Home / Romansa / Om Bule Kekasihku / Saat Rahasia Menemukan Cahaya

Share

Saat Rahasia Menemukan Cahaya

Author: Sabrina dewi
last update Last Updated: 2025-12-06 12:16:50

Pagi itu Ubud dipenuhi cahaya keemasan yang menembus celah pepohonan. Embun masih menggantung di dedaunan ketika Nadia membuka mata, menyadari ia tertidur di kursi panjang studio kecilnya. Malam sebelumnya terlalu penuh emosi, konflik, penjelasan, lalu kehangatan yang menguatkan mereka.

Ia meregangkan tubuh, menggenggam cangkir kosong yang tadi berisi kopi pemberian Daniel. Entah kenapa, aroma kopi itu masih tertinggal, seolah mengikat kehadiran pria itu di sekelilingnya.

Tok… tok…

Suara ketukan pelan dari pintu depan cafe membuatnya menoleh. Sudah bisa ditebak siapa orang pertama yang muncul di pagi Ubud seperti ini.

Daniel berdiri dengan senyum canggung namun hangat, membawa dua gelas kopi yang masih mengepul dan sebuah kamera tergantung di lehernya.

“Pagi.” Suara baritonnya lembut, sedikit serak, mungkin karena kurang tidur juga.

“Pagi, Dan.” Nadia menghampiri, senyum kecil tak bisa ia tahan. “Kamu selalu muncul di saat yang pas.”

“Yes, I try” jawab Daniel, menyodorkan kopi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Om Bule Kekasihku   Ombak Yang Mengingatkan

    Pagi itu laut terlihat tenang. Daniel dan Nadia berjalan menyusuri pantai Kuta, pasir masih dingin oleh sisa malam. Mereka tiba di Bali dua hari sebelumnya bukan untuk liburan besar, melainkan untuk pulang sebentar. Nadia ingin menengok cafe kecilnya, Daniel ingin bernapas dari ritme Eropa yang terlalu rapi. Pantai Kuta tidak banyak berubah. Riuhnya masih sama, bau garam dan matahari masih bercampur di udara. Namun bagi Nadia, tempat itu selalu menyimpan gema sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pahami, hingga kini. Daniel melepas sepatunya, membiarkan air menyentuh pergelangan kakinya. Ia berdiri memandang laut dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Aku selalu punya perasaan aneh setiap melihat laut di sini,” kata Daniel pelan. “Seperti pernah meninggalkan sesuatu.” Nadia berhenti melangkah. Ia menatap punggung Daniel, cara ia berdiri menghadap ombak, bahunya yang sedikit tegang meski laut terlihat ramah. “Daniel…” kata Nadia perlahan. “Apa kamu ingat seorang gadis kecil… se

  • Om Bule Kekasihku   Ketika Waktu Akhirnya Memberi Ruang

    Daniel tiba di Kopenhagen pada sore yang tenang. Tidak ada jadwal rapat menunggu. Tidak ada ponsel yang terus bergetar di sakunya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia datang dengan satu hal sederhana: waktu. Ia berdiri di depan studio Nadia, menatap pintu kayu itu beberapa detik sebelum mengetuk. Ketukan itu pelan, tidak mendesak tapi seolah ia memberi ruang bagi Nadia untuk menyambutnya tanpa kejutan. Pintu terbuka. Nadia berdiri di sana dengan rambut sedikit berantakan, apron masih tergantung di tubuhnya. Matanya terkejut sesaat, lalu melembut dengan cepat. “Kamu datang,” kata Nadia, hampir berbisik. Daniel tersenyum. “Aku datang… sepenuhnya.” Tidak ada kata lain yang dibutuhkan. Nadia melangkah mendekat. Mereka berpelukan lama, tanpa tergesa, tanpa ragu. Pelukan itu tidak lagi seperti orang yang takut kehilangan, melainkan dua manusia yang tahu ke mana mereka kembali. “Aku rindu caramu memeluk,” bisik Nadia. Daniel menutup mata. “Aku rindu tempat ini. Dan

  • Om Bule Kekasihku   Saat Segalanya Tak Lagi Runtuh

    Hamburg menyambut Daniel dengan ritme yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Tidak ada panggilan darurat di tengah malam. Tidak ada email berjudul urgent yang berlapis tanda seru. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pagi Daniel dimulai dengan secangkir kopi panas yang diminum perlahan, bukan sambil berdiri. Ia berdiri di depan jendela kantornya, lantai atas gedung yang dulu terasa seperti beban, kini mulai terasa seperti hasil dari perjuangan panjang. Di bawah, kota bergerak stabil, tidak tergesa, tidak panik. Rapat pagi berjalan singkat dan efisien. Laporan keuangan menunjukkan garis yang akhirnya menanjak secara konsisten. Investor yang dulu meragukan kini bicara dengan nada percaya. Tim internal bekerja dengan koordinasi yang matang, bukan ketakutan. “Restrukturisasi kita berhasil,” kata salah satu direktur dengan senyum lega. Daniel mengangguk. Ia tidak merayakan. Ia mengakui. Setelah rapat, Daniel duduk sendirian di ruang kerjanya. Ia membuka laptop, bukan un

  • Om Bule Kekasihku   Ketika Dunia Ikut Bicara

    Hari terakhir Daniel di Kopenhagen datang tanpa tanda khusus. Tidak ada hujan, tidak ada angin keras. Langit justru cerah, seolah kota itu sengaja bersikap netral dan membiarkan dua manusia di dalamnya mengambil keputusan sendiri. Daniel bangun lebih pagi. Ia duduk di tepi ranjang hotel, menatap koper yang sudah setengah terisi. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa enggan menyelesaikan sesuatu yang biasanya terasa mekanis. Bukan karena ia ingin tinggal lebih lama, tetapi karena ia tahu: setiap keberangkatan kini membawa makna. Ponselnya bergetar. Pesan dari Hamburg. Dewan direksi meminta rapat darurat siang ini. Salah satu investor utama ingin bertemu langsung. Ada peluang suntikan dana besar dengan syarat Daniel harus menetap penuh di Hamburg setidaknya satu tahun ke depan. Daniel menutup mata. Inilah dunia yang ia bangun bertahun-tahun. Dan kini dunia itu meminta kehadirannya sepenuhnya. Di sisi lain kota, Nadia berdiri di depan galeri, berbicara dengan koordinator r

  • Om Bule Kekasihku   Hari-Hari Yang Tidak Ingin Dipercepat

    Pagi di Kopenhagen datang dengan cahaya yang lembut. Nadia terbangun lebih awal dari biasanya. Studio masih sunyi, hanya suara samar air kanal yang mengalir di kejauhan. Ia duduk di tepi ranjang kecilnya, memeluk lutut, dan tersenyum kecil saat menyadari hari ini Daniel ada di kota yang sama. Bukan untuk waktu lama. Bukan tanpa batas. Tapi cukup untuk membuat hari terasa berbeda. Ia menyiapkan kopi sederhana. Saat aroma kopi memenuhi ruangan, pesan dari Daniel masuk. Aku di bawah. Tidak terburu-buru. Jika kamu ingin berjalan pelan. Nadia membalas dengan satu kata: Turun. Mereka berjalan tanpa tujuan jelas. Kopenhagen pagi itu tidak ramai. Toko-toko baru membuka pintu, pesepeda melintas dengan ritme santai, dan langit terlihat bersih seolah baru dicuci hujan semalam. Daniel berjalan di sisi Nadia, langkahnya menyesuaikan tidak mendahului, tidak tertinggal. “Aku lupa rasanya berjalan tanpa jadwal,” kata Daniel. Nadia menoleh. “Kamu selalu hidup dengan daftar.” Daniel tersen

  • Om Bule Kekasihku   Kota Yang Menjadi Titik Temu

    Kopenhagen menyambut Daniel dengan langit pucat dan udara asin dari laut.Pesawat mendarat lebih pagi dari jadwal. Daniel berdiri sejenak di ujung koridor bandara, menarik napas panjang, seolah ingin memastikan bahwa langkah yang ia ambil bukan reaksi sesaat, melainkan pilihan sadar. Tidak ada bunga di tangannya. Tidak ada rencana besar. Ia datang hanya dengan dirinya sendiri dan niat untuk hadir. Nadia sedang berada di galeri ketika pesan Daniel masuk. Aku sudah tiba. Ia membaca pesan itu dua kali. Tidak ada degup panik. Tidak ada lonjakan euforia. Yang ada justru rasa hangat yang menyebar perlahan, seperti kopi pertama di pagi hari. Ia membalas singkat: Aku selesai satu jam lagi. Satu jam itu terasa panjang dan singkat sekaligus. Mereka bertemu di sebuah cafe kecil dekat kanal, tempat yang tenang, dengan jendela besar dan kursi kayu sederhana. Nadia tiba lebih dulu. Ia memilih meja di dekat jendela, menatap orang-orang yang berlalu-lalang, mencoba menenangkan detak di dadanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status