LOGINJejak di Argentina Malam itu, kegelapan merayap perlahan menyelimuti kota Madrid, membawa serta keheningan yang amat pekat di kediaman mewah Castello. Rumah megah berarsitektur klasik yang biasanya memancarkan kemewahan dan kejayaan itu kini terasa begitu hampa, dingin, dan mencekam, seolah-olah seluruh kehangatan di dalamnya telah tersedot habis oleh skandal besar yang mengguncang pagi tadi. Lampu-lampu gantung kristal di ruang tamu utama membiaskan cahaya temaram yang samar. Di atas sofa kulit berwarna cokelat tua, Sovia duduk terdiam sendirian. Postur tubuhnya yang biasa tegak dan dipenuhi keangkuhan kini tampak terkulai rapuh. Tatapannya kosong mengarah pada lantai marmer yang dingin, tak sanggup berkata apa-apa lagi setelah kebenaran terkuak sepenuhnya. Seluruh kebanggaan, harga diri, dan pertimbangan status sosial yang selama ini dipertahankannya secara mati-matian hancur berantakan dalam sehari. Kebenaran pahit bahwa ia telah mendorong putranya ke pelukan seorang kriminal ser
: Pernikahan Batal dan Hukum Keadilan Atmosfer di dalam gereja megah itu perlahan-lahan berubah menjadi canggung dan sarat akan ketegangan. Jarum jam dinding besar berukir perak di dekat pintu masuk terus berdetak, melewati menit demi menit dari jadwal acara yang telah ditentukan. Alunan musik organ yang semula membimbing suasana sakral kini terdengar pengulangan nada yang makin cemas. Para tamu undangan kelas atas yang memenuhi barisan bangku kayu jati mulai merasa resah. Suara bisik-bisik kasak-kusuk merayap pelan di antara kerumunan elit kota Madrid tersebut, merusak keheningan anggun yang sebelumnya terjaga rapi. "Mengapa upacaranya belum dimulai?" tanya seorang wanita bergaun sutra biru pada rekannya di sampingnya. "Apakah terjadi sesuatu di belakang panggung?" sahut pria paruh baya bertuksedo dengan dahi berkerut heran. "Ini sudah lewat hampir setengah jam dari jadwal pemberkatan." Di kursi barisan paling depan, Sovia Castello mulai merasa tidak tenang. Postur tubuhnya yang
: Konfrontasi Sebelum Altar Suasana manis nan elegan mewarnai ruang pengantin wanita yang terletak tidak jauh dari lorong samping altar gereja. Aroma wewangian mawar putih dan lilin aromaterapi menyeruak lembut di udara. Di tengah ruangan yang dihiasi cermin berukir emas dan lampu-lampu temaram yang hangat, Valeria duduk di depan meja rias berukuran besar. Jemarinya yang lentik menyentuh lembut gaun pengantin sutra yang membalut tubuhnya, sementara riasan wajahnya memancarkan pesona penuh kemenangan. Seorang perias wanita yang berdiri di sampingnya sibuk merapikan helai demi helai rambut Valeria agar terpasang sempurna bersama mahkota berlian kecil di kepalanya. Perias itu menatap pantulan wajah Valeria dari cermin dengan senyum mengagumi. "Fernando pasti akan terpesona saat melihatmu," puji seorang perias di ruang pengantin dengan nada penuh ketakjuban. Valeria tersenyum manis. Kepuasan membuncah di dalam dadanya, melapisi jiwanya dengan rasa bangga yang luar biasa. Sanjungan itu
: Kebenaran Empat Tahun Lalu Suasana di dalam gereja megah berarsitektur klasik di pusat kota Madrid itu kian riuh dan semarak. Alunan musik organ yang dimainkan secara lembut bergema halus, memenuhi setiap sudut ruangan bertiang tinggi dan berdinding batu pahat tersebut. Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui kaca patri berwarna-warni membiaskan pendar redup nan indah di atas karpet merah tebal yang terbentang lurus menuju altar. Gereja tua itu mulai dipenuhi oleh ratusan tamu undangan kelas atas. Anggota keluarga besar Castello hadir dengan mengenakan pakaian formal terbaik mereka—para pria berbalut jas buatan penjahit ternama dan para wanita mengenakan gaun malam yang anggun berhias perhiasan mewah. Tak hanya lingkaran keluarga, jajaran pebisnis ternama dari berbagai sektor industri Spanyol, tokoh-tokoh masyarakat yang disegani, hingga para jurnalis dan media papan atas berkumpul di sana untuk menyaksikan peristiwa besar hari itu: pernikahan sang konglomerat muda berda
Sedangkan ditempat yang berbeda Pantulan di balik cermin berbingkai ukiran emas itu memperlihatkan sosok wanita anggun bertubuh tinggi semampai. Gaun pengantin berwarna putih bersih buatan perancang busana ternama Eropa itu tampak melekat sempurna di tubuh Valeria. Kain sutra berkilau yang berpadu dengan renda buatan tangan menyapu lantai marmer ruang rias yang mewah. Cahaya lampu gantung kristal di atas kepala memantul indah pada titik-titik berlian yang tersemat rapi di sepanjang sulaman gaun tersebut. Valeria berdiri di depan cermin besar itu dengan senyum puas yang nyaris tak bisa lagi ia sembunyikan. Bibirnya yang terpoles lipstik merah merekah membentuk kurva penuh kebanggaan. Dengan perlahan dan penuh penghayatan, jemarinya yang lentik mengusap lembut sebuah cincin berlian berukuran besar yang melingkar cantik di jari manis tangan kirinya. Kilau berlian itu seolah menjadi simbol dari segala perjuangan, manipulasi, dan ambisi yang selama ini ia rakit dengan cermat. Hari in
## **Bab 120: Rumah yang Sesungguhnya** Sore harinya, langit di atas kota pinggiran Buenos Aires berhiaskan nuansa jingga dan keemasan yang memukau. Angin sore bertiup sepoi-sepoi, membawa kesegaran setelah seharian matahari memancarkan hangatnya. Setelah menutup toko roti bersama Isabel dan menyelesaikan seluruh urusan pekerjaan, Aixa berjalan berdampingan bersama kedua anak kembarnya menuju arah rumah. Tangan kanan Aixa digenggam erat oleh jemari kecil Aaron, sementara tangan kirinya berada dalam genggaman hangat Elena. Langkah-langkah kecil kedua bocah itu di atas trotoar berbatu menciptakan irama yang menenangkan. Di sepanjang perjalanan pulang, halaman-halaman rumah tetangga dipenuhi oleh derai tawa warga lokal yang sedang menyiram tanaman atau bersantai di teras rumah mereka. "Mama, tahu tidak?" ujar Aaron antusias sambil mengayunkan tangannya yang menggenggam jemari Aixa. "Tadi di sekolah, Pak Guru cerita tentang burung elang yang bisa terbang sangat tinggi melintasi







