Share

Apa yang Terjadi?

Author: Adelia17
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-10 11:32:32

“Emiko, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa …?”

“Ma, sungguh bukan aku penyebab Papa meninggal! Papa dibunuh,” ujar Emiko cepat.

“A-apa? Ja-jadi, Papamu meninggal karena dibunuh?” Kirani yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa suaminya sudah tiada, sekarang harus menerima fakta yang lain.

Pagi itu, kabar buruk yang harus didengar oleh Kirani rasanya terlalu bertubi-tubi.

“Mari ikut kami, Nona Emiko!” celetuk seorang laki-laki berseragam polisi itu.

“Maaf, Pak. Ini terlalu mendadak. Saya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • One Two Three and Action   Rahasia Emiko Terungkap

    Satu minggu berlalu.Saat itu keadaan dapat dikatakan sudah aman. Semua orang yang terlibat dengan Zoya sedang dalam penyelidikan. Pun segala hal yang berkaitan dengan gadis itu berada di dalam pengawasan yang berwajib.Tugas anggota Tthree sudah selesai. Benar yang dikatakan oleh Dhefin dan Tama, sebenarnya mereka tidak ada kewajiban untuk menjaga Kirani dan putrinya lagi. Namun, demi membuktikan keyakinan mereka akan perasaan Zayn terhadap Emiko, segala perintah yang tidak masuk akal tetap dilaksanakan.Anna sendiri berkali-kali menyuruh Tama berhenti berada di sekitarnya. Hingga semalam, laki-laki itu memenuhi permintaannya karena memang sudah lama dia ingin menemui pujaan hatinya yang bekerja sebagai salah satu tim forensik. Ah, benar! Hampir saja terlewatkan ceritanya.Anna juga sudah pindah ke tempat tinggal yang baru sehingga keadaannya kini terasa lebih baik.Sementara Kirani yang jarang bepergian justru lebih sering mengundang Dhefin untuk menikmati masakannya bersama. Merek

  • One Two Three and Action   Silakan Berlibur!

    “Jadi, kamu menemani Tante Kirani dan aku yamg akan menjaga Anna,” ujar Tama tepat ketika Zayn masuk ke dalam mobil. Tentu saja, itu hanya kalimat sindiran.“Aku sebenarnya lebih ingin menemani anak Tante Kirani. Bagaimana menurutmu?” Dhefin memberi jawab seraya melirik ke arah Zayn yang memasang raut wajah datar.“Boleh saja. Kenapa tidak?” sahut Tama memahami arti dari kalimat yang dilontarkan oleh Dhefin. Mereka memang berniat menyindir Zayn.“Pasalnya, menurut instruksi yang diberikan oleh sahabat kita tadi, hanya ada Tante Kirani dan Anna yang perlu mendapatkan pengawasan,” ujar Dhefin.“Ah! Kamu salah! Emiko justru memegang peran penting. Dia harus dijaga ketat mengingat musuh sangat menginginkan nyawanya,” jawab Tama.“Benarkah? Kalau begitu aku ingin bertukar peran, Zayn!” ujar Dhefin sengaja karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari sahabatnya itu.“Lakukan saja yang kukatakan tadi!” jawab Zayn seolah-olah sedang tidak ingin dibantah.“Bukankah musuh tidak akan curiga kal

  • One Two Three and Action   Tidak Ingin Bersembunyi Lagi

    Tanpa melihat nama penelepon, Zayn menerima panggilan sambil menutup mata.“Zayn ….” Suara seorang gadis yang sedikit tercekat membuat netra laki-laki itu kembali terbuka.Zayn melihat nama yang tertera pada layar ponsel dan kembali mendekatkannya ke telinga.“Ini sudah hampir pagi dan kamu belum tidur. Apa yang terjadi?” Zayn bertanya dengan nada suara rendah, walaupun dadanya berdebar, khawatir sesuatu terjadi.“Apa malam ini kamu tidak berjaga di Vega Apartment?” Emiko balik bertanya.“Aku pulang ke apartment yang pernah kamu dan Tante Kirani kunjungi. Di sana masih ada beberapa orang pengawal, tetapi seharusnya kalian aman. Bukankah Anna dan Didi masih menginap?” sahut Zayn.“Ah! Begitu rupanya. Baiklah! Aku tutup telepon ….”“Tunggu dulu! Apa ada sesuatu terjadi? Mengapa kamu belum tidur?” tanya Zayn.“Tidak apa-apa. Benar yang kamu katakan, di sini seharusnya aman. Aku akan tidur sekarang,” jawab Emiko.Walaupun terasa aneh, Zayn tidak memaksa Emiko untuk bicara lebih lama. Dia

  • One Two Three and Action   Tidak Seru

    “Zayn! Ada apa? Cepat kemari!” tanya seseorang yang tadi membukakan pintu.Zayn memberi tanda dengan telunjuk tangan kiri agar seseorang itu menunggunya berbicara di telepon. Dia mendengarkan setiap kata yang dilontarkan oleh Dhefin, sahabatnya yang sedang menelepon, sembari memperhatikan seseorang yang membukakan pintu untuknya.“Kamu harus memeriksanya sendiri!” jawab Zayn.Setelah mendapatkan jawaban dari Dhefin, laki-laki itu segera memutuskan sambungan telepon dan memasukkan ponsel ke dalam saku celana.“Apa kamu sudah selesai?” tanya seseorang yang ternyata masih menunggu dengan sikap tidak sabar.Zayn hanya mengangguk sebagai respons. Dia yang masih cukup terkejut dengan kehadiran seorang gadis yang ternyata baik-baik saja, padahal tadi sempat dilihatnya seseorang sudah berdiri tepat di depan pintu unit apartment milik Kirani. Tanpa berlama-lama dia praktis bertanya, “Apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja? Apa seseorang datang kemari?”Ya! Emiko adalah seseorang yang membuk

  • One Two Three and Action   Menuju Akhir

    Kini matahari sudah terbit.Seorang pengawal bekerja sama dengan pihak Vega Apartment mengatur agar para penghuni yang hendak beraktivitas hanya boleh melalui pintu utama untuk menghindari kepanikan.Sementara itu, Dhefin menghubungi Zayn dan memberi tahu semua rencana mereka sambil melangkah menuju ke lantai unit apartment milik Zoya bersama para pengawal yang lain.Zayn yang tadinya ingin memberi informasi tambahan mengenai signal dari sebuah perangkat sedang aktif di unit apartment milik Zoya, praktis mengurungkan niat dan bergegas pamit untuk menyusul kedua sahabatnya.Laki-laki itu bahkan belum sempat menyentuh sarapannya.“Bagaimana?” tanya Zayn dengan nada suara setengah berbisik, tepat di samping Dhefin yang sedang bersembunyi di balik pintu tangga darurat sambil bersiap dengan senjatanya.Tanpa memberikan jawaban, sahabat dan sekaligus rekan kerja Zayn menunjuk dengan dagunya ke arah Ella yang sedang memainkan perannya di depan pintu unit apartment milik Zoya.“Apa kita tidak

  • One Two Three and Action   Umpan

    “Si-siapa yang datang? Di luar sana bahkan matahari masih belum menampakkan cahayanya,” ujar Zoya yang mendadak khawatir.“Aku tidak tahu,” jawab Araki.Suara ketukan pintu terdengar semakin keras dan memaksa hingga membuat Pino ikut bangun.“Hei! Mengapa kamu hanya mematung di sana dan belum membukakan pintu?” tanya Pino marah. Dia merasa terganggu tidurnya.“Aku mau membukakan pintu. Akan tetapi, itu akan sangat berbahaya kalau polisi yang datang. Bagaimana ini? Apa sebaiknya kita lompat saja dari jendela?” Araki balik bertanya dengan nada gusar.Pino yang masih sangat mengantuk mendadak sadar kalau saat itu mereka sedang menjadi incaran polisi. Mereka tidak boleh sembarangan membuka pintu.Belum sempat Zoya, Pino, dan Araki menemukan ide, tiba-tiba seorang pelayan datang dari arah dapur dengan tergesa-gesa, hendak membuka pintu.“Tunggu dulu!” Zoya berteriak.Seorang pelayan itu menoleh dan melihat secara bergantian ke arah Zoya, Pino, serta Araki. Dia terkejut karena ternyata pint

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status