Home / Romansa / Om Bule Kekasihku / Saat Segalanya Tak Lagi Runtuh

Share

Saat Segalanya Tak Lagi Runtuh

Author: Sabrina dewi
last update publish date: 2026-01-03 19:09:57

Hamburg menyambut Daniel dengan ritme yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya.

Tidak ada panggilan darurat di tengah malam.

Tidak ada email berjudul urgent yang berlapis tanda seru.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pagi Daniel dimulai dengan secangkir kopi panas yang diminum perlahan, bukan sambil berdiri.

Ia berdiri di depan jendela kantornya, lantai atas gedung yang dulu terasa seperti beban, kini mulai terasa seperti hasil dari perjuangan panjang. Di bawah, kota bergerak stabi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Om Bule Kekasihku   Ketakutan, Amarah Dan Awal Kehancuran

    Pagi itu dalam kamar rumah sakit, suasana terasa sunyi, namun penuh emosi yang belum mereda. Nadia masih terbaring lemah di tempat tidur. Infus terpasang di tangannya, wajahnya pucat, namun napasnya stabil. Di kursi samping tempat tidur, Elena duduk diam. Tangannya menggenggam tangan Nadia erat, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu akan menghilang. “Mama Nadia” suaranya pelan dan bergetar. Nadia membuka matanya perlahan. Butuh beberapa detik hingga pandangannya fokus. “Elena” Gadis kecil itu langsung bangkit dan memeluknya dengan hati-hati. Tangisnya pecah lagi. “Aku pikir mama Nadia juga pergi..” Nadia langsung memeluknya walaupun tubuhnya masih lemah. “Mama Nadia ada di sini, nak” Elena menggeleng di pelukannya. “Aku takut, aku takut banget” Tangannya mencengkeram baju Nadia. “Aku sudah kehilangan mama Viola, aku tidak mau kehilangan mama Nadia juga” Air mata Nadia jatuh. Ia mencium rambut Elena berulang kali. “Tenang sqyang, mama Nadia tidak akan

  • Om Bule Kekasihku   Saat Nyawa Menjadi Taruhannya

    Di villa Moretti, semuanya tampak tenang di luar. Namun Daniel sudah tahu, malam ini Matteo akan bergerak. Di ruang kerja, Daniel berdiri di depan layar kamera keamanan. Beberapa titik di kebun anggur utara terlihat gelap. Lorenzo masuk dengan langkah cepat. “Pergerakan terdeteksi.” Daniel tidak terkejut. “Berapa orang?” tanya Daniel. “Tiga atau mungkin empat orang” jawab Lorenzo. Daniel mengambil jaketnya. “Biarkan mereka masuk.” “Kamu ingin menjebak mereka?” tanya Lorenzo serius. Daniel menjawab dingin, “Aku ingin melihat siapa orang yang cukup bodoh untuk datang langsung.” Sementara itu di kamar, Nadia sedang membantu Elena bersiap tidur. Gadis kecil itu masih terlihat lebih pendiam sejak kepergian Viola. “Mama Nadia” Nadia menoleh. “Ya, sayang?” Elena menggenggam tangannya. “Jangan pergi ya.” Nadia tersenyum lembut. “Mama selalu di sini, nak” Ia mencium kening Elena. Namun saat itu, lampu di kamar berkedip sebentar. Nadia mengernyit. “Aneh..” Elena lan

  • Om Bule Kekasihku   Janji Yang Tak Boleh Diingkari

    Setelah pemakaman Viola, rumah besar itu seperti kehilangan jiwanya. Tidak ada lagi suara langkah lembut Viola di lorong-lorong panjang, tidak ada lagi aroma kopi pagi yang biasa ia buat sendiri di dapur. Hanya kesunyian. Di kamar Daniel dan Nadia, lampu tidur menyala redup. Elena tidur di antara mereka, seperti malam sebelumnya. Sejak kematian Viola, ia menolak tidur sendirian. Nadia tidak keberatan. Ia justru merasa gadis kecil itu membutuhkan kehangatan lebih dari sebelumnya. Namun malam itu, Elena tiba-tiba terbangun. Ia duduk perlahan, masih memegang tangan Nadia. “Mama..” Nadia membuka mata. “Ya, sayang?” Elena terlihat ragu. Matanya yang masih bengkak karena menangis menatap Nadia dan Daniel bergantian. Daniel yang masih setengah tertidur akhirnya bangun juga. “Ada apa?” Elena menggigit bibirnya. “Aku boleh minta sesuatu?” Nadia langsung duduk. “Tentu.” Elena menatap mereka dengan serius, sesuatu yang jarang terlihat pada anak seusianya. “Janji dulu.” Dani

  • Om Bule Kekasihku   Tangis Di Bawah Langit Tuscany

    Di villa, tidak ada suara tawa pagi seperti biasanya. Rumah besar itu terasa terlalu sunyi. Di kamar Elena, Nadia duduk di tepi tempat tidur. Elena masih terbangun sejak tengah malam. Matanya merah dan bengkak karena terlalu lama menangis. Ia memeluk boneka kecil yang dulu diberikan Viola saat ulang tahunnya. “Mama, apa mama Viola benar-benar pergi?” tanya Elena dengan suara kecil. Nadia merasakan hatinya seperti diremas. Ia menarik Elena ke dalam pelukannya. “Ya, sayang” Elena langsung menangis lagi. Tangis yang tidak keras, tetapi panjang dan menyayat hati. “Kenapa mama pergi?” Nadia tidak tahu bagaimana menjelaskan kematian kepada anak kecil. Ia hanya mengusap rambut Elena perlahan. “Karena mama sangat sakit.” Elena menggeleng. “Tapi mama bilang dia tidak pergi jauh.” Nadia menahan air matanya. “Dia tidak jauh.” Elena menatapnya dengan mata penuh harapan. “Di mana?” Nadia memegang dada Elena dengan lembut. “Di sini.” Elena terdiam beberapa detik. Namun tiba-ti

  • Om Bule Kekasihku   Nafas Terakhir Seorang Ibu

    Di villa Moretti semua terasa berbeda malam itu. Seolah rumah besar itu tahu bahwa seseorang yang penting sedang berada di ujung waktunya. Di kamar Viola, lampu tidur menyala redup. Udara di dalam ruangan terasa sangat sunyi. Hanya ada suara napas Viola yang semakin pelan. Nadia masih duduk di sisi tempat tidur sambil memegang tangannya yang dingin. Perutnya yang membesar terasa berat malam itu, namun ia tidak bergerak sedikit pun. Daniel berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya tetap tenang. Namun matanya tidak pernah lepas dari Viola. Di kursi dekat tempat tidur, Elena tertidur. Gadis kecil itu akhirnya tertidur setelah terlalu lama menangis. Ia memeluk Bruno erat seperti boneka besar. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Lalu Viola perlahan membuka matanya. “Nadia” ucap Viola, suaranya hampir tidak terdengar. Nadia langsung mendekat. “Aku di sini.” Viola menatap wajah Nadia lama. Matanya penuh rasa lelah tapi juga ketenangan. “Aku ingin m

  • Om Bule Kekasihku   Hari Terakhir Seorang Ibu

    Pagi itu tidak ada hujan, tetapi udara terasa berat dan dingin. Angin yang biasanya membawa aroma kebun anggur kini terasa pelan dan sunyi. Seolah alam ikut menahan napas. Di villa Moretti, semua orang bangun lebih awal. Namun tidak ada yang benar-benar tidur semalam. Di kamar Viola, tirai jendela dibuka sedikit agar cahaya pagi masuk dengan lembut. Viola terlihat jauh lebih lemah dari hari kemarin. Tubuhnya hampir tidak bergerak di atas tempat tidur putih. Napasnya pendek dan sangat pelan. Dokter yang datang pagi itu memeriksa dengan hati-hati. Daniel berdiri di dekat jendela, sementara Nadia duduk di samping tempat tidur sambil menggenggam tangan Viola. Beberapa menit kemudian dokter berdiri dan menatap mereka dengan wajah yang sangat serius. “Kita harus bersiap” ucap dokter itu. Nadia langsung menundukkan kepala. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Daniel tidak berkata apa-apa. Namun tangannya yang berada di samping tubuhnya perlahan mengepal. Di kamar sebelah, Elena m

  • Om Bule Kekasihku   Kota Yang Tidak Minta Pengorbanan

    Pagi di Bali datang dengan suara burung dan cahaya yang jatuh pelan di lantai kayu vila. Nadia terbangun lebih dulu. Ia berdiri di depan jendela, menatap sawah yang basah oleh embun. Ada ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, ketenangan yang tidak berasal dari kepastian, melainkan dar

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Om Bule Kekasihku   Ketika Dunia Ikut Bicara

    Hari terakhir Daniel di Kopenhagen datang tanpa tanda khusus. Tidak ada hujan, tidak ada angin keras. Langit justru cerah, seolah kota itu sengaja bersikap netral dan membiarkan dua manusia di dalamnya mengambil keputusan sendiri. Daniel bangun lebih pagi. Ia duduk di tepi ranjang hotel, menatap

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Om Bule Kekasihku   Kota Yang Menjadi Titik Temu

    Kopenhagen menyambut Daniel dengan langit pucat dan udara asin dari laut.Pesawat mendarat lebih pagi dari jadwal. Daniel berdiri sejenak di ujung koridor bandara, menarik napas panjang, seolah ingin memastikan bahwa langkah yang ia ambil bukan reaksi sesaat, melainkan pilihan sadar. Tidak ada bung

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Om Bule Kekasihku   Ketika Waktu Akhirnya Memberi Ruang

    Daniel tiba di Kopenhagen pada sore yang tenang. Tidak ada jadwal rapat menunggu. Tidak ada ponsel yang terus bergetar di sakunya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia datang dengan satu hal sederhana: waktu. Ia berdiri di depan studio Nadia, menatap pintu kayu itu beberapa detik seb

    last updateLast Updated : 2026-03-26
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status