Share

Menuju Akhir

Author: Adelia17
last update publish date: 2026-09-24 10:43:01

Kini matahari sudah terbit.

Seorang pengawal bekerja sama dengan pihak Vega Apartment mengatur agar para penghuni yang hendak beraktivitas hanya boleh melalui pintu utama untuk menghindari kepanikan.

Sementara itu, Dhefin menghubungi Zayn dan memberi tahu semua rencana mereka sambil melangkah menuju ke lantai unit apartment milik Zoya bersama para pengawal yang lain.

Zayn yang tadinya ingin memberi informasi tambahan mengenai signal dari sebuah perangkat sedang aktif di unit apartment milik Zoy
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • One Two Three and Action   Tidak Ingin Bersembunyi Lagi

    Tanpa melihat nama penelepon, Zayn menerima panggilan sambil menutup mata.“Zayn ….” Suara seorang gadis yang sedikit tercekat membuat netra laki-laki itu kembali terbuka.Zayn melihat nama yang tertera pada layar ponsel dan kembali mendekatkannya ke telinga.“Ini sudah hampir pagi dan kamu belum tidur. Apa yang terjadi?” Zayn bertanya dengan nada suara rendah, walaupun dadanya berdebar, khawatir sesuatu terjadi.“Apa malam ini kamu tidak berjaga di Vega Apartment?” Emiko balik bertanya.“Aku pulang ke apartment yang pernah kamu dan Tante Kirani kunjungi. Di sana masih ada beberapa orang pengawal, tetapi seharusnya kalian aman. Bukankah Anna dan Didi masih menginap?” sahut Zayn.“Ah! Begitu rupanya. Baiklah! Aku tutup telepon ….”“Tunggu dulu! Apa ada sesuatu terjadi? Mengapa kamu belum tidur?” tanya Zayn.“Tidak apa-apa. Benar yang kamu katakan, di sini seharusnya aman. Aku akan tidur sekarang,” jawab Emiko.Walaupun terasa aneh, Zayn tidak memaksa Emiko untuk bicara lebih lama. Dia

  • One Two Three and Action   Tidak Seru

    “Zayn! Ada apa? Cepat kemari!” tanya seseorang yang tadi membukakan pintu.Zayn memberi tanda dengan telunjuk tangan kiri agar seseorang itu menunggunya berbicara di telepon. Dia mendengarkan setiap kata yang dilontarkan oleh Dhefin, sahabatnya yang sedang menelepon, sembari memperhatikan seseorang yang membukakan pintu untuknya.“Kamu harus memeriksanya sendiri!” jawab Zayn.Setelah mendapatkan jawaban dari Dhefin, laki-laki itu segera memutuskan sambungan telepon dan memasukkan ponsel ke dalam saku celana.“Apa kamu sudah selesai?” tanya seseorang yang ternyata masih menunggu dengan sikap tidak sabar.Zayn hanya mengangguk sebagai respons. Dia yang masih cukup terkejut dengan kehadiran seorang gadis yang ternyata baik-baik saja, padahal tadi sempat dilihatnya seseorang sudah berdiri tepat di depan pintu unit apartment milik Kirani. Tanpa berlama-lama dia praktis bertanya, “Apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja? Apa seseorang datang kemari?”Ya! Emiko adalah seseorang yang membuk

  • One Two Three and Action   Menuju Akhir

    Kini matahari sudah terbit.Seorang pengawal bekerja sama dengan pihak Vega Apartment mengatur agar para penghuni yang hendak beraktivitas hanya boleh melalui pintu utama untuk menghindari kepanikan.Sementara itu, Dhefin menghubungi Zayn dan memberi tahu semua rencana mereka sambil melangkah menuju ke lantai unit apartment milik Zoya bersama para pengawal yang lain.Zayn yang tadinya ingin memberi informasi tambahan mengenai signal dari sebuah perangkat sedang aktif di unit apartment milik Zoya, praktis mengurungkan niat dan bergegas pamit untuk menyusul kedua sahabatnya.Laki-laki itu bahkan belum sempat menyentuh sarapannya.“Bagaimana?” tanya Zayn dengan nada suara setengah berbisik, tepat di samping Dhefin yang sedang bersembunyi di balik pintu tangga darurat sambil bersiap dengan senjatanya.Tanpa memberikan jawaban, sahabat dan sekaligus rekan kerja Zayn menunjuk dengan dagunya ke arah Ella yang sedang memainkan perannya di depan pintu unit apartment milik Zoya.“Apa kita tidak

  • One Two Three and Action   Umpan

    “Si-siapa yang datang? Di luar sana bahkan matahari masih belum menampakkan cahayanya,” ujar Zoya yang mendadak khawatir.“Aku tidak tahu,” jawab Araki.Suara ketukan pintu terdengar semakin keras dan memaksa hingga membuat Pino ikut bangun.“Hei! Mengapa kamu hanya mematung di sana dan belum membukakan pintu?” tanya Pino marah. Dia merasa terganggu tidurnya.“Aku mau membukakan pintu. Akan tetapi, itu akan sangat berbahaya kalau polisi yang datang. Bagaimana ini? Apa sebaiknya kita lompat saja dari jendela?” Araki balik bertanya dengan nada gusar.Pino yang masih sangat mengantuk mendadak sadar kalau saat itu mereka sedang menjadi incaran polisi. Mereka tidak boleh sembarangan membuka pintu.Belum sempat Zoya, Pino, dan Araki menemukan ide, tiba-tiba seorang pelayan datang dari arah dapur dengan tergesa-gesa, hendak membuka pintu.“Tunggu dulu!” Zoya berteriak.Seorang pelayan itu menoleh dan melihat secara bergantian ke arah Zoya, Pino, serta Araki. Dia terkejut karena ternyata pint

  • One Two Three and Action   Dini Hari

    Hangat. Hanya satu kata itu yang mungkin bisa menggambarkan suasana hati Emiko ketika netranya terkunci rapat oleh tatapan Zayn. Hingga tanpa terasa butiran air mata tiba-tiba mengalir begitu saja di pipi gadis itu.Sebelah tangan Zayn terulur untuk mengusap lembut air mata Emiko, membuat gadis itu tersadar dan buru-buru membersihkan wajahnya dengan kedua tangan.Saat itulah, Emiko sadar kalau sedari tadi, Zayn memegangi tangannya.“Ah! Kamu khawatir aku lompat rupanya,” ujar Emiko mencoba untuk menepis kehangatan yang baru saja dirasakan. Dia hanya ingin mempertahankan keteguhan hatinya.Zayn tertawa kecil sambil berkata, “Tujuanku mengajakmu merasakan suasana malam hari di balkon ini sebenarnya untuk menghilangkan stress, bukan memberimu ide gila dengan melompat ke bawah sana. Jadi, lebih baik aku berjaga-jaga.”Emiko mendadak ingat dengan perkataan Zoya yang menyuruhnya bunuh diri. Saat itu, dia merasa direndahkan dan pikirannya hanya tertuju pada Kirani yang menanti di rumah. Terb

  • One Two Three and Action   Semakin Dekat

    Zayn yang belum terbiasa menghadapi seorang wanita masih heran dengan sikap Emiko yang menurutnya aneh. Dia menoleh sejenak ke arah pintu untuk memastikan sudah terkunci dengan baik, lalu mengejar Emiko dan mengajaknya duduk di sofa ruang tengah.Saat itu sudah larut malam. Wajar kalau mama Emiko, Anna, dan Didi sudah terlelap, tetapi bagaimana dengan gadis yang sedang duduk di sampingnya itu? Sehari penuh isi kepala Zayn terbagi dua memikirkannya.“Apa kamu baik-baik saja? Ah! Aku salah memberi pertanyaan. Kamu terlihat ….”“Aku baik-baik saja ….”“Matamu bengkak dan penampilanmu berantakan. Maaf! Maksudku ….”“Aku jelek. Ya, wajahku memang tidak cantik. Apalagi ketika aku tidak meriasnya. Jadi, wajar kalau kamu melihat ….”“Bukan begitu, Emiko. Kamu itu manis. Eee, maksudku ….” Zayn kehilangan kata-kata ketika gadis itu menatapnya dengan raut wajah terkejut.“Terima kasih. Aku akan menganggapnya sebagai pujian,” jawab Emiko setelah beberapa saat lamanya mereka hanya diam.Zayn terse

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status