LOGIN“Oi, Nerd! Cariin tanda tangan kakak tingkat di BEM dong!”
“Sekalian gue!”
Semester pertama dimulai dengan kegiatan pengenalan kampus dan atributnya.
Universitas Arkamaya menyelenggarakan masa orientasi hanya dalam 1 hari. Tugasnya pun hanya mengumpulkan 30 tanda tangan kakak tingkat mereka. Tidak harus yang berada dalam organisasi.
Ivy menatap beberapa teman kuliahnya yang sudah mulai menumpuk buku mereka. Entah apa mereka ini masih bisa disebut teman.
“5 aja. Kalau kebanyakan, kalian kena sendiri!” Ivy memperingatkan, demi kebaikan mereka.
Yang lain langsung berdecak kesal. “Ck! Bener juga lu, Nerd!”
Tanpa menunggu lagi, Ivy segera membawa 4 buku mereka. 5 termasuk miliknya. Ivy sibuk mencari kakak tingkat ke segala penjuru. Tentu saja, ia meminta 5 kali tanda tangan pada setiap orang.
“Kamu bawa 5 buku?” tanya seorang kakak tingkat.
Di lihat dari badge yang ada di dada kirinya, kakak tingkat adalah salah satu anggota eksekutif organisasi kemahasiswaan. Namanya Henoch F.T.
Entah kenapa, Ivy merasa familiar dengan rupa wajahnya. Tampan dan berwibawa. Namun, diingat bagaimanapun, ia memang tidak pernah bertemu.
“Iya, Kak. Kami bagi tugas,” ujar Ivy beralasan.
“Oh! Bagus juga idenya!” Henoch segera menandatangani 5 buku itu dan menepuk kepala Ivy sebelum pergi.
‘Rasanya jadi semangat, ditepuk begitu sama orang ganteng ya!’ batin Ivy puas.
Tidak menyesal juga ia membiarkan teman-temannya menyuruh mencari tanda tangan. Dengan begini, ia bebas dari kejahilan mereka dan bisa cuci mata.
Walau setiap kali meminta tanda tangan, Ivy pasti ditanya hal yang sama.
Kenapa dia membawa 5 buku?
Ke mana teman kamu?
Dan sejenisnya.
Ivy jadi merasa bersalah. Kuliah belum juga dimulai, tapi ia sudah berbohong pada kakak tingkatnya.
Sibuk mencarikan tanda tangan, Ivy beberapa kali menangkap perasaan seolah ia diikuti oleh seseorang. Namun, setiap kali ia mencoba mencari, keberadaannya hilang begitu saja.
‘Ish! Apa gue diikutin hantu?’ batin Ivy sedikit panik. ‘Atau anak-anak itu ya? Yang isengin gue?!’
Berusaha mengabaikan perasaan diamati dari jauh, Ivy melanjutkan misinya. Mencuci mata.
Sore pukul 3, Ivy kembali dengan 5 buku. Masing-masing berisi 30 tanda tangan. Ia mengembalikan semua dan segera memakan bekalnya.
Tiba-tiba pengeras suara memerintahkan semua mahasiswa baru untuk menuju auditorium. Sesuai jadwal, orientasi akan diakhiri dengan seminar.
Auditorium Universitas Arkamaya merupakan gedung pertemuan terbesar di Jayakara. Karena setiap awal tahun pembelajaran, mereka mengumpulkan seluruh mahasiswa dari seluruh jurusan untuk mengikuti seminar.
Ivy pun segera menelan makanannya dan bergegas menuju ke sana. Jika benar sesuai jadwal, maka Ivy punya waktu setengah jam.
Jadi, Ivy memutuskan untuk mampir ke toilet, memperbaiki rambut sekalian buang air kecil. Seminar pasti akan lama. Ia tidak suka harus keluar di tengah acara.
Namun, ia menyesal dengan cepat. Di dalam toilet yang dekat dengan auditorium, Jesslyn tengah mematut diri di cermin. Bersama 2 orang sahabat dekatnya.
Terlanjur ketahuan, Ivy tak punya pilihan selain melangkah masuk.
“Ih! Ada si Nerd!” ledek salah satu dari mereka. Ivy yakin, namanya adalah Greta.
Jesslyn bersedekap, menatap Ivy dengan pandangan merendahkan.
Ivy pun segera masuk ke salah satu bilik untuk menyelesaikan misi pribadinya. Dari dalam, ia jelas mendengar mereka berbincang.
Sepertinya, mereka memang sengaja bicara keras-keras agar Ivy mendengarnya.
“Heran gue!” Yang lain mulai berkomentar. Ivy tahu namanya Maggie.
“Dia kan udah nggak punya orang tua, gimana dia masih bisa kuliah di sini sih, Jess? Keluarga lu yang bayarin dia?”
Terdengar suara Jesslyn memberi jawaban ambigu. “Yah, gitu deh!”
Ivy memutar bola matanya. Pikirnya, ‘Enak aja! Papi Mami udah bayar sampai gue lulus! Lagian gue sendiri juga mampu bayar!’
“Keluarga lu sih! Terlalu baik!” tukas Maggie. “Jadinya kita ngehirup udara yang sama, sama si Nerd itu!”
Jesslyn mengangkat kedua bahunya. “Mau gimana lagi?”
Tiba-tiba suasana hening. Kemudian terdengar bisikan, “Eh, mau siram dia nggak dari atas?”
Netra Ivy membulat. Buru-buru ia menyelesaikan urusannya dan keluar begitu saja. Ketika sudah dekat pintu kamar mandi, Ivy mendengar suara tawa mereka.
“Hahaha! Lu liat nggak tadi mukanya?! Ketakutan gitu!”
“Iya, iya! Jelek banget! Sumpah!”
Ivy meringis pahit. Ia baru sadar, mereka hanya iseng menakut-nakutinya.
‘Astaga! Capek banget ngadepin beginian!’ keluh Ivy tanpa suara.
Dengan langkah pendek dan cepat, Ivy segera masuk ke dalam auditorium. Ia memilih tempat paling pinggir dan paling belakang. Agar tidak ada yang mengganggunya.
Duduk, Ivy langsung menghembuskan napas lega. ‘Sampai dengan selamat!’
Sementara menunggu, Ivy membereskan isi tasnya dan kaget melihat kartu nama Lexton ternyata ada di dalam tas itu.
“Pasti kerjaan Jesslyn!” gumam Ivy pelan. “Untung aja dia nggak ambil ini!”
Setelah mengamati sebentar, Ivy memutuskan untuk memasukkannya ke dalam kantong baju. Takut kalau-kalau ia lupa dan Jesslyn mengambil kartu nama Lexton yang sudah ia anggap sebagai benda berharga.
Namun, tanpa ia sadari, seseorang sudah mengamatinya dari belakang dan langsung merebut kartu nama itu dari tangan Ivy. Spontan Ivy berbalik dan meminta, “Tolong balikin!”
“Wah, gila! Kartu nama Lexton Tan!” seru si perebut tadi. “Ivy! Lu nyolong kartu nama ya?!”
"Balikin!" sentak Ivy kesal.
“Astaga! Samantha! Ini kan keluarga lu! Lexton Tan!” seru yang lain. “Si Nerd nyolong dari lu mungkin!”
Ivy ingat Lexton pernah bilang kalau ada keponakannya di sini. Buru-buru Ivy membantah, “Gue nggak nyolong! Gue di kasih!”
Tiba-tiba, Samantha mendatangi mereka dan meminta kartu nama Lexton. Kemudian ia menatap Ivy dengan pandangan judesnya.
“Jadi, lu yang namanya Ivy?!”
“Aku tidak berniat mencari istri sekarang, Dad!” tolak Lexton, membuang muka. Namun, Jeremy memilih tak peduli dengan penolakan itu. “Kamu belum lihat anak itu, Lex.” Jeremy menepuk pundak putranya. “Dia wanita cantik yang anggun. Cocok jadi istri seorang presiden direktur.”Geram karena tidak didengar, Lexton berbalik hendak menegaskan lagi keputusannya. Namun, ia menangkap kepala Giana menggeleng satu kali. Memberinya kode agar tidak melanjutkan perbantahan itu. Melihat Lexton tak lagi membantah, Jeremy pun lega. “Nanti kita atur waktu untuk pertemuan kalian.”Pertemuan hari itu juga membahas mengenai kinerja perusahaan-perusahaan sister dan anak perusahaan yang dipegang oleh masing-masing anggota keluarga Tan. Makan siang menjadi penutup pertemuan serius tersebut. “Kak Jeremy!” Seseorang tiba-tiba menghampiri meja makan sang kepala keluarga. Dia adalah adik kandung Jeremy, yang terkenal jarang bicara di rapat besar. Frillia Tan. Jeremy tersenyum lebar melihat adik bungsuny
“Terus, gimana sama uang pembelian rumah ini, Om?” tanya Ivy setelah mereka sudah kembali ke dalam. Karena renovasi akan berpusat di lantai 1, Ivy mengajak Lexton ke lantai 2. Di sana ada teras untuk mereka berbincang. “Aku nggak akan mempermasalahkan itu, karena kupikir kamu masih anggap mereka keluarga. Kecuali, kamu berpikir lain.”Ivy terdiam sesaat kemudian menjawab, “Mereka mutusin hubungan lebih dulu. Bahkan sudah bertindak melewati ketentuan hukum kan?”Lexton mengangguk. Bangga hatinya melihat Ivy ‘melek hukum’ dan tidak terobsesi dengan kebaikan semata. “Kalau kamu mikir begitu, aku akan minta Ludwig mengurus semuanya,” ujar Lexton santai. “Kamu fokus kuliah aja, Dear.”“Oke lah! Aku serahkan pada ahlinya!” ujar Ivy sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Hati Ivy masih terasa sesak. Kali ini karena penuh kebahagiaan dan kejutan. Ia tidak akan pernah kehilangan rumah ini lagi. ***Dua hari setelah kejadian itu. Di kediaman utama keluarga Tan. Hari ini bertepatan den
“Baik, baik, Tuan Ludwig!” Steven terbungkuk-bungkuk. “Kami juga sudah mau pergi. Selamat menikmati rumah baru anda, Tuan Ludwig!”Ludwig hanya menghela napas kesal karena kehadiran mereka. Setelah Steven dan keluarganya keluar, ia segera menyuruh pekerja untuk langsung merenovasi rumah tersebut.Sementara itu, Ivy terkejut melihat keluarga om-nya sudah bersiap untuk pergi. “Om! Kalian mau ke mana?! Aku—”“Ivy, bukankah kita sudah sepakat untuk pisah jalan?” Steven mengingatkan. “Jadi, sekarang, terserah kamu mau ke mana. Kami punya rumah sendiri.”Tentu saja, rumah baru mereka dibeli dari hasil menjual rumah Ivy. Steven saja tidak menyangka akan ada yang langsung membeli rumah itu dalam semalam. Dengan wajah angkuh, Deborah berkata, “Setelah ini, Steven akan dipromosikan. Jadi kami nggak butuh lagi kekayaan orang tua kamu yang udah mati itu!”Air mata Ivy mengalir tanpa bisa ia cegah. Setelah dirinya berkali-kali menutup mata mengenai perlakuan Jesslyn terhadapnya, balasan mereka
“Pak Mivhail, saya mohon maaf sudah salah mendidik Jesslyn. Saya akan terima apapun hukumannya.”Steven benar-benar dibuat malu dengan kelakuan putrinya. “Papa!” Jesslyn geram melihat sang ayah malah membungkuk dalam-dalam ke arah Mivhail di hadapan banyak orang. “Diam kamu, Jess!” sentak Steven sambil memelototi putrinya. Ivy benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Jesslyn. Ia masih merasa tinggi, walau berhadapan dengan ketua yayasan. Mivhail sendiri terlihat lelah melihat kelakuan Jesslyn. Bahkan Carlo tidak juga mengakui kesalahan mereka. Ia memberi kode pada Andreas untuk melanjutkan.“Kalau begitu, biar saya bacakan keputusan Universitas Arkamaya terkait saudari Jesslyn Adinata dan Saudara Herace Carlo Omar.” Andreas—dekan fakultas ethical hacking, langsung mengambil alih. Karena Anggara terbukti menerima suap dari keluarga Omar, Mivhail langsung mengeluarkan wakil rektor itu kemarin. “Mulai hari ini, Jesslyn dan Carlo bukan lagi peserta didik di bawah Universitas Ark
“Siapa?” tanya Ivy tenang. Setelah menerima pesan dari Jack, Ivy memutuskan untuk menghubunginya dengan saluran rahasia. Karena kalau tebakan Ivy benar, berarti bukan dirinya yang terseret kasus itu melainkan klien Jack yang terseret. Jack pun menjawab singkat dengan menyebut sebuah nama. “Oswald Tan.”“Ah ….”Benar tebakan Ivy. Keluarga Tan pasti minta tolong pada mereka. Dan melihat dari nama yang diberikan, sepertinya permintaan itu tidak resmi dari keluarga besar Tan. Nama Oswald hanya disematkan pada keturunan perempuan. Nama keluarga dari istri kepala keluarga Tan saat ini. “Kenapa, Little fox?” tanya Jack sedikit was-was. Little Fox adalah panggilan Jack pada Ivy. Entah kenapa mereka senang memanggilnya dengan banyak nama berbeda. Seperti Teresa yang memanggilnya little bird, ada juga rekan yang menyebut Ivy little peanut. Jack, sebagai pemimpin organisasi rahasia yang pernah bekerja bersama Vincent—ayah Ivy, Jack merasa tanggung jawab sebagai ayah kini ada di pundaknya.
“Ampun?!” Lexton mendengus geli. Lagi, Lexton berkata, “Anak lelaki Anda sudah mengganggu orang yang penting bagi saya. Dan sekarang saya harus memberi maaf?!” Kornelis Omar. Pemilik perusahaan besar yang berkecimpung dalam bidang konstruksi itu, adalah ayah dari Carlo. “Saya harus bagaimana, Tuan Lexton?! Saya—” “Keluar dari kampus itu atau dikeluarkan, pilih saja!” potong Lexton malas berdebat panjang. Lagipula, asistennya sudah mengetuk pergelangan tangan, tanda jam keberangkatan pesawat semakin dekat. Sebelum menutup sambungan telepon itu, Lexton melontarkan ancamannya. “Kalau masih berani mengganggu, saya tidak segan menghancurkan perusahaan Anda, Pak Kornelis!” Tanpa menunggu jawaban Kornelis, Lexton memutus sambungan telepon dan menyerahkan benda itu lagi pada sang asisten. “Ayo, berangkat!” “Baik, Tuan!” *** Sementara itu, di kediaman Adinata. Ivy baru saja tiba di rumah, karena ia tadi dipaksa Samantha untuk ikut pergi ke kafe. Alasannya demi m