MasukPagi di Bali datang dengan suara burung dan cahaya yang jatuh pelan di lantai kayu vila. Nadia terbangun lebih dulu. Ia berdiri di depan jendela, menatap sawah yang basah oleh embun. Ada ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, ketenangan yang tidak berasal dari kepastian, melainkan dari keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Daniel masih terlelap. Wajahnya terlihat lebih muda saat tidur, bebas dari garis-garis tegang yang dulu selalu hadir. Nadia tersenyum kecil, lalu berjalan pelan ke dapur untuk menyiapkan kopi. Tak lama, Daniel menyusul. Rambutnya masih berantakan, kaus tipis menempel di tubuhnya. “Pagi,” kata Daniel serak. “Pagi,” jawab Nadia sambil menyerahkan secangkir kopi. Mereka duduk berdampingan di beranda, memulai hari tanpa agenda besar. Namun keduanya tahu, hari ini bukan hari biasa. Daniel memecah keheningan. “Aku mendapat email tadi malam,” kata Daniel. Nadia menoleh, tenang. “Dari Hamburg?” Daniel mengangguk. “Dewan menyetujui fase stabil pe
Senja turun perlahan di Bali. Langit memerah lembut, seolah laut dan langit sepakat menahan warna terbaiknya sedikit lebih lama. Daniel dan Nadia duduk di beranda vila kecil yang menghadap sawah. Angin membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja. Tidak ada musik, tidak ada suara kota, hanya desir serangga dan napas yang kini terasa lebih ringan. Sejak pagi di Pantai Kuta, mereka tidak banyak bicara. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena masing-masing sedang menyusun sesuatu di dalam diri, sebuah pengakuan yang tidak ingin diucapkan sembarangan. Daniel menatap Nadia dari samping. Wajahnya terlihat tenang, tetapi matanya menyimpan kedalaman baru, seolah setiap pengalaman hidupnya kini menemukan tempat. “Nadia,” kata Daniel pelan, memecah keheningan. “Apa yang kamu rasakan hari ini… berat?” Nadia tersenyum kecil. “Tidak. Aneh, ya? Aku justru merasa utuh.” Daniel mengangguk. “Aku juga.” Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada yang tidak biasa, lebih lambat, le
Pagi itu laut terlihat tenang. Daniel dan Nadia berjalan menyusuri pantai Kuta, pasir masih dingin oleh sisa malam. Mereka tiba di Bali dua hari sebelumnya bukan untuk liburan besar, melainkan untuk pulang sebentar. Nadia ingin menengok cafe kecilnya, Daniel ingin bernapas dari ritme Eropa yang terlalu rapi. Pantai Kuta tidak banyak berubah. Riuhnya masih sama, bau garam dan matahari masih bercampur di udara. Namun bagi Nadia, tempat itu selalu menyimpan gema sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pahami, hingga kini. Daniel melepas sepatunya, membiarkan air menyentuh pergelangan kakinya. Ia berdiri memandang laut dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Aku selalu punya perasaan aneh setiap melihat laut di sini,” kata Daniel pelan. “Seperti pernah meninggalkan sesuatu.” Nadia berhenti melangkah. Ia menatap punggung Daniel, cara ia berdiri menghadap ombak, bahunya yang sedikit tegang meski laut terlihat ramah. “Daniel…” kata Nadia perlahan. “Apa kamu ingat seorang gadis kecil… se
Daniel tiba di Kopenhagen pada sore yang tenang. Tidak ada jadwal rapat menunggu. Tidak ada ponsel yang terus bergetar di sakunya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia datang dengan satu hal sederhana: waktu. Ia berdiri di depan studio Nadia, menatap pintu kayu itu beberapa detik sebelum mengetuk. Ketukan itu pelan, tidak mendesak tapi seolah ia memberi ruang bagi Nadia untuk menyambutnya tanpa kejutan. Pintu terbuka. Nadia berdiri di sana dengan rambut sedikit berantakan, apron masih tergantung di tubuhnya. Matanya terkejut sesaat, lalu melembut dengan cepat. “Kamu datang,” kata Nadia, hampir berbisik. Daniel tersenyum. “Aku datang… sepenuhnya.” Tidak ada kata lain yang dibutuhkan. Nadia melangkah mendekat. Mereka berpelukan lama, tanpa tergesa, tanpa ragu. Pelukan itu tidak lagi seperti orang yang takut kehilangan, melainkan dua manusia yang tahu ke mana mereka kembali. “Aku rindu caramu memeluk,” bisik Nadia. Daniel menutup mata. “Aku rindu tempat ini. Dan
Hamburg menyambut Daniel dengan ritme yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Tidak ada panggilan darurat di tengah malam. Tidak ada email berjudul urgent yang berlapis tanda seru. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pagi Daniel dimulai dengan secangkir kopi panas yang diminum perlahan, bukan sambil berdiri. Ia berdiri di depan jendela kantornya, lantai atas gedung yang dulu terasa seperti beban, kini mulai terasa seperti hasil dari perjuangan panjang. Di bawah, kota bergerak stabil, tidak tergesa, tidak panik. Rapat pagi berjalan singkat dan efisien. Laporan keuangan menunjukkan garis yang akhirnya menanjak secara konsisten. Investor yang dulu meragukan kini bicara dengan nada percaya. Tim internal bekerja dengan koordinasi yang matang, bukan ketakutan. “Restrukturisasi kita berhasil,” kata salah satu direktur dengan senyum lega. Daniel mengangguk. Ia tidak merayakan. Ia mengakui. Setelah rapat, Daniel duduk sendirian di ruang kerjanya. Ia membuka laptop, bukan un
Hari terakhir Daniel di Kopenhagen datang tanpa tanda khusus. Tidak ada hujan, tidak ada angin keras. Langit justru cerah, seolah kota itu sengaja bersikap netral dan membiarkan dua manusia di dalamnya mengambil keputusan sendiri. Daniel bangun lebih pagi. Ia duduk di tepi ranjang hotel, menatap koper yang sudah setengah terisi. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa enggan menyelesaikan sesuatu yang biasanya terasa mekanis. Bukan karena ia ingin tinggal lebih lama, tetapi karena ia tahu: setiap keberangkatan kini membawa makna. Ponselnya bergetar. Pesan dari Hamburg. Dewan direksi meminta rapat darurat siang ini. Salah satu investor utama ingin bertemu langsung. Ada peluang suntikan dana besar dengan syarat Daniel harus menetap penuh di Hamburg setidaknya satu tahun ke depan. Daniel menutup mata. Inilah dunia yang ia bangun bertahun-tahun. Dan kini dunia itu meminta kehadirannya sepenuhnya. Di sisi lain kota, Nadia berdiri di depan galeri, berbicara dengan koordinator r







