INICIAR SESIÓNKaivan menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah pesan singkat dari Vanessa, matanya membaca setiap kata dengan dahi yang semakin berkerut, wajahnya berubah pucat seiring dengan makna kalimat itu perlahan meresap ke dalam pikirannya.
Pesan itu berbunyi: "Apa kamu memutuskanku karena Alesha yang selama ini menemanimu di rumah sakit, Kai?"
Kaivan terdiam mematung men
Kaivan menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah pesan singkat dari Vanessa, matanya membaca setiap kata dengan dahi yang semakin berkerut, wajahnya berubah pucat seiring dengan makna kalimat itu perlahan meresap ke dalam pikirannya.Pesan itu berbunyi: "Apa kamu memutuskanku karena Alesha yang selama ini menemanimu di rumah sakit, Kai?"Kaivan terdiam mematung menatap layar itu, tangannya yang tadi masih gemetar menahan amarah kini gemetar karena alasan yang begitu berbeda, pikirannya langsung dipenuhi kebingungan yang begitu besar mengingat jawaban yang ia terima dari ibunya beberapa waktu lalu."Ma," ucap Kaivan pelan, suaranya terdengar begitu berat, matanya menatap lurus ke arah Lavienna yang duduk tidak jauh darinya dengan raut wajah yang seketika berubah tegang begitu mendengar nada bicara anaknya itu.
Kaivan menatap layar ponselnya yang terus bergetar dengan nama Vanessa terpampang jelas, wajahnya seketika berubah dingin dan penuh kebencian. Tangannya yang tadi masih gemetar menahan emosi kini mengepal semakin erat, tidak sanggup lagi menyentuh benda itu meski hanya untuk menolak panggilan."Ma, tolong angkat saja. Aku tidak mau bicara dengannya lagi," ucap Kaivan pelan, suaranya bergetar menahan amarah yang begitu besar, menyerahkan ponselnya kepada Lavienna yang segera menerimanya dengan tatapan penuh kemarahan yang sama besarnya.Lavienna menatap layar ponsel itu sejenak sebelum akhirnya menekan tombol hijau, mengaktifkan mode pengeras suara agar Adrian dan Kaivan bisa mendengar langsung percakapan yang akan terjadi selanjutnya."Halo, dengan siapa ini?" tanya Lavienna dengan nada dingin dan sinis, meski jelas ia sudah tahu betul siapa yang menghubungi ponsel anaknya itu.Suara Vanessa terdengar sedikit terkejut di seberang telepon, jelas tidak menduga akan mendapati suara Lavie
Lavienna berdiri mematung mendengar pertanyaan Kaivan, hatinya bergejolak hebat antara keinginan untuk jujur dan janji yang sudah ia buat pada Alesha. Ia menatap wajah anaknya yang begitu penuh harap, dadanya terasa begitu sesak menahan kebohongan yang harus ia ucapkan demi menghormati permintaan gadis yang begitu berjasa bagi keluarganya itu."Tidak, Nak. Alesha tidak pernah datang ke rumah sakit selama kamu koma," ucap Lavienna akhirnya, suaranya berusaha terdengar setenang mungkin meski hatinya sendiri terasa begitu perih mengucapkan kebohongan itu di hadapan anaknya sendiri.Kaivan menatap ibunya lama, dahinya berkerut seolah ada sesuatu yang begitu janggal dari jawaban yang baru saja ia dengar, namun ia tidak bisa membantah lebih jauh mengingat dirinya sendiri memang tidak sadarkan diri selama delapan bulan terakhir ini.
Alesha menatap layar ponselnya lama, tangannya masih sedikit gemetar menahan berbagai perasaan yang begitu campur aduk sejak mendengar pertanyaan Lavienna barusan. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu."Tante, maaf, tapi jawabanku tetap sama. Aku tidak bisa menemui Kaivan," ucap Alesha pelan, suaranya sudah terdengar jauh lebih tenang dibanding beberapa menit lalu saat ia masih menangis di dalam mobilnya.Lavienna terdengar menghela napas kecewa di seberang telepon, jelas berharap keputusan Alesha bisa berubah demi melihat anaknya yang begitu berharap bisa bertemu dengan gadis yang telah menyelamatkan nyawanya itu."Alesha, Kaivan terus bertanya soal kamu. Tante tidak tega melihatnya seperti itu," ucap Lavienna memohon, suaranya penuh harap meski jelas ia juga mencoba memahami posisi Alesha yang begitu sulit.Alesha memejamkan matanya sejenak, mengumpulkan kekuatan untuk menjelaskan keputusannya dengan l
Alesha yang masih berdiri di balik kaca jendela merasakan dadanya semakin sesak mendengar permintaan mendesak Kaivan untuk bertemu dengannya. Air mata yang sejak tadi sudah menggenang kini mengalir semakin deras, membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan lagi. Ia mundur perlahan dari jendela itu, tidak sanggup lagi menyaksikan pemandangan yang begitu menyayat hatinya sendiri.Alesha bergegas melangkah menjauh dari ruang ICU, langkahnya semakin cepat seiring dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti, seolah setiap detik yang ia habiskan di lorong rumah sakit itu membuat dadanya semakin terasa sesak dan sulit bernapas."Alesha!" Suara Reyhan yang kebetulan sedang berjalan di lorong yang sama memanggil namanya, membuat langkah Alesha sedikit terhenti meski ia tidak sepenuhnya menoleh ke arah suara itu.Reyhan segera menghampiri Alesha yang tampak begitu terburu-buru, wajahnya menunjukkan kekhawatiran begitu melihat kondisi gadis itu yang basah oleh air mata dan terlihat begitu ingin se
Adrian dan Lavienna bergegas mengikuti perawat itu menuju ruang ICU dengan langkah cepat, jantung mereka berdebar kencang antara rasa lega dan cemas yang bercampur menjadi satu. Alesha yang tadinya ikut melangkah mendadak berhenti di depan pintu, memilih untuk tidak masuk dan hanya mengintip dari balik kaca jendela ruang ICU yang tidak sepenuhnya tertutup tirai."Kaivan! Anakku!" seru Lavienna begitu masuk ke dalam ruangan, langsung menghambur mendekati ranjang tempat Kaivan terbaring dengan mata yang kini terbuka meski masih terlihat lemah.Kaivan menoleh perlahan ke arah suara itu, matanya yang sayu mencoba fokus menatap sosok ibunya yang berdiri dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi membasahi wajahnya."Mama..." lirih Kaivan dengan suara serak, jelas masih begitu lemah setelah sekian lama tidak sadarka







