MasukAlesha dan Reyhan bergegas menuju ruang tunggu ICU, langkah keduanya begitu cepat seolah tidak sabar untuk segera menyampaikan kecurigaan yang baru saja terungkap kepada Adrian dan Lavienna. Begitu sampai, mereka mendapati pasangan itu masih duduk dengan wajah lelah, menunggu kabar terbaru tentang kondisi anak mereka."Tante, Om, ada yang ingin kami sampaikan. Ini penting," ucap Alesha begitu sampai di hadapan Adrian dan Lavienna, suaranya masih terdengar sedikit terengah karena tergesa-gesa.Adrian dan Lavienna langsung menoleh dengan wajah penasaran, terlebih ketika melihat sosok asing berjas dokter berdiri di samping Alesha dengan raut serius."Ada apa, Alesha? Ini siapa?" tanya Adrian sambil berdiri, menatap Reyhan dengan pandangan ingin tahu sekaligus waspada.Alesh
Alesha menatap Reyhan dengan dahi berkerut, rasa penasaran bercampur kekhawatiran langsung menguasai pikirannya mendengar nada bicara pria itu yang begitu serius. Ia melirik sekeliling lorong yang mulai ramai oleh lalu-lalang pengunjung dan tenaga medis, menyadari bahwa memang bukan tempat yang tepat untuk membicarakan sesuatu yang sepertinya begitu penting."Baiklah, kita bicara di mana? Aku sudah tidak sabar mendengar apa yang ingin kamu sampaikan," ucap Alesha, suaranya sedikit tergesa-gesa karena kekhawatiran yang sejak tadi terus membebani dadanya.Reyhan menoleh ke kiri dan kanan sejenak, memastikan tidak ada orang yang terlalu dekat dengan mereka sebelum akhirnya menunjuk sebuah ruangan kecil di ujung koridor."Ada ruang konsultasi kosong di sana, kita bisa bicara lebih leluasa," ajak Reyhan sambil melangkah
Alesha terdiam sejenak mendengar penjelasan Lavienna, pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuat perutnya terasa mual. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding lorong kampus, mencoba mencerna informasi yang begitu mengganggu itu."Tante tahu Vanessa membisikkan apa ke Kaivan?" tanya Alesha hati-hati, suaranya terdengar penuh kecurigaan yang sulit ia sembunyikan.Lavienna menghela napas berat di seberang telepon, jelas terdengar betapa gelisahnya wanita itu sejak kejadian tadi pagi."Satpamnya tidak dengar jelas, cuma lihat Vanessa mendekatkan wajahnya ke telinga Kaivan sebentar sebelum akhirnya ditarik paksa keluar. Tapi yang bikin Tante curiga, kenapa tepat setelah itu detak jantungnya jadi tidak stabil?" ucap Lavienna dengan nada penuh kekhawatiran, seolah pertanyaan itu sudah mengganggu pikirannya
Alesha menatap layar ponselnya sejenak, jantungnya berdebar kencang membayangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada Kaivan. Ia melangkah mundur dari pintu kelas yang baru saja hendak ia masuki, memilih menjawab panggilan itu terlebih dahulu di lorong yang lebih sepi."Halo, Tante? Ada apa?" tanya Alesha cepat, suaranya sedikit terburu-buru karena firasat tidak enak yang tiba-tiba menyergap dadanya.Suara Lavienna dari seberang telepon terdengar terengah-engah, seolah baru saja berlari atau sedang dalam keadaan yang begitu tergesa-gesa."Alesha, kamu di mana sekarang? Bisa tolong kembali ke rumah sakit secepatnya?" tanya Lavienna dengan nada yang sulit ditebak, campuran antara panik dan sesuatu yang terdengar seperti harapan.Alesha langsung merasakan jantungnya
Helena terdiam cukup lama di seberang telepon, membuat Alesha yang sudah memarkirkan mobilnya di area kampus semakin tidak sabar menunggu jawaban dari pertanyaannya sendiri. Suasana hening itu terasa begitu janggal, jauh berbeda dari kebiasaan mamanya yang biasanya selalu terbuka menceritakan apa pun kepadanya."Ma? Kenapa diam? Ada apa sebenarnya?" tanya Alesha lagi, kali ini dengan nada yang lebih mendesak, tangannya mematikan mesin mobil namun ia belum juga beranjak turun karena terlalu fokus dengan percakapan itu.Helena akhirnya menghela napas panjang, seolah mempertimbangkan dengan matang apakah ini saat yang tepat untuk membuka sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri."Sebenarnya, dulu perjodohan kamu dengan Kaivan itu bukan cuma karena Mama dan Lavienna berteman sejak kecil, Alesha. Ada alasan lain yang le
Helena terdiam sejenak. Setelah itu, ia menjawab dengan nada cemas dan sedikit bingung mendengar pertanyaan dari putrinya."Mama lihat beritanya di televisi tadi pagi, Sayang. Ada tayangan infotainment yang membahas kecelakaan yang menimpa Kaivan Adhitama," jawab Helena, membuat Alesha yang sedang menyetir langsung tersadar dan menepuk keningnya sendiri karena baru mengingat sesuatu yang sempat terlupakan sesaat.Alesha memang sempat lupa bahwa keluarga Kaivan bukanlah keluarga biasa. Nama Adhitama sudah begitu dikenal luas di kalangan publik, terutama karena Adhitama Group merupakan salah satu perusahaan teknologi dan investasi terbesar yang berpengaruh di negeri ini."Astaga, aku sampai lupa kalau keluarga Kaivan itu keluarga terkenal," gumam Alesha pelan, lebih kepada dirinya sendiri, meski suaranya masih cukup jelas terdengar melalui mode speaker ponselnya.Helena yang mendengar gumaman itu langsung bertanya dengan nada penasaran, mencoba memahami situasi yang sebenarnya sedang di







