ホーム / Mafia / Obsesi Sang Penguasa / 84. Titik Benturan

共有

84. Titik Benturan

作者: Nawasena
last update 公開日: 2026-04-07 14:55:47

Ivanka masih duduk di sisi ranjang. Jemarinya tidak pernah lepas dari tangan Byakta, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya tetap berdiri di tengah semua kekacauan ini.

Ruangan itu sunyi. Hanya suara mesin monitor yang berdetak pelan, mengisi celah-celah kecemasan yang terus merayap di dalam dadanya.

Tatapannya jatuh pada wajah Byakta yang kembali terlelap. Napasnya lebih stabil, walaupun masih tetap berat. Setiap tarikan napasnya seperti sebuah perjuangan.

Ivanka menunduk. Kata-kata i
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Obsesi Sang Penguasa   85. Bukan Sekedar Peringatan

    “Aku tidak menyangka kalian akan datang langsung,” lanjut Davian. “Biasanya orang-orang seperti kalian lebih suka bersembunyi di balik orang lain.” “Langsung ke inti,” potong Bagaspati dingin. “Aku tidak punya waktu untuk basa-basi.” Davian terkekeh pelan. “Masih sama seperti dulu,” gumamnya. “Selalu merasa di atas segalanya.” Tatapan Bagaspati menajam, lalu senyum penuh siasat mulai terpancar. “Kenapa kamu disini?” Davian mengangkat bahu. “Bukankah kalian yang memanggilku?” Kaveri langsung menoleh cepat ke arah Bagaspati. “Dia—” “Diam,” potong Bagaspati tanpa melihatnya. Davian memperhatikan itu dengan senyum samar. Menarik. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku akan langsung saja.” Tanpa rasa gemetar sedikitpun, Davian maju satu langkah. “Eksperimen kalian sudah terlalu jauh.” Udara diantara mereka seolah menegang. Kaveri mengalihkan pandangan jauh ke samping. Sedangkan Bagaspati masih tetap diam. “Chip itu,” lanjut Davian. “Kalian tahu dampaknya. Kalian tahu resikonya. Tapi

  • Obsesi Sang Penguasa   84. Titik Benturan

    Ivanka masih duduk di sisi ranjang. Jemarinya tidak pernah lepas dari tangan Byakta, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya tetap berdiri di tengah semua kekacauan ini. Ruangan itu sunyi. Hanya suara mesin monitor yang berdetak pelan, mengisi celah-celah kecemasan yang terus merayap di dalam dadanya. Tatapannya jatuh pada wajah Byakta yang kembali terlelap. Napasnya lebih stabil, walaupun masih tetap berat. Setiap tarikan napasnya seperti sebuah perjuangan. Ivanka menunduk. Kata-kata itu kembali terngiang. Tentang jangan dekat, bahaya, jangan percaya, dan tentang ayahmu bukan satu-satunya. Jemarinya mengerat. Kalau ayahnya bukan satu-satunya lalu siapa lagi? Arkanza? “Davian…” Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya. Pria asing dengan senyum santai itu. Cara bicaranya yang seolah tahu segalanya. Dan tatapannya yang tidak pernah benar-benar hangat. Ivanka memejamkan mata sejenak. Dia yakin kalau ini bukan sekedar peringatan. Itu terasa seperti ancaman yang dibungkus den

  • Obsesi Sang Penguasa   83. Apa Yang Dia Sampaikan

    “Apa?” bisik Ivanka lirih. Air matanya hampir saja mengalir. “Apa maksudmu?” Byakta memejamkan mata sejenak. Napasnya kembali tidak teratur. Beberapa detik kemudian, dia memaksa membuka matanya lagi. Tatapannya berubah penuh tekanan. “…bahaya…” Kini suara itu keluar dengan sangat jelas. Ivanka menggeleng pelan. “Aku sudah tahu itu. Aku sudah tahu semuanya, Byakta. Tentang Arkanza, tentang ayahku—” “…A… yah… ku…” Nama itu membuat tubuh Ivanka langsung menegang. Jemarinya yang semula menggenggam tangan Byakta, kini justru terasa dingin. “Apa? Ada apa dengan ayahmu?” tanya Ivanka dengan suara yang sedikit menurun. “Kamu jangan terlalu khawatir, ya.” Byakta tidak langsung menjawab. Napasnya kembali memburu. Matanya bergerak pelan, mencari sesuatu, atau mungkin sedang memastikan sesuatu. “…ja… ngan… per… ca… ya…” Ivanka menahan napasnya beberapa saat. Ucapan Byakta membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Semua potongan yang selama ini berserakan di kepalanya, mulai tersusun de

  • Obsesi Sang Penguasa   82. Bertemu Tatap

    Kaki Ivanka berhenti ketika melihat mata itu menatapnya. Mata yang sudah satu minggu lebih tertutup, akhirnya kini bisa meresponnya. Air mata tak tertahan lagi. Ivanka tersenyum dengan bulir bening yang tak pernah usai. Dengan langkah gontai, dia berjalan mendekat. Meraih tangan Byakta yang sudah sedikit terangkat. Pria itu belum bicara, karena memang ventilator masih berada di kerongkongannya. Dia hanya berkedip. Namun cukup untuk membuat tubuh Ivanka meremang. “Kamu selalu saja membuatku takut,” lirih Ivanka, sambil duduk di sisi ranjang. Tempat di mana kursi sederhana itu berada. Byakta kembali berkedip. Dia mengeratkan genggaman di jemari lentik yang dingin itu. Tak lama dokter pribadi datang bersama para perawat untuk membuka ventilator. Awalnya mereka ragu, karena terakhir kali dipasang, paru-paru Byakta memang sudah tidak merespon. “Bisa dimulai sapih ventilatornya?” bisik sang dokter. Matanya tertuju pada Byakta. Pria itu hanya berkedip pelan. Dengan san

  • Obsesi Sang Penguasa   81. Byakta Siuman?

    “Sialan!” Umpat Ivanka seraya melempar tasnya ke sofa. Dia mencengkram ujung meja. Wajah Davian terus terbayang di kepalanya. Saking emosinya, dia sampai tidak sadar kalau Rival sudah ada di ruang kerjanya. Pria itu menatap Ivanka heran. “Ada apa?” Suara berat Rival berhasil membuat Ivanka menoleh cepat. “Sejak kapan kamu disini?” “Cukup untuk melihatmu yang sedang emosional, hari ini.” Ivanka mendengus kasar. “Lalu… apa yang kamu lakukan di ruanganku?” Rival tidak menjawab. Dia masih menyelesaikan pengontrolan sistem Obsidian Central dengan kacamata yang sedikit turun. Karena tidak mendapat jawaban, Ivanka bergerak dan duduk di samping Rival. Dia bermaksud untuk membahas Davian. Namun ada keraguan yang sempat terlintas di kepalanya beberapa saat. “Mau bicara apa?” tanya Rival yang sudah menyadari lebih dulu. Di momen ini, Ivanka semakin yakin kalau Rival dan Byakta tidak ada bedanya. Dia sama-sama dingin, sama-sama keras, dan waspada. Dia bahkan bisa tahu niat seseoran

  • Obsesi Sang Penguasa   80. Davian

    Sudah hampir satu minggu Byakta masih belum ada perubahan. Dia seperti nyaman dengan posisinya saat ini. Tidur tanpa memikirkan tekanan dari sang ayah. Berbeda halnya dengan Ivanka yang sibuk bekerja di Bagaspati Group. Harus meeting sana-sini. Bertemu beberapa investor yang dijadwalkan akan bertemu Byakta sebelumnya. Rasanya bukan hanya Rival yang menginginkan dia sibuk sepanjang hari, tapi Bagaspati juga. Pria tua menyebalkan itu seperti sengaja tidak memberinya waktu untuk berdekatan dengan putranya. “Kopi susu satu aja,” ucap Ivanka pada pelayan barista. Kini dia sedang duduk di sebuah cafe yang cukup elit yang letaknya tidak jauh dari Bagaspati Group. “Baik.” Matanya mengedar. Karena masih saja, ada yang mengikutinya. Bukan orang jahat, melainkan orang-orang Bagaspati yang seperti tidak percaya dengan langkahnya. Baru saja hendak membuka laptopnya, siluet tegap membuat wanita itu mengangkat kepalanya. Dia mengernyit heran. Karena tepat di depannya, ada seorang

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status