MasukSekitar pukul 3 sore. Memenuhi panggilan ayahnya, Lexton tiba di kediaman utama. Wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda panik. Membuat Giana yang menunggunya di ruang tamu, keheranan. “Di mana, Dad?” tanya Lexton sumringah. “Ugh! Kamu bisa-bisanya santai begini,” keluh Giana sambil merangkul lengan Lexton. “Kamu udah baca pesanku kan? Dad sudah mengundang anggota keluarga yang tidak sibuk untuk rapat darurat ini!”Lexton mengangguk. “Mau gimana lagi kalau ketahuan. Kata orang kan, tidak ada rambut yang jatuh tanpa seizin Tuhan.”Giana menepuk dahi. Frustasi dengan tingkah adik bungsunya itu. “Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Ivy, aku bakal larikan dia ke tempat Derrick!”“Ugh! Tempat kayak ipar kejauhan, Gee. Jangan!” protes Lexton menolak rencana tersebut. Derrick Miller adalah suami Giana. Ia pemilik kebun anggur terbesar di Nexara.“Bodo amat!” tukas Giana kesal. “Aku nggak rela Ivy di sini jadi incaran keluarga kita yang mau jatuhin kamu!” Lexton terkekeh. “Aku aja cukup,
Sementara itu, di kediaman keluarga Brown.Carmellita tengah menahan kesal, lantaran anak buahnya datang membawa foto-foto Lexton yang masih saja menemui Ivy. Dengan cepat ia mengirim pesan pada Lexton menyatakan kekecewaannya karena Lexton tidak menepati kesepakatan mereka.Tak lama kemudian, ia menerima balasan dari nomor tersebut. Namun, melihat isi pesannya, Carmellita semakin dibuat murka.My Lexton: Maaf Nona Carmellita, saya asisten pribadi Pak Lexton. “Argh! Kenapa sulit sekali mendapatkannya?!” raung Carmellita frustasi. “Dia bahkan memberi nomor asistennya padaku!”Kepala pelayan yang menemani di sampingnya pun tidak bisa berkata apa-apa. “Padahal selama ini dia selalu menghindari wanita. Dia bahkan nggak punya berita skandal.” Carmellita mulai berceloteh sendiri. “Kalau tahu begini, aku akan lebih cepat meminta Dad untuk mengajukan pertunangan”“Nona, tenangkan diri dulu—”“Nggak bisa, Jevis!” sentak Carmellita murka. “Aku yang lebih dulu menginginkan Lexton. Kenapa aku
“Carmellita Brown.”Netra Ivy terlihat fokus mengamati layar laptop sementara tangannya mengusap-usap alas sentuh. Ia tengah berselancar di situs web Huggle untuk mencari tahu lebih jauh siapa wanita yang bertunangan dengan Lexton.Setelah beberapa saat, Ivy menarik tubuhnya menjauh dari laptop dan merenggangkan tubuh dengan lelah. Ia menyerah. “Nggak ada yang menarik. Nggak ada kelemahan.”Walau sebelumnya Ivy mengatakan akan menunggu komentar Lexton, tapi ia tidak bermaksud diam saja tanpa perlawanan. Orang seperti Carmellita akan mudah melenyapkannya, kalau ia tidak hati-hati dan bersiap dengan banyak amunisi. Di saat bersamaan, sebuah pesan masuk. Dari salah satu seniornya di organisasi siber rahasia. Dahi Ivy berkerut membaca pesan dari Jack. Ia menyuarakan pesan tersebut, “Pekerjaan baru? Perusahaan TanTambang lagi? Apa ada masalah ya?”Sepertinya Jack menawari Ivy sebuah pekerjaan lanjutan dari pelanggan lama mereka.Dengan cepat Ivy membalas pesan itu. To SentinelJ: Mau. Ak
“Jangan salah sangka sama Om Lex, Iv!” sentak Samantha tergesa. “Gue bisa jelasin!”Dahi Ivy berkerut. “Well, gue nggak salah sangka. Gue cuma nanya sih.”“Oh? Oh …. Fyuh! Gue kira lu bakalan nangis dan ngerasa dimainin om gue.” Samantha terduduk lemas di salah satu kursi besi dekat mereka. “Jadi, gini ceritanya ….”Keponakan Lexton pun segera menjelaskan awal mula adanya pertunangan itu. Tentu saja, yang ia ceritakan berdasarkan cerita dari sang ibu—Giana, juga 2 tantenya.Ivy akhirnya bisa bernapas lega. “Syukurlah kalau Om Lexton baik-baik aja, Sam. Gue takut kalo karena gue dia jadi susah.” Samantha menatap Ivy sesaat kemudian berkata, “Nggak juga. Dia emang bakal susah karena dia milih lu, Iv. Itu kenyataan yang nggak bisa lu singkirin.”Wajah Tessa panik mendengar Samantha bicara terus terang. Ia takut kata-kata Samantha akan menyakiti Ivy dan mungkin bisa membuat teman barunya menyerah berhubungan dengan Lexton. “Sa—Sammy, mungkin jangan bilang gitu—”“Kenapa? Gue bicara keny
“Selamat Lexton!” Seruan itu kembali menggema setelah Jeremy mengumumkan tanggal pernikahan Lexton dan Carmellita. Pers yang datang pun mulai mengambil foto. Beberapa bertanya, tetapi tidak banyak. Carmellita sedikit bingung, karena mereka bertindak di luar kesepakatan.Selain itu, mereka membuat suasana sedikit ricuh, sehingga Jeremy justru membuat para pers meninggalkan ruangan itu secepatnya. Carmellita tidak tahu, Lexton sudah mengganti semua personel wartawan yang dibayar olehnya. “Ayo, ayo! Kita bersulang untuk kebahagiaan kedua calon mempelai kita!”“Cheers!”*** “Berhasil?” tanya Lexton pada Frank—sekretaris sekaligus asisten pribadinya.“Tentu saja!”Setelah acara semalam, akhirnya tidak ada satupun televisi yang menayangkan penggabungan dua keluarga terkuat di Jayakara.Frank sampai harus lembur demi menjaga agar acara tersebut tidak beredar di manapun. Namun, ia langsung mendapat bonus tambahan untuk kerja kerasnya itu. “Kalau gitu, aku bisa tenang, Frank.” Lexton ter
“Om Lex? Kok mukanya merengut?”Ivy jadi ikut mengernyitkan dahi melihat Lexton kembali dengan wajah gusar. Namun, yang dikhawatirkan hanya tersenyum dan memberi kecupan di atas kepala. “Ada sedikit masalah, Hon,” jawab Lexton tak bisa berdusta, tapi juga tak mungkin menceritakan soal Carmellita. “Selesai makan, aku nggak bisa lama-lama. Oke?”Ivy mengangguk paham. Ia cukup penasaran dengan masalah yang sedang dihadapi Lexton, tetapi ia tahu batasannya. Jadi, ia memutuskan, selama Lexton tidak cerita, ia juga tidak akan menuntut. “Kuharap masalah itu bukan karena Om dateng ke sini di jam kerja.” Ivy sedikit menegur sikap Lexton yang sembarangan meninggalkan pekerjaan itu. Dengan lihai, Lexton mengelak, “Ini jam istirahat, Sayang. Karena tempat makannya jauh, jadi aku ambil waktu istirahat lebih cepat.”Cengiran kekanakan di wajah Lexton membuat Ivy tidak bisa membantah lagi. Ia hanya bisa mengiyakan apapun alasan pria yang usianya 19 tahun lebih tua darinya itu. “Ya, ya, ya!”Seles







