Share

Bab 06

Author: Olivia Yoyet
last update Last Updated: 2025-11-27 10:17:00

06

"Om, nikah, yuk!" ajak Dilara, yang berhasil menegangkan badan Yasuo.

"Kita nggak bisa nikah, Ra," sahut Yasuo.

"Kenapa?" 

"Pertama dan paling krusial, kita beda keyakinan. Kedua, perbedaan usia kita juga sangat jauh." 

"Masalah agama, kita bisa nikah di Singapura, yang bisa nikah beda agama. Yang kedua, aku nggak keberatan punya suami yang umurnya jauh lebih tua." 

"Enggak segampang itu. Keluarga kita pasti menentang masalah pertama dan kedua." 

"Kita yang menjalani, Om. Bukan mereka." 

"Tapi ...." 

"Aku cinta sama Om." 

"Ra, ini bukan soal cinta. Tapi komitmen hidup." 

Dilara menjauhkan diri dan menatap Yasuo lekat-lekat. "Om itu cinta pertamaku. Dari dulu rasa ini nggak pernah berubah." 

Yasuo tertegun sesaat, lalu dia menjawab, "Sekali lagi kutegaskan. Ini bukan tentang cinta. Tapi, menikah itu adalah komitmen hidup, Ra. Aku sudah gagal sekali, dan nggak mau terulang lagi. Makanya, aku sangat berhati-hati dalam mencari istri kedua." 

"Kenapa Om jadi pesimis? Yang kutahu, Om itu orangnya optimis banget." 

"Itu karena perjalanan hidup tidak semudah teori." 

Dilara menggeleng. "Menurutku bukan itu, tapi karena Om takut jatuh cinta, lalu terluka untuk kesekian kalinya." 

"Ehm, ya, kamu benar. Aku takut salah pilih orang untuk dicintai, karena yang dulu sudah membuat luka di hatiku, dan sampai sekarang belum sembuh total." 

"Aku beda sama mantan istri Om." 

"Aku tahu itu. Kalian dua orang yang bertolak belakang. Tapi, seperti yang tadi kubilang, ini bukan hal gampang untuk diputuskan." 

"Kenapa nggak kita coba dulu? Setelah 5 tahun, kalau memang nggak berhasil, kita pisah baik-baik." 

"Kamu dengar nggak tadi aku bilang apa? Aku nggak mau gagal lagi. Kalau pun nanti aku menikah, itu akan jadi yang terakhir dalam hidupku." 

"Kalau begitu, lakukan. Nikahi aku." 

"Ra, dengar dulu." 

"Aku cinta sama Om. Aku nggak peduli kalau harus dibuang keluarga, karena menikah sama Om. Aku cuma pengen kita terus bersama, dan membina kehidupan yang lebih baik!" 

Dilara bangkit berdiri dan jalan keluar kamar sambil menghentakkan kaki. Dia membuka pintu dan keluar, lalu membanting pintu itu hingga menimbulkan suara kencang. 

Yasuo masih terpaku. Selama beberapa saat dia menggerutu sambil menyugar rambut, karena kesal menghadapi kelakuan Dilara yang keras kepala. 

Puluhan menit berlalu. Yasuo keluar dari kamar Dilara. Dia celingukan mencari perempuan itu yang ternyata tengah duduk di kursi balkon. 

Yasuo memasuki kamarnya untuk bertukar pakaian. Kemudian dia keluar menuju dapur, guna membuat makanan yang gampang dan cepat dihidangkan. 

Aroma harum masakan yang menguar dari dapur, menyebabkan perut Dilara keroncongan. Namun, karena masih marah pada Yasuo, Dilara bertahan di kursi balkon dan terus mengunyah biskuit gandum, yang tadi diambilnya dari meja pantry. 

"Ra, makan, yuk!" ajak Yasuo sembari memindahkan beberapa burger mini buatannya, dari talenan ke dua piring. "Ra, sini," panggilnya, sembari melepaskan celemek dan mengaitkannya ke gantungan dekat kulkas. 

Yasuo memandangi perempuan yang masih bergeming. Pria berkaus hijau botol itu mendengkus pelan, sebelum mengangkat kedua piring dan membawanya ke balkon.

Yasuo meletakkan piring bagian Dilara ke meja. Lalu dia berputar dan kembali ke pantry guna mengambil botol saus. Yasuo berpikir sesaat, sebelum duduk di sofa ruang tengah dan bersantap sambil menonton televisi. 

Sekali-sekali Yasuo akan melirik Dilara melalui pintu balkon yang terbuka lebar. Yasuo mengulum senyuman, ketika Dilara akhirnya mengambil piring dari meja dan menikmati hidangan dengan cepat. 

Matahari bergerak naik melewati kepala. Yasuo mendorong laptop di meja, sebelum memijat matanya yang terasa lelah. Setelah beberapa jam membaca laporan.

Suasana sunyi itu terpecahkan dengan bunyi pesawat telepon di dinding ruang tengah. Yasuo hendak bangkit untuk meraih benda itu, tetapi Dilara telah lebih dulu menyambar gagang telepon. 

Tidak berselang lama, kedua ajudan Yasuo muncul dari pintu depan yang dibukakan Dilara. Dakhdaar dan Emryn sempat terkejut melihat perempuan itu masih berada di mansion Yasuo, tetapi keduanya tidak mengatakan apa pun dan mendatangi sang bos untuk menyalami Yasuo dengan takzim. 

"Kamar kalian dipakai. Nanti kalian tidur di kamar Mirai," tutur Yasuo, sesaat setelah kedua pengawalnya duduk di sofa seberang. 

"Enggak usah, Pak. Kami bisa tidur di sini," tolak Emryn. 

"Ya, sofa bed-nya dibuka," sahut Dakhdaar.

"Muat, nggak?" tanya Yasuo. 

"Muat, Pak. Kami langsing," balas Emryn. 

Yasuo berpikir sesaat, lalu dia berkata, "Gini aja. Nanti kita belanja. Beli kasur lipat. Biar tidurnya lebih leluasa." 

"Enggak usah, Pak. Cuma dua malam ini. Lusa, aku dinas ngawal Bang Hisyam ke Kalimantan," ungkap Emryn. 

"Berapa lama kamu dinas?" 

"Tiga hari. Aku pulang, gantian Dakhdaar yang ngawal Bang Yusuf ke Sumatera." 

"Apa sudah mulai mentoring?" 

"Kayaknya. Kami nunggu perintah 3 robot aja, terserah mereka mau nempatin kami di mentor mana." 

"Jangan bilang terserah. Tahunya kalian dapat mentor Yanuar, atau Yono." 

"Tidak!" pekik Dakhdaar. "Horor itu. Ngeri aku," sambungnya sembari menggeleng. 

"Aku pasti jadi zombie kalau jadi asisten mereka," keluh Emryn. 

"Makanya itu. Doa serius. Minta ke Tuhan supaya dapat mentor bagus," papar Yasuo.

"Aku pengen sama Bang W, itu yang senior. Bawahan dikit, mau masuk grup Bang Ari," cetus Dakhdaar.

"Kalau aku, antara Bang Zulfi atau Bang Yoga. Bawahnya, ke Bang Lazuardi. Tujuan akhirku, manajer PB atau PBK," pungkas Emryn. 

"Kenapa nggak jadi direktur?" desak Yasuo.

"Otakku nggak sanggup, Pak," jelas Dakhdaar. 

"Itu khusus buat robot, Pak. Aku masih manusia," cakap Emryn.

Olivia Yoyet

Halo, ketemu lagi dengan Emak OY. Kali ini, Yasuo yang naik panggung. Yang baca Tergoda Suami Sewaan dan Jodoh Wasiat Istri, pasti sudah kenal Yasuo.Dia juga muncul di MyLovely Bodyguard, Jaring Cinta Sang Bodyguard, Terserah Daun Muda, dan Cutie Bodyguard. Follow akun penulis dan baca semua cerita Emak di Goodnovel ^^

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 120

    120Minggu berganti menjadi bulan. Siang itu, Dilara, Qiran, Yasuo, dan keluarga besar mereka, serta para bos, telah berada di hotel milik orang tua Edna di Pekalongan. Mereka tengah menyaksikan prosesi akad nikah antara Vasant dan Edna. Dilara mengerjapkan matanya yang mengabut. Dia bahagia dengan penyatuan kedua orang tersebut, yang langsung memutuskan untuk menikah, setelah kembali dekat sejak pulang ke Indonesia 3 bulan silam. Saat acara sungkeman, suasana bertambah haru. Terutama ketika Edna berpindah dari depan orang tuanya dan orang tua Vasant, lalu Edna bersimpuh di depan Hamzah dan Mega, yang segera mendekap keponakan mereka itu dengan erat. Setelah Edna menjauh, Vasant memohon restu pada kedua orang tua Dilara, yang bergantian memberikan wejangan pada sang pengantin pria, yang membalasnya dengan anggukan.Di deretan kursi ujung, pasangan pengantin baru itu mendekap Yasuo dam Dilara secara bergantian. Mereka berbincang sesaat, sebelum Vasant dan Edna bergeser ke kanan guna

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 119

    119Acara akikah Tadashi Qiran Elvana, berlangsung dengan khidmat, pada Sabtu pagi. Tenda biru menutupi jalan depan rumah Bryan, hingga ke rumah Yasuo yang berada di ujung blok B cluster 7. Puluhan kendaraan mewah para tamu, memenuhi tanah kosong di ujung blok depan, yang merupakan perbatasan antara blok A dan B. Selain itu, banyak mobil juga menumpang parkir di sepanjang jalan blok A dan C, yang penghuninya sudah mengizinkan depan rumahnya digunakan sebagai tempat parkir. Seusai pengajian, Yasyo menggendong putrinya untuk mendatangi semua tetua keluarga, guna melaksanakan acara gunting rambut. Eiji dan Dean mengikuti langkah Yasuo, sambil membawa nampan kecil berisikan wadah kaca, serta gunting kecil. Mereka mendatangi Tadashi Makoto dan Hamzah terlebih dahulu. Kedua Kakek itu bergantian menciumi dahi Qiran, sebelum menggunting rambut cucu mereka sesuai dengan kunciran, yang telah dibuat Daphne dan Dhyani. Setelahnya, Yasuo bergeser ke kiri. Ustaz Sulaiman, Istaz Mawardi, Hamdi,

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 118

    118Seorang pria paruh baya, jalan mondar- mandir di selasar depan ruang bersalin, di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Pria yang mengenakan t-shirt cokelat muda itu merasa cemas, karena istrinya sudah beberapa jam di ruang bersalin, tetapi bayinya tak kunjung lahir.Kedatangan sekelompok orang dari ujung lorong, membuat pria tersebut berhenti melangkah. Dia menghela napas lega, karena akhirnya bala bantuan telah tiba. Pria itu menyalami semua tamu, lalu dia menerangkan situasi yang terjadi di dalam ruang tindakan. Lelaki tersebut tidak memprotes saat kelima rekannya berpindah ke dekat dinding, lalu mereka menempelkan telapak tangan kanan ke dinding. Yasuo mengamati saat kelima murid paguyuban olah napas Margaluyu itu, menembakkan tenaga dalam masing-masing sambil memfokuskan pikiran pada sosok Dilara di dalam ruangan. "Masuk, Yas," tukas Benigno, sesaat setelah mendengar rintihan Dilara dari dalam ruangan. "Dia nggak ngizinin aku buat nemenin, Ben. Karena tadi, ak

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 117

    117Ruang rapat Hotel CJC di pusat Kota Guangzhou, pagi itu dipenuhi banyak orang berseragam hitam dan biru. Mereka duduk rapi di deretan ratusan kursi, sambil fokus mengamati podium. Wirya menyampaikan pidato dengan bahasa Mandarin yang fasih. Dia membahas banyak kemajuan di semua unit kerja dan tempat proyek, yang ditangani tim PB, PBK serta CJC.Wirya juga menerangkan perubahan struktur manajemen PBK area China dan sekitarnya, yang akan dimulai per 1 Januari tahun depan. Setelah Wirya turun dari podium dan mundur ke tengah-tengah area depan, Chyou menaiki podium. Pria bertubuh tinggi itu menyapa hadirin dalam bahasa Mandarin dan Indonesia, yang dibalas khalayak dengan semangat. Berbeda dengan Wirya yang berpidato tentang pekerjaan, Chyou justru menyampaikan berbagai program perusahaan keempat klan, yang akan membangun lebih banyak hunian kelas menengah ke bawah, di banyak kota di seputar China. Hal itu tentu saja disambut antusias oleh khalayak. Mereka bersorak sambil bertepuk

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 116

    116Yasuo memandangi Alvaro yang tengah menggerutu, karena tidak diajak Wirya ke Guangzhou. Yasuo nyaris tertawa, ketika pria blasteran itu berhasil menelepon Wirya, yang sejak tadi sulit dihubungi. Yasuo tersenyum kala Alvaro mengomeli sahabatnya menggunakan bahasa Spanyol, yang dibalas Wirya dengan bahasa Mandarin. Yasuo akhirnya terbahak, begitu pula dengan rekan-rekannya yang berada di ruang rapat kantor BHARATHAYA. "Aku kesal, W. Kudunya diajakin!" geram Alvaro. "Kamu, kan, baru balik dari Sulawesi, Var. Cicing, atuhlah," balas Wirya dari seberang lautan. "Salman dan Gilang juga baru balik. Kenapa diangkut?" "Sudah lewat 3 hari setelah mereka pulang dari Sumatera. Cukup istirahatnya." "Aku masih sanggup on 72 jam!" "Berisik! Minta pecatkah?" "Ehh, aku yang punya PBK!" "Bukan dari sana, tapi dari GUNZ." "Berani mecat aku jadi komisaris GUNZ, aku balas pecat kamu dari BHARATHAYA!" "Mangga. Berarti huruf A hilang 1, jadi BHRATHAYA." "Huruf H-nya juga hilangin aja. Aku mu

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 115

    115Mendekati hari perkiraan lahiran, Dilara mengalami kecemasan akut, yang membuatnya ketakutan berlebihan. Yasuo meminta bantuan Benigno, Falea, bahkan Wirya, untuk menenangkan Dilara. Ketiga orang tersebut bergantian datang ke rumah Yaauo di malam hari, guna mendengarkan curahan hati perempuan tersebut. Malam itu, Wirya berkunjung bersama ketiga anak lelakinya. Mereka turun dari motor besar, kemudian memasuki rumah melalui pintu depan yang dalam kondisi terbuka lebar. Dilara menyambut para tamu dengan senyuman. Dia mengambil Shahzain dari gendongan Bayazid, lalu Dilara mengajak bocah berusia setahun lebih itu untuk duduk di karpet tebal, yang telah dihamparkan di ruang tengah. Bunyi motor kedua yang berhenti di carport, menjadikan Dilara penasaran. Dia berdiri dan mengecek ke depan, kemudian dia berteriak, sebelum mendekati kedua perempuan berbeda generasi, yang baru turun dari motor matic. "Aku bawa makanan dari warungnya Jane," terang Vanetta, seusai beradu pipi dengan sang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status