Share

Keluarga

Author: Adelia17
last update publish date: 2026-10-05 23:31:32

Malam panjang sesudah acara pernikahan membuat Zayn dan Emiko bangun saat sang mentari pagi sudah memancarkan cahayanya. Benda berbentuk persegi panjang di atas nakas bahkan sudah menunjukkan pukul delapan pagi.

Meskipun demikian, pasangan pengantin baru itu tidak tergesa-gesa. Mereka tetap setia pada posisi saling berpelukan.

“Apa tanganmu tidak kesemutan?” tanya Emiko tanpa berniat berpindah posisi.

“Sepertinya sudah mati rasa,” jawab Zayn jujur. Pasalnya, dia kesulitan untuk bergerak saat be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • One Two Three and Action   Hadiah Kecil

    Hari itu, semua keluarga dari pihak Zayn dan Emiko pulang ke rumah masing-masing. Ada yang tinggal di luar negeri, ada yang tinggal di luar kota, dan ada yang sama-sama di Jakarta. Meskipun demikian, mereka berdua tidak perlu mengantar ke bandara karena sudah ada orang-orang Oma Rosa yang mengurus.Hanya keluarga kecil Nathan dan Juli yang masih akan menginap selama beberapa hari di rumah Oma Rosa, sebelum lanjut ke Pulau Bali.“Kapan Nathan dan Davina kembali ke Singapura?” tanya Emiko saat mereka sudah berada di dalam kamar hotel.Malam itu, mereka berdua masih akan menginap di hotel karena rencananya besok pagi-pagi akan langsung ke bandara untuk melanjutkan acara bulan madu.“Nathan dan Davina masih ingin mengunjungi rumah mereka di Bali. Mungkin satu atau dua minggu lagi baru kembali ke Singapura,” jawab Zayn.“Ah, begitu rupanya,” sahut Emiko pelan.“Aku sempat berpikir, kita mungkin bisa memiliki waktu untuk berbincang dengan Nathan dan Davina saat transit nanti. Aku lupa kalau

  • One Two Three and Action   Keluarga

    Malam panjang sesudah acara pernikahan membuat Zayn dan Emiko bangun saat sang mentari pagi sudah memancarkan cahayanya. Benda berbentuk persegi panjang di atas nakas bahkan sudah menunjukkan pukul delapan pagi.Meskipun demikian, pasangan pengantin baru itu tidak tergesa-gesa. Mereka tetap setia pada posisi saling berpelukan.“Apa tanganmu tidak kesemutan?” tanya Emiko tanpa berniat berpindah posisi.“Sepertinya sudah mati rasa,” jawab Zayn jujur. Pasalnya, dia kesulitan untuk bergerak saat berniat membelai kepala istrinya.“Oh!” sahut Emiko praktis berpindah tempat.Zayn memperbaiki posisinya dan meluruskan tangan sejenak. Dia lantas memberikan morning kiss pada istrinya.“Terima kasih untuk semalam, sayang,” ujar Zayn berbisik.Emiko tersenyum malu dan kembali memeluk perut bak roti sobek suaminya. Dia membenamkan wajahnya pada dada Zayn. Harum tubuh laki-laki itu terasa menenangkan.“Aku pikir, kamu akan melakukannya saat kita bulan madu nanti. Tidak aku sangka ….”“Masih sakit?”

  • One Two Three and Action   Malam Pertama

    “Fiuh! Selesai juga. Aku bisa keramas sekarang,” ujar Emiko usai melepas aksesori rambut.Acara sudah selesai sekitar empat puluh lima menit yang lalu. Namun, Zayn dan Emiko masih menunggu saudara dan tim event organizer yang juga ingin foto bersama. Pun mereka berbincang sejenak, sebelum akhirnya pamit masuk ke dalam kamar.Tidak seperti di dalam film yang mana pengantin bisa bermesraan sambil melepas gaun dan menikmati malam panjang mereka, Emiko justru disibukkan dengan aksesori rambut yang begitu banyak.“Kita mandi bersama!” sahut Zayn dari arah sofa. Laki-laki itu sudah melepas jas sejak masuk ke dalam kamar dan sengaja menunggu istrinya yang tidak mau dibantu.“Aku akan lama karena rambutku terlalu kaku.” Emiko berkata.Gadis itu sengaja memberi alasan yang jujur, tetapi terselip unsur ingin menghindar. Mereka memang sudah sah menjadi suami istri, tetapi dia merasa Zayn terlalu berterus terang. Itu membuatnya seakan tidak memiliki kesempatan untuk bersikap malu-malu.“Tidak mas

  • One Two Three and Action   Hari yang Bersejarah

    Kesibukan menjelang hari H pernikahan membuat Emiko tidak lagi memikirkan hal yang lain, termasuk calon mama mertuanya. Dia tidak ingin memusingkan hal-hal kecil, apalagi persiapan pernikahan sudah seratus persen selesai, hanya tunggu pelaksanaannya saja.Jangan salah mengerti! Bagi Emiko, masalah sikap calon mama mertuanya yang tidak bersahabat bukan sesuatu yang kecil atau dianggap tidak penting, melainkan dia ingin meminimalkan pemikiran yang belum tentu benar agar langkahnya lebih ringan.Satu hal yang pasti, gadis itu hanya ingin menikmati waktunya bersama Kirani dan Anna, karena dia menyadari bahwa setelah menikah semua akan berubah.Walaupun Zayn tidak akan pernah melarang Emiko bertemu mama atau sahabatnya, tetapi keadaan pasti berubah. Dia tidak mungkin bisa bebas seperti sebelum menikah. Keluarga kecil yang sedang mereka bangun akan menjadi prioritas utama.Sayangnya, tidak semua orang menyadari tentang hal itu, khususnya orang tua. Tidak heran kalau ada seorang ibu yang mas

  • One Two Three and Action   Menjelang Hari H

    Hari-hari di Pulau Bali membuat Emiko merasa tidak ada jalan untuk mundur. Gadis itu terus menyangkal firasatnya tentang Juli dan berpikir bahwa dia hanya perlu memaafkan.Emiko berusaha keras mengganti rasa khawatir dan pikiran negatif dengan mengingat sikap Oma Rosa yang hangat padanya. Pun gadis itu yakin bahwa cinta dan niat baik akan mengubah segalanya.Bukankah ada begitu banyak wanita di dunia ini yang sama seperti Emiko? Setelah menjalani kehidupan pernikahan barulah menyesal dan merasa telah mengabaikan petunjuk alam semesta. Mudah-mudahan, hal itu tidak berlaku di dalam hidup calon istri Zayn.“Melamun lagi! Aku baru tahu ada calon pengantin yang menjelang hari H justru suka melamun. Biasanya, calon pengantin itu sibuk merawat diri agar hari H nanti terlihat cantik,” ujar Anna mengejutkan Emiko yang sedari tadi hanya menatap layar laptop, tanpa menyentuhnya.“Aku hanya berusaha mengingat hal-hal yang mungkin terlewatkan. Walaupun acaranya sangat sederhana, tetapi aku ingin s

  • One Two Three and Action   Jawaban Juli

    Zayn menyadari sikap mamanya memang kurang ramah terhadap calon istrinya. Namun, dia pikir, mungkin Juli hanya belum bisa akrab saja.“Kalian hanya butuh waktu untuk saling mengenal,” jawab Zayn menenangkan.Bukannya menjadi lebih baik, Emiko justru merasa Zayn tidak bisa mengerti perasaannya, sehingga gadis itu memilih untuk diam dan menyimpan firasatnya sendiri.Tidak membutuhkan waktu lama, Juli keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi, disambut senyum hangat dari putra dan calon menantunya.“Ayo, kita berangkat!” ujar Juli bersemangat.Zayn bangkit, diikuti oleh Emiko. Mereka bersama-sama melangkah menuju mobil. Juli bersama calon menantunya duduk di bangku penumpang bagian tengah dan Zayn duduk di samping pengemudi.“Apa Mama ingin menikmati sesuatu?” tanya Zayn.“Mama ikut kamu saja,” jawab Juli.“Emiko ingin mencicipi hidangan laut di Jimbaran. Apa tidak masalah kalau kita ke sana?” Zayn kembali bertanya.“Bagaimana denganmu? Apa yang kamu inginkan?” tanya Juli denga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status