Share

Semakin Obsesi

Author: Calin
last update Huling Na-update: 2026-01-12 17:45:03

Kegelapan yang tiba-tiba membuat Lina terkejut, dia menutup mulut dengan tangannya untuk menahan suara teriak yang hampir keluar. Udara di dalam kantor sementara terasa semakin dingin, dan suara serangga yang tadinya menyemarakkan kini terasa mengerikan. Dia meraih senter kecil yang ada di atas meja kayu, menyalakannya dengan tangan yang gemetar. Cahaya tipis dari senter itu hanya mampu menerangi area kecil di depannya.

"Ada seseorang di sini?" bisiknya, meskipun tahu tidak ada yang bisa menjawab selain dirinya sendiri.

Tiba-tiba, suara ketukan lembut terdengar dari pintu kantor. Tap... tap... tap... Polanya teratur tapi penuh dengan ancaman. Lina menekuk tubuhnya ke belakang, menjauhi pintu sambil tetap menunjuk senter ke arah sumber suara.

"Siapa itu? Pak Candra? Pak Suroto?" tanyanya dengan suara gemetar.

Tidak ada jawaban. Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih keras. Lalu, pintu kayu yang sudah lapuk itu perlahan terbuka tanpa disentuh. Angin sepoi-sepoi masuk, membawa aroma bunga mawar yang tidak mungkin ada di tengah hutan malam ini.

"Lina..." Suara lembut itu membuat Lina merinding—suara yang dia kenal terlalu baik. "Kau tidak bisa berlari darinya, lho."

Sofia muncul dari balik kegelapan, wajahnya diterangi cahaya senter Lina dengan cara yang membuatnya terlihat menyeramkan. Gaun putihnya yang tadinya mewah kini sedikit kusut, dan rambut pirangnya yang lurus tampak berantakan. Tapi yang paling membuat Lina takut adalah mata Sofia yang merah karena menangis, penuh dengan dendam dan kesedihan.

"Kamu... kamu tidak pulang?" kata Lina, mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.

Sofia masuk ke dalam kantor dan menutup pintu dengan lembut. "Pulang? Bagaimana mungkin aku pulang setelah melihat bagaimana dia memandangmu? Dia bilang aku tidak akan pernah menjadi bagian dari kehidupannya—hanya kamu yang bisa. Padahal aku sudah mencintainya selama bertahun-tahun, Lina. Aku dan dia sudah diatur untuk menikah semenjak kecil!"

Dia mendekat perlahan, dan Lina melihat ada sesuatu di tangan kanannya—sebuah pisau kecil yang mengkilap di bawah cahaya senter. "Ibu bilang kalau ada yang menghalangi rencana keluarga, kita harus menghilangkannya. Awalnya aku tidak mau, tapi sekarang... aku mengerti. Kamu harus pergi darinya."

Sebelum Sofia bisa melakukan apa-apa, pintu kantor tiba-tiba terbuka dengan keras. Candra masuk dengan napas berat, wajahnya penuh dengan kemarahan yang luar biasa. Dia melihat Sofia yang sedang menghadapi Lina, dan matanya menyala seperti bara api.

"Sofia! Apa yang kamu lakukan di sini? Aku sudah menyuruhmu pulang!"

Sofia terpojok, tapi tidak menyerah. Dia mengangkat pisau dan menunjukkannya ke arah Lina. "Jangan dekati kami, Candra! Kalau kamu mencoba menyentuhku, aku akan menusuk dia!"

"Calm down, Sofia. Jangan lakukan hal yang salah," kata Candra dengan suara yang rendah tapi penuh otoritas. Dia bergerak perlahan, mata tidak pernah lepas dari pisau di tangan Sofia. "Aku sudah bilang aku akan berbicara dengan Ibu tentang pernikahan kita. Kamu tidak perlu melakukan ini."

"Kamu hanya bilang itu untuk menghalau aku, bukan?" tanggap Sofia dengan suara merengek. "Aku melihat bagaimana kamu memegang tangannya, bagaimana kamu melihatnya. Kamu tidak pernah melihatku seperti itu!"

Lina merasa tubuhnya menggigil. Dia melihat Candra, yang wajahnya kini menunjukkan ekspresi yang dia tidak pernah lihat sebelumnya—campuran antara kemarahan dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman. Obsesi yang sudah dia rasakan dari Candra sepertinya semakin membesar, bahkan di tengah bahaya seperti ini.

"Aku tidak bohong padamu, Sofia," ujar Candra. "Tapi aku tidak bisa menikah denganmu karena hatiku sudah milik orang lain." Dia melihat ke arah Lina, dan dalam cahaya senter yang redup, Lina melihat bahwa matanya penuh dengan hasrat yang tak terkendali. "Lina adalah milikku. Tidak ada yang bisa mengambilnya dariku—bukan kamu, bukan Ibu, tidak ada orang pun."

Sofia menangis lagi, tapi kali ini tangisannya penuh dengan kemarahan. "Kalau begitu, maka dia tidak bisa hidup!"

Dia melesat ke arah Lina dengan cepat. Lina menutup wajahnya dengan tangan, bersiap menghadapi akhir yang menyakitkan. Tapi sebelum pisau itu menyentuhnya, Candra muncul dengan cepat dan menepuk tangan Sofia dengan keras. Pisau terjatuh ke lantai dengan suara klink yang keras.

Tanpa ragu, Candra menarik Sofia ke arahnya dan menahan tangannya dengan kekuatan yang luar biasa. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu menyakitinya," katanya dengan suara yang dingin dan penuh kebencian. "Aku akan mengirimmu pulang dan menyuruh orang untuk menjagamu agar tidak pernah bisa datang ke sini lagi. Kamu tidak akan pernah mengganggu kita berdua lagi."

Sofia berjuang dengan sia-sia dipegangannya. "Kamu akan menyesalinya, Candra! Ibu tidak akan menyetujuinya!"

"Aku tidak peduli dengan apa yang Ibu inginkan," jawab Candra dengan tegas. Dia memanggil Pak Suroto yang baru saja tiba dengan beberapa pekerja. "Bawa dia ke mobil dan antar pulang. Pastikan dia tidak bisa kembali ke sini lagi."

Setelah Sofia diantar pergi, Candra menghadap Lina dengan wajah yang berubah total. Kemarahan yang ada di matanya hilang digantikan oleh ekspresi yang lembut tapi penuh dengan kepemilikan. Dia mendekat dan memegang pipi Lina dengan lembut, meskipun sentuhan itu membuat Lina merasa tertekan.

"Kamu baik-baik saja kan, sayang?" tanyanya dengan suara lembut. "Aku sudah bilang aku akan melindungimu. Tidak ada yang bisa menyakitimu selama aku ada di sini."

Lina hanya bisa mengangguk dengan hati yang berdebar kencang. Dia melihat bahwa lampu-lampu di lokasi mulai menyala kembali—Pak Suroto telah memperbaiki sumber listrik yang putus karena kebakaran dan angin kencang. Tapi kegembiraan itu tidak dirasakan oleh Lina.

"Candra... Pak..." ucapnya dengan suara kecil. "Apa yang akan kamu lakukan jika Ibu mu benar-benar memaksamu untuk menikah dengan Sofia?"

Candra tersenyum, tapi senyum itu terasa tidak wajar. Dia menarik Lina lebih dekat ke tubuhnya, sampai Lina bisa merasakan detak jantungnya yang cepat. "Seperti yang kubilang, tidak ada yang bisa memaksa aku. Aku akan melakukan apapun untuk memastikan kamu tetap bersamaku. Bahkan jika aku harus melakukan hal-hal yang tidak baik."

Lina merasa dada terasa sesak. Obsesi Candra padanya sepertinya semakin dalam dan tidak terkendali. Dia melihat ke luar jendela, di mana langit mulai menunjukkan warna keemasan awal pagi. Jalan keluar akan segera dibersihkan, dan mereka bisa pulang. Tapi apakah pulang akan membuatnya lebih aman? Atau apakah obsesi Candra akan mengikuti dia ke mana pun dia pergi?

Candra memeluknya erat, menyandarkan kepalanya di bahu Lina. "Malam ini sudah membuktikannya, sayang. Kita saling membutuhkan. Dan aku akan memastikan kita tidak akan pernah terpisahkan lagi."

Lina menatap ke arah kejauhan, merasa bingung antara rasa aman yang dia dapatkan dari perlindungan Candra dan rasa takut yang dia rasakan karena obsesi yang semakin membesar itu. Apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya? Bisakah dia menemukan cara untuk keluar dari situasi ini, ataukah dia akan terjebak selamanya dalam cengkeraman obsesi Candra?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Tak bisa Lepas dari Obsesi nya

    Kemudian pagi tiba dengan sinar matahari yang menyinari hutan. Jalan keluar sudah dibersihkan oleh pekerja, dan mobil Candra siap untuk kembali ke kota. Lina duduk di dalam mobil dengan wajah pucat, tangan menggenggam tas kecilnya dengan erat. Candra mengemudi dengan tenang, tapi sesekali dia melihat ke arah Lina dengan tatapan yang penuh kasih sayang—kasih sayang yang semakin membuat Lina merasa terkurung. "Sekarang kita bisa mulai merencanakan masa depan kita, sayang," ujar Candra sambil menjepit tangan Lina yang ada di kursi sebelahnya. "Rumah utama sudah hampir selesai. Kamu akan tinggal di sana dengan aku, jauh dari semua masalah." Lina mencoba menarik tangannya perlahan. "Pak, saya... saya masih punya keluarga di desa. Saya perlu kembali untuk melihat mereka." Candra mengerutkan kening, ekspresi wajahnya sedikit berubah. "Kamu tidak perlu khawatir tentang mereka lagi. Aku sudah mengirimkan uang yang cukup banyak untuk mereka. Mereka aka

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Semakin Obsesi

    Kegelapan yang tiba-tiba membuat Lina terkejut, dia menutup mulut dengan tangannya untuk menahan suara teriak yang hampir keluar. Udara di dalam kantor sementara terasa semakin dingin, dan suara serangga yang tadinya menyemarakkan kini terasa mengerikan. Dia meraih senter kecil yang ada di atas meja kayu, menyalakannya dengan tangan yang gemetar. Cahaya tipis dari senter itu hanya mampu menerangi area kecil di depannya."Ada seseorang di sini?" bisiknya, meskipun tahu tidak ada yang bisa menjawab selain dirinya sendiri.Tiba-tiba, suara ketukan lembut terdengar dari pintu kantor. Tap... tap... tap... Polanya teratur tapi penuh dengan ancaman. Lina menekuk tubuhnya ke belakang, menjauhi pintu sambil tetap menunjuk senter ke arah sumber suara."Siapa itu? Pak Candra? Pak Suroto?" tanyanya dengan suara gemetar.Tidak ada jawaban. Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih keras. Lalu, pintu kayu yang sudah lapuk itu perlahan terbuka tanpa disentuh. Angin sepoi-sepoi masuk, membawa aroma b

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Rasa Takut Dan Kejutan

    Lina menggigit bibirnya. "Rumah utama, Pak?""Ya. Semua rencana ini dibuat denganmu dalam pikiran, Lina." Candra mendekat dan menepuk bahunya. "Kamu akan memiliki kamar yang penuh dengan bunga kesukaanmu, dan teras yang menghadap pemandangan bukit. Kamu tidak akan pernah merasa bosan di sini."Sebelum Lina sempat menjawab, bunyi mobil yang mendekat terdengar. Mereka melihat sebuah mobil mewah masuk ke lokasi, berhenti di dekat mereka. Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita muda dengan rambut pirang yang lurus dan wajah cantik keluar. Dia memakai gaun putih yang mewah dan sepatu tinggi, terlihat sangat berbeda dengan suasana hutan.Candra melihatnya dengan wajah yang memerah. "Sofia? Apa yang kamu lakukan di sini?"Wanita itu tersenyum lebar dan mendekat. "Hai, Candra! Ibu bilang kamu ada di sini, jadi aku mau melihatmu. Dan juga ingin melihat proyek yang kamu kerjakan—ternyata sangat indah ya, meskipun masih dalam pembangunan." Dia lalu melihat Lina, dan senyumnya sedikit memucat. "S

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Kejutan Di Tengah Hutan

    Candra mendekat, tangannya hampir menyentuh bahunya. "Jangan takut, Lina. Saya akan merawatmu dengan baik. Di sini, kamu tidak akan pernah merasa sendirian lagi." Suaranya lembut, tapi ada nada kepastian yang membuat Lina merinding.Dia menunduk, memegang catatan di tasnya dengan erat. "Pak, saya hanya asistenmu. Saya datang untuk bekerja, bukan untuk..." Dia tidak berani menyelesaikan kalimatnya.Candra memegang dagunya dengan lembut, memutar wajahnya agar melihatnya. Matanya yang biasanya tajam sekarang terisi sesuatu yang mirip keinginan. "Bekerja? Ya, kamu akan bekerja di sini juga. Menjadi bagian dari semua ini—bagian dari kehidupanku." Dia melepaskan tangannya dan menunjuk ke jendela. "Ayo, kita lihat struktur tanah seperti yang direncanakan."Lina mengikuti dengan langkah yang lambat. Luarnya, matahari sudah terbit sepenuhnya, menerangi setiap sudut tanah luas itu. Pekerja bekerja dengan giat—beberapa membongkar material, yang lain mengukur tanah dengan alat. Udara terasa segar

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Di Lokasi Proyek

    Pukul 05.30 pagi, langit masih terbungkus kegelapan yang pekat ketika Lina membuka mata. Malam ini dia tidak bisa tidur sama sekali—bayangan mata Candra yang mengawasinya di halte bis kemarin selalu terngiang-ngiang, campur dengan kata-katanya yang menyakitkan: "Kamu adalah milik saya". Dia merasakan getaran dingin di punggungnya, lalu segera bangkit dan mandi dengan air yang sedikit lebih hangat untuk menenangkan diri.Dia memakai baju kerja yang lebih awet: kemeja coklat muda yang tidak terlalu ketat, celana panjang hitam, dan sepatu kets yang nyaman—karena dia tahu akan berjalan banyak di lokasi proyek. Dia memasukkan catatan tebal, pensil beberapa warna, botol air, dan sepotong roti ke dalam tasnya—takut tidak ada waktu makan di luar.Ketika dia keluar dari kamar, Bu Mimin sudah ada di depan pintu kosan, menyiram bunga dengan sebotol semprot. Cahaya lampu jalan sedikit menerangi wajahnya yang khawatir."Lina, pagi banget lagi hari ini? Kamu harus jaga kesehatan ya, jangan terlalu

  • Obsesi Tuan Muda Candra    Hari Pertama Sebagai Asisten

    Pukul 06.00 pagi—satu jam lebih cepat dari biasanya—Lina sudah bangun. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalam, pikirannya selalu tergeser ke Tuan Muda Candra dan kata-katanya yang mengerikan: "Kamu adalah milik saya". Dia menggoyangkan kepala, mencoba menghilangkan bayangan itu, lalu segera mandi dan memakai baju baru yang dia beli semalam—kemeja biru muda dan rok hitam yang lebih rapi dari yang biasa dia pakai.Setelah sarapan cepat, Lina keluar dari kosan. Bu Mimin yang sedang menyiram bunga melihat dia berjalan tergesa-gesa. "Lina, pagi banget ya hari ini? Kerja makin sibuk ya?" tanya Bu Mimin dengan senyum."Ya, Bu. Ada tugas baru," jawab Lina dengan senyum paksa. Dia segera menuju halte bis, berharap bisa tiba di perusahaan lebih awal dari jam 07.00 yang ditetapkan Candra.Bis datang tepat waktu, dan kali ini Lina bisa mendapatkan tempat duduk. Dia membuka daftar tugas yang diberikan Candra semalam—mulai dari menyusun jadwal rapat, mengelola surat-menyurat, sampai menyiapkan segala

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status