Beranda / Young Adult / Om Tajir Milik Si Kutu Buku / Bab 4 | Ciuman Selamat Pagi

Share

Bab 4 | Ciuman Selamat Pagi

Penulis: Romero Un
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-02 15:11:27

“Saya mau anter kamu pulang, Ivy!” Lexton terkekeh. 

Namun, Ivy menolak. “Nggak usah, Kak! Turunin saya dulu, plis!” 

Ivy mencoba keluar dari dekapan kuat Lexton, tetapi usahanya seperti menjaring angin. Sia-sia!

Lexton memutar bola matanya, tidak peduli dengan penolakan Ivy. Namun, ia menurunkan gadis muda itu di sofa. 

Tanpa jeda, ia mengapit kedua lutut Ivy dengan kakinya, lalu menunduk dekat dengan wajah gadis manis nan lugu itu.

“Kau akan pulang denganku!” ujar Lexton menekankan setiap kata. “Sekarang, kita sarapan! Oke?”

Ivy mengangguk, menurut. 

Namun, lagi-lagi ia berkomentar di luar topik pembicaraan. Katanya, “Aku nggak lihat kamu sikat gigi, tapi napasmu nggak bau!”

Lexton hampir menyembur karena tak bisa menahan tawanya. Ia membuang muka sambil tergelak. 

Ketika ia berniat berbalik dan menatap Ivy, gadis itu ternyata bergerak maju, mendekati bibirnya dan mengendus. “Benar! Tidak ada bau mulut pagi hari. Cocok untuk ciuman selamat pagi!”

Lexton tertegun. Hampir lupa bagaimana proses bernapas yang seharusnya. 

Kalau saja wajah manusia bisa berubah warna, mungkin saat ini ada rona merah muda di pipi Lexton. 

Menutupi keterkejutannya, Lexton langsung berkata, “Ha! Anak kecil tahu apa soal ciuman?!”

“Tidak tahu sih!” aku Ivy tak berniat menutupi kelemahannya soal cinta. “Tapi bagaimana bisa nggak bau mulut?”

Lexton terkekeh geli, melihat Ivy justru penasaran dengan hal di luar tebakannya. Ia menjawab sembarangan. Katanya, “Aku pakai produk daily life Tanverra dong! Buat sikat gigi dan kumur!”

Tak Lexton duga, ucapannya itu mengundang tawa lepas Ivy yang membuatnya semakin terlihat manis. “Kau pasti staf Tanverra! Rajin sekali promosi!”

Lexton hanya tergelak. Ia tidak mengelak tebakan Ivy tapi juga tidak membenarkan. Bahwa dia adalah pemilik Tanverra sendiri, bukan sekedar staf.

“Sudah bercandanya! Ayo, sarapan!”

Lexton segera membawa Ivy turun untuk sarapan, kemudian mengantar gadis itu pulang.

Tidak disangka, rumah Ivy ternyata tidak sekecil dan sesederhana seperti penampilan gadis itu. Bahkan ada pintu gerbang yang menjagai sekitar rumah besar itu. Walau sayangnya, banyak tanaman liar merambati pagar sampai menutupi pandangan dari luar.

“Thanks, Kak!” Ivy tersenyum. 

Terselip nada sedih dan kecewa dalam ucapan gadis berkacamata besar itu. “Maaf, aku banyak menyusahkanmu! Bye!”

Lexton mengangguk, tetapi tidak berkata apa-apa. Ia sendiri tidak paham apa yang dirasakan tentang pertemuan singkat mereka. 

Tidak menyusahkan, menurut Lexton. 

Bahkan mungkin, ini adalah hari terbaiknya. Bisa tertawa sejak bangun tidur, seolah tidak punya masalah. 

Ivy yang sudah masuk ke balik gerbang, seketika berbalik untuk melihat kalau-kalau Lexton masih di sana. 

“Yah! Udah pergi!” keluh Ivy yang hanya bisa melihat belakang mobilnya. Semakin menjauh dan menghilang ditelan jarak. 

Berjalan sekitar 5 menit, Ivy akhirnya tiba di rumah. Ia segera masuk dan berpikir untuk ke kamarnya. Padahal masih pagi, tetapi tubuh Ivy terasa berat. 

‘Mungkin karena kejadian semalam,’ batin Ivy sambil menaiki tangga. 

Kamarnya ada di lantai dua. Di sana ia dan sepupunya menempati kamar masing-masing. Om dan tantenya menempati kamar utama di lantai 1. Kamar yang dulu menjadi kamar orang tua Ivy.

Sekarang, mereka telah tiada. Tidak ada lagi kehangatan yang biasa diberikan rumah itu seperti saat mama dan papanya masih hidup. 

“Ha! Baru pulang, lu? Gimana semalam enak pestanya?” tanya Jesslyn. 

Sepupunya itu terlihat sudah bersandar di ambang pintu kamarnya sendiri, seolah memang sengaja mencegatnya. 

‘Dih! Ngarep jawaban apa deh dia?!’ tukas Ivy dalam hati. 

Namun, bibir Ivy melengkung naik. Tersenyum lebar, seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Ia pun menjawab dengan penuh semangat. 

“Nyenyak banget! Gue belum pernah tidur pulas kayak semalam!”

Melihat Ivy yang terlihat normal, Jesslyn merengut marah. ‘Ha?! Apa maksudnya ini?! Apa semalam mereka nggak jadi nidurin si Ivy?! Brengsek! Gue musti pastiin sama si Carlo!’

“We—well, bagus deh!” komentar Jesslyn. 

Sepupu Ivy dari pihak almarhum ayahnya itu kemudian berbalik dan menutup pintu kamar begitu saja. 

Alis Ivy naik satu. Heran dengan kelakuan Jesslyn. 

Seharusnya ia melabraknya dan melaporkan semua perbuatan Jesslyn. Sayang, Ivy sama sekali tidak punya niat untuk merusak hubungan yang memang sudah hancur itu. 

Bagi Ivy, keberadaan mereka di rumah ini sedikit menenangkannya. Om Steven, Tante Deborah dan Jesslyn.

Setidaknya Ivy bisa mendengar suara dapur yang sedang digunakan tantenya untuk memasak. Atau mendengarkan suara mesin air yang menyala otomatis karena ada yang sedang mandi atau mencuci sesuatu. 

Setidaknya, ada yang menemaninya. Mungkin hanya itu yang membuat Ivy tidak kesepian, tanpa kedua orang tuanya.

Walau Ivy sadar, mereka mencari celah agar bisa mengklaim rumah besar milik orang tuanya itu dan menyingkirkan dia yang merupakan pewaris sah rumah itu. Ivy juga tahu mereka menggunakan uang asuransi kematian kedua orang tuanya untuk menjadi donatur di sekolah Arkamaya. 

Masuk kamar, Ivy langsung mengunci pintu dan berbaring telentang. “Akhirnya sampai juga. Kasur kesayangan!”

Tengah menerawang mengamati langit-langit kamar, Ivy baru menyadari sesuatu yang kurang. “Astaga! Kenapa aku lupa minta nomor telepon kakak ganteng tadi!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Om Tajir Milik Si Kutu Buku   Bab 36 | Kawin Lari

    “Aku tidak berniat mencari istri sekarang, Dad!” tolak Lexton, membuang muka. Namun, Jeremy memilih tak peduli dengan penolakan itu. “Kamu belum lihat anak itu, Lex.” Jeremy menepuk pundak putranya. “Dia wanita cantik yang anggun. Cocok jadi istri seorang presiden direktur.”Geram karena tidak didengar, Lexton berbalik hendak menegaskan lagi keputusannya. Namun, ia menangkap kepala Giana menggeleng satu kali. Memberinya kode agar tidak melanjutkan perbantahan itu. Melihat Lexton tak lagi membantah, Jeremy pun lega. “Nanti kita atur waktu untuk pertemuan kalian.”Pertemuan hari itu juga membahas mengenai kinerja perusahaan-perusahaan sister dan anak perusahaan yang dipegang oleh masing-masing anggota keluarga Tan. Makan siang menjadi penutup pertemuan serius tersebut. “Kak Jeremy!” Seseorang tiba-tiba menghampiri meja makan sang kepala keluarga. Dia adalah adik kandung Jeremy, yang terkenal jarang bicara di rapat besar. Frillia Tan. Jeremy tersenyum lebar melihat adik bungsuny

  • Om Tajir Milik Si Kutu Buku   Bab 35 | Perjodohan Lexton

    “Terus, gimana sama uang pembelian rumah ini, Om?” tanya Ivy setelah mereka sudah kembali ke dalam. Karena renovasi akan berpusat di lantai 1, Ivy mengajak Lexton ke lantai 2. Di sana ada teras untuk mereka berbincang. “Aku nggak akan mempermasalahkan itu, karena kupikir kamu masih anggap mereka keluarga. Kecuali, kamu berpikir lain.”Ivy terdiam sesaat kemudian menjawab, “Mereka mutusin hubungan lebih dulu. Bahkan sudah bertindak melewati ketentuan hukum kan?”Lexton mengangguk. Bangga hatinya melihat Ivy ‘melek hukum’ dan tidak terobsesi dengan kebaikan semata. “Kalau kamu mikir begitu, aku akan minta Ludwig mengurus semuanya,” ujar Lexton santai. “Kamu fokus kuliah aja, Dear.”“Oke lah! Aku serahkan pada ahlinya!” ujar Ivy sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Hati Ivy masih terasa sesak. Kali ini karena penuh kebahagiaan dan kejutan. Ia tidak akan pernah kehilangan rumah ini lagi. ***Dua hari setelah kejadian itu. Di kediaman utama keluarga Tan. Hari ini bertepatan den

  • Om Tajir Milik Si Kutu Buku   Bab 34 | Yang Tidak Pernah Dibayangkan

    “Baik, baik, Tuan Ludwig!” Steven terbungkuk-bungkuk. “Kami juga sudah mau pergi. Selamat menikmati rumah baru anda, Tuan Ludwig!”Ludwig hanya menghela napas kesal karena kehadiran mereka. Setelah Steven dan keluarganya keluar, ia segera menyuruh pekerja untuk langsung merenovasi rumah tersebut.Sementara itu, Ivy terkejut melihat keluarga om-nya sudah bersiap untuk pergi. “Om! Kalian mau ke mana?! Aku—”“Ivy, bukankah kita sudah sepakat untuk pisah jalan?” Steven mengingatkan. “Jadi, sekarang, terserah kamu mau ke mana. Kami punya rumah sendiri.”Tentu saja, rumah baru mereka dibeli dari hasil menjual rumah Ivy. Steven saja tidak menyangka akan ada yang langsung membeli rumah itu dalam semalam. Dengan wajah angkuh, Deborah berkata, “Setelah ini, Steven akan dipromosikan. Jadi kami nggak butuh lagi kekayaan orang tua kamu yang udah mati itu!”Air mata Ivy mengalir tanpa bisa ia cegah. Setelah dirinya berkali-kali menutup mata mengenai perlakuan Jesslyn terhadapnya, balasan mereka

  • Om Tajir Milik Si Kutu Buku   Bab 33 | Tiba-Tiba Tuna Wisma

    “Pak Mivhail, saya mohon maaf sudah salah mendidik Jesslyn. Saya akan terima apapun hukumannya.”Steven benar-benar dibuat malu dengan kelakuan putrinya. “Papa!” Jesslyn geram melihat sang ayah malah membungkuk dalam-dalam ke arah Mivhail di hadapan banyak orang. “Diam kamu, Jess!” sentak Steven sambil memelototi putrinya. Ivy benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Jesslyn. Ia masih merasa tinggi, walau berhadapan dengan ketua yayasan. Mivhail sendiri terlihat lelah melihat kelakuan Jesslyn. Bahkan Carlo tidak juga mengakui kesalahan mereka. Ia memberi kode pada Andreas untuk melanjutkan.“Kalau begitu, biar saya bacakan keputusan Universitas Arkamaya terkait saudari Jesslyn Adinata dan Saudara Herace Carlo Omar.” Andreas—dekan fakultas ethical hacking, langsung mengambil alih. Karena Anggara terbukti menerima suap dari keluarga Omar, Mivhail langsung mengeluarkan wakil rektor itu kemarin. “Mulai hari ini, Jesslyn dan Carlo bukan lagi peserta didik di bawah Universitas Ark

  • Om Tajir Milik Si Kutu Buku   Bab 32 | Persidangan

    “Siapa?” tanya Ivy tenang. Setelah menerima pesan dari Jack, Ivy memutuskan untuk menghubunginya dengan saluran rahasia. Karena kalau tebakan Ivy benar, berarti bukan dirinya yang terseret kasus itu melainkan klien Jack yang terseret. Jack pun menjawab singkat dengan menyebut sebuah nama. “Oswald Tan.”“Ah ….”Benar tebakan Ivy. Keluarga Tan pasti minta tolong pada mereka. Dan melihat dari nama yang diberikan, sepertinya permintaan itu tidak resmi dari keluarga besar Tan. Nama Oswald hanya disematkan pada keturunan perempuan. Nama keluarga dari istri kepala keluarga Tan saat ini. “Kenapa, Little fox?” tanya Jack sedikit was-was. Little Fox adalah panggilan Jack pada Ivy. Entah kenapa mereka senang memanggilnya dengan banyak nama berbeda. Seperti Teresa yang memanggilnya little bird, ada juga rekan yang menyebut Ivy little peanut. Jack, sebagai pemimpin organisasi rahasia yang pernah bekerja bersama Vincent—ayah Ivy, Jack merasa tanggung jawab sebagai ayah kini ada di pundaknya.

  • Om Tajir Milik Si Kutu Buku   Bab 31 | Permintaan Maaf Tidak Tulus

    “Ampun?!” Lexton mendengus geli. Lagi, Lexton berkata, “Anak lelaki Anda sudah mengganggu orang yang penting bagi saya. Dan sekarang saya harus memberi maaf?!” Kornelis Omar. Pemilik perusahaan besar yang berkecimpung dalam bidang konstruksi itu, adalah ayah dari Carlo. “Saya harus bagaimana, Tuan Lexton?! Saya—” “Keluar dari kampus itu atau dikeluarkan, pilih saja!” potong Lexton malas berdebat panjang. Lagipula, asistennya sudah mengetuk pergelangan tangan, tanda jam keberangkatan pesawat semakin dekat. Sebelum menutup sambungan telepon itu, Lexton melontarkan ancamannya. “Kalau masih berani mengganggu, saya tidak segan menghancurkan perusahaan Anda, Pak Kornelis!” Tanpa menunggu jawaban Kornelis, Lexton memutus sambungan telepon dan menyerahkan benda itu lagi pada sang asisten. “Ayo, berangkat!” “Baik, Tuan!” *** Sementara itu, di kediaman Adinata. Ivy baru saja tiba di rumah, karena ia tadi dipaksa Samantha untuk ikut pergi ke kafe. Alasannya demi m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status