ホーム / Romansa / Om Duda! 2 / Chapter 63: Disetujui

共有

Chapter 63: Disetujui

作者: Anaa
last update 最終更新日: 2024-09-13 22:35:48

Devan menatap gaun pengantin di depannya dengan binar bahagia. Semoga gaun itu tidak lama lagi hanya akan terpajang di balik etalase ruang wardrobe kamarnya saja, tetapi akan dipakai oleh Disya di acara pernikahannya nanti.

Lelaki itu tersenyum, kembali menatap cermin untuk melihat penampilannya, membenarkan dasi yang sedikit miring lalu melangkah meninggalkan ruangan dengan jas yang tersampir di tangan.

Pagi ini dia sudah ada janji menjemput Disya, mereka akan sarapan bersama, lalu mengantar Disya ke store, begitu juga dengan Devan yang akan menghadapi beberapa pekerjaan di kantor, dan.... malam harinya Devan akan menemui kedua orangtua Disya.

Semoga hari ini berjalan baik.

"Selamat pagi Pak Devan...," sapa Disya tersenyum cerah ketika sudah berada di hadapan Devan.

"Selamat pagi, Queen...," balas Devan, tangan kanannya terulur untuk mengusap bagian atas rambut Disya lembut.

Membukakan pintu mobil untuk Disya, setelahnya lelaki itu juga masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (2)
goodnovel comment avatar
Dominika Tabita
thanks ya ka.. seneng ihh, up lg donk
goodnovel comment avatar
Nova Ugara
aaaa.... senang ny akhir ny dokter sam mau merestui mereka berdua..... makasih up ny mbak...besok up lagi ya...
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Om Duda! 2   Chapter 78: Ngidam-II

    "Muka sumringah amat tuh Bang, kaya habis dikasih jatah aja sama Disya." Devan dan Disya langsung saling menatap satu sama lain ketika Gio baru saja menyambut kedatangan keduanya di depan pintu rumah. Gio mengernyit, memperhatikan pasangan suami istri di depannya. Dia hanya asal berbicara, tetapi ekspresi keduanya tampak mencurigakan— "Anjir beneran habis dikasih jatah sebelum ke sini?" tanya Gio heboh. Disya diam, wajahnya benar-benar tidak bisa berbohong kalau ia sedang gugup, sedangkan Devan masih bisa mengontrol ekspresi wajahnya dengan ekspresi datar. Gio tertawa, tangannya dengan refleks memukul lengan Disya. "Muka lo ngga bisa bohong, Sya. Ya ampun!" Tawa Gio perlahan mereda ketika dia diberi tatapan tajam dari Devan karena berani memukul bagian lengan Disya, walaupun sebenarnya pukulan tanpa tenaga yang Gio berikan, tetapi tetap saja hal itu membuat Devan kesal. Devan merangkul pundak Disya lembut. "Masalah untuk kamu jika kami bercinta?" tanyanya dengan nada yang terden

  • Om Duda! 2   Chapter 77: Ngidam - I

    Devan kira meskipun Disya sedang dalam mode kesal, bayinya juga akan merasakan hal yang sama. Tetapi, ternyata tidak sama sekali— "Peluk dulu!" pinta Disya, nadanya sedikit merengek tetapi terkesan seperti perintah. Devan menuruti ucapan Disya, lelaki itu mendekap Disya dari belakang—istrinya memilih tidur membelakanginya. "Huh... adik bayinya ngga bisa diajak kerja sama," lirih Disya. Devan tidak bisa menahan untuk senyum ketika mendengar ucapan Disya. Memang, selama masa kehamilan Disya jauh lebih sangat manja kepadanya, ingin selalu menempel dengannya, saat akan tidur harus dan wajib untuk dipeluk, maka dari itu selama masa kehamilan Disya, Devan berusaha menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, tidak boleh sampai lembur—Disya tidak bisa tidur kalau tidak dipeluknya terlebih dahulu. Bisa dibilang ini adalah pertengkaran pertama kalinya selama Disya hamil—tetapi sepertinya itu tidak akan bertahan lama. Istrinya saja tidak bisa tidur jika tidak dipeluk olehnya. "Good job adik ba

  • Om Duda! 2   Chapter 76: Pengaruh Cinta

    Walaupun ragu, tangan kanan Devan pada akhirnya mengetuk pelan pintu kamarnya. Satu... dua... tiga detik berlalu, masih menunggu balasan, bahkan berharap istrinya di dalam mempersilahkannya untuk masuk—tetapi tidak, tidak ada balasan sama sekali. "Sya... saya masuk ya," katanya yang langsung membuka handle pintu. Disya menatapnya dengan kening mengernyit, selimut sudah menutupi sebagian tubuhnya yang berada di atas kasur. "Memang Disya ngijininin Pak Devan masuk?" "Saya hanya ingin menjelaskan—" "Memang Disya minta penjelasan?" tanya Disya cepat memotong ucapannya. "Saya minta maaf jika diary itu membuat kamu tidak nyaman. Tentu ada tujuan khusus saya membuatnya, saya ingin mengabadikan setiap momen tumbuh kembang Kailash sedari masih di dalam kandungan." Walaupun Disya tidak meminta penjelasan, lelaki itu tetap menjelaskan, bahkan sekarang kedua kakinya sudah dibawa melangkah me

  • Om Duda! 2   Chapter 75: Masa Kehamilan

    Manik Disya berkaca ketika telapak tangannya menyentuh tempat tidur milik Kai. Bayangan wajah Kai dengan berbagai macam ekspresi terputar kembali dalam ingatannya. Masih ada perasaan bersalah jujur saja, huhungan keduanya sedang tidak baik saat itu, tiba-tiba sekali Disya mengetahui berita duka ketika dirinya sedang berada dalam masa pelariannya. Disya berdiri, berpindah untuk duduk di kursi meja belajar, mengusap figura foto yang menampilkan foto dirinya, Kai dan juga Devan saat berada di pasar malam beberapa tahun yang lalu. "Mommy kangen Kai...." Entah sudah yang keberapa kali kalimat seperti itu ke luar dari mulut Disya. Perempuan itu benar-benar merindukan putranya. Tangannya tidak berhenti untuk menyentuh semua barang-barang yang ada di meja belajar Kai. Sebuah storage box berwarna hitam menjadi pusat perhatian Disya detik berikutnya, sebenarnya sebuah gambar di bagian penutupnya yang paling membua

  • Om Duda! 2   Chapter 74: Hadiah

    Disya menekuk bibirnya main-main, berpura-pura kesal ketika membuka kotak kecil yang diberikan oleh suaminya. "Kenapa? Kamu tidak menyukainya, Sya?" tanya Devan, kembali memperhatikan raut wajah istrinya yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi bahagia. "Pak Devan tahu hadiah kecil ngga sih?" tanya Disya sedikit ketus. "Ini kecil, Sya—" "Ya ini harganya mahal banget pasti, bukan ratusan ribu lagi!" Devan membasahi bibirnya, lalu meraih kedua tangan Disya untuk digenggamnya. "Saya bingung ingin memberikan kamu apa, jadi saya membelikan ini—" Satu tangannya bergerak untuk menyentuh hidung Disya dengan jari telunjuknya. "Hey! Tapi tetap saja tidak baik menolak hadiah dari siapapun, Sya." Kembali mencebikkan bibirnya, Disya pada akhirnya mengangguk, menerima hadiah itu. Bentuknya memang kotak kecil tetapi harganya cukup fantastis—itu bukan ketentuannya, kesepakatannya tidak seperti itu. Jadi, beberapa hari yang lalu Disya menyarankan untuk bertukar hadiah. Perempuan itu s

  • Om Duda! 2   Chapter 73: Double Date - II

    Devan tidak berhenti memperhatikan wajah istrinya yang sudah terlelap tidur setengah jam yang lalu, mengusap sisa peluh yang membasahi kening istrinya dengan lembut—entah itu karena kegiatan bercinta sebelumnya, atau memang suhu di ruangan yang memang cukup panas karena pendingin ruangan di dalam sini tidak terlalu berfungsi. Devan juga kegerahan sebenarnya, sedari tadi matanya tidak kunjung mau terpejam. Menyunggingkan senyum ketika mengingat kegiatan keduanya, mereka belum pernah bercinta menggunakan alat kontrasepsi, pengalaman baru, dan itu berakhir begitu saja, baik Devan dan Disya setuju tidak menyukainya. Segala sesuatu tentang Disya selalu membuat Devan candu—semuanya, tidak akan pernah membuatnya bosan. Devan begitu sangat mencintai istri kecilnya itu. Mencium kening Disya untuk beberapa saat sebelum dia beranjak dari atas kasur, lelaki itu memutuskan untuk ke luar dari kamar, berniat mencari udara segar karena demi Tuhan di dalam kamar menurutnya sumpek sekali. "B

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status