Share

Silakan Berlibur!

Author: Adelia17
last update publish date: 2026-09-25 09:07:18

“Jadi, kamu menemani Tante Kirani dan aku yamg akan menjaga Anna,” ujar Tama tepat ketika Zayn masuk ke dalam mobil. Tentu saja, itu hanya kalimat sindiran.

“Aku sebenarnya lebih ingin menemani anak Tante Kirani. Bagaimana menurutmu?” Dhefin memberi jawab seraya melirik ke arah Zayn yang memasang raut wajah datar.

“Boleh saja. Kenapa tidak?” sahut Tama memahami arti dari kalimat yang dilontarkan oleh Dhefin. Mereka memang berniat menyindir Zayn.

“Pasalnya, menurut instruksi yang diberikan oleh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • One Two Three and Action   Alasan dan Syarat Kirani

    Hari itu, akhirnya Zayn pulang dalam keadaan di antara berada di alam mimpi dan realita. Ketika Kirani dengan tegas menolak hubungannya dengan Emiko, laki-laki itu tidak bisa berkata-kata karena dia sendiri belum mendapatkan balasan akan pernyataan cintanya.Kalau dipikir-pikir, sikap Kirani terhadap Zayn juga sangat membingungkan. Tadinya laki-laki itu dengan percaya diri merasa yakin bahwa cintanya akan berjalan dengan mulus, tanpa hambatan. Tidak disangka, kini dia tiba-tiba merasa seolah-olah sedang dihempaskan ke dasar lautan yang paling dalam.Bukankah selama ini mama Emiko terlihat sangat menyukainya? Apa dirinya telah melakukan kesalahan? Zayn tidak berhenti bertanya-tanya di dalam hati.“Mama,” panggil Emiko sesudah membersihkan diri. Dia menghampiri Kirani yang sedang duduk seorang diri sambil menonton acara televisi.Kirani menoleh dengan raut wajah datar dan berkata, “Apa kamu sudah makan? Mama masak telur dadar kornet kesukaanmu dan sup ayam.”“Iya, aku mau makan. Namun,

  • One Two Three and Action   Penolakan Kirani

    Zayn dan Emiko praktis mencari sumber suara yang ternyata berasal dari arah belakang mobil. Pemilik mobil itu memberi tanda kalau dia akan parkir di tempat laki-laki itu menghentikan kendaraannya.“Ah! Mungkin dia pemilik toko itu.” Zayn berkata seraya menunjuk ke arah ruko yang sedang tutup di sebelahnya.“Segera pindahkan mobil sebelum dia memanggil buldoser untuk memindahkan kendaraanmu!” ujar Emiko menarik tangan yang masih dipegang oleh laki-laki di sebelahnya.“Ah! Tidak mungkin. Itu namanya memperbesar masalah,” jawab Zayn.“Bisa saja,” sahut Emiko.Zayn menoleh ke arah Emiko, lalu keduanya sama-sama tertawa geli.“Apa kamu masih marah?” tanya Zayn mengabaikan suara klakson yang memekakkan telinga.“Tidak. Bergegaslah!” jawab Emiko mulai panik.Dengan santai Zayn membuka kaca jendela mobil dan melambai sebagai salah satu bentuk permintaan maaf kepada sang pemilik toko karena posisi kendaraannya sudah menghalangi.Di perempatan jalan, lagi-lagi Zayn harus menghentikan kendaraan

  • One Two Three and Action   Pengakuan Zayn

    Zayn yang sudah berhasil duduk dan menenangkan diri segera mengulurkan tangan kanannya ke arah Emiko yang masih terpaku di tempatnya.Gadis itu melihat Zayn dengan raut wajah yang penuh penyesalan karena reaksinya tadi pasti membuat laki-laki itu kesakitan.“Ayo! Bantu aku berdiri!” ujar Zayn.“Oh!” sahut Emiko seraya mengangguk-angguk dan membantu laki-laki tampan itu berdiri.Sesudah berdiri dengan tegak di hadapan perempuan yang memiliki tinggi tidak sampai sebahunya, Zayn bukannya melepaskan tangan Emiko, tetapi justru mengeratkan pegangan, membuat gadis itu seketika menunduk, tidak berani menatapnya.“Jadi, firasatku selama ini benar. Kamu ….”“Tolong rahasiakan saja yang kamu ketahui itu! Kita harus segera pergi dari tempat ini sebelum laki-laki itu sadar!” potong Emiko dengan cepat menarik tangan Zayn hendak melangkah keluar.“Tunggu!” Zayn menahan tangan Emiko. Namun, gadis itu menggeleng dan tetap menariknya kuat agar segera keluar dari ruangan.Sebelum benar-benar keluar dar

  • One Two Three and Action   Rahasia Emiko Terungkap

    Satu minggu berlalu.Saat itu keadaan dapat dikatakan sudah aman. Semua orang yang terlibat dengan Zoya sedang dalam penyelidikan. Pun segala hal yang berkaitan dengan gadis itu berada di dalam pengawasan yang berwajib.Tugas anggota Tthree sudah selesai. Benar yang dikatakan oleh Dhefin dan Tama, sebenarnya mereka tidak ada kewajiban untuk menjaga Kirani dan putrinya lagi. Namun, demi membuktikan keyakinan mereka akan perasaan Zayn terhadap Emiko, segala perintah yang tidak masuk akal tetap dilaksanakan.Anna sendiri berkali-kali menyuruh Tama berhenti berada di sekitarnya. Hingga semalam, laki-laki itu memenuhi permintaannya karena memang sudah lama dia ingin menemui pujaan hatinya yang bekerja sebagai salah satu tim forensik. Ah, benar! Hampir saja terlewatkan ceritanya.Anna juga sudah pindah ke tempat tinggal yang baru sehingga keadaannya kini terasa lebih baik.Sementara Kirani yang jarang bepergian justru lebih sering mengundang Dhefin untuk menikmati masakannya bersama. Merek

  • One Two Three and Action   Silakan Berlibur!

    “Jadi, kamu menemani Tante Kirani dan aku yamg akan menjaga Anna,” ujar Tama tepat ketika Zayn masuk ke dalam mobil. Tentu saja, itu hanya kalimat sindiran.“Aku sebenarnya lebih ingin menemani anak Tante Kirani. Bagaimana menurutmu?” Dhefin memberi jawab seraya melirik ke arah Zayn yang memasang raut wajah datar.“Boleh saja. Kenapa tidak?” sahut Tama memahami arti dari kalimat yang dilontarkan oleh Dhefin. Mereka memang berniat menyindir Zayn.“Pasalnya, menurut instruksi yang diberikan oleh sahabat kita tadi, hanya ada Tante Kirani dan Anna yang perlu mendapatkan pengawasan,” ujar Dhefin.“Ah! Kamu salah! Emiko justru memegang peran penting. Dia harus dijaga ketat mengingat musuh sangat menginginkan nyawanya,” jawab Tama.“Benarkah? Kalau begitu aku ingin bertukar peran, Zayn!” ujar Dhefin sengaja karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari sahabatnya itu.“Lakukan saja yang kukatakan tadi!” jawab Zayn seolah-olah sedang tidak ingin dibantah.“Bukankah musuh tidak akan curiga kal

  • One Two Three and Action   Tidak Ingin Bersembunyi Lagi

    Tanpa melihat nama penelepon, Zayn menerima panggilan sambil menutup mata.“Zayn ….” Suara seorang gadis yang sedikit tercekat membuat netra laki-laki itu kembali terbuka.Zayn melihat nama yang tertera pada layar ponsel dan kembali mendekatkannya ke telinga.“Ini sudah hampir pagi dan kamu belum tidur. Apa yang terjadi?” Zayn bertanya dengan nada suara rendah, walaupun dadanya berdebar, khawatir sesuatu terjadi.“Apa malam ini kamu tidak berjaga di Vega Apartment?” Emiko balik bertanya.“Aku pulang ke apartment yang pernah kamu dan Tante Kirani kunjungi. Di sana masih ada beberapa orang pengawal, tetapi seharusnya kalian aman. Bukankah Anna dan Didi masih menginap?” sahut Zayn.“Ah! Begitu rupanya. Baiklah! Aku tutup telepon ….”“Tunggu dulu! Apa ada sesuatu terjadi? Mengapa kamu belum tidur?” tanya Zayn.“Tidak apa-apa. Benar yang kamu katakan, di sini seharusnya aman. Aku akan tidur sekarang,” jawab Emiko.Walaupun terasa aneh, Zayn tidak memaksa Emiko untuk bicara lebih lama. Dia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status