เข้าสู่ระบบRumah sakit yang semula terasa begitu menegangkan kini dipenuhi kesibukan para dokter dan perawat. Setelah Nadia dibawa ke ruang pemeriksaan, Daniel tidak meninggalkan sisinya sedikit pun. Sementara itu, di ruang tunggu, suasana masih diliputi kecemasan. Elena duduk di antara Lina dan Ayu. Tangannya terus menggenggam boneka kecil yang selalu ia bawa. "Papa dan mama akan baik-baik saja kan?" tanya Elena untuk kesekian kali. Lina mengusap rambutnya. "Tentu saja." Namun meskipun berkata demikian, Lina sendiri juga terlihat tegang karena anak semata wayangnya berjuang didalam sana. Di dalam ruang pemeriksaan, dokter kandungan Nadia sedang memeriksa hasil terbaru. Beberapa menit yang terasa sangat lama berlalu. Daniel berdiri di samping tempat tidur Nadia. Tangannya tidak pernah lepas dari tangan istrinya. "Bagaimana, dok?" tanya Daniel. "Kabar baik" kata dokter dengan tenang. Daniel dan Nadia langsung memperhatikan. "Kondisi ibu sangat baik." "Kedua bayi juga dalam kondis
Sore hari di villa Blankenese berlangsung hangat dan santai. Setelah melihat rumah yang akan menjadi hadiah pernikahan untuk Paul dan Ayu, Daniel dan Nadia kembali ke villa dengan perasaan puas. Sementara itu, Lina, Ayu dan Elena juga baru pulang dari berbelanja perlengkapan bayi. Ruang keluarga segera dipenuhi berbagai kantong belanja. Mainan bayi. Selimut bayi. Pakaian bayi. Dan tentu saja beberapa barang yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan namun dibeli karena Elena menganggapnya lucu. "Itu salah Elena" kata Ayu sambil menunjuk boneka beruang besar. "Aku tidak memaksa" bela Elena. "Kamu memeluk boneka itu selama tiga puluh menit" kata Lina. "Itu strategi agar nenek Bali membelinya" jawab Elena dengan polos. Semua langsung tertawa. Malam itu mereka makan malam bersama di teras belakang. Udara musim panas terasa nyaman. Lampu-lampu taman menyala lembut. Suasana yang sempurna untuk berkumpul. Topik pembicaraan akhirnya beralih ke pernikahan Paul dan Ayu. "Jadi ka
Pagi itu udara di Blankenese terasa segar. Matahari bersinar cerah, namun tidak terlalu terik. Hari yang sempurna untuk keluar rumah. Sejak sarapan, Daniel sudah terlihat menyimpan sesuatu. Sesuatu yang membuat Nadia curiga. "Kamu kenapa?" tanya Nadia sambil meminum jusnya. "Aku baik-baik saja" jawab Daniel terlalu cepat. Nadia langsung mengangkat alis. "Kalau kamu menjawab secepat itu, berarti ada sesuatu." Daniel tersenyum. Di seberang meja, Elena langsung ikut memperhatikan. "Papa mau kasih kejutan?" Daniel menatap putrinya. "Kamu semakin mirip mama Nadia." Elena terlihat bangga. "Itu sebuah pujian." Semua tertawa. Namun Daniel memang sedang menyembunyikan sesuatu. Setelah sarapan selesai, ia akhirnya berdiri. "Nadia, bersiaplah." Nadia mengerutkan kening. "Untuk?" "Kita keluar sebentar" ucap Daniel. "Ke galeri?" "Bukan" jawab Daniel. "Ke dokter?" tanya Nadia. "Bukan." "Baiklah aku menyerah" kata Nadia. Daniel akhirnya tersenyum. "Bagus." Sementara itu
Musim panas semakin mendekat. Hari-hari di villa Blankenese terasa hangat dan penuh kesibukan. Galeri Nadia telah resmi dibuka dan mendapat sambutan yang luar biasa. Rencana pernikahan Ayu dan Paul juga mulai dibahas dengan serius. Namun ada satu hal lain yang kini menyita perhatian seluruh penghuni villa. Kamar bayi kembar. Sejak dokter memperkirakan waktu kelahiran semakin dekat, Daniel berubah menjadi jauh lebih protektif dan jauh lebih sibuk. Bahkan Nadia sering menggodanya. "Aku rasa kamu lebih gugup daripada aku." Daniel yang sedang membaca katalog perlengkapan bayi hanya menjawab datar. "Aku memang lebih gugup." Nadia tertawa. Dan itu memang benar. Beberapa bulan lalu Daniel masih bisa mengendalikan semuanya dengan tenang. Sekarang? Ia bisa menghabiskan satu jam penuh hanya untuk membandingkan dua jenis tempat tidur bayi. Pagi itu, Nadia memasuki salah satu kamar yang berada di dekat kamar utama. Kamar itu sebelumnya adalah ruang kosong yang jarang digunakan. K
Hamburg menyambut awal musim panas dengan langit yang cerah. Sudah berbulan-bulan sejak Nadia menerima undangan residensi yang sempat membuat Daniel khawatir. Kini, bangunan yang dahulu hanya berupa sketsa di atas kertas akhirnya berdiri sempurna. Megah. Elegan Dan penuh makna. Hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu. Hari peresmian galeri milik Nadia. Sejak pagi, villa Blankenese sudah sangat sibuk. Camille berjalan ke sana kemari memastikan semuanya berjalan sesuai jadwal. Rudi dan Lina membantu mempersiapkan beberapa hal terakhir. Elena bahkan bangun lebih awal dari biasanya. "Aku tidak boleh terlambat hari ini" kata Elena sambil merapikan gaunnya sendiri. Ayu tertawa kecil. "Kamu seperti yang punya galeri." Elena mengangkat dagunya bangga. "Mama Nadia yang punya." Kalimat itu membuat Ayu tersenyum. Sejak kejadian di Italia dan semua yang Nadia lakukan untuknya. Membuat Elena sudah tidak pernah ragu lagi memanggil Nadia sebagai mama. Dan Nadia tidak pernah bosan
Waktu berlalu lebih cepat dari yang mereka sadari. Musim semi di Hamburg semakin hangat. Pepohonan di sekitar villa Blankenese mulai dipenuhi daun-daun hijau muda. Dan perlahan kehidupan semua orang juga bergerak maju. Sudah beberapa minggu berlalu sejak Paul secara terbuka menyatakan keseriusannya kepada Ayu. Tidak ada hubungan yang terburu-buru. Tidak ada janji manis yang berlebihan. Namun setiap hari, Paul membuktikan dirinya dengan tindakan. Ia mengantar Ayu saat diperlukan. Menghubunginya setiap hari. Menemani Ayu berjalan-jalan saat akhir pekan. Dan yang paling penting, ia berusaha mengenal keluarga yang kini dianggap Ayu sebagai keluarganya sendiri. Lina semakin menyukainya. Rudi beberapa kali mengajak Paul mengobrol panjang tentang pekerjaan, kehidupan dan masa depan. Bahkan Elena sudah terbiasa melihat Paul datang ke villa. Suatu sore Elena sedang menggambar di ruang keluarga. Paul baru saja datang membawa beberapa dokumen galeri. "Apa kamu akan sering ke sini nanti?"
Malam di Ubud terasa berbeda sejak Daniel kembali. Udara tetap hangat, angin tetap lembut, tapi ada ketegangan halus yang menggantung di antara mereka tapi bukan ketegangan buruk, melainkan kesadaran bahwa sesuatu telah berubah. Mereka duduk di teras belakang kafe Nadia. Lampu kuning kecil menyala
Pagi itu terasa terlalu tenang untuk sebuah perubahan besar. Nadia bangun lebih dulu. Ia menyiapkan sarapan sederhana: roti panggang, telur, dan kopi hitam untuk Daniel. Ia melakukan semuanya dengan gerakan ringan, seolah takut suara kecil apa pun akan membangunkan kebahagiaan yang masih rapuh. D
Pesawat yang membawa Daniel meninggalkan Hamburg melaju di landasan dengan suara berat. Dari balik jendela kecil itu, kota yang selama berminggu-minggu menekannya perlahan menjauh. Di pangkuannya, laptop tertutup untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Eropa. Ia sudah membuat keputusannya. Bukan k
Hamburg menyambut Daniel dengan angin musim gugur yang menusuk jaketnya, langit kelabu, dan ritme kota yang dingin namun efisien. Jauh berbeda dari Ubud yang hangat, penuh aroma kopi dan suara gamelan jauh di kejauhan. Di sini, semuanya terasa cepat, presisi, dan menuntut. Sejak perusahaan yang se







