Home / Young Adult / Om Tajir Milik Si Kutu Buku / Bab 3 | Percaya Kok! Soalnya Kamu Ganteng!

Share

Bab 3 | Percaya Kok! Soalnya Kamu Ganteng!

Author: Romero Un
last update Last Updated: 2025-11-02 15:10:03

“Ahhh!”

“Apa?! Ada apa?!” 

Lexton terbangun panik mendengar teriakan. Sang taipan bahkan sempat melompat dari sofa, saking kagetnya. 

Tak tega meninggalkan Ivy sendirian semalam, Lexton memutuskan untuk tidur di sofa hotel. 

Baru kali ini juga seorang presiden direktur Tanverra Holdings yang super kaya terpaksa tidur di sofa. Kalau sampai kakak-kakak perempuannya tahu, mereka pasti akan tertawa tanpa henti.

Tidak mungkin juga ia tidur dengan anak yang masih berusia 18 tahun itu. Dari kartu pelajar, semalam Lexton mengetahui bahwa Ivy adalah murid kelas 3 SMA.

Mencari sumber teriakan, Lexton mengamati sekeliling dan menghela napas panjang. Ia melihat Ivy duduk di atas kasur. 

“Astaga! Bilang dong, kalau kamu sudah bangun!”

Selimut putih yang tebal membungkus tubuh Ivy seolah menjadi pertahanan terakhir gadis itu.

Sadar kalau Ivy mungkin ketakutan, Lexton pun bertanya sambil melangkah mendekat. “Nama kamu Ivy, kan? Saya Lexton.”

Berangsur, kepanikan Ivy berubah setelah ia mengamati Lexton lebih dekat lagi.

“Ah ….” 

Teriakan yang tadinya melengking dan panjang itu kini berubah nada menjadi landai seolah menggoda. 

Lexton mengernyitkan dahi, heran menghadapi gadis antik di depannya itu. Tak peduli dengan semua itu, Lexton mencoba menjelaskan mengenai kejadian semalam. 

“Intinya, saya ini nolongin kamu, Nona!” Lexton mengakhiri ceritanya. 

Namun, Ivy terlihat seperti tidak mendengar apa yang Lexton katakan. 

Kesal karena merasa diabaikan, Lexton berkacak pinggang dan bertanya, “Hey, kenapa malah bengong?! Kamu dengerin saya, nggak? Hello! Earth to Ivy!”

Membuatnya terkejut, ternyata Ivy mengangguk. Namun, ucapan selanjutnya membuat Lexton tercengang sepersekian detik. 

Karena, gadis muda yang akan berusia 19 tahun beberapa minggu lagi itu malah berkata, “Kamu tampan sekali, Kak! Aku seperti sedang ada di dunia dongeng!”

Lexton tak bisa berhenti tertawa. 

“Kamu! Terlalu banyak nonton drama!” ujar Lexton di sela tawanya yang mulai mereda. “Atau kamu ini lagi godain aku, hm?” 

Lexton duduk, mendekat pada Ivy yang menurutnya sedang merayu dia. Anehnya, Lexton tidak keberatan sama sekali dengan godaan itu.

“Ge-er banget! Aku cuma bilang apa yang aku lihat. Kamu ganteng, ya ganteng!”

Lexton kembali tergelak. 

“Oke, oke. Tapi yang paling penting, kamu percaya ‘kan, aku nggak ngelakuin apa-apa sama kamu? Aku benar-benar nolongin kamu dari orang-orang jahat semalam! Oke?”

Tanpa ragu Ivy mengangguk. “Oke! Aku percaya kok! Soalnya kakak ganteng!”

“Hahaha! Ganteng otomatis bisa dipercaya! Nice!” ledek Lexton tak bisa menebak isi pikiran gadis aneh itu.

Namun, setidaknya Lexton bisa tenang. Ia tidak akan dituduh bahkan dilaporkan sebagai pria mesum yang tidur dengan gadis di bawah usia matang.  

Sementara Ivy nampak lebih rileks dan mulai membuka selimutnya, Lexton mencoba mencari tahu apa alasan kejadian semalam menimpa gadis itu.

“Kenapa semalam bisa begitu, Ivy? Kayaknya temen-temen kelas kamu yang rencanain ya? Mereka kenapa jahat begitu?”

Mendengar itu, netra Ivy membulat. Bukan berarti ia kaget karena tidak tahu, melainkan karena ia tidak menyangka Lexton bisa menebak dengan tepat. 

Tertangkap basah oleh orang setampan Lexton, kalau dia menjadi anak yang dirundung, membuat Ivy malu setengah mati.

Dengan lincah, Ivy melompat lalu berlari menuju kamar mandi sambil berteriak dengan nada meledek, “Nggak tahu ….”

Mulut Lexton menganga melihat kelakuan absurd anak lulusan SMA itu. “Hahaha!”

Jika harus membandingkan dia dengan keponakannya yang juga bersekolah di tempat yang sama dengan Ivy, kelakuan mereka jauh berbeda. 

Samantha—keponakan perempuan Lexton, adalah tipe anak yang angkuh. Tidak ingin sembarangan didekati. Menarik diri di belakang garis. 

“Ivy ini jenis makhluk apa sebenarnya?” gumam Lexton masih dengan sisa-sisa tawanya. “Dia nggak tahu sedang berhadapan dengan siapa sepertinya!”

Namun, bertolak belakang dengan ucapan Lexton yang terdengar seperti orang tersinggung itu, ia malah terkekeh geli.

“Baru kali ini ada yang bisa ngobrol santai denganku,” ujar Lexton bermonolog sambil menggeleng heran. “Nggak sibuk cari muka atau kecentilan.”

Lexton bahkan sebenarnya sudah menyerah dengan ide menikah. Semua perempuan yang mendekatinya, tidak pernah benar-benar mencintainya. 

Bagi mereka, Lexton hanya bonus dari harta keluarga Tan yang melimpah. Bukan sebaliknya.

Berniat mengantar Ivy pulang, Lexton memtuskan untuk berganti pakaian. Ia bisa mandi setelah nanti sampai di rumah. 

Tengah mengancingkan kemejanya, tiba-tiba Lexton mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. 

Baru saja Lexton akan memberitahu Ivy untuk turun sarapan dengannya sebelum pulang, tetapi gadis muda itu malah tertangkap basah berbelok ke arah pintu dan berteriak, “Aku pulang dulu!”

Sambil tergelak, Lexton melesat secepat kaki berlari dan menarik tubuh Ivy dalam dekapannya, dengan satu tangan.

“Astaga!” 

Lexton benar-benar dibuat terbahak dengan tingkah unik Ivy. Ia membawa tubuh Ivy seperti mengangkat karung beras di samping tubuhnya.

Entah mimpi apa Lexton belakangan ini, sampai bisa bertemu gadis seperti Ivy. Ia pun berkomentar, “Sudah lama banget saya nggak ngadepin anak rebellious kayak kamu!” 

“Kak, turunin aku!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Om Tajir Milik Si Kutu Buku   Bab 36 | Kawin Lari

    “Aku tidak berniat mencari istri sekarang, Dad!” tolak Lexton, membuang muka. Namun, Jeremy memilih tak peduli dengan penolakan itu. “Kamu belum lihat anak itu, Lex.” Jeremy menepuk pundak putranya. “Dia wanita cantik yang anggun. Cocok jadi istri seorang presiden direktur.”Geram karena tidak didengar, Lexton berbalik hendak menegaskan lagi keputusannya. Namun, ia menangkap kepala Giana menggeleng satu kali. Memberinya kode agar tidak melanjutkan perbantahan itu. Melihat Lexton tak lagi membantah, Jeremy pun lega. “Nanti kita atur waktu untuk pertemuan kalian.”Pertemuan hari itu juga membahas mengenai kinerja perusahaan-perusahaan sister dan anak perusahaan yang dipegang oleh masing-masing anggota keluarga Tan. Makan siang menjadi penutup pertemuan serius tersebut. “Kak Jeremy!” Seseorang tiba-tiba menghampiri meja makan sang kepala keluarga. Dia adalah adik kandung Jeremy, yang terkenal jarang bicara di rapat besar. Frillia Tan. Jeremy tersenyum lebar melihat adik bungsuny

  • Om Tajir Milik Si Kutu Buku   Bab 35 | Perjodohan Lexton

    “Terus, gimana sama uang pembelian rumah ini, Om?” tanya Ivy setelah mereka sudah kembali ke dalam. Karena renovasi akan berpusat di lantai 1, Ivy mengajak Lexton ke lantai 2. Di sana ada teras untuk mereka berbincang. “Aku nggak akan mempermasalahkan itu, karena kupikir kamu masih anggap mereka keluarga. Kecuali, kamu berpikir lain.”Ivy terdiam sesaat kemudian menjawab, “Mereka mutusin hubungan lebih dulu. Bahkan sudah bertindak melewati ketentuan hukum kan?”Lexton mengangguk. Bangga hatinya melihat Ivy ‘melek hukum’ dan tidak terobsesi dengan kebaikan semata. “Kalau kamu mikir begitu, aku akan minta Ludwig mengurus semuanya,” ujar Lexton santai. “Kamu fokus kuliah aja, Dear.”“Oke lah! Aku serahkan pada ahlinya!” ujar Ivy sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Hati Ivy masih terasa sesak. Kali ini karena penuh kebahagiaan dan kejutan. Ia tidak akan pernah kehilangan rumah ini lagi. ***Dua hari setelah kejadian itu. Di kediaman utama keluarga Tan. Hari ini bertepatan den

  • Om Tajir Milik Si Kutu Buku   Bab 34 | Yang Tidak Pernah Dibayangkan

    “Baik, baik, Tuan Ludwig!” Steven terbungkuk-bungkuk. “Kami juga sudah mau pergi. Selamat menikmati rumah baru anda, Tuan Ludwig!”Ludwig hanya menghela napas kesal karena kehadiran mereka. Setelah Steven dan keluarganya keluar, ia segera menyuruh pekerja untuk langsung merenovasi rumah tersebut.Sementara itu, Ivy terkejut melihat keluarga om-nya sudah bersiap untuk pergi. “Om! Kalian mau ke mana?! Aku—”“Ivy, bukankah kita sudah sepakat untuk pisah jalan?” Steven mengingatkan. “Jadi, sekarang, terserah kamu mau ke mana. Kami punya rumah sendiri.”Tentu saja, rumah baru mereka dibeli dari hasil menjual rumah Ivy. Steven saja tidak menyangka akan ada yang langsung membeli rumah itu dalam semalam. Dengan wajah angkuh, Deborah berkata, “Setelah ini, Steven akan dipromosikan. Jadi kami nggak butuh lagi kekayaan orang tua kamu yang udah mati itu!”Air mata Ivy mengalir tanpa bisa ia cegah. Setelah dirinya berkali-kali menutup mata mengenai perlakuan Jesslyn terhadapnya, balasan mereka

  • Om Tajir Milik Si Kutu Buku   Bab 33 | Tiba-Tiba Tuna Wisma

    “Pak Mivhail, saya mohon maaf sudah salah mendidik Jesslyn. Saya akan terima apapun hukumannya.”Steven benar-benar dibuat malu dengan kelakuan putrinya. “Papa!” Jesslyn geram melihat sang ayah malah membungkuk dalam-dalam ke arah Mivhail di hadapan banyak orang. “Diam kamu, Jess!” sentak Steven sambil memelototi putrinya. Ivy benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Jesslyn. Ia masih merasa tinggi, walau berhadapan dengan ketua yayasan. Mivhail sendiri terlihat lelah melihat kelakuan Jesslyn. Bahkan Carlo tidak juga mengakui kesalahan mereka. Ia memberi kode pada Andreas untuk melanjutkan.“Kalau begitu, biar saya bacakan keputusan Universitas Arkamaya terkait saudari Jesslyn Adinata dan Saudara Herace Carlo Omar.” Andreas—dekan fakultas ethical hacking, langsung mengambil alih. Karena Anggara terbukti menerima suap dari keluarga Omar, Mivhail langsung mengeluarkan wakil rektor itu kemarin. “Mulai hari ini, Jesslyn dan Carlo bukan lagi peserta didik di bawah Universitas Ark

  • Om Tajir Milik Si Kutu Buku   Bab 32 | Persidangan

    “Siapa?” tanya Ivy tenang. Setelah menerima pesan dari Jack, Ivy memutuskan untuk menghubunginya dengan saluran rahasia. Karena kalau tebakan Ivy benar, berarti bukan dirinya yang terseret kasus itu melainkan klien Jack yang terseret. Jack pun menjawab singkat dengan menyebut sebuah nama. “Oswald Tan.”“Ah ….”Benar tebakan Ivy. Keluarga Tan pasti minta tolong pada mereka. Dan melihat dari nama yang diberikan, sepertinya permintaan itu tidak resmi dari keluarga besar Tan. Nama Oswald hanya disematkan pada keturunan perempuan. Nama keluarga dari istri kepala keluarga Tan saat ini. “Kenapa, Little fox?” tanya Jack sedikit was-was. Little Fox adalah panggilan Jack pada Ivy. Entah kenapa mereka senang memanggilnya dengan banyak nama berbeda. Seperti Teresa yang memanggilnya little bird, ada juga rekan yang menyebut Ivy little peanut. Jack, sebagai pemimpin organisasi rahasia yang pernah bekerja bersama Vincent—ayah Ivy, Jack merasa tanggung jawab sebagai ayah kini ada di pundaknya.

  • Om Tajir Milik Si Kutu Buku   Bab 31 | Permintaan Maaf Tidak Tulus

    “Ampun?!” Lexton mendengus geli. Lagi, Lexton berkata, “Anak lelaki Anda sudah mengganggu orang yang penting bagi saya. Dan sekarang saya harus memberi maaf?!” Kornelis Omar. Pemilik perusahaan besar yang berkecimpung dalam bidang konstruksi itu, adalah ayah dari Carlo. “Saya harus bagaimana, Tuan Lexton?! Saya—” “Keluar dari kampus itu atau dikeluarkan, pilih saja!” potong Lexton malas berdebat panjang. Lagipula, asistennya sudah mengetuk pergelangan tangan, tanda jam keberangkatan pesawat semakin dekat. Sebelum menutup sambungan telepon itu, Lexton melontarkan ancamannya. “Kalau masih berani mengganggu, saya tidak segan menghancurkan perusahaan Anda, Pak Kornelis!” Tanpa menunggu jawaban Kornelis, Lexton memutus sambungan telepon dan menyerahkan benda itu lagi pada sang asisten. “Ayo, berangkat!” “Baik, Tuan!” *** Sementara itu, di kediaman Adinata. Ivy baru saja tiba di rumah, karena ia tadi dipaksa Samantha untuk ikut pergi ke kafe. Alasannya demi m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status