Share

Bab 15

Auteur: Ufi
last update Dernière mise à jour: 2026-02-10 13:58:08

Lingga duduk di bangku pojok kelas, menatap kosong ke jendela.

Di luar, angin meniup dedaunan yang berguguran, tapi hatinya terasa lebih dingin daripada musim apa pun.

Ia tahu, sesuatu salah.

Tapi ia tidak tahu apa.

Malam tadi, ia melihat Alina dipeluk Maro.

Tubuhnya terasa berat. Dadanya sesak.

Ia ingin berlari, menjerit, atau sekadar menampar dirinya sendiri. Tapi ia hanya bisa diam, menelan semua itu, dan memalingkan wajah saat Alina tidak melihat.

Di lorong sekolah, semuanya b
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Obsessed   Bab 15

    Lingga duduk di bangku pojok kelas, menatap kosong ke jendela. Di luar, angin meniup dedaunan yang berguguran, tapi hatinya terasa lebih dingin daripada musim apa pun. Ia tahu, sesuatu salah. Tapi ia tidak tahu apa. Malam tadi, ia melihat Alina dipeluk Maro. Tubuhnya terasa berat. Dadanya sesak. Ia ingin berlari, menjerit, atau sekadar menampar dirinya sendiri. Tapi ia hanya bisa diam, menelan semua itu, dan memalingkan wajah saat Alina tidak melihat. Di lorong sekolah, semuanya berbeda. Alina menunduk, langkahnya pelan. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum, bahkan tatapan mereka saling menghindar. Itu menyakitkan—lebih sakit daripada malam itu. “Kenapa dia begitu dingin?” gumam Lingga di dalam hati. “Kenapa aku merasa… cemburu, padahal aku yang bilang nggak suka padanya?” Cemburu itu membuatnya frustasi. Satu sisi ingin mengklarifikasi. Sisi lain tahu ia tidak berhak. Maro duduk di bangku dekat Alina. Memberi perhatian kecil, menanyakan apakah ia sudah

  • Obsessed   Bab 14

    Alina tidak langsung menangis saat mendengar kalimat itu.Ia berdiri terpaku di balik dinding, seolah kakinya lupa bagaimana caranya melangkah pergi.“Gue nggak suka sama Alina.”Tidak ada tawa setelahnya.Tidak ada klarifikasi.Tidak ada nada bercanda.Kalimat itu jatuh begitu saja—ringan, jelas, dan selesai.Alina menunduk, bibirnya bergetar tipis.Dadanya terasa sesak, tapi air matanya belum turun. Seakan tubuhnya belum siap menerima apa yang baru saja ia dengar.Jadi… ini jawabannya.Langkahnya mundur perlahan. Ia pergi tanpa suara, tanpa siapa pun menyadari keberadaannya.Ia menatap lantai, menahan air mata.“Bodoh… aku benar-benar bodoh,” gumamnya sendiri.Bodoh karena berharap. Bodoh karena percaya perhatian kecil berarti sesuatu. Bodoh karena lupa Lingga tidak pernah menjanjikan apa pun.Tiba-tiba terdengar langkah ringan.Alina menoleh, Maro berdiri di depannya, wajahnya serius tapi lembut.“Alina…” suaranya pelan.“Boleh aku duduk?”Alina mengangguk, tanpa bicara. Ia duduk d

  • Obsessed   Bab 13

    Lingga menatap pantulan dirinya di kaca kamar mandi lebih lama dari biasanya.Bukan karena ia ingin memastikan penampilannya rapi, melainkan karena ia sedang memastikan satu hal:ia tidak boleh salah langkah malam ini.Tiga hari.Kesepakatan konyol yang awalnya hanya ingin segera ia akhiri, justru berubah jadi sesuatu yang membuat dadanya terasa penuh.Hari kedua kemarin… Lingga sadar.Sadar bahwa Alina bukan sekadar gadis menyebalkan yang selalu mengejarnya.Ia tertawa dengan cara yang jujur. Ia peduli dengan cara yang tidak memaksa. Ia hadir tanpa menuntut apa pun, selain kesempatan.Dan itulah yang menakutkan.“Gue nggak suka sama Alina.”Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.Ia mengatakannya siang tadi, di depan teman-temannya, dengan nada datar dan senyum setengah main-main. Seolah semua yang terjadi selama dua hari terakhir hanyalah sandiwara.Padahal tidak.Lingga mengepalkan tangannya.Ia bilang itu bukan karena bohong sepenuhnya, melainkan karena takut.Takut Alina jatu

  • Obsessed   Bab 12

    Pagi itu, udara Bali terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari menembus tirai, menyoroti pasir pantai yang berkilau. Hari ini adalah hari ketiga. Hari terakhir syarat pacaran tiga hari antara Lingga dan Alina. Alina duduk di balkon, memandang laut biru sambil memegang cangkir kopi hangat. Hatinya berdebar. Rasanya campur aduk; senang karena bisa menghabiskan waktu bersama Lingga, tapi juga cemas karena syarat itu akan segera berakhir. “Selamat pagi, sayang,” suara Lingga terdengar di belakangnya. Ia tersenyum hangat sambil membawa dua gelas jus. Alina tersipu. “Pagi… eh, maksudku… selamat pagi.” Lingga duduk di sampingnya, menatap mata Alina penuh lembut. “Aku janji, hari ini aku akan membuatnya menyenangkan. Tidak ada canggung lagi.” Alina menoleh, tersenyum tipis. “Aku percaya padamu.” Saat sarapan, Lingga dan Alina duduk bersebelahan. Teman-teman mereka menatap dengan keheranan—ada sesuatu yang berbeda dari Lingga yang biasanya cuek. “Eh… kok mereka kayak… manis banget pag

  • Obsessed   Bab 11

    Pagi itu, sinar matahari menembus tirai jendela kamar, menyinari lantai kayu yang hangat. Alina duduk di tepi tempat tidur, menatap langit-langit sambil memainkan ujung selimut. Masih teringat malam sebelumnya, hatinya campur aduk antara kebahagiaan dan rasa takut. Pintu kamar diketuk perlahan. “Alina… boleh masuk?” suara Lingga terdengar canggung, sedikit ragu. Alina menoleh, wajahnya memerah. “Eh… ya, masuk saja.” Lingga melangkah masuk, tangannya sedikit gemetar. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap Alina dengan campuran bersalah dan cemas. Suasana hening, hanya suara angin laut yang terdengar dari balkon. “Maafkan aku tadi malam…” Lingga akhirnya berkata, suaranya hampir berbisik. “Aku… terlalu jauh. Aku tidak bermaksud membuatmu takut.” Alina menunduk, jari-jarinya menari di tepi selimut. Hatinya berdebar, tapi ia menahan diri untuk tidak menatap Lingga. “Aku… aku butuh waktu, Lingga,” jawabnya pelan. “Aku masih bingung dengan semuanya.” Lingga menelan ludah, menata

  • Obsessed   Bab 10

    Pagi itu, matahari bersinar cerah di atas laut biru, angin pantai membawa aroma asin dan segar. Lingga dan Alina sudah siap untuk kegiatan pagi: lomba perahu dayung antar kelompok yang diadakan hotel.“Siap nggak, Lingga?” Alina melompat kegirangan. “Kita harus menang hari ini!”Lingga menggaruk kepala, setengah cemas. “Eh… aku kan baru pertama kali dayung bareng. Jangan salahin aku kalau perahunya malah muter-muter.”“Tenang aja! Aku yang akan arahkan. Pokoknya kita harus kompak!” Alina menggenggam tangannya, senyum lebarnya membuat Lingga tersipu.Di sisi lain, Maro memperhatikan mereka dari pantai, menatap Lingga–Alina dengan alis mengerut. “Hah… mereka terlalu akrab lagi,” gumamnya, menatap Stevi yang sedang menata rambutnya.Stevi menepuk bahu Maro. “Santai, sayang. Kita cuma harus fokus sama permainan kita sendiri. Jangan biarkan mereka ganggu mood liburan kita.”Maro menelan ludah, tapi tatapannya tetap menempel pada Lingga dan Alina yang tertawa lepas, mempersiapkan perahu.Sa

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status