LOGINZayn mengangguk pelan, lalu dia berkata, “Sebenarnya, yang menerima teleponmu waktu itu bukan aku.”“Tidak biasanya kamu memberi seseorang akses untuk menyentuh barang pribadimu. Apa dia Casper, seperti dugaanku?” tanya Tama.“Jangan potong kalimatnya!” sahut Dhefin.“Kalian tentu masih ingat cerita masa lalu papa Emiko,” ujar Zayn.Dhefin dan Tama hanya diam memperhatikan sahabatnya itu bicara. Namun, setelah beberapa menit menunggu dan Zayn tidak kunjung melanjutkan, mereka akhirnya mengangguk sebagai respons.“Kita bertiga tahu kalau pekerjaan yang dilakukan Om Felix cukup berbahaya, tidak hanya untuk beliau, tetapi juga untuk istri dan anaknya. Pun pekerjaan yang kita lakukan. Itu sebabnya, sebelum menjalin hubungan yang serius dengan Emiko, aku sudah mempertimbangkan hal ini. Aku tidak ingin mempertahankan pekerjaan hanya untuk ego. Orang-orang yang kita sayangi perlu mendapatkan perlindungan.” Zayn berkata.“Apa Emiko dan mamanya tidak setuju kalau kamu melakukan pekerjaan bersa
“Kalian terlambat. Program sedang dijalankan,” ujar seorang ahli IT yang sedang dipukul oleh Dhefin. Raut wajahnya tampak datar, tapi terlihat sangat menjengkelkan.Sementara Tama kebingungan sendiri melihat banyak tombol di hadapannya.“Paksa dia untuk mengatakan cara membatalkan program!” ujar Tama panik.“Hubungi Zayn!” seru Dhefin yang masih memukul seorang ahli IT itu. Dia tidak ingin menghabiskan waktu untuk seseorang yang tidak mungkin berada di pihak mereka.Suasana sangat kacau. Beberapa orang anak buah Danu ada yang sibuk melakukan perlawanan terhadap musuh dan sebagian lagi berusaha menyelamatkan korban. Ditambah, suara tembakan, pukulan, tangis, dan teriak.Meskipun demikian, Dhefin dan Tama sudah terbiasa dengan situasi seperti itu. Mereka tetap fokus pada tugasnya.Dengan menggunakan alat komunikasi milik anggota Tthree, Tama menghubungi Zayn.“Program sudah dijalankan. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Tama. Sesekali laki-laki itu menoleh ke kanan dan ke kiri dengan ge
Zayn bahkan tidak pernah berharap dan memanjatkan doa agar mama Emiko mengubah pendiriannya. Dia ikhlas menjalani hubungan dengan Emiko dan melupakan kerja samanya dengan anggota Tthree. Semua sudah dipikirkan baik-baik. Pun laki-laki itu yakin, siapa saja bisa menggantikan posisinya untuk menyelesaikan misi.Meskipun kadang-kadang dirinya masih memikirkan Pak Danu dan para anggota Tthree, tetapi kehidupan justru lebih tenang sekarang. Zayn merasa baik-baik saja dan bahagia. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan dan tidak ada lagi rasa khawatir. Dia merasa seperti layaknya manusia normal yang melakukan aktivitas sehari-hari.“Mereka sangat membutuhkanmu, Zayn. Pergilah! Selesaikan misi bersama kedua sahabatmu itu! Tante minta maaf kalau selama ini sudah egois. Hidup dan mati seseorang ada di tangan Yang Maha Kuasa. Tante akan selalu berdoa untuk keselamatanmu dan Emiko karena hanya kamu satu-satunya laki-laki yang bisa membahagiakan putri Tante.” Kirani melanjutkan perkataannya den
Awalnya, Kirani hanya ingin memberi tahu Dhefin kalau Zayn sedang sibuk. Rasanya tidak nyaman membiarkan seseorang menghubungi terus menerus. Barangkali ada sesuatu yang penting.Tidak disangka, Dhefin yang mengira Zayn menerima panggilannya langsung berbicara dengan nada suara panik. “Bro, ada beberapa anggota keluarga polisi yang diculik oleh sekelompok orang, termasuk keluarga Pak Danish. Menurut informasi yang aku peroleh, mereka membawa cairan aneh dan memiliki sebuah program. Menurut dugaanku, bisa saja mereka berniat menyuntikkan cairan tersebut pada semua orang itu. Namun, aku dan Tama belum dapat memastikan. Keahlianmu sangat dibutuhkan saat ini. Tolong bantu kami!”“Ma!” teriak Emiko membuat Kirani buru-buru memutuskan sambungan telepon.“Ya?” sahut Kirani gugup.“Tolong bantu aku pegang ini agar Zayn bisa melepaskan mur dengan mudah! Berat!” ujar Emiko terlihat sedang kesulitan menahan beban rak yang terbuat dari kayu.“Ah! Iya!” Kirani meletakkan ponsel milik Zayn di atas
“Mama, dia Emiko, kekasihku,” ujar Zayn membuyarkan lamunan Juli, sekaligus memecah keheningan di antara mereka.“Ah, iya! Maaf,” ucap Juli gugup. Pun dia segera mengulurkan tangan untuk memberi salam dan memaksa diri tersenyum.“Emiko,” ucap gadis itu memperkenalkan diri.“Cantik calon menantu cucuku ini, bukan?” ujar Oma Rosa dengan senyum merekah, membuat Juli kembali menatap Emiko dari ujung kepala hingga ujung kaki.Bukan pandangan sinis, melainkan ada sesuatu yang membuat gadis itu merasa kurang disukai oleh mama Zayn. Namun, Emiko berusaha untuk mengabaikan firasatnya yang belum tentu benar.“Apa Oma memasak sesuatu? Sepertinya aku mencium aroma yang harum dari dapur,” tanya Zayn.“Ah! Hampir saja Oma lupa. Oma khusus memasak galantine untuk menyambut kedatangan mamamu. Ayo, kita makan!” jawab Oma Rosa yang sudah melepaskan pegangannya pada Emiko dan beralih menggandeng Juli.Ketika kedua perempuan berbeda usia itu sudah melangkah terlebih dahulu, Zayn menahan lengan Emiko, lal
“Ah! Aku mengerti! Jadi, kalian masih belum menggunakan tiket perjalanan yang aku berikan karena masih mempertanyakan hubunganku dengan Emiko. Well, aku tidak keberatan menerima pengembalian tiket perjalanan tersebut kalau kalian tidak berminat lagi,” ujar Zayn setelah membiarkan suasana di antara mereka menjadi hening untuk beberapa saat.“Sebenarnya kami berencana untuk pergi dalam waktu dekat,” jawab Tama jujur.Zayn hanya diam, memperhatikan bahasa tubuh kedua sahabatnya secara bergantian untuk menebak pikiran mereka.“Apa kamu tidak ingin menceritakan sesuatu pada kami?” tanya Dhefin masih menatap lurus netra sahabatnya.“Apa kamu sedang menyelidiki aku?” Zayn balik bertanya.“Apa itu penilaianmu tentang kami?” Bukannya menjawab, Dhefin justru memilih untuk balik bertanya.“Oh! Ayolah! Itu sekadar hadiah ….”“Baiklah. Rupanya Tthree memang harus bubar.” Dhefin merasa kesal karena sahabatnya itu masih saja berbelit. Pun dia segera menyeruput kopi miliknya dan berniat untuk pergi.







