Share

Bab 4

Penulis: Ufi
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-30 01:29:56

Lingga PoV

Apa ucapanku tadi keterlaluan?

Aku menggeleng pelan. Gadis itu—Alina—selalu punya tingkah yang bikin aku jengkel. Dan hari ini… dia bahkan ikut masuk ke toilet pria. Ya, mungkin niatnya bukan mesum, tapi kalau aku nggak ada di sana? Bisa-bisa dia kena masalah serius.

Kenapa aku memikirkan sejauh ini?

Apa aku… mengkhawatirkannya?

Aku menepis pikiran itu. Fokusku kembali ke hal lain.

Alina pacarnya Maro?

Aku tahu itu nggak mungkin. Tapi… apa perlu sampai mencium Maro segala? Tentunya cuma caranya bikin aku cemburu.

Tidak. Aku tidak cemburu.

Tapi sejak jam pelajaran sampai pulang sekolah, pikiranku tetap terjebak pada satu hal.

Aku melangkah ke mobil, yang berhenti karena lampu merah. Secara refleks, aku menoleh ke kiri.

Dan di situ… aku membeku.

Alina. Dibonceng motor Maro.

Mereka tertawa, Alina tampak senang. Senyum itu… seharusnya bikin aku lega, tapi… jantungku malah berdetak lebih kencang.

Aku membuka jendela sedikit, menatap mereka lebih jelas. Tatapan Alina langsung bertemu dengan mataku. Senyum ceria itu hilang seketika, berganti ekspresi terkejut. Lampu hijau menyala. Motor mereka melaju, mendahului mobilku.

Dadaku panas, campur rasa marah, cemas, dan sesuatu yang aku sendiri belum bisa jelaskan.

Sesampainya di rumah, aku melempar tas sembarangan. Aku ingin mengalihkan pikiran, menghubungi teman-temanku—Maro, Dito, Bagas—mungkin bermain bisa menenangkan pikiranku.

“Kamu beneran pacaran sama Alina?” tanya Bagas tiba-tiba.

“Enggak lah,” jawab Maro santai. “Cintanya Alina kan mentok ke Lingga.”

Aku diam sejenak. Entah kenapa, ada rasa ringan di dadaku.

Tunggu… kenapa aku merasa lega? Ah… mungkin karena aku akhirnya tahu apa yang terjadi. Itu saja.

Ting tong.

Bel pintu berbunyi. Aku baru ingat tadi memesan makanan.

“Maro, tolong bukain. Makanan pesanan aku nih,” ucapku malas.

Maro bangkit dan membuka pintu.

Dan… aku terkejut.

Alina.

Dia… bekerja sebagai kurir?

“Alina… kamu lagi kerja?” tanya Maro, wajahnya tak kalah kaget.

“Iya,” jawabnya ceria. “Lagi antar pesanan. Atas nama Bapak Edi.” Nama bokapku. Aku memang sering pakai nama itu.

Sekilas, matanya melirik ke arahku. Lalu dia tersenyum lebar.

“Aku boleh gabung sebentar?” tanyanya antusias.

Apa-apaan ini?

Kami saling pandang. Dito angkat bicara, “Boleh aja. Masuk dulu. Di luar hujan deras banget.”

Aku menghela napas pelan. Menatap Dito kesal. Sejak kapan rumahku jadi tempat persinggahan bebas. Belum sempat aku menolak, Alina sudah duduk di sebelahku.

“Ternyata ini rumahmu,” katanya antusias. “Bagus banget. Lain kali aku boleh mampir lagi, ya?”

Lain kali? Tidak. Tidak ada lain kali.

Entah kenapa, ide jahil terlintas di kepalaku. Aku tahu Alina alergi kacang. Aku tahu karena dia pernah ngomel panjang lebar tentang itu.

Aku pergi kedapur, mencari kue kering yang kemarin mama beli. Aku menimbang ragu untuk melakukan ini, tapi sepertinya akan seru. Aku menyiapkan camilan berisi kacang—yang menurutku mungkin tanpa dosis berbahaya—lalu menyodorkan ke depan Alina.

“Mampir aja kalau mau main. Ini dimakan dulu sebelum lanjut kerja,” ucapku datar, berusaha menahan senyum. Dito dan Bagas melihatku heran, mungkin ini kalimat terpanjang yang pernah ku ucapkan pada Alina.

Alina tersenyum sumringah, lalu menggigit camilannya. Tak sampai lima menit, reaksinya muncul: wajahnya memerah, tangannya menggaruk lengan, sedikit gatal.

“Aduh… maaf,” katanya panik, menahan tawa canggung. “Kok gatal ya…”

Aku menahan tawa kecil. Maro menatapku tajam, tapi aku cuma mengangkat bahu seolah tak bersalah.

“Aku harus pulang, Maro,” kata Alina sambil menahan gatalnya. “Obatku ada di rumah. Makasih ya… lain kali aku mampir lagi.”

Dan dia pergi.

Dadaku… terasa aneh. Rasa lega, geli, tapi juga ada sesuatu yang entah apa.

Keesokan harinya, aku berjalan menyusuri lorong sekolah, ingin melihat Alina. Aku sengaja melewati depan kelasnya. Kosong. Ku ulangi kembali, tapi tetap tidak menemukannya.

Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara familiar.

“Alina nggak masuk. Katanya sakit.”

"Kok kamu tahu?" Tanpa sadar aku bertanya.

“Aku dengar dari temannya. Anak OSIS,” jawab Maro santai.

Sakit… karena alerginya? Karena aku?

Pikiranku penuh pertanyaan. Dadaku sesak.

Sejak kapan… aku memikirkan Alina seperti ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsessed   Bab 13

    Lingga menatap pantulan dirinya di kaca kamar mandi lebih lama dari biasanya.Bukan karena ia ingin memastikan penampilannya rapi, melainkan karena ia sedang memastikan satu hal:ia tidak boleh salah langkah malam ini.Tiga hari.Kesepakatan konyol yang awalnya hanya ingin segera ia akhiri, justru berubah jadi sesuatu yang membuat dadanya terasa penuh.Hari kedua kemarin… Lingga sadar.Sadar bahwa Alina bukan sekadar gadis menyebalkan yang selalu mengejarnya.Ia tertawa dengan cara yang jujur. Ia peduli dengan cara yang tidak memaksa. Ia hadir tanpa menuntut apa pun, selain kesempatan.Dan itulah yang menakutkan.“Gue nggak suka sama Alina.”Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.Ia mengatakannya siang tadi, di depan teman-temannya, dengan nada datar dan senyum setengah main-main. Seolah semua yang terjadi selama dua hari terakhir hanyalah sandiwara.Padahal tidak.Lingga mengepalkan tangannya.Ia bilang itu bukan karena bohong sepenuhnya, melainkan karena takut.Takut Alina jatu

  • Obsessed   Bab 12

    Pagi itu, udara Bali terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari menembus tirai, menyoroti pasir pantai yang berkilau. Hari ini adalah hari ketiga. Hari terakhir syarat pacaran tiga hari antara Lingga dan Alina. Alina duduk di balkon, memandang laut biru sambil memegang cangkir kopi hangat. Hatinya berdebar. Rasanya campur aduk; senang karena bisa menghabiskan waktu bersama Lingga, tapi juga cemas karena syarat itu akan segera berakhir. “Selamat pagi, sayang,” suara Lingga terdengar di belakangnya. Ia tersenyum hangat sambil membawa dua gelas jus. Alina tersipu. “Pagi… eh, maksudku… selamat pagi.” Lingga duduk di sampingnya, menatap mata Alina penuh lembut. “Aku janji, hari ini aku akan membuatnya menyenangkan. Tidak ada canggung lagi.” Alina menoleh, tersenyum tipis. “Aku percaya padamu.” Saat sarapan, Lingga dan Alina duduk bersebelahan. Teman-teman mereka menatap dengan keheranan—ada sesuatu yang berbeda dari Lingga yang biasanya cuek. “Eh… kok mereka kayak… manis banget pag

  • Obsessed   Bab 11

    Pagi itu, sinar matahari menembus tirai jendela kamar, menyinari lantai kayu yang hangat. Alina duduk di tepi tempat tidur, menatap langit-langit sambil memainkan ujung selimut. Masih teringat malam sebelumnya, hatinya campur aduk antara kebahagiaan dan rasa takut. Pintu kamar diketuk perlahan. “Alina… boleh masuk?” suara Lingga terdengar canggung, sedikit ragu. Alina menoleh, wajahnya memerah. “Eh… ya, masuk saja.” Lingga melangkah masuk, tangannya sedikit gemetar. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap Alina dengan campuran bersalah dan cemas. Suasana hening, hanya suara angin laut yang terdengar dari balkon. “Maafkan aku tadi malam…” Lingga akhirnya berkata, suaranya hampir berbisik. “Aku… terlalu jauh. Aku tidak bermaksud membuatmu takut.” Alina menunduk, jari-jarinya menari di tepi selimut. Hatinya berdebar, tapi ia menahan diri untuk tidak menatap Lingga. “Aku… aku butuh waktu, Lingga,” jawabnya pelan. “Aku masih bingung dengan semuanya.” Lingga menelan ludah, menata

  • Obsessed   Bab 10

    Pagi itu, matahari bersinar cerah di atas laut biru, angin pantai membawa aroma asin dan segar. Lingga dan Alina sudah siap untuk kegiatan pagi: lomba perahu dayung antar kelompok yang diadakan hotel.“Siap nggak, Lingga?” Alina melompat kegirangan. “Kita harus menang hari ini!”Lingga menggaruk kepala, setengah cemas. “Eh… aku kan baru pertama kali dayung bareng. Jangan salahin aku kalau perahunya malah muter-muter.”“Tenang aja! Aku yang akan arahkan. Pokoknya kita harus kompak!” Alina menggenggam tangannya, senyum lebarnya membuat Lingga tersipu.Di sisi lain, Maro memperhatikan mereka dari pantai, menatap Lingga–Alina dengan alis mengerut. “Hah… mereka terlalu akrab lagi,” gumamnya, menatap Stevi yang sedang menata rambutnya.Stevi menepuk bahu Maro. “Santai, sayang. Kita cuma harus fokus sama permainan kita sendiri. Jangan biarkan mereka ganggu mood liburan kita.”Maro menelan ludah, tapi tatapannya tetap menempel pada Lingga dan Alina yang tertawa lepas, mempersiapkan perahu.Sa

  • Obsessed   Bab 9

    Lingga menarik napas panjang, matanya menatap Alina yang duduk di kursi penumpang, senyum lebar menghiasi wajahnya.“Baiklah… tiga hari,” ucap Lingga akhirnya, menatap mata Alina. “Aku terima syaratmu. Kita pacaran… selama tiga hari.”Alina tersenyum lebar, matanya berbinar. “Terima kasih, Lingga! Aku janji, kamu nggak akan menyesal.”Lingga merasakan jantungnya berdetak cepat, campur aduk antara risih dan senang. Tak ada yang tahu soal aturan “pacar tiga hari” ini, kecuali mereka berdua.Esok harinya, rombongan kecil itu berkumpul di bandara: Lingga, Alina, Maro, Stevi, Luna, Dito, dan Bagas. Semua tampak bersemangat, tawa dan canda memenuhi ruang tunggu. Voucher liburan prom night menjadi alasan sempurna untuk bersenang-senang.Di mobil sewaan menuju hotel, Alina duduk berdampingan dengan Lingga. Tanpa sadar, mereka saling menatap, sesekali bercanda.“Eh, jangan terlalu ngebut, Lingga! Aku nggak mau liburan ini berakhir dengan sakit karena mobil terguling,” goda Alina, menepuk bahun

  • Obsessed   Bab 8

    Author POVKetegangan malam itu masih terasa tebal. Stevi menatap Maro dengan dingin, matanya menusuk seperti pisau, sementara Maro berdiri di sisinya, ragu dan cemas. Dua tahun hubungan mereka seolah diuji oleh kehadiran Alina.“Aku minta maaf, Stev, kalau kehadiranku membuatmu terganggu,” suara Alina lembut tapi tegas. “Aku hanya menganggap Maro teman baikku, tidak lebih. Aku yakin Maro juga begitu. Hanya ada kamu di hatinya. Jadi… jangan khawatir. Sekarang, Maro sebaiknya antar Stevi pulang. Aku sudah janji akan pulang bersama Luna dan pacarnya.”Stevi menatap Alina, terdiam. Maro mengangguk setuju, walau hatinya menolak. Alina tersenyum tipis, menyembunyikan kebenaran—ia tidak benar-benar pulang bersama Luna. Ia hanya ingin menghindari pertengkaran yang bisa berlarut.Maro dan Stevi pergi meninggalkan tempat itu. Alina tersisa sendiri, menatap jalan yang basah dan sepi. Tak lama, sebuah sedan hitam berhenti di sampingnya. Kaca depan terbuka, menampakkan sosok Lingga dengan tatapa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status