MasukIvanka masih bergeming. Tangannya masih menggenggam tangan Byakta, namun pikirannya sudah berlari ke tempat lain. Ke ruangan gelap di balik bar. Ke tatapan tajam seorang pria yang menawarkan kerja sama. Ke senyum tipis yang tidak pernah benar-benar hangat. “Ivanka.” Suara Rival dari belakang membuatnya sedikit tersadar. Pria itu berdiri di ambang pintu, menatap ke arah mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Dia bilang sesuatu?” Ivanka terdiam beberapa detik. Lalu, perlahan dia menggeleng samar. Dia juga tidak mengerti kenapa Byakta terlalu mengkhawatirkannya. “Tidak,” jawabnya tenang. “Dia tidak bilang apapun.” Satu kebohongan mulai terucap. Dan untuk pertama kalinya, Ivanka tidak merasa ragu saat mengatakannya. Dia merasa tidak punya kewajiban untuk menjawab jujur. Terlebih, Rival juga tidak jujur padanya dan selalu saja menutupi semuanya. Tatapannya kembali jatuh pada wajah Byakta yang kembali terlelap. Lalu tanpa sadar, jemarinya mengerat di sana. “Maaf,” bisiknya sa
“Ivanka… dari mana saja kamu?” tanya Rival yang ternyata sudah menghadangnya di depan pintu kamar rawat Byakta. Wanita itu tidak menjawab. Dia langsung melengos tanpa melirik Rival sedikitpun. Ivanka mendengus kasar. Malas sekali harus menanggapi pria over ini. Dia langsung melengos tanpa melirik Rival sedikit pun. Rival menghela napas kasar. Tangannya refleks menahan pergelangan Ivanka sebelum wanita itu benar-benar masuk ke dalam kamar. “Ivanka,” panggilnya lebih tegas. “Kita tidak sedang dalam posisi untuk saling menyembunyikan sesuatu, kalau kamu lupa.” Langkah Ivanka terhenti. Bahunya sedikit menegang, namun dia tidak langsung berbalik. Beberapa detik berlalu dalam diam, sebelum akhirnya dia perlahan menoleh. Tatapannya dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang baru saja keluar dari luar rumah sakit. “Aku hanya mencari udara,” jawabnya singkat. “Kamu tidak perlu khawatir soal itu.” Rival tertawa kecil tanpa humor. Pandangannya naik menatap Ivanka lebih dalam. “Den
“Bagus,” sahut Davian. “Aku juga tidak suka basa-basi.” Hening kembali menyapa keduanya. Tatapan mereka saling bertaut. Tidak ada yang mau mengalah. “Apa tujuanmu?” tanya Ivanka akhirnya. “Kenapa kamu mendekatiku?” Davian tidak langsung menjawab. Dia menyandarkan kepala, menatap langit-langit seolah pertanyaan itu terlalu sederhana untuk dijawab. “Karena kamu penting,” katanya. “Bukan hanya penting untukku, tapi untuk mereka semua.” Jawaban itu membuat Ivanka semakin curiga. “Penting bagaimana?” Davian menoleh pelan. “Kamu benar-benar tidak sadar?” “Berhenti memutar. Katakan yang sebenarnya.” Davian terkekeh pelan, seraya menggeleng samar. “Baiklah. Aku akan permudah.” Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Kamu adalah titik lemah dari beberapa orang paling berbahaya di kota ini.” Jantung I
Ivanka menatap Byakta yang masih terlelap. Dia tersenyum miris. Rupanya, pria keras di depannya memiliki begitu banyak masa lalu yang membuat orang menggigit bibir. Di tangannya sudah ada ponsel yang terus berdering. Sebelumnya, dia berhasil mendapatkan nomor ponsel Davian dari dari data tersembunyi yang akhirnya bisa dia buka. Wanita itu berencana untuk menemui Davian secara langsung. Dia ingin setidaknya bernegosiasi tentang segala hal. Karena dia berpikir kalau Davian sangat tertarik padanya. “Sabar, ya,” bisik Ivanka. Tangannya mengusap kening Byakta yang sudah berkerut. Pria itu seperti sadar kalau ada Ivanka di sampingnya. “Aku akan mencari cara untuk masuk ke sana.” Ivanka menegakkan tubuhnya, lalu bergegas pergi. Beruntungnya tidak ada siapapun termasuk Rival. Jadi dia tidak perlu mencari alasan kenapa harus pergi. Mobil merah maroon meluncur dengan kecepatan tinggi. I
Sementara itu, di sisi lain kota, mesin mobil meraung pelan saat berhenti di sebuah gudang tua yang nyaris tidak terjamah. Catnya sudah mengelupas, dan sebagian atapnya terlihat rapuh. Davian keluar tanpa terburu-buru. Tangannya masih dimasukkan ke dalam saku jaket. Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja bertemu dengan dua orang paling berbahaya di kota ini. Pintu gudang terbuka perlahan saat dia mendekat. Seorang pria menyambutnya dari dalam. “Semua sudah siap,” ucap pria itu. Davian tidak langsung menjawab. Dia melangkah masuk, matanya menyapu seluruh ruangan. Beberapa layar besar menyala. Data mengalir cepat di sana. Peta kota terpampang dengan titik-titik merah yang tersebar. Davian berhenti di depan salah satu layar. “Itu?” tanyanya singkat. “Pergerakan Bagaspati,” jawab pria itu. “Dan ini yang baru.” Dia menunjuk titik lain. Davian menyipitkan mata beberapa saat, sebelum akhirnya tersenyum puas. “Rumah utama,” gumamnya puas. “Dia sudah mula
Langit malam menggantung rendah di atas kota. Awan gelap menutup sebagian cahaya bulan, menciptakan bayangan panjang yang jatuh di setiap sudut jalan. Dunia terasa tenang di permukaan, namun dibalik itu, sesuatu sedang bergerak perlahan—dan berbahaya. Di dalam kamar Byakta, Ivanka masih belum beranjak. Tangannya masih menggenggam jemari pria itu, meskipun kini genggaman itu sudah jauh lebih lemah. Byakta masih terlelap. Napasnya stabil, tapi tubuhnya belum benar-benar pulih. Ivanka menatap wajah itu dalam diam. Ivanka menutup matanya perlahan. Kepalanya terasa berat. Dia membuka matanya kembali. Dan tatapannya sudah berubah lebih tajam. Perlahan, Ivanka melepaskan tangan Byakta—meski terasa berat. Dia berdiri, lalu melangkah keluar dari kamar itu. Begitu pintu tertutup, wajahnya langsung berubah. Tidak ada lagi air mata. Yang tersisa hanya tekad. Rival masih berdiri di lorong, tepat seperti sebelumnya. Seolah dia tidak pernah benar-benar pergi. Tatapan mereka bertemu untuk
“Aku tidak menyangka kalian akan datang langsung,” lanjut Davian. “Biasanya orang-orang seperti kalian lebih suka bersembunyi di balik orang lain.” “Langsung ke inti,” potong Bagaspati dingin. “Aku tidak punya waktu untuk basa-basi.” Davian terkekeh pelan. “Masih sama seperti dulu,” gumamnya. “Se
Ivanka masih duduk di sisi ranjang. Jemarinya tidak pernah lepas dari tangan Byakta, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya tetap berdiri di tengah semua kekacauan ini. Ruangan itu sunyi. Hanya suara mesin monitor yang berdetak pelan, mengisi celah-celah kecemasan yang terus merayap di dalam
“Apa?” bisik Ivanka lirih. Air matanya hampir saja mengalir. “Apa maksudmu?” Byakta memejamkan mata sejenak. Napasnya kembali tidak teratur. Beberapa detik kemudian, dia memaksa membuka matanya lagi. Tatapannya berubah penuh tekanan. “…bahaya…” Kini suara itu keluar dengan sangat jelas. Ivanka
Kaki Ivanka berhenti ketika melihat mata itu menatapnya. Mata yang sudah satu minggu lebih tertutup, akhirnya kini bisa meresponnya. Air mata tak tertahan lagi. Ivanka tersenyum dengan bulir bening yang tak pernah usai. Dengan langkah gontai, dia berjalan mendekat. Meraih tangan Byakta yang