Mag-log inPagi itu kantor sudah cukup ramai ketika Lingga tiba. Beberapa karyawan menyapanya ketika ia berjalan melewati koridor menuju ruang kerjanya. Ia membalas dengan anggukan kecil seperti biasa. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang terlihat aneh. Setidaknya dari luar. Lingga meletakkan tas kerjanya di meja, lalu membuka laptop. Beberapa email sudah menunggu untuk dibalas. Agenda hari itu juga cukup padat. Dua rapat internal. Satu pertemuan dengan investor. Dan satu pembahasan proyek dengan tim arsitek. Lingga membaca agenda itu beberapa detik. Rapat proyek. Artinya akan ada pembahasan desain dari tim Alina. Ia tidak terlalu memikirkannya. Setidaknya ia mencoba tidak terlalu memikirkannya. --- Satu jam kemudian Lingga sudah berada di ruang rapat. Ruangan itu cukup besar dengan meja panjang di tengahnya. Beberapa orang dari tim manajemen proyek sudah duduk di tempat mereka. Bu Dewi juga ada di sana, sedang membuka beberapa map besar berisi gambar desain. “Pagi, Pak Ling
Malam sudah cukup larut ketika Alina akhirnya menutup laptopnya. Apartemennya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman. Ruang tamu dan dapur kecil menyatu tanpa sekat, hanya dipisahkan oleh meja makan sederhana yang sering dipenuhi kertas desain dan catatan proyek. Beberapa lembar gambar masih terbentang di meja. Pensil. Penggaris. Dan secangkir kopi yang sudah dingin. Alina memijat pelan pelipisnya. Seharian penuh ia menghabiskan waktu di lokasi proyek, lalu melanjutkan revisi desain di rumah. Ia baru saja hendak membereskan meja ketika terdengar bunyi pintu terbuka. “Lin?” Suara itu langsung membuat Alina menoleh. Damar masuk sambil membawa dua kantong plastik dari minimarket. Jaketnya sedikit basah, mungkin karena hujan yang turun sebentar tadi. “Kamu baru pulang?” tanya Alina. “Iya.” Damar menutup pintu dengan kakinya, lalu berjalan masuk. “Masih kerja?” Alina melirik meja yang penuh kertas. “Kelihatan?” Damar tertawa kecil. “Kelihatan banget.” Ia meletakkan kant
Sore itu langit terlihat sedikit mendung. Lingga baru saja keluar dari sebuah pertemuan dengan salah satu klien lama perusahaannya. Gedung perkantoran tempat mereka bertemu tidak terlalu jauh dari lokasi proyek yang sedang dikerjakan tim Alina. Ia sebenarnya bisa langsung kembali ke kantor. Namun entah kenapa ia memilih berjalan sebentar sebelum memanggil sopirnya. Di sudut jalan dekat gedung itu ada sebuah minimarket kecil. Lampunya terang, kontras dengan langit yang mulai gelap. Lingga masuk ke dalam, berniat membeli air mineral. Tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang sedang memilih makanan ringan. Lingga mengambil sebotol air dari rak pendingin, lalu berjalan menuju kasir. Saat itulah seseorang di dekat pintu tiba-tiba berkata, “Pak Lingga?” Lingga menoleh. Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya, membawa dua gelas kopi dari mesin minuman di dalam minimarket. Pria itu terlihat sedikit terkejut, lalu tersenyum lebar. Lingga butuh beberapa d
Lingga masih berada di ruang kerjanya ketika jam menunjukkan hampir pukul delapan malam. Sebagian besar karyawan sudah pulang. Koridor kantor menjadi jauh lebih sunyi dibandingkan siang hari. Hanya beberapa lampu yang masih menyala di lantai itu. Di atas meja, beberapa dokumen proyek masih terbuka. Blueprint. Laporan revisi. Dan catatan-catatan kecil yang ia buat sendiri. Lingga menutup salah satu map perlahan. Ia mengusap wajahnya sebentar, mencoba mengusir lelah yang mulai terasa di kepala. Proyek yang sedang mereka kerjakan memang sedang berada di tahap penting. Banyak keputusan harus dibuat dengan cepat. Dan seperti biasa, Lingga tidak pernah suka menunda pekerjaan. Ponselnya bergetar di meja. Nama Nadine muncul di layar. Lingga mengangkat panggilan itu. “Halo.” “Masih di kantor?” suara Nadine terdengar santai dari seberang. “Iya.” “Kamu belum makan?” “Belum.” Nadine tertawa kecil. “Direktur yang rajin sekali.” Lingga tersenyum tipis. “Kamu sudah selesai kerja?
Nadine bukan tipe orang yang suka menebak terlalu lama. Jika ada sesuatu yang membuatnya penasaran, ia lebih suka mencari jawabannya sendiri. Beberapa hari terakhir, nama Alina terus muncul di pikirannya. Awalnya hanya sekilas. Dari dokumen proyek yang pernah ia lihat di meja Lingga. Dari foto yang ia temukan di internet. Dan dari cara Lingga berhenti sepersekian detik ketika namanya disebut. Hal kecil. Tapi Nadine terbiasa memperhatikan hal-hal kecil. Akhirnya, ia melakukan sesuatu yang sederhana. Ia meminta nomor Alina dari sekretaris Lingga. Dengan alasan yang cukup masuk akal. “Kami mungkin akan bekerja sama untuk event perusahaan nanti,” katanya ringan. Sekretaris itu tidak curiga. Dan beberapa menit kemudian, nomor itu sudah ada di ponselnya. Nadine tidak langsung menghubungi. Ia menunggu sampai malam. Lalu mengirim pesan singkat. > Halo, Alina. Ini Nadine. > Kita sempat saling kenal di kantor Lingga kemarin. > Kalau kamu tidak sibuk, aku ingin bertemu sebent
Nadine bukan tipe perempuan yang mudah merasa tidak aman. Dunia yang ia jalani sejak usia belasan tahun tidak memberi banyak ruang untuk itu. Sebagai model papan atas, ia terbiasa berdiri di tengah ruangan penuh kamera, lampu, dan orang-orang yang menilai setiap detail penampilannya—dari cara ia berjalan, cara ia tersenyum, sampai bagaimana ia menoleh ke arah kamera. Di dunia seperti itu, rasa ragu sering dianggap sebagai kelemahan. Dan Nadine bukan perempuan yang suka terlihat lemah. Ia tahu nilainya. Ia tahu posisinya. Ia juga tahu bagaimana membuat orang lain melihatnya dengan cara yang ia inginkan. Karena itu, ketika beberapa hari terakhir sebuah perasaan kecil mulai mengganggunya, Nadine tidak langsung menolaknya. Ia mengamatinya dulu. Perasaan itu tidak besar. Tidak dramatis. Lebih seperti retakan tipis di kaca jendela. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk membuat seseorang sadar bahwa ada sesuatu yang berubah. --- Pagi itu Nadine berada di lokasi pemotretan.
Author POV Ketegangan malam itu masih terasa tebal. Stevi menatap Maro dengan dingin, matanya menusuk seperti pisau, sementara Maro berdiri di sisinya, ragu dan cemas. Dua tahun hubungan mereka seolah diuji oleh kehadiran Alina. “Aku minta maaf, Stev, kalau kehadiranku membuatmu terganggu,” suar
Maro POV Ku lajukan mobilku menuju rumah Stevi. Sesampainya di depan, kulihat dia sudah menungguku, berlari kecil seolah tak sabar. Wajahnya berseri-seri—tapi begitu matanya menatap bajuku, senyumnya langsung memudar.“Hai, sayang…” ujarnya pelan, nada manisnya tiba-tiba berubah tegang.“Sayang… k
Lingga menarik napas panjang, matanya menatap Alina yang duduk di kursi penumpang, senyum lebar menghiasi wajahnya.“Baiklah… tiga hari,” ucap Lingga akhirnya, menatap mata Alina. “Aku terima syaratmu. Kita pacaran… selama tiga hari.”Alina tersenyum lebar, matanya berbinar. “Terima kasih, Lingga!
Pagi itu, udara Bali terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari menembus tirai, menyoroti pasir pantai yang berkilau. Hari ini adalah hari ketiga. Hari terakhir syarat pacaran tiga hari antara Lingga dan Alina. Alina duduk di balkon, memandang laut biru sambil memegang cangkir kopi hangat. Hatiny







