author-banner
Nawasena
Nawasena
Author

Novels by Nawasena

Obsesi Sang Penguasa

Obsesi Sang Penguasa

Ivanka Biandra Kaveri tidak pernah membayangkan hidupnya akan ditukar dengan sebuah kontrak. Dalam satu malam, ia dipindahkan ke penthouse tertinggi di Obsidian Central, sebuah benteng kaca antipeluru yang lebih menyerupai sangkar emas daripada tempat tinggal. Di sanalah ia harus hidup di bawah kendali Byakta Dinadiyaksa Bagaspati. Pengusaha muda paling berpengaruh di kota. Penguasa sistem yang tak pernah tersentuh hukum. Pria yang dunia gelapnya jauh lebih dalam dari yang terlihat. Tapi semakin Ivanka mencoba melawan, semakin ia menyadari satu hal mengerikan, bahwa Byakta tidak mengikatnya dengan ancaman. Ia mengikatnya dengan perlindungan. Ketika sindikat Arkanza mulai bergerak, ketika masa lalu eksperimen manusia mulai terungkap, ketika pengkhianatan muncul dari orang terdekat, dan ketika rahasia lama keluarga mereka terkuak, Ivanka menemukan kenyataan bahwa kontrak ini bukan sekadar kesepakatan bisnis. Ia adalah bagian dari hutang lama. Bagian dari perang yang sudah dimulai sebelum ia lahir. Disaat dia brusaha menjauh, dia justru kembali mendapat kenyataan kalau semua penderitaan Byakta berpusat dari keluarganya.
Read
Chapter: 108. Aku Tidak Menyalahkanmu
Pintu mobil tertutup keras. Mesin langsung meraung, melesat meninggalkan gedung tua itu dengan kecepatan tinggi. Suara tembakan masih terdengar samar di belakang, perlahan menghilang ditelan jarak. Di dalam mobil, suasana justru jauh lebih sunyi. Namun sunyi itu cukup menyesakkan. Byakta bersandar di kursinya. Satu tangannya mencengkram pelipis, napasnya berat dan tidak teratur. Rasa nyeri di kepalanya datang lagi. Kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ivanka menoleh cepat. Dia memegangi pundak pria itu dengan tangan gemetar. “Byakta…” Tidak ada jawaban. Pria itu hanya memejamkan matanya, rahangnya mengeras menahan sakit yang tidak kunjung hilang. “Cepat!” seru Rival dari kursi depan. “Kita harus keluar dari area ini sekarang!” Sopir langsung menambah kecepatan. Mobil berbelok tajam, hampir kehilangan kendali sebelum kembali stabil. Ivanka mendekat. Tangannya terangkat, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh pipi Byakta. “Kamu kenapa?” bisiknya pelan. “Apa sakit lagi?
Last Updated: 2026-04-19
Chapter: 107. Menghancurkan Rencananya
Suara tembakan masih menggema di seluruh ruangan. Serpihan kaca jatuh, bau mesiu memenuhi udara, dan langkah kaki berlarian di berbagai arah. Namun di tengah kekacauan itu, “Byakta berhenti!” Tangan yang tadi siap menarik pelatuk, kini tertahan di udara. Tubuhnya menegang saat merasakan tangan Ivanka melingkar di pinggangnya. Dan ini terlalu dekat untuk diabaikan. “Ivanka… lepaskan,” gumamnya rendah. “Menjauh dariku. Aku harus melenyapkan mereka semua.” Tapi Ivanka justru mengeratkan pelukannya. Wajahnya bersandar di punggung Byakta, napasnya tidak stabil. Dia juga bisa merasakan hawa panas di tubuh Byakta karena terlalu emosi. “Aku mohon,” bisiknya lagi. “Kalau kamu terus seperti ini, kamu tidak akan bisa keluar dari sini.” Byakta mengatupkan rahangnya. Tatapannya masih tajam ke depan, tapi fokusnya mulai goyah. Di sisi lain ruangan, Davian menyeringai meski bahunya berdarah. “Menarik,” gumamnya pelan. “Jadi ini titik lemahnya.” Pria utama itu mengangkat tangannya sedikit. “
Last Updated: 2026-04-19
Chapter: 106. Kemarahan Byakta
Langkah Byakta tidak terhenti. Bahkan ketika bayangan masa lalu berusaha menariknya mundur, dia justru melangkah lebih dalam. Setiap sudut bangunan itu terasa terlalu familiar—lorong sempit, dinding lembab, bau logam yang samar. Semua masih sama. Dan itu membuat dadanya terasa semakin sesak. “Sebar,” perintahnya singkat. “Jangan sampai ada akses untuk keluar.” Orang-orangnya langsung bergerak menyusuri lorong dari dua arah. Suara langkah kaki mereka menggema, berpadu dengan ketegangan yang semakin menebal. Rival tetap di belakang Byakta. Tatapannya waspada, tangannya tidak jauh dari senjata. “Bos… hati-hati. Mereka tidak akan diam saja,” gumamnya. “Mereka pasti sudah lebih dulu tahu kedatangan kita.” Byakta tidak menjawab. Pistol di tangannya sudah siap. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan fokus. Sementara itu, di dalam ruangan utama, suasana sudah berubah total. Beberapa orang bersiap di posisi masing-masing. Senjata mulai dikeluarkan. Tidak ada lagi kesan santai seperti se
Last Updated: 2026-04-18
Chapter: 105. Tempat terkutuk
Rival tidak membuang waktu lagi. Tangannya langsung bergerak cepat, menghubungi beberapa orang kepercayaan. Suaranya berubah tegas, jauh dari biasanya yang tenang. “Semua unit, siaga. Kirim tim ke titik koordinat yang saya kirim sekarang. Jangan bergerak sebelum ada perintah lanjutan.” Panggilan terputus. Mobil kembali melaju, kali ini dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Jalanan malam terbelah oleh cahaya lampu depan yang tajam. Tidak ada yang berbicara. Namun suasana di dalam mobil terasa seperti bom waktu. Byakta masih menatap layar. Titik lokasi itu tidak bergerak. Tetap di sana. Di tempat yang seharusnya tidak pernah lagi dia datangi. Rahangnya mengeras. “Berapa lama?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan. “Sepuluh menit, kalau jalanan lancar,” jawab Rival cepat. “Lima menit.” Rival melirik sekilas, lalu mengangguk. “Baik.” Tanpa bertanya lagi, dia langsung mempercepat laju mobilnya. Sementara itu, di dalam ruangan gelap itu, seorang pria mendekat dengan sebuah alat
Last Updated: 2026-04-18
Chapter: 104. Masuk Ke Sarang Musuh
Mobil hitam yang ditumpangi Ivanka berhenti di depan sebuah gedung tua di pinggiran kota. Lampu-lampunya redup. Tidak terlalu mencolok. Tapi jelas bukan tempat biasa. Ivanka turun perlahan. Dan Davian sudah menunggunya di sana. “Cepat juga,” ujarnya santai. Ivanka tidak membalas. Dia hanya menatap sekitar. Untung menghafal setiap inci dari tempat itu. Dia tahu kalau sesuatu yang buruk pasti akan terjadi kapanpun, dan dia sudah punya solusi kalau itu semua terjadi. “Gugup?” tanya Davian, sambil memindai wajah Ivanka yang begitu tenang. “Tidak.” Pria itu mengangguk, lalu menyentuh dagu Ivanka tanpa ragu. “Kamu begitu cantik malam ini.” Ivanka meliriknya tajam. “Aku tidak datang untuk diuji.” Davian terkekeh hambar. Penampilannya yang santai, hanya mengenakan sweater dan jeans, memang sangat berbeda dengan Byakta yang selalu tampil formal. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ivanka lebih menyukai penampilan Davian yang seperti ini. “Ikut saja. Dan jangan banyak bicara.”
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: 103. Menghadapi Kecurigaan Byakta
Malam datang lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin hanya terasa seperti itu bagi mereka yang sedang dikejar waktu. Ivanka berdiri di depan cermin. Gaun hitam sederhana melekat di tubuhnya, membentuk siluet yang lebih dewasa dan lebih dingin dari biasanya. Rambutnya dibiarkan terurai, dan sedikit bergelombang. Riasannya tipis, tapi cukup untuk menyembunyikan kelelahan di wajahnya. Dia menatap pantulannya lama. ‘Jangan jadi dirimu.’ Ucapan Davian terngiang lagi. Ivanka menghela napas pelan, lalu memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, sorot matanya berubah lebih tajam. Dua sudah siap dengan semuanya. Dia mengambil tas kecilnya, memastikan sesuatu di dalamnya masih ada. Jarum kecil. Obat penenang dosis ringan. Dan sebuah alat perekam mini. “Sekali masuk tidak ada jalan mundur,” gumamnya. “Tenang Ivanka. Di sini, hanya kamu manusia yang waras.” Di lantai bawah, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Byakta duduk di ruang tamu. dengan satu tang
Last Updated: 2026-04-17
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status