MasukDua hari setelah kelahiran bayi kembar, suasana di kamar VIP rumah sakit jauh lebih tenang. Kekhawatiran yang sempat menyelimuti semua orang kini telah berganti menjadi kebahagiaan. Nadia mulai pulih dengan baik. Kedua bayi juga menunjukkan perkembangan yang sangat bagus. Bahkan para dokter beberapa kali mengatakan bahwa kondisi mereka jauh lebih baik dari yang diperkirakan untuk bayi kembar yang lahir lebih awal. Pagi itu, seluruh keluarga kembali berkumpul di kamar. Kamar yang luas itu hampir terasa seperti ruang keluarga kecil. Daniel duduk di dekat tempat tidur Nadia. Elena berada di sofa sambil memegang buku gambar. Lina, Rudi, Ayu, Paul, dan Camille juga hadir. Dan pusat perhatian semua orang tentu saja, dua bayi mungil yang sedang tertidur nyenyak. Elena sudah berkali-kali memperhatikan mereka. Lalu akhirnya ia mengangkat tangan. "Aku punya pertanyaan." Daniel mengangkat alis. "Apa?" Elena menunjuk kedua bayi itu. "Adik-adikku sebenarnya laki-laki atau perempuan?"
Pagi pertama setelah kelahiran bayi kembar terasa berbeda. Sinar matahari musim panas masuk perlahan melalui jendela kamar VIP rumah sakit. Suasananya tenang. Damai. Dan akhirnya setelah kepanikan semalam semua orang bisa bernapas lega. Nadia terbangun perlahan. Tubuhnya masih lelah setelah perjuangan panjang melahirkan. Namun ketika membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah Daniel. Pria itu masih berada di sana. Duduk di kursi di samping tempat tidurnya. Seperti biasa. Daniel memang tidak pernah pergi jauh darinya. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di wajahnya. Kelelahan. Kelegaan. Dan kebahagiaan yang begitu jelas terlihat. "Kamu nggak tidur?" tanya Nadia pelan. Daniel tersenyum tipis. "Sebentar" "Itu artinya tidak" kata Nadia. Daniel tidak membantah, karena itu memang benar. Semalaman ia lebih banyak memperhatikan Nadia dan kedua bayi mereka daripada beristirahat. Nadia menggeleng kecil. "Kamu keras kepala." Daniel meraih tangannya. Mengusap pun
Rumah sakit yang semula terasa begitu menegangkan kini dipenuhi kesibukan para dokter dan perawat. Setelah Nadia dibawa ke ruang pemeriksaan, Daniel tidak meninggalkan sisinya sedikit pun. Sementara itu, di ruang tunggu, suasana masih diliputi kecemasan. Elena duduk di antara Lina dan Ayu. Tangannya terus menggenggam boneka kecil yang selalu ia bawa. "Papa dan mama akan baik-baik saja kan?" tanya Elena untuk kesekian kali. Lina mengusap rambutnya. "Tentu saja." Namun meskipun berkata demikian, Lina sendiri juga terlihat tegang karena anak semata wayangnya berjuang didalam sana. Di dalam ruang pemeriksaan, dokter kandungan Nadia sedang memeriksa hasil terbaru. Beberapa menit yang terasa sangat lama berlalu. Daniel berdiri di samping tempat tidur Nadia. Tangannya tidak pernah lepas dari tangan istrinya. "Bagaimana, dok?" tanya Daniel. "Kabar baik" kata dokter dengan tenang. Daniel dan Nadia langsung memperhatikan. "Kondisi ibu sangat baik." "Kedua bayi juga dalam kondis
Sore hari di villa Blankenese berlangsung hangat dan santai. Setelah melihat rumah yang akan menjadi hadiah pernikahan untuk Paul dan Ayu, Daniel dan Nadia kembali ke villa dengan perasaan puas. Sementara itu, Lina, Ayu dan Elena juga baru pulang dari berbelanja perlengkapan bayi. Ruang keluarga segera dipenuhi berbagai kantong belanja. Mainan bayi. Selimut bayi. Pakaian bayi. Dan tentu saja beberapa barang yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan namun dibeli karena Elena menganggapnya lucu. "Itu salah Elena" kata Ayu sambil menunjuk boneka beruang besar. "Aku tidak memaksa" bela Elena. "Kamu memeluk boneka itu selama tiga puluh menit" kata Lina. "Itu strategi agar nenek Bali membelinya" jawab Elena dengan polos. Semua langsung tertawa. Malam itu mereka makan malam bersama di teras belakang. Udara musim panas terasa nyaman. Lampu-lampu taman menyala lembut. Suasana yang sempurna untuk berkumpul. Topik pembicaraan akhirnya beralih ke pernikahan Paul dan Ayu. "Jadi ka
Pagi itu udara di Blankenese terasa segar. Matahari bersinar cerah, namun tidak terlalu terik. Hari yang sempurna untuk keluar rumah. Sejak sarapan, Daniel sudah terlihat menyimpan sesuatu. Sesuatu yang membuat Nadia curiga. "Kamu kenapa?" tanya Nadia sambil meminum jusnya. "Aku baik-baik saja" jawab Daniel terlalu cepat. Nadia langsung mengangkat alis. "Kalau kamu menjawab secepat itu, berarti ada sesuatu." Daniel tersenyum. Di seberang meja, Elena langsung ikut memperhatikan. "Papa mau kasih kejutan?" Daniel menatap putrinya. "Kamu semakin mirip mama Nadia." Elena terlihat bangga. "Itu sebuah pujian." Semua tertawa. Namun Daniel memang sedang menyembunyikan sesuatu. Setelah sarapan selesai, ia akhirnya berdiri. "Nadia, bersiaplah." Nadia mengerutkan kening. "Untuk?" "Kita keluar sebentar" ucap Daniel. "Ke galeri?" "Bukan" jawab Daniel. "Ke dokter?" tanya Nadia. "Bukan." "Baiklah aku menyerah" kata Nadia. Daniel akhirnya tersenyum. "Bagus." Sementara itu
Musim panas semakin mendekat. Hari-hari di villa Blankenese terasa hangat dan penuh kesibukan. Galeri Nadia telah resmi dibuka dan mendapat sambutan yang luar biasa. Rencana pernikahan Ayu dan Paul juga mulai dibahas dengan serius. Namun ada satu hal lain yang kini menyita perhatian seluruh penghuni villa. Kamar bayi kembar. Sejak dokter memperkirakan waktu kelahiran semakin dekat, Daniel berubah menjadi jauh lebih protektif dan jauh lebih sibuk. Bahkan Nadia sering menggodanya. "Aku rasa kamu lebih gugup daripada aku." Daniel yang sedang membaca katalog perlengkapan bayi hanya menjawab datar. "Aku memang lebih gugup." Nadia tertawa. Dan itu memang benar. Beberapa bulan lalu Daniel masih bisa mengendalikan semuanya dengan tenang. Sekarang? Ia bisa menghabiskan satu jam penuh hanya untuk membandingkan dua jenis tempat tidur bayi. Pagi itu, Nadia memasuki salah satu kamar yang berada di dekat kamar utama. Kamar itu sebelumnya adalah ruang kosong yang jarang digunakan. K
Villa keluarga Daniel di Blankenese berdiri anggun di atas tanah yang landai, menghadap langsung ke Sungai Elbe. Bangunannya klasik dengan sentuhan modern serta jendela-jendela besar berbingkai putih, balkon panjang, dan taman luas yang dipenuhi pepohonan tua. Rumah itu tidak sekadar megah; ia meny
Senja turun perlahan di Bali. Langit memerah lembut, seolah laut dan langit sepakat menahan warna terbaiknya sedikit lebih lama. Daniel dan Nadia duduk di beranda vila kecil yang menghadap sawah. Angin membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja. Tidak ada musik, tidak ada suara kota, hanya desir
Pagi itu laut terlihat tenang. Daniel dan Nadia berjalan menyusuri pantai Kuta, pasir masih dingin oleh sisa malam. Mereka tiba di Bali dua hari sebelumnya bukan untuk liburan besar, melainkan untuk pulang sebentar. Nadia ingin menengok cafe kecilnya, Daniel ingin bernapas dari ritme Eropa yang te
Pagi di Bali datang dengan suara burung dan cahaya yang jatuh pelan di lantai kayu vila. Nadia terbangun lebih dulu. Ia berdiri di depan jendela, menatap sawah yang basah oleh embun. Ada ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, ketenangan yang tidak berasal dari kepastian, melainkan dar







