukan apapun supaya kejangnya hilang. Tolong!” Tanpa diminta, sebenarnya dokter itu masih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status