LOGINLingga PoV
Aku masih memikirkan Alina. Dia sakit—dan itu gara-gara aku. Kulirik jam di pergelangan tangan. 14.15. Kenapa waktu terasa berjalan begitu lambat? Dadaku dipenuhi kegelisahan. Aku ingin cepat pulang, ingin mencari tahu tentang keadaannya. Tapi bahkan nomor ponselnya pun aku tak punya. Selama ini Alina hanya berani mendekatiku di sekolah. Dia tak pernah menghubungiku lewat pesan, seolah keberadaannya memang sebatas itu saja—di sekelilingku, tanpa pernah benar-benar masuk. Kriing… kriing… Bel pulang berbunyi. Aku langsung berlari keluar kelas, langkahku tanpa arah, hingga tanpa sengaja mendengar percakapan beberapa siswi di koridor. “Dengar-dengar Alina masuk rumah sakit.” “Iya, katanya dirawat di RS Sentosa.” Dadaku langsung terasa sesak. Tanpa pikir panjang, aku meminta sopir mengantarku ke rumah sakit itu. Perasaan tak enak semakin membuncah saat mobil memasuki halaman RS. Bau khas rumah sakit, lorong-lorong panjang, dan wajah-wajah cemas di sekitarku membuat langkah kakiku terasa berat. Aku menuju ruangan yang ditunjukkan petugas resepsionis. 604. Melalui kaca kecil di pintu, aku mengintip ke dalam. Ruangan itu berisi enam pasien. Pandanganku menyapu satu per satu—hingga akhirnya berhenti. Itu dia. Alina. Dia terbaring di ranjang dekat jendela, tampak lemah dan pucat. Aku membuka pintu perlahan, melangkah masuk seolah takut membangunkannya. Mendekat, lalu duduk di sisi tempat tidurnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat Alina seperti ini. Tidak riang. Tidak ceria. Tidak tersenyum. Dadaku terasa perih. “Maafin aku,” ucapku lirih sambil menunduk. “Aku nggak nyangka bakal sampai begini. Aku tau kamu alergi kacang… dan niat jahilku malah bikin kamu kayak gini. Maafin aku, Alina.” Entah dia mendengar atau tidak. Tapi mengucapkannya saja sudah membuatku sedikit lega. “Tapi aku nggak apa-apa kok.” Aku tersentak. Matanya terbuka, menatapku dengan tenang. “Lagipula aku seneng kamu masih inget aku alergi kacang,” lanjutnya pelan. Bagaimana aku bisa melupakan itu, Alina sering bercerita tentang hal hal yang menurutnya menarik dan harus kutau, aku bahkan tidak peduli dengan semua ceritanya. Jika ku ingat kembali, aku tidak pernah memberikan respon atas cerita cerita tentang hidupnya atau hal hal yang laiinya. Alina selalu saja punya cerita yang dia ocehkan padaku. “Dan aku dirawat bukan karena alergi. Aku habis cabut gigi bungsu. Posisi giginya nggak bagus, jadi harus operasi kecil. Makanya aku nginep di sini.” Aku terdiam. Sebentar—tunggu. “Apa?” Lalu tawa kecil keluar dari bibirnya. Tawa yang ringan, jujur, dan… bahagia. Aku justru merasa wajahku panas. Jadi… aku khawatir berlebihan? Aku datang sejauh ini untuk hal yang bahkan bukan salahku? Kesal langsung menggantikan rasa kalut tadi. “Apa kamu khawatir sama aku?” tanyanya tiba-tiba. Tatapannya teduh—terlalu teduh untuk seseorang yang baru saja mempermainkanku. “Apaan sih,” aku mendengus. “Jangan kegeeran. Aku cuma sekalian nganter sopir ke rumah sakit. Ya udah, kamu kan kelihatannya baik-baik aja. Aku pulang.” Aku berdiri dan melangkah pergi. “Lingga.” Aku berhenti. Membalikkan badan. “Makasih ya…” Dia tersenyum. Dan senyuman itu… entah kenapa terasa seperti menghantam dadaku. Seperti… gulali yang manis tapi lengket, membuatku sadar satu hal: aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Hujan mulai turun deras di luar jendela rumah sakit. Aku berdiri di ambang pintu, menatap langit abu-abu, dada terasa panas. Satu pertanyaan terus berputar di kepalaku: Apa yang sebenarnya kurasakan… untuk Alina?Lingga menatap pantulan dirinya di kaca kamar mandi lebih lama dari biasanya.Bukan karena ia ingin memastikan penampilannya rapi, melainkan karena ia sedang memastikan satu hal:ia tidak boleh salah langkah malam ini.Tiga hari.Kesepakatan konyol yang awalnya hanya ingin segera ia akhiri, justru berubah jadi sesuatu yang membuat dadanya terasa penuh.Hari kedua kemarin… Lingga sadar.Sadar bahwa Alina bukan sekadar gadis menyebalkan yang selalu mengejarnya.Ia tertawa dengan cara yang jujur. Ia peduli dengan cara yang tidak memaksa. Ia hadir tanpa menuntut apa pun, selain kesempatan.Dan itulah yang menakutkan.“Gue nggak suka sama Alina.”Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.Ia mengatakannya siang tadi, di depan teman-temannya, dengan nada datar dan senyum setengah main-main. Seolah semua yang terjadi selama dua hari terakhir hanyalah sandiwara.Padahal tidak.Lingga mengepalkan tangannya.Ia bilang itu bukan karena bohong sepenuhnya, melainkan karena takut.Takut Alina jatu
Pagi itu, udara Bali terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari menembus tirai, menyoroti pasir pantai yang berkilau. Hari ini adalah hari ketiga. Hari terakhir syarat pacaran tiga hari antara Lingga dan Alina. Alina duduk di balkon, memandang laut biru sambil memegang cangkir kopi hangat. Hatinya berdebar. Rasanya campur aduk; senang karena bisa menghabiskan waktu bersama Lingga, tapi juga cemas karena syarat itu akan segera berakhir. “Selamat pagi, sayang,” suara Lingga terdengar di belakangnya. Ia tersenyum hangat sambil membawa dua gelas jus. Alina tersipu. “Pagi… eh, maksudku… selamat pagi.” Lingga duduk di sampingnya, menatap mata Alina penuh lembut. “Aku janji, hari ini aku akan membuatnya menyenangkan. Tidak ada canggung lagi.” Alina menoleh, tersenyum tipis. “Aku percaya padamu.” Saat sarapan, Lingga dan Alina duduk bersebelahan. Teman-teman mereka menatap dengan keheranan—ada sesuatu yang berbeda dari Lingga yang biasanya cuek. “Eh… kok mereka kayak… manis banget pag
Pagi itu, sinar matahari menembus tirai jendela kamar, menyinari lantai kayu yang hangat. Alina duduk di tepi tempat tidur, menatap langit-langit sambil memainkan ujung selimut. Masih teringat malam sebelumnya, hatinya campur aduk antara kebahagiaan dan rasa takut. Pintu kamar diketuk perlahan. “Alina… boleh masuk?” suara Lingga terdengar canggung, sedikit ragu. Alina menoleh, wajahnya memerah. “Eh… ya, masuk saja.” Lingga melangkah masuk, tangannya sedikit gemetar. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap Alina dengan campuran bersalah dan cemas. Suasana hening, hanya suara angin laut yang terdengar dari balkon. “Maafkan aku tadi malam…” Lingga akhirnya berkata, suaranya hampir berbisik. “Aku… terlalu jauh. Aku tidak bermaksud membuatmu takut.” Alina menunduk, jari-jarinya menari di tepi selimut. Hatinya berdebar, tapi ia menahan diri untuk tidak menatap Lingga. “Aku… aku butuh waktu, Lingga,” jawabnya pelan. “Aku masih bingung dengan semuanya.” Lingga menelan ludah, menata
Pagi itu, matahari bersinar cerah di atas laut biru, angin pantai membawa aroma asin dan segar. Lingga dan Alina sudah siap untuk kegiatan pagi: lomba perahu dayung antar kelompok yang diadakan hotel.“Siap nggak, Lingga?” Alina melompat kegirangan. “Kita harus menang hari ini!”Lingga menggaruk kepala, setengah cemas. “Eh… aku kan baru pertama kali dayung bareng. Jangan salahin aku kalau perahunya malah muter-muter.”“Tenang aja! Aku yang akan arahkan. Pokoknya kita harus kompak!” Alina menggenggam tangannya, senyum lebarnya membuat Lingga tersipu.Di sisi lain, Maro memperhatikan mereka dari pantai, menatap Lingga–Alina dengan alis mengerut. “Hah… mereka terlalu akrab lagi,” gumamnya, menatap Stevi yang sedang menata rambutnya.Stevi menepuk bahu Maro. “Santai, sayang. Kita cuma harus fokus sama permainan kita sendiri. Jangan biarkan mereka ganggu mood liburan kita.”Maro menelan ludah, tapi tatapannya tetap menempel pada Lingga dan Alina yang tertawa lepas, mempersiapkan perahu.Sa
Lingga menarik napas panjang, matanya menatap Alina yang duduk di kursi penumpang, senyum lebar menghiasi wajahnya.“Baiklah… tiga hari,” ucap Lingga akhirnya, menatap mata Alina. “Aku terima syaratmu. Kita pacaran… selama tiga hari.”Alina tersenyum lebar, matanya berbinar. “Terima kasih, Lingga! Aku janji, kamu nggak akan menyesal.”Lingga merasakan jantungnya berdetak cepat, campur aduk antara risih dan senang. Tak ada yang tahu soal aturan “pacar tiga hari” ini, kecuali mereka berdua.Esok harinya, rombongan kecil itu berkumpul di bandara: Lingga, Alina, Maro, Stevi, Luna, Dito, dan Bagas. Semua tampak bersemangat, tawa dan canda memenuhi ruang tunggu. Voucher liburan prom night menjadi alasan sempurna untuk bersenang-senang.Di mobil sewaan menuju hotel, Alina duduk berdampingan dengan Lingga. Tanpa sadar, mereka saling menatap, sesekali bercanda.“Eh, jangan terlalu ngebut, Lingga! Aku nggak mau liburan ini berakhir dengan sakit karena mobil terguling,” goda Alina, menepuk bahun
Author POVKetegangan malam itu masih terasa tebal. Stevi menatap Maro dengan dingin, matanya menusuk seperti pisau, sementara Maro berdiri di sisinya, ragu dan cemas. Dua tahun hubungan mereka seolah diuji oleh kehadiran Alina.“Aku minta maaf, Stev, kalau kehadiranku membuatmu terganggu,” suara Alina lembut tapi tegas. “Aku hanya menganggap Maro teman baikku, tidak lebih. Aku yakin Maro juga begitu. Hanya ada kamu di hatinya. Jadi… jangan khawatir. Sekarang, Maro sebaiknya antar Stevi pulang. Aku sudah janji akan pulang bersama Luna dan pacarnya.”Stevi menatap Alina, terdiam. Maro mengangguk setuju, walau hatinya menolak. Alina tersenyum tipis, menyembunyikan kebenaran—ia tidak benar-benar pulang bersama Luna. Ia hanya ingin menghindari pertengkaran yang bisa berlarut.Maro dan Stevi pergi meninggalkan tempat itu. Alina tersisa sendiri, menatap jalan yang basah dan sepi. Tak lama, sebuah sedan hitam berhenti di sampingnya. Kaca depan terbuka, menampakkan sosok Lingga dengan tatapa







