LOGINMaro POV
“Iya biii, aku nggak lupa kok, tenang aja. Bye bi, love you.” Kututup telepon dari Stevi. Ini sudah kali keempat dia mengingatkanku supaya pakai atasan biru agar bisa couple dengannya saat prom night lusa nanti. Aku cuma menghela napas, setengah gemas, setengah senang. “Dor dor dor dor…” “Dor dor dor dor…” Suara tembakan mainan memecah lamunanku. Rado, adikku, menembakku tanpa ampun. “Ih, mati dong kak, kan udah kutembak!” seru Rado dengan nada melengking. “Males ah, sana main sendiri aja, jangan gangguin kakak ya!” protesku sambil menepis tangannya. “Permisi! Layanan pesan antar!” Rado tertawa cekikikan, lari keluar, diikuti Mama. Tapi… suara tembakan masih terdengar. “Ahhh… aku mati tertembak!” Tunggu… itu suara siapa? Kuikut suara itu, dan benar saja—Rado sudah menarik tangan seseorang. Alina. “Rado, jangan gitu, nggak sopan,” tegur Mama. “Nggak apa-apa, Tante. Saya kebetulan free, habis dari sini,” jawab Alina santai, senyumnya cerah seperti biasanya. “Hore! Ayo kak main sama aku! Biasanya kak Maro nolak kalau aku ngajak,” Rado berteriak, penuh semangat. Aku menatap mereka. Alina menatapku kaget. " Maro, ini rumah kamu?" Yaa begitulah awal Alina masuk kedalam lingkungan keluargaku. Aku nggak pernah lihat Stevi bisa dekat dengan keluargaku—apalagi mau main dengan Rado. Tapi Alina? Dia selalu tertawa bersama Rado, mengikuti semua kenakalannya. Sekarang, dia bahkan sedang memasak bersama Mama. Jelas Mama lebih suka Alina daripada Stevi. Stevi… tipikal gadis manja yang jarang mau kotor tangan. Menyapu atau cuci piring pun jarang dilakukan. Sadar, Maro, pacarmu itu Stevi? Sejak saat itu, Mama dan Rado selalu menanyakan tentang Alina. Gadis yang selalu tersenyum itu sudah punya tempat di hati mereka. Tapi tidak denganku atau Stevi. Di sekolah, kehadiran Alina kadang membuat situasi sedikit rumit. “Hai Maro, hai Stevi…” tiba-tiba dia duduk di antara aku dan Stevi. Aku terpaksa pindah tempat ke depan Stevi. “Kamu ngapain sih di sini?” tanya Stevi, kesal. Please Stev… biarin aja. Anggap saja dia nggak ada. Aku sudah terlalu lelah menghadapi tingkah dua wanita ini. “Aku mau makan. Ini kan kantin. Stev, please banget, orang-orang bakal bicara seenaknya kalau aku nggak ikut. Mereka kan tahu aku pacarnya Maro juga,” Alina membela diri. “Tapi apa kamu nggak lihat? Sekarang mereka lihat kita aneh… satu pria dengan dua wanita. Masuk akal nggak, Lin?” suara Stevi terdengar lebih rendah. “Udah bi, anggap aja dia nggak ada. Yang penting kamu tau perasaanku sama kamu gimana, yaa,” aku mencoba merayu Stevi, berharap kami bisa makan dengan tenang. Malam prom night tiba. Aku sudah bersiap dengan baju couple yang Stevi pilihkan. “Kak Maro, ada kak Alina…” Apa? Ngapain dia kesini? Aku menuruni tangga menuju ruang tengah. Dan benar saja, Alina ada di sana. Dress selutut putih polos, sederhana tapi elegan. Rambutnya yang biasanya terikat kini terurai, dihiasi jepit kupu-kupu kecil di samping belahan rambutnya. Make-up tipis dengan lipstik pink soft membuat bibirnya terlihat manis. “Cantik banget kan, kak Alina! Kenapa sih kak Maro pacarnya bukan kak Alina aja?” Rado berseru, membuatku tersadar dari lamunanku. “Alina, kamu kenapa kesini?” tanyaku. “Aku mau pergi bareng kamu,” jawabnya santai, senyum manis selalu menghiasi wajahnya. “Ya nggak bisa dong, Lin. Aku mau jemput Stevi. Nggak mungkin kita bareng, apa nanti kata Stevi,” aku menolak tegas. “Aku janji, aku bakal diem aja di mobil nanti. Anggap aja aku nggak ada,” Alina keras kepala, seperti biasanya. Brakkk! Rado menabrakku dengan kue coklat yang jatuh ke lantai. Baju yang kupakai sekarang penuh noda coklat, berantakan. Frustasi, aku naik ke kamar, buka lemari, mencari baju yang warnanya senada. Nihil. Hanya ada baju putih formal. Awalnya enggan memakainya, tapi akhirnya kupakai juga. Waktu sudah mepet, tidak ada pilihan lain. Aku turun ke ruang tengah. Alina sudah ada di sana. “Ya ampun, kalian serasi banget,” kata Mama sambil tersenyum lebar. Baru kusadari, baju kami berwarna putih—seperti pasangan. “Ayo deketan, Mama mau foto!” Alina berjalan ke sampingku, dan ckriiik… Mama menunjukkan hasil fotonya. Ada perasaan gugup saat melihat Alina berdiri di sampingku, tersenyum manis dan tulus.Lingga menatap pantulan dirinya di kaca kamar mandi lebih lama dari biasanya.Bukan karena ia ingin memastikan penampilannya rapi, melainkan karena ia sedang memastikan satu hal:ia tidak boleh salah langkah malam ini.Tiga hari.Kesepakatan konyol yang awalnya hanya ingin segera ia akhiri, justru berubah jadi sesuatu yang membuat dadanya terasa penuh.Hari kedua kemarin… Lingga sadar.Sadar bahwa Alina bukan sekadar gadis menyebalkan yang selalu mengejarnya.Ia tertawa dengan cara yang jujur. Ia peduli dengan cara yang tidak memaksa. Ia hadir tanpa menuntut apa pun, selain kesempatan.Dan itulah yang menakutkan.“Gue nggak suka sama Alina.”Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.Ia mengatakannya siang tadi, di depan teman-temannya, dengan nada datar dan senyum setengah main-main. Seolah semua yang terjadi selama dua hari terakhir hanyalah sandiwara.Padahal tidak.Lingga mengepalkan tangannya.Ia bilang itu bukan karena bohong sepenuhnya, melainkan karena takut.Takut Alina jatu
Pagi itu, udara Bali terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari menembus tirai, menyoroti pasir pantai yang berkilau. Hari ini adalah hari ketiga. Hari terakhir syarat pacaran tiga hari antara Lingga dan Alina. Alina duduk di balkon, memandang laut biru sambil memegang cangkir kopi hangat. Hatinya berdebar. Rasanya campur aduk; senang karena bisa menghabiskan waktu bersama Lingga, tapi juga cemas karena syarat itu akan segera berakhir. “Selamat pagi, sayang,” suara Lingga terdengar di belakangnya. Ia tersenyum hangat sambil membawa dua gelas jus. Alina tersipu. “Pagi… eh, maksudku… selamat pagi.” Lingga duduk di sampingnya, menatap mata Alina penuh lembut. “Aku janji, hari ini aku akan membuatnya menyenangkan. Tidak ada canggung lagi.” Alina menoleh, tersenyum tipis. “Aku percaya padamu.” Saat sarapan, Lingga dan Alina duduk bersebelahan. Teman-teman mereka menatap dengan keheranan—ada sesuatu yang berbeda dari Lingga yang biasanya cuek. “Eh… kok mereka kayak… manis banget pag
Pagi itu, sinar matahari menembus tirai jendela kamar, menyinari lantai kayu yang hangat. Alina duduk di tepi tempat tidur, menatap langit-langit sambil memainkan ujung selimut. Masih teringat malam sebelumnya, hatinya campur aduk antara kebahagiaan dan rasa takut. Pintu kamar diketuk perlahan. “Alina… boleh masuk?” suara Lingga terdengar canggung, sedikit ragu. Alina menoleh, wajahnya memerah. “Eh… ya, masuk saja.” Lingga melangkah masuk, tangannya sedikit gemetar. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap Alina dengan campuran bersalah dan cemas. Suasana hening, hanya suara angin laut yang terdengar dari balkon. “Maafkan aku tadi malam…” Lingga akhirnya berkata, suaranya hampir berbisik. “Aku… terlalu jauh. Aku tidak bermaksud membuatmu takut.” Alina menunduk, jari-jarinya menari di tepi selimut. Hatinya berdebar, tapi ia menahan diri untuk tidak menatap Lingga. “Aku… aku butuh waktu, Lingga,” jawabnya pelan. “Aku masih bingung dengan semuanya.” Lingga menelan ludah, menata
Pagi itu, matahari bersinar cerah di atas laut biru, angin pantai membawa aroma asin dan segar. Lingga dan Alina sudah siap untuk kegiatan pagi: lomba perahu dayung antar kelompok yang diadakan hotel.“Siap nggak, Lingga?” Alina melompat kegirangan. “Kita harus menang hari ini!”Lingga menggaruk kepala, setengah cemas. “Eh… aku kan baru pertama kali dayung bareng. Jangan salahin aku kalau perahunya malah muter-muter.”“Tenang aja! Aku yang akan arahkan. Pokoknya kita harus kompak!” Alina menggenggam tangannya, senyum lebarnya membuat Lingga tersipu.Di sisi lain, Maro memperhatikan mereka dari pantai, menatap Lingga–Alina dengan alis mengerut. “Hah… mereka terlalu akrab lagi,” gumamnya, menatap Stevi yang sedang menata rambutnya.Stevi menepuk bahu Maro. “Santai, sayang. Kita cuma harus fokus sama permainan kita sendiri. Jangan biarkan mereka ganggu mood liburan kita.”Maro menelan ludah, tapi tatapannya tetap menempel pada Lingga dan Alina yang tertawa lepas, mempersiapkan perahu.Sa
Lingga menarik napas panjang, matanya menatap Alina yang duduk di kursi penumpang, senyum lebar menghiasi wajahnya.“Baiklah… tiga hari,” ucap Lingga akhirnya, menatap mata Alina. “Aku terima syaratmu. Kita pacaran… selama tiga hari.”Alina tersenyum lebar, matanya berbinar. “Terima kasih, Lingga! Aku janji, kamu nggak akan menyesal.”Lingga merasakan jantungnya berdetak cepat, campur aduk antara risih dan senang. Tak ada yang tahu soal aturan “pacar tiga hari” ini, kecuali mereka berdua.Esok harinya, rombongan kecil itu berkumpul di bandara: Lingga, Alina, Maro, Stevi, Luna, Dito, dan Bagas. Semua tampak bersemangat, tawa dan canda memenuhi ruang tunggu. Voucher liburan prom night menjadi alasan sempurna untuk bersenang-senang.Di mobil sewaan menuju hotel, Alina duduk berdampingan dengan Lingga. Tanpa sadar, mereka saling menatap, sesekali bercanda.“Eh, jangan terlalu ngebut, Lingga! Aku nggak mau liburan ini berakhir dengan sakit karena mobil terguling,” goda Alina, menepuk bahun
Author POVKetegangan malam itu masih terasa tebal. Stevi menatap Maro dengan dingin, matanya menusuk seperti pisau, sementara Maro berdiri di sisinya, ragu dan cemas. Dua tahun hubungan mereka seolah diuji oleh kehadiran Alina.“Aku minta maaf, Stev, kalau kehadiranku membuatmu terganggu,” suara Alina lembut tapi tegas. “Aku hanya menganggap Maro teman baikku, tidak lebih. Aku yakin Maro juga begitu. Hanya ada kamu di hatinya. Jadi… jangan khawatir. Sekarang, Maro sebaiknya antar Stevi pulang. Aku sudah janji akan pulang bersama Luna dan pacarnya.”Stevi menatap Alina, terdiam. Maro mengangguk setuju, walau hatinya menolak. Alina tersenyum tipis, menyembunyikan kebenaran—ia tidak benar-benar pulang bersama Luna. Ia hanya ingin menghindari pertengkaran yang bisa berlarut.Maro dan Stevi pergi meninggalkan tempat itu. Alina tersisa sendiri, menatap jalan yang basah dan sepi. Tak lama, sebuah sedan hitam berhenti di sampingnya. Kaca depan terbuka, menampakkan sosok Lingga dengan tatapa







