로그인Hari itu berjalan lebih sibuk dari biasanya di villa Blankenese. Bukan karena masalah. Bukan karena ancaman. Tapi karenakehidupan mulai kembali bergerak. Sejak pagi ruang kerja Daniel sudah dipenuhi suara diskusi. Beberapa orang dari tim arsitek datang. Membawa maket kecil. Gambar desain. Dan rencana pembangunan galeri yang semakin nyata. Nadia duduk di sofa dengan posisi nyaman dan ia didampingi Camille. Ia memperhatikan dengan penuh minat. Matanya berbinar. Seolah setiap garis di atas kertas adalah bagian dari mimpinya yang perlahan menjadi nyata. “Di bagian ini kita gunakan kaca penuh,” jelas salah satu arsitek. “Cahaya alami akan masuk maksimal.” Nadia mengangguk pelan. “Bagus, aku suka” ucap Nadia. Daniel berdiri di sampingnya. Tidak terlalu ikut dalam detail teknis. Namun fokusnya tetap satu yaitu Nadia. “Capek?” tanya Daniel pelan. Nadia menggeleng. “Tidak.” Namun Daniel tetap memberi isyarat pada Camille. Camille langsung mengerti. “Madame, mungkin kita istirah
Pagi datang perlahan di villa Blankenese. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui tirai tipis, menyapu lembut kamar yang masih dipenuhi sisa kehangatan malam. Nadia membuka matanya perlahan. Ia tidak langsung bergerak. Hanya berbaring. Merasakan. Di sampingnya, Daniel masih terlelap. Satu tangannya masih melingkar di pinggang Nadia. Protektif. Seolah bahkan dalam tidurnya, ia tidak ingin melepas. Nadia tersenyum kecil. Tangannya naik. Menyentuh tangan Daniel. Pelan. Ia tidak menyesal, tidak sedikit pun. Karena malam itu, bukan tentang nekat. Tapi tentang kepercayaan. Daniel mulai bergerak. Matanya terbuka perlahan. Dan hal pertama yang ia lihat, Nadia. “Kamu sudah bangun” gumam Daniel.. Suaranya masih berat. Nadia mengangguk. “Iya.” Beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Tanpa kata. Namun cukup. “Bagaimana?” tanya Daniel akhirnya. Nada suaranya langsung berubah serius. Refleks. Nadia tersenyum. “Baik-baik saja.” Ia menggenggam tangan Daniel. “Ak
Malam kembali turun di villa Blankenese. Lampu kamar redup. Suasana tenang namun di dalamnya, ada ketegangan yang tidak terlihat. Nadia berdiri di depan cermin. Gaun tidurnya lembut, jatuh mengikuti lekuk tubuhnya yang kini berubah karena kehamilan. Tangannya mengusap perutnya perlahan. Lalu tatapannya naik ke pantulan dirinya sendiri. Ada senyum kecil di sana. Seolah ia sudah membuat keputusan. Daniel masuk ke kamar beberapa saat kemudian. Ia terlihat lelah. Namun begitu melihat Nadia langkahnya sedikit melambat. “Kamu belum tidur?” tanya Daniel. Nadia menoleh. Menggeleng pelan. “Belum. Aku menunggumu” jawab Nadia pelan. Daniel mendekat. Namun kali ini ia langsung merasakan sesuatu yang berbeda. Cara Nadia menatapnya. Cara ia berdiri. Cara ia mendekat. “Nadia” Nada suara Daniel berubah. Lebih hati-hati. Nadia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melangkah mendekat. Pelan. Namun pasti. “Daniel” bisik Nadia. Suaranya lembut. Hangat. Dan menggoda. Daniel
Hari-hari di villa Blankenese kembali berjalan dengan ritme yang lebih tenang. Namun tidak berarti semuanya benar-benar tenang. Karena ada hal-hal yang tidak terlihat tapi terasa. Sore itu, Nadia duduk di balkon kamar. Angin musim semi menyentuh rambutnya pelan. Tangannya mengusap perutnya yang kini semakin jelas membesar. Ia tersenyum. Namun di balik itu, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Bukan rasa sakit. Bukan ketakutan. Tapi sesuatu yang lebih halus. Dan semakin hari, semakin kuat. Pintu kamar terbuka. Daniel masuk. Masih dengan kemeja kerja, namun tanpa jas. Ia langsung melihat Nadia. “Kamu di luar?” Nadia menoleh. “Iya, bosan di dalam kamar terus.” Daniel mendekat. “Jangan terlalu lama diluar.” Nada suaranya refleks. Protektif. Nadia tersenyum kecil. “Kamu ini..” Daniel berdiri di depannya. Menatapnya. “Aku serius.” Nadia tidak menjawab. Ia hanya menatap Daniel. Lebih lama dari biasanya. Daniel mengerutkan kening sedikit. “Ada apa?” Nadia ber
Langit Hamburg mulai berubah warna saat mobil hitam itu melaju keluar dari gedung kantor. Sore menjelang malam. Cahaya keemasan menyelimuti jalanan. Di dalam mobil, suasana tenang. Daniel duduk di kursi belakang. Jasnya masih rapi. Namun dasinya sudah sedikit dilonggarkan. Hari yang panjang, akhirnya selesai. Paul menyetir dengan fokus. Namun sesekali ia melirik ke kaca spion. “Tuan ingin langsung kembali ke villa?” tanya Paul. “Iya. Sebelum makan malam” jawab Daniel. Paul mengangguk. “Baik.” Beberapa menit hening. “Bagaimana progress galeri?” tanya Daniel. “Saya sudah menghubungi tim arsitek” jawab Paul. “Lokasi sedang diproses.” “Dan desain awal bisa kita review besok, tuan.” Daniel mengangguk pelan. “Cepat.” Paul tersenyum tipis. “Sesuai dengan perintah.” Mobil akhirnya memasuki area Blankenese. Gerbang villa terbuka. Dan pada hari itu, Daniel terlihat sedikit lebih rileks. Mobil berhenti. Paul turun lebih dulu. Membukakan pintu.
Pagi di villa Blankenese terasa lebih hidup. Udara segar masuk dari jendela-jendela besar. Dan suasana hati semua orang, jauh lebih ringan dibanding beberapa hari sebelumnya. Nadia duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh hangat. Tangannya sesekali menyentuh perutnya. Masih teringat jelas gerakan kecil semalam. Senyumnya tidak pernah benar-benar hilang sejak itu. Elena duduk di karpet, menggambar. Namun kali ini, ia menggambar sesuatu yang berbeda. “Tiga orang?” tanya Ayu sambil melirik. Elena menggeleng. “Empat.” Ayu mengerutkan kening. Elena menunjuk gambar itu. “Aku, mama, papa dan dua adik bayi.” Ayu tertawa kecil. “Oh iya.. kan harusnya lima.” Elena langsung mengangguk. “Iya, lupa” jawab Elena sambil menutup mulutnya. Di sisi lain, Daniel duduk di kursi sambil membaca beberapa dokumen. Namun fokusnya tidak sepenuhnya di sana. Sesekali, ia melirik Nadia. Seperti memastikan semuanya baik-baik saja. Ketukan pintu terdengar. Camille m
Pagi itu, Hamburg tidak memberi isyarat apa pun. Langit biru pucat, udara dingin bersih, kota berjalan seperti biasa seolah hidup Daniel dan Nadia tidak sedang berada di titik rawan. Nadia berdiri di dapur, menyiapkan sarapan sederhana. Tangannya bergerak otomatis, pikirannya tidak. Daniel duduk
Kedatangan Thomas dan Margaret kali ini tidak diumumkan jauh-jauh hari, mereka datang secara tiba-tiba seperti sebelumnya.. Daniel menerima pesan singkat dari ayahnya saat ia sedang di kantor: “Kami di Hamburg sore ini. Jangan kaget.” Daniel tersenyum kecil, senyum yang sudah lama tidak ia rasak
Hamburg pagi itu kelabu. Langit seperti menahan hujan, menggantungkan beban yang tidak jatuh, sama seperti perasaan Nadia ketika berdiri di dekat jendela apartemen. Kota ini indah, teratur, dan dingin namun ia mulai memahami bahwa ketenangan di Eropa sering kali menyimpan tekanan yang rapi dan tak
Cafe itu hampir kosong ketika Daniel tiba. Tempat yang dipilih Rebecca bukan kebetulan, tenang, rapi, dan netral. Tidak ada kenangan personal di sana. Tidak ada sudut hangat untuk bersembunyi. Hanya dua orang dewasa yang pernah berbagi masa lalu dan kini berdiri di dua titik yang berbeda. Rebecc







