Beranda / Romansa / Obsession In Love / Bab 6 Permintaan

Share

Bab 6 Permintaan

Penulis: Nuvola
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-01 23:27:15

"Apa cucuku memperlakukanmu dengan baik?" tanya kakek menatap Arin. "Katakan saja pada kakek, jangan takut wajahnya memang tercipta seperti itu," sambung kakek dengan lembut karena melihat Arin yang masih terdiam.

"Ba-baik kok Kek," jawab Arin dengan canggung.

"Kamu nampak masih muda, bagaimana kamu bisa mau dengan pria tua ini?" tanya kakek membuat Arin mengulum senyumnya. "Tapi tenang saja kakek yakin dia memperlakukanmu dengan baik, bisa terlihat jika dia begitu mencintaimu," sambungnya membuat Arin menelan ludahnya. Dia menatap Samuel sekilas yang terlihat wajah datar Samuel.

Kakek Indra berbicara banyak hal, dia terlihat lembut dan penuh perhatian membuat Arin merasa nyaman. Sesekali Kakek Indra membuat gurauan yang membuat Arin tertawa. Samuel masih disana dia hanya memperhatikan Arin dan Kakek.

"Apa kesibukanmu sekarang?"

"Arin masih mengurus skirpsi Kek, kebetulan Pak Samuel itu dospem Arin Kek," jawab Arin yang muali terbuka dengan Kakek Indra. "Dan Arin satu-satunya mahasiswi yang dia bimbing," sambung Arin.

"Jadi kalian jatuh cinta karena sering bertemu sebagai dosen dan mahasiswi?" tanya Kakek Indra. Arin tersenyum seakan dia tengah tersipu malu membuat Samuel mengangkat sebelah Alisnya.

Dering telepon Samuel membuat Samuel bangkit dari duduknya. "Aku permisi dulu, ada pekerjaan yang harus aku urus," pamit Samuel yang mendapatkan anggukan dari Kakek Indra.

Samuel mendekat ke arah Arin seakan dia mencium pipi Arin. "Apapun yang kamu rencanakan, jangan berharap untuk bisa melakukannya," ucap Samuel dengan penuh penekanan.

"Apa dia mengetahui rencananya?" batin Arin. Melihat rumah Kakek Indra yang tak banyak bodyguard membuat Arin berpikir untuk melarikan diri dari sana. Meskipun Kakek Indra sangat baik dan ramah tetapi dia tetap tidak mau menikah dengan Samuel.

"Kalian sangat serasi," ucap Kakek Indra setelah Samuel pergi karena berpikir jika Samuel mencium pipi Arin.

"Rumah Kakek sangat nyaman, udaranya juga masih sejuk," ucap Arin mengalihkan topik.

"Makanya Kakek lebih memilih tinggal disini daripada bersama Samuel di ibu kota."

Kakek Indra terbatuk-batuk membuat Arin mengusap punggungnya. "Kakek sebaiknya istirahat ini juga sudah malam," ucap Arin.

"Baiklah Kakek akan istirahat kita lanjutkan mengobrol nanti," balas Kakek Indra.

"Iya Kakek, biar Arin antar ke kamar ya," ucap Arin yang bangkit.

Kakek Indra pun bangkit dari duduknya dia berjalan menggunakan tongkat menuju ke kamarnya. Arin membantu Kakek Indra untuk duduk di tempat tidur. "Arin, duduk sini dulu," pintanya yang menepuk sisi tempat tidur.

"Iya Kek ada apa?" tanya Arin.

"Kakek sudah sangat tua, bolehkah Kakek minta sesuatu kepadamu?" tanya Indra dengan wajah yang sangat serius.

"Kakek mau apa? Arin akan berusaha memberikannya."

"Umur Kakek pasti tidak akan lama lagi."

"Kakek jangan berbicara seperti itu, kakek kan masih sehat," ucap Arin segera. Arin tidak suka dengan perkataan Kakek Indra karena dia tidak mau kehilangan orang yang dia sayangi lagi. Meskipun Arin baru mengenal Kakek Indra dan meskipun dia membenci cucu Kakek Indra tetapi Arin tersentuh dengan kasih sayang yang Kakek Indra berikan.

"Iya memang kakek masih sehat tapi Kakek sudah sangat tua, Arin," tutur kakek Indra. "Kakek hanya ingin melihat cucu Kakek hidup bahagia dengan keluarga kecilnya, Kakek ingin melihat dia memiliki anak," sambung Kakek Indra membuat Arin terdiam.

"Maaf jika Kakek membebanimu," imbuh Kakek Indra karena melihat Arin yang terdiam.

"Tidak Kek, Arin mengerti kok," balas Arin.

"Tolong jangan tinggalkan dia ya," pinta Kakek Indra. Arin butuh waktu untuk menjawabnya dan akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya. Melihat Arin yang mengangguk membuat Kakek Indra tersenyum. "Kakek tahu kamu wanita baik, Samuel tidak mungkin salah memilih wanita," imbuhnya membuat Arin memaksakan senyumnya.

Setelah pembicaraan itu Arin pun keluar dari kamar Kakek Indra, ia membiarkan kakek beristirahat. Arin bingung dimana harus kemana hingga Paman Erwin pun menghampirinya.

"Nona mari saya antar ke kamar Anda," ucap Paman Erwin. Arin pun mengikuti langkah Paman Erwin menuju ke sebuah kamar yang ada di lantai dua.

"Ini adalah kamar Anda dan sebelah kanan itu adalah kamar Tuan Muda Samuel," jelas Erwin.

"Terimakasih Paman."

"Jika Anda membutuhkan sesuatu bisa memanggil saya," ucap Erwin membuat Arin menganggukan kepalanya.

Sekarang masih pukul delapan malam dan Arin belum mengantuk dia pun memilih kembali keluar dari kamar untuk melihat-lihat rumah Kakek Indra. Dia ingin mencari celah agar dirinya bisa lepas dari Samuel. Saat tengah berkeliling tiba-tiba suara Samuel mengagetkannya.

"Apa yang kamu rencanakan hm?"

"Ti-tidak ada Pak, saya hanya berkeliling karena belum mengantuk," jawab Arin terbata karena dia terkejut dengan kehadiran Samuel.

"Masuk kamar!" tirah Samuel.

"Baik Pak," jawab Arin yang kemudian mempercepat langkahnya menuju ke kamar.

Arin menutup rapat pintu kamar, jantungnya hampir saja copot karena Samuel. Wajah Samuel nampak dingin dengan tatapan tajam seakan bisa membunuh Arin kapan saja. Arin mengatur nafasnya agar detak jantungnya kembali normal.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsession In Love   Bab 119 End

    Langit pagi itu mendung, seolah menyelimuti bumi dengan kesedihan yang tenang. Angin bertiup lembut, menyapu dedaunan yang jatuh di sepanjang jalan menuju pemakaman. Arin berdiri diam di depan dua nisan yang tertata rapi, dengan nama kedua orang tuanya terpahat di atas batu marmer putih. Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya menyunggingkan senyuman kecil yang penuh makna. Di sampingnya, Samuel berdiri memegang Noah yang tertidur dalam pelukannya. Bayi mungil itu tampak tenang, seolah memahami bahwa hari ini adalah momen penting bagi mamanya. Sementara itu, Fani berdiri beberapa langkah di belakang mereka, menjaga jarak, tapi tetap waspada seperti biasanya. Arin menghela napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak. “Akhirnya, aku kembali ke sini, Ayah, Ibu,” katanya pelan, nyaris seperti bisikan. Suaranya bergetar, tapi ia mencoba untuk tetap tegar. “Aku tahu... sudah terlalu lama aku tidak datang. Tapi sekarang, aku punya banyak hal yang ingin aku ceritakan.” Samuel

  • Obsession In Love   Bab 118

    Mila masuk ke apartemen bersama dengan Rocky, Rocky langsung berlutut untuk melepaskan heels yang Mila kenakan. “Aku bisa sendiri, Mas.”“Tapi selama ada aku, kamu tidak boleh melakukannya sendiri,” ucap Rocky yang menarik hidung Mila. “Bagaimana apa kamu lelah? Atau mual?“Tidak Mas, aku baik-baik saja. Gerah sekali, aku mau mandi dulu ya.”“Jangan mandi malam-malam,” larang Rocky.Dari dulu Rocky memang perhatian tapi setelah mengetahui jika Mila hamil dia semakin perhatian.“Gerah Mas.”“Nanti sakit Sayang, sudah ayo ganti baju lalu tidur,” tutur Rocky yang langsung menggendong Mila. Mila dengan refleks mengalungkan tangannya di leher Rocky. Mila akhirnya patuh dengan perkataan Rocky yang melarangnya untuk mandi. Dia hanya mengganti pakaiannya dengan baju tidur. “Loh Mas kok mandi?” protes Mila. “Gerah.”“Curang!”Rocky mencium pipi Mila dengan gemas, “Aku khawatir kamu sakit, Sayang. Kita tidur ya.”Rocky menuntun Mila naik ke atas tempat tidur, dengan lengan Rocky sebagai bant

  • Obsession In Love   Bab 117 Kelahiran dan Kematian

    Malam itu begitu tenang. Samuel duduk di samping Arin yang terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, tetapi senyum kecil tak pernah lepas dari bibirnya. Di pelukannya, seorang bayi mungil yang baru saja lahir beberapa jam lalu. "Noah," bisik Samuel, matanya menatap lembut ke wajah anak itu. "Aku ingin menamainya Noah. Untuk menghormati Ayahmu, Arin. Dia pasti bangga." Arin tersenyum meski lelah. Air mata hangat mengalir dari sudut matanya. "Noah... Nama yang indah.”Samuel membelai rambut Arin dengan penuh kasih. Di dalam hatinya, ia berjanji untuk menjaga dua orang yang paling ia cintai ini dengan segenap jiwa raganya. "Kamu tahu, aku tidak pernah seberharap ini sebelumnya," ujar Samuel, suaranya pelan tapi penuh emosi. "Melihat kamu dan Noah… rasanya seperti semua perjuangan selama ini terbayar." Arin mengangguk kecil. Tubuhnya masih lemah setelah proses persalinan yang cukup panjang. Tapi melihat bayi mereka yang sehat dan Samuel yang selalu ada di sisinya, ia meras

  • Obsession In Love   Bab 116

    Mentari pagi menyelinap dari celah-celah tirai jendela kamar tidur mewah milik Samuel dan Arin. Suara burung yang berkicau terdengar lembut, seolah menyambut hari baru yang penuh kebahagiaan. Arin membuka matanya perlahan. Dia menoleh, menemukan Samuel yang sudah duduk di tepi ranjang, mengenakan kemeja putih yang digulung di bagian lengannya. Tatapan pria itu hangat, penuh cinta. “Pagi, istriku,” sapa Samuel sambil tersenyum. Arin tersenyum kecil, matanya masih setengah mengantuk. “Pagi, suamiku. Kenapa bangun pagi-pagi sekali? Biasanya kamu kan malas-malasan dulu.” Samuel tertawa kecil, lalu membelai rambut Arin dengan lembut. “Aku cuma ingin memastikan kamu istirahat dengan cukup. Lagipula, ada sesuatu yang spesial hari ini.” Arin mengerutkan kening, bingung. “Spesial? Apa? Hari ini bukan ulang tahun kita, kan?” Samuel mengangguk pelan, wajahnya penuh rahasia. “Nanti juga kamu tahu. Yang penting sekarang, kamu siap-siap, ya. Aku mau kita habiskan hari ini dengan santai, cu

  • Obsession In Love   Bab 115

    Pagi itu, Arin berdiri di depan gedung utama Venus Corporation. Bangunan megah itu terlihat kokoh, tapi di matanya, gedung itu seperti menyimpan luka lama. Perusahaan yang dulu milik kedua orang tuanya telah mengalami begitu banyak perubahan buruk di tangan Irawan. Namun sekarang, semuanya ada di tangannya. Arin menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan hatinya. Ini adalah langkah besar, dan dia tidak boleh gagal.Di sampingnya, Samuel berdiri dengan tenang. Wajahnya seperti biasa, penuh ketegasan, tapi ada senyum kecil yang membuat Arin merasa lebih percaya diri.“Kamu yakin bisa handle semuanya?” tanya Samuel, memecah keheningan.Arin menoleh, tersenyum tipis. “Aku harus bis. Ini perusahaan orang tuaku, Mas. Aku tidak bisa biarin apa yang mereka bangun terbuang sia-sia.”Samuel mengangguk. “Kalau kamu butuh bantuan, Mas selalu ada. Mas tahu ini berat, tapi kamu tidak sendirian.”Mendengar itu, Arin merasa lebih lega. Ada kekuatan dalam kata-kata Samuel yang membuatnya yakin la

  • Obsession In Love   Bab 114

    Clara berdiri di depan cermin besar di kamar pribadinya. Gaun merah yang membalut tubuhnya terlihat sempurna, namun wajahnya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan. Senyum tipis menghiasi bibirnya, meskipun hatinya penuh amarah. Samuel. Nama itu terus berputar di kepalanya. Dia ingat betul bagaimana pria itu menatapnya dingin beberapa hari yang lalu, menolak kehadirannya tanpa sedikit pun ragu.“Dia tidak bisa terus seperti ini,” gumam Clara pada dirinya sendiri, suaranya hampir seperti bisikan. Matanya menatap pantulan dirinya dengan tajam, seolah mencoba meyakinkan diri bahwa dia masih punya kendali. ---Di ruang tamu, Irawan berdiri dengan wajah merah padam. Di depannya, Bella berdiri dengan koper besar di tangannya. Wanita itu mengenakan pakaian sederhana, tidak seperti biasanya. Wajahnya yang biasanya penuh senyum kini terlihat dingin dan penuh kebencian. “Kamu mau ke mana?” suara Irawan terdengar keras, hampir seperti teriakan. Bella menatapnya dengan tenang, tapi sorot

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status