LOGIN05
Dilara mengaduk-aduk mi ayam di mangkuk, tanpa berniat menyantapnya. Gadis bermata cukup besar itu masih memikirkan ucapan sang mama tadi siang, yang membuat mood-nya berantakan.
Dilara dan Yasuo sudah berdiskusi. Pria berhidung bangir itu menyarankan agar Dilara mengungkapkan semuanya pada Hamzah dan Mega. Terutama karena Dilara tidak berniat untuk meneruskan hubungannya dengan Vasant.
"Dimakan, Ra. Jangan cuma diaduk dan dipandangin," cetus Yasuo yang mengejutkan perempuan di seberang meja.
"Aku ... nggak mood buat makan," kilah Dilara.
"Enggak enak?"
"Enak. Cuma hatiku yang kacau."
"Karena balon hijau meletus?"
"Ha?"
Yasuo mengulum senyuman. "Bercanda. Supaya kamu senyum."
"Ehm, ya."
"Ke siniin mi-nya. Kuhabiskan."
"Jangan. Ini, kan, bekasku."
"No problem."
"Om nggak jijik?"
"Kenapa harus jijik? Kamu, kan, nggak menderita penyakit menular."
"Bukan itu, tapi ini beneran bekasku."
"Om masih lapar. Daripada mesan lagi, mending itu aja yang dihabiskan."
"Tapi ...."
Yasuo mengulurkan kedua tangan dan menarik mangkuk yang masih penuh itu ke dekatnya. Tanpa memedulikan protes Dilara, Yasuo menikmati makanan itu dengan cepat.
Dilara tertegun sesaat. Dia tidak menduga jika Yasuo tetap santai menikmati makanan bekasnya. Tanpa sadar Dilara terus mengamati pria itu, hingga Yasuo menuntaskan bersantap.
Dilara mengangkat alis kala Yasuo memesan bakso tambahan pada pegawai kedai itu. Dilara meringis ketika pria tersebut juga menambah pesanan es campur, untuk dibawa pulang.
Hampir 30 menit berikutnya, Yasuo dan Dilara telah berada di mansion. Keduanya duduk berdampingan sambil menonton drama China di televisi.
Yasuo terkesiap saat Dilara menyandar ke bahu kirinya. Dengkuran halus yang terdengar dari bibir gadis itu, menjadikan Yasuo menyadari jika Dilara telah tertidur.
Yasuo memegangi badan Dilara dan membaringkan gadis tersebut ke pangkuannya. Yasuo merapikan anak rambut yang menutupi wajah Dilara, dan menyelipkannya ke telinga perempuan tersebut.
Yasuo mengamati paras ayu perempuan muda, yang sejak dulu memang manja padanya. Yasuo tersenyum saat teringat ucapan Hamzah, jika putri sulungnya merupakan anak bungsunya. Sebab Dilara memang lebih manja dari Dhyani dan kedua saudaranya.
Yasuo mengusap pelan pipi Dilara yang halus. Terbayang kembali masa kecil hingga remaja gadis itu, yang kerap memeluknya jika mereka bertemu.
Yasuo terdiam ketika satu kesadaran menyentil hatinya. Pria tersebut baru sadar jika Dilara sudah menjadi perempuan dewasa, dan bukan lagi remaja.
Malam kian larut. Yasuo memadamkan televisi. Dia mengangkat kepala Dilara dengan hati-hati, lalu bangkit perlahan. Yasuo membungkuk untuk menggendong Dilara.
"Berat juga kamu," ucap Yasuo, sebelum melangkah cepat menuju kamar tamu.
Dia membuka pintu dengan susah payah, sebelum memasuki kamar dan merebahkan Dilara ke kasur. Yasuo menegakkan tubuh sambil memandangi gadis itu sesaat. Kemudian dia berbalik dan hendak beranjak keluar.
Igauan yang disertai teriakan Dilara, mengejutkan Yasuo. Dia berpikir sejenak, lalu menutup pintu kamar, dan kembali mendekati Dilara. Yasuo duduk di tepi kasur sembari mengusap pelan lengan gadis tersebut.
"Ra, kamu mimpi apa?" tanya Yasuo, sesaat setelah Dilara membuka matanya.
Gadis berambut panjang itu tidak segera menyahut. Melainkan bangkit duduk dan memerhatikan sekeliling. Dilara mengusap dadanya sembari menghela napas lega.
"Aku mimpi, Vasant datang lagi," cicit Dilara. "Dia meluk dan mau nyiumin aku, tapi aku berontak," lanjutnya.
"Terus?" desak Yasuo.
"Aku kebangun."
"Berarti dia nggak sempat nyiumin kamu?"
"Hu um, tapi bibirnya udah dekat banget. Kayak nyata, gitu."
Yasuo mengangguk paham. "Mungkin itu bayangan yang kemaren."
"Maybe."
"Sekarang, tidur lagi."
"Aku mau ke toilet."
"Oke."
"Aku juga pengen minum."
"Nanti Om ambilkan."
Tidak berselang lama, Dilara keluar dari toilet kecil di ujung kiri kamar. Dia mendekati kasur dan duduk di tepi. Sebelum mengambil gelas yang diberikan Yasuo.
"Om tinggal, ya," ujar Yasuo, sesaat setelah Dilara menghabiskan separuh isi gelasnya.
Dilara mengangguk. Dia berdiri dan hendak mengantarkan Yasuo ke pintu, tetapi Dilara limbung dan akhirnya jatuh menimpa Yasuo yang terdorong ke kasur.
Dilara mengerjapkan matanya, sebelum nekat menunduk dan mengecup bibir sang om, yang seketika membeliakkan mata. Dilara meneruskan kecupan dengan mengisap bibir pria itu.
Yasuo terhipnotis dan membiarkan dirinya diciumi. Alih-alih menolak, pria itu justru membelai pipi Dilara yang membalas dengan mengusap rambutnya.
Cecapan lembut berubah menjadi lebih menuntut. Dilara mendesah ketika Yasuo memutus pagutan dan beralih menciumi lehernya. Dilara menggerakkan tubuhnya tanpa menyadari bila hal itu sukses memancing hasrat lelaki di bawahnya.
Yasuo menarik Dilara hingga telentang di kasur. Pria itu melanjutkan cumbuan dengan sangat ahli, tanpa memikirkan jika gadis tersebut terlarang untuknya.
Yasuo tertegun saat Dilara bangkit duduk dan melepaskan piamanya. Dilara melemparkan benda itu ke lantai, lalu menarik kaus Yasuo hingga terlepas.
Dilara terpaku ketika pria tersebut mengusap area depan tubuhnya, sebelum merebahkan Dilara kembali, dan menggeser bibirnya menyusuri leher hingga perut perempuan tersebut.
Sentuhan lidah panas Yasuo yang bergerak pelan menyusuri kulitnya, menjadikan desahan Dilara mengencang. Gadis itu tidak bisa menolak kala tangan Yasuo menari menyentuh setiap inchi kulitnya.
Dilara tidak ingat kapan sisa kain di tubuhnya terlepas. Gairah yang melingkupi diri membuat Dilara tidak menolak, saat jemari Yasuo bergerilya di area bawah, dan menyentuh bagian sensitifnya.
Napas Dilara terengah-engah menikmati sentuhan yang belum pernah dirasakannya. Dilara membuka mata ketika Yasuo memposisikan diri di atasnya, lalu menciumi Dilara dengan penuh nafsu.
Dilara mengaduh ketika sesuatu mendesak bagian bawah tubuh. Dia menjerit saat Yasuo memasukinya, sebelum pria itu berhenti.
"Kamu masih perawan," bisik Yasuo.
"Ya," balas Dilara.
Yasuo hendak menarik diri, tetapi Dilara justru mengalungkan tangan di lehernya. Yasuo terdiam sesaat, sebelum Dilara menciuminya.
"Lanjutkan," rintih gadis itu, seusai memutus ciuman. "Jadikan aku milikmu," pintanya sembari menatap Yasuo dengan sorot mata penuh nafsu.
"Kamu yakin?" tanya Yasuo.
"Ya."
"Nggak bisa dikembalikan lagi, Ra."
"Aku tahu."
"Tapi ...."
"Puaskan aku."
Yasuo memandangi perempuan dalam dekapan. Lalu menunduk untuk kembali mencumbui Dilara. Yasuo menggerakkan dirinya lebih dalam, hingga berhasil memasuki Dilara yang menjerit tertahan.
Pria itu berhenti sesaat untuk memberi waktu pada Dilara, supaya lebih tenang. Setelahnya Yasuo melanjutkan aktivitas menyenangkan itu sembari terus menciumi Dilara.
Seisi ruangan menjadi saksi penyatuan kedua insan yang melupakan semua norma. Mereka meneruskan berbagi peluh tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi di masa mendatang.
Dilara mengikuti gerakan Yasuo, sembari menghafal lekuk tubuh pria tersebut. Dilara tersentak saat sensasi aneh membuatnya mengerang nyaris tanpa jeda.
Perempuan itu bergerak-gerak, sebelum memekik seiring dengan pelepasan gairahnya. Dilara kaget, karena sensasi itu masih terasa dan dia menyemangati Yasuo untuk melanjutkan pertempuran.
Keringat mengucur dari setiap pori-pori tubuh tidak mereka hiraukan. Keduanya terus bergerak dan menikmati setiap gesekan, sembari memejamkan mata.
Dilara kembali berteriak yang disusul Yasuo dengan lenguhan panjang. Tubuh keduanya bergetar seiring pelepasan di titik tertinggi kenikmatan duniawi.
120Minggu berganti menjadi bulan. Siang itu, Dilara, Qiran, Yasuo, dan keluarga besar mereka, serta para bos, telah berada di hotel milik orang tua Edna di Pekalongan. Mereka tengah menyaksikan prosesi akad nikah antara Vasant dan Edna. Dilara mengerjapkan matanya yang mengabut. Dia bahagia dengan penyatuan kedua orang tersebut, yang langsung memutuskan untuk menikah, setelah kembali dekat sejak pulang ke Indonesia 3 bulan silam. Saat acara sungkeman, suasana bertambah haru. Terutama ketika Edna berpindah dari depan orang tuanya dan orang tua Vasant, lalu Edna bersimpuh di depan Hamzah dan Mega, yang segera mendekap keponakan mereka itu dengan erat. Setelah Edna menjauh, Vasant memohon restu pada kedua orang tua Dilara, yang bergantian memberikan wejangan pada sang pengantin pria, yang membalasnya dengan anggukan.Di deretan kursi ujung, pasangan pengantin baru itu mendekap Yasuo dam Dilara secara bergantian. Mereka berbincang sesaat, sebelum Vasant dan Edna bergeser ke kanan guna
119Acara akikah Tadashi Qiran Elvana, berlangsung dengan khidmat, pada Sabtu pagi. Tenda biru menutupi jalan depan rumah Bryan, hingga ke rumah Yasuo yang berada di ujung blok B cluster 7. Puluhan kendaraan mewah para tamu, memenuhi tanah kosong di ujung blok depan, yang merupakan perbatasan antara blok A dan B. Selain itu, banyak mobil juga menumpang parkir di sepanjang jalan blok A dan C, yang penghuninya sudah mengizinkan depan rumahnya digunakan sebagai tempat parkir. Seusai pengajian, Yasyo menggendong putrinya untuk mendatangi semua tetua keluarga, guna melaksanakan acara gunting rambut. Eiji dan Dean mengikuti langkah Yasuo, sambil membawa nampan kecil berisikan wadah kaca, serta gunting kecil. Mereka mendatangi Tadashi Makoto dan Hamzah terlebih dahulu. Kedua Kakek itu bergantian menciumi dahi Qiran, sebelum menggunting rambut cucu mereka sesuai dengan kunciran, yang telah dibuat Daphne dan Dhyani. Setelahnya, Yasuo bergeser ke kiri. Ustaz Sulaiman, Istaz Mawardi, Hamdi,
118Seorang pria paruh baya, jalan mondar- mandir di selasar depan ruang bersalin, di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Pria yang mengenakan t-shirt cokelat muda itu merasa cemas, karena istrinya sudah beberapa jam di ruang bersalin, tetapi bayinya tak kunjung lahir.Kedatangan sekelompok orang dari ujung lorong, membuat pria tersebut berhenti melangkah. Dia menghela napas lega, karena akhirnya bala bantuan telah tiba. Pria itu menyalami semua tamu, lalu dia menerangkan situasi yang terjadi di dalam ruang tindakan. Lelaki tersebut tidak memprotes saat kelima rekannya berpindah ke dekat dinding, lalu mereka menempelkan telapak tangan kanan ke dinding. Yasuo mengamati saat kelima murid paguyuban olah napas Margaluyu itu, menembakkan tenaga dalam masing-masing sambil memfokuskan pikiran pada sosok Dilara di dalam ruangan. "Masuk, Yas," tukas Benigno, sesaat setelah mendengar rintihan Dilara dari dalam ruangan. "Dia nggak ngizinin aku buat nemenin, Ben. Karena tadi, ak
117Ruang rapat Hotel CJC di pusat Kota Guangzhou, pagi itu dipenuhi banyak orang berseragam hitam dan biru. Mereka duduk rapi di deretan ratusan kursi, sambil fokus mengamati podium. Wirya menyampaikan pidato dengan bahasa Mandarin yang fasih. Dia membahas banyak kemajuan di semua unit kerja dan tempat proyek, yang ditangani tim PB, PBK serta CJC.Wirya juga menerangkan perubahan struktur manajemen PBK area China dan sekitarnya, yang akan dimulai per 1 Januari tahun depan. Setelah Wirya turun dari podium dan mundur ke tengah-tengah area depan, Chyou menaiki podium. Pria bertubuh tinggi itu menyapa hadirin dalam bahasa Mandarin dan Indonesia, yang dibalas khalayak dengan semangat. Berbeda dengan Wirya yang berpidato tentang pekerjaan, Chyou justru menyampaikan berbagai program perusahaan keempat klan, yang akan membangun lebih banyak hunian kelas menengah ke bawah, di banyak kota di seputar China. Hal itu tentu saja disambut antusias oleh khalayak. Mereka bersorak sambil bertepuk
116Yasuo memandangi Alvaro yang tengah menggerutu, karena tidak diajak Wirya ke Guangzhou. Yasuo nyaris tertawa, ketika pria blasteran itu berhasil menelepon Wirya, yang sejak tadi sulit dihubungi. Yasuo tersenyum kala Alvaro mengomeli sahabatnya menggunakan bahasa Spanyol, yang dibalas Wirya dengan bahasa Mandarin. Yasuo akhirnya terbahak, begitu pula dengan rekan-rekannya yang berada di ruang rapat kantor BHARATHAYA. "Aku kesal, W. Kudunya diajakin!" geram Alvaro. "Kamu, kan, baru balik dari Sulawesi, Var. Cicing, atuhlah," balas Wirya dari seberang lautan. "Salman dan Gilang juga baru balik. Kenapa diangkut?" "Sudah lewat 3 hari setelah mereka pulang dari Sumatera. Cukup istirahatnya." "Aku masih sanggup on 72 jam!" "Berisik! Minta pecatkah?" "Ehh, aku yang punya PBK!" "Bukan dari sana, tapi dari GUNZ." "Berani mecat aku jadi komisaris GUNZ, aku balas pecat kamu dari BHARATHAYA!" "Mangga. Berarti huruf A hilang 1, jadi BHRATHAYA." "Huruf H-nya juga hilangin aja. Aku mu
115Mendekati hari perkiraan lahiran, Dilara mengalami kecemasan akut, yang membuatnya ketakutan berlebihan. Yasuo meminta bantuan Benigno, Falea, bahkan Wirya, untuk menenangkan Dilara. Ketiga orang tersebut bergantian datang ke rumah Yaauo di malam hari, guna mendengarkan curahan hati perempuan tersebut. Malam itu, Wirya berkunjung bersama ketiga anak lelakinya. Mereka turun dari motor besar, kemudian memasuki rumah melalui pintu depan yang dalam kondisi terbuka lebar. Dilara menyambut para tamu dengan senyuman. Dia mengambil Shahzain dari gendongan Bayazid, lalu Dilara mengajak bocah berusia setahun lebih itu untuk duduk di karpet tebal, yang telah dihamparkan di ruang tengah. Bunyi motor kedua yang berhenti di carport, menjadikan Dilara penasaran. Dia berdiri dan mengecek ke depan, kemudian dia berteriak, sebelum mendekati kedua perempuan berbeda generasi, yang baru turun dari motor matic. "Aku bawa makanan dari warungnya Jane," terang Vanetta, seusai beradu pipi dengan sang







