Share

Bab 29

Author: Caca
last update publish date: 2026-07-13 16:23:11

## Yang Mereka Butuhkan Hanyalah Didengarkan

Malam itu, suasana di mansion megah keluarga Castello terasa lebih dingin dan menyesakkan daripada sebelumnya. Ketukan pelan seorang pelayan yang mengantarkan nampan makanan ke lantai atas sudah cukup menjelaskan satu hal.

Aixa memilih mengurung diri di dalam kamarnya.

Ia sengaja menghindari ruang makan, tidak ingin berhadapan dengan pria yang dalam beberapa hari terakhir telah membalikkan dunianya.

Baginya, bahkan menghirup udara di sekitar Fern
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 79

    Napas Baru di Tengah Badai Keheningan yang pekat merayap masuk ke dalam kamar utama saat Marco membungkuk hormat lalu melangkah keluar secara perlahan, menutup pintu kayu tebal itu tanpa suara. Kini, hanya tinggal Aixa dan Fernando yang tersisa di ruangan yang luas itu. Aixa masih duduk di tepi ranjang, mencengkeram lembaran surat pembatalan medis di tangannya. Kertas putih itu terasa begitu ringan, namun dampak yang dibawanya seolah mengguncang seluruh peta kehidupannya di Mansion Castello. Di ambang pintu, Fernando berdiri membisu. Pria itu tampak sangat lelah—garis-garis keletihan tercetak jelas di sekitar matanya, dan kemeja putihnya yang sedikit kusut menjadi saksi bisu betapa sengitnya perang kata-kata yang baru saja ia lewati bersama ibunya di lantai bawah. Aixa perlahan mengangkat pandangannya. Matanya yang sembap menatap sosok pria yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. "Fernando..." bisik Aixa lirih. Suaranya serak, menahan gelombang emosi yang mendesak di kerongko

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 78

    pengorbanan Seorang Castello Bisikan Fernando di atas balkon malam itu meninggalkan jejak kebingungan sekaligus riak ketegangan yang amat pekat di dada Aixa. Kata-kata itu bergema bagai janji terselubung—sebuah komitmen berbahaya yang menantang pondasi utama dinasti Castello. Malam itu, Aixa kembali tak mampu memejamkan mata, namun bukan lagi karena rasa mual atau ketakutan akan jarum suntik, melainkan karena rasa cemas menanti badai yang dipastikan meletus esok hari. Pagi menyingsing dengan awan kelabu yang menggantung rendah di atas Mansion Castello. Keheningan rumah megah itu terasa jauh lebih pekat, seolah setiap sudut ruangan menyimpan ancaman yang siap meledak sewaktu-waktu. Pukul delapan pagi tepat, Fernando telah berada di ruang kerja utama mansion. Ruang kerja berpanel kayu mahoni yang biasanya menjadi tempat eksekusi keputusan-keputusan bisnis penting itu kini berubah menjadi medan pertempuran keluarga. Fernando duduk tegap di balik meja besarnya, sementara Dokter Elena b

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 77

    Keputusan Malam Hari Ancaman Sovia bergema di setiap sudut ruang kerja, bagaikan gema lonceng kematian yang dingin. Nama Elio—anak laki-laki yang menjadi pusat dunia Fernando—dipertaruhkan tanpa belas kasihan. Sovia Castello tahu betul di mana letak kelemahan terbesarnya, dan wanita itu baru saja menusukkan belati tepat di titik paling rapuh tersebut. Namun, alih-alih menunjukkan kepanikan atau ketakutan, Fernando justru menegakkan tubuhnya. Rahangnya mengeras begitu ketat hingga otot-otot di sepanjang lehernya bertaut. Matanya menyipit, memancarkan kilatan aura berbahaya yang amat dingin—sebuah tatapan yang jarang ia perlihatkan, bahkan di hadapan ibunya sendiri. "Cobalah, Momy," bisik Fernando. Suaranya tidak lagi menggelegar, namun nada rendah itu dipenuhi oleh ancaman yang jauh lebih mengerikan. "Gunakan seluruh pengacara terbaik yang Momy miliki. seret nama Castello ke lumpur pengadilan, dan tengok saja siapa yang akan kehilangan segalanya lebih dulu. Momy pikir aku masih pria

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 76

    Retakan pada Dinding Ketegasan Kalimat terakhir yang diucapkan Aixa menggantung di udara seperti bilah pisau yang tajam dan dingin. *“Aku mulai benci melihat diriku sendiri setiap kali aku berdiri di sisimu, Fernando.”* Ruang konsultasi bernuansa putih itu seketika terasa mencekik. Dokter Elena menundukkan pandangannya, enggan ikut campur dalam badai emosi yang mendadak meledak di antara pasangan tersebut. Sementara itu, Fernando tetap membeku di kursinya. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Fernando Castello—pria yang terbiasa mengendalikan jalannya negosiasi bisnis bernilai miliaran—ia kehilangan kata-kata. Dadanya terasa berdenyut nyeri, dihantam oleh kenyataan telanjang yang baru saja dilontarkan perempuan di sebelahnya. Aixa tidak menunggu balasan. Tanpa mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya, ia berdiri mendadak, menyambar tas tangannya, dan melangkah lebar keluar dari ruang konsultasi. Langkah kakinya yang tergesa-gesa bergema di sepanjang lorong rumah s

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 75

    Di Ujung Batas Pagi itu, Mansion Castello diselimuti suasana yang lebih dingin dan tenang dari biasanya—sejenis ketenangan semu yang justru menyimpan badai di baliknya. Suara denting sendok yang beradu pelan dengan piring porselen menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan di ruang makan megah tersebut. Aixa duduk kaku di kursi kayu mahoni berukir. Di depannya, secangkir teh chamomile hangat yang disiapkan pelayan mulai kehilangan uapnya. Wajah perempuan itu terlihat sangat pucat, hampir menyatu dengan warna gaun kasualnya yang pudar. Lingkaran hitam samar di bawah matanya menjadi saksi bisu bahwa tidur nyenyak telah menjadi kemewahan yang mustahil baginya selama bertiga-tiga minggu terakhir. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan jarum suntik, bau antiseptik rumah sakit, dan angka-angka kadar hormon yang terus menghantuinya selalu berhasil memaksa matanya kembali terbuka. "Nyonya, Anda harus menghabiskan setidaknya separuh dari sarapan Anda," ujar Marco, kepala pelayan s

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 74

    Dua Hati di Ujung Tanduk Aixa menutup pintu balkon dengan gerakan amat halus, tetapi gema engsel yang bergeser terasa begitu nyaring menyayat heningnya kamar utama. Senyum tipis nan pahit yang sempat menghiasi bibirnya kini memudar sepenuhnya, menyisakan kekosongan yang membiru di matanya. Ia berjalan lambat menuju meja rias pualam, duduk di depan cermin besar yang memantulkan bayangan dirinya: seorang wanita muda berpakaian hangat, namun memiliki pandangan mata yang telah mati rasa. Di luar, Fernando masih berdiri terpaku di balik kaca transparan. Angin malam yang kian berembus kencang meniup kemeja putihnya yang tak terkancing sempurna, menghantarkan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun rasa dingin dari udara luar itu sama sekali tak sebanding dengan kekosongan aneh yang mendadak melingkupi dadanya. Pria itu menatap punggung Aixa dari balik kaca. Ada dorongan hebat di dalam dirinya untuk memutar gagang pintu, melangkah mendekati istrinya, dan menyuarakan seluruh pergo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status