LOGIN“Tante Eleni! Om Taka!” seru Zefa sembari mengetuk keras pintu kamar hotel.“Eh! Zefa! Tidak boleh mengganggu!” ujar Emiko yang terkejut melihat putrinya tiba-tiba berhenti di depan sebuah kamar hotel yang ditempati Eleni dan Taka.Pasalnya, baru semalam resepsi pernikahan selesai diadakan. Sepasang pengantin baru itu pasti masih ingin menikmati kehangatan tempat tidur.Sementara Zayn, Emiko, dan Zefa memang hendak menuju ke restoran untuk menikmati sarapan. Setidaknya, harus ada pihak keluarga yang menemani para tamu yang masih menginap.Kebetulan, mereka mengambil jalan pintas yang melewati kamar Taka dan Eleni.“Ini sudah pagi. Kata Mama, kalau bangun kesiangan nanti rezeki kita dipatok ayam lho,” sahut Eleni membuat Zayn menahan tawa.“Kali ini, ceritanya berbeda, sayang,” ujar Emiko sembari menggandeng putrinya yang sangat cerdas dan selalu memiliki banyak pertanyaan itu.“Ada cerita apa yang berbeda, Ma?” tanya Zefa.“Semalam Zefa lihat, ka
“Papa!” teriak Zefa sambil berlari-lari dari lorong sekolah yang menghubungkan antar kelas, menuju ke lobby, di mana para orang tua sudah menunggu anaknya keluar kelas.Orang tua yang dimaksud di sini tentu saja mayoritas para mama atau para ibu.Beberapa orang guru terlihat berusaha memberi tahu Zefa agar tidak berlari, tetapi bukannya mengurangi kecepatan, anak kecil itu justru berlari semakin kencang.Sementara di lobby, dua orang laki-laki dengan tinggi nyaris menyamai Zayn berdiri tegap tanpa ekspresi. Kacamata hitam dan pakaian serba hitam membingkai sosok mereka, seolah penjaga tak tergoyahkan sudah siap menyambut kedatangan Zefa.“Papa!” Zefa masih saja berteriak menghampiri kedua laki-laki tersebut, membuat bingung para guru dan orang tua murid yang sedari tadi diam-diam curi pandang.“Perasaan, papa dan mamanya belum datang deh.” Terdengar suara salah satu mama.“Iya. Papanya tampan dan tidak seseram itu. Jangan-jangan ….”Belum sempat mama
Semenjak Zefa lahir, Emiko dan Zayn selalu mengatur jadwal kerja bersama-sama agar mereka bisa bergantian jaga.Meskipun ada Bik Sumi dan kadang-kadang Oma Rosa bersama Eleni bisa diandalkan, tetapi Zayn dan Emiko sepakat untuk tetap turut serta dalam setiap proses tumbuh kembang Zefa.Tidak semua orang tua memiliki kesempatan untuk menemani anak-anaknya. Sejak lahir, Emiko lebih banyak berada di dekat Kirani, sedangkan Zayn diasuh oleh asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh Oma Rosa. Mereka jelas pernah mengalami masa-masa tanpa kehadiran orang tua. Itu sebabnya, sebisa mungkin Zefa mendapatkan kasih sayang penuh yang sesuai haknya.Kini empat tahun sudah berlalu. Zayn dan Emiko memutuskan untuk menyekolahkan Zefa.Sebenarnya, Zayn dan Emiko sudah mulai lebih bisa bekerja dengan leluasa karena setiap pagi sampai siang, Zefa ada di sekolah. Akan tetapi, sudah satu minggu ini, Emiko ikut seminar parenting sehingga Zayn yang harus lebih sering bekerja di ruma
Sirius Kondominium.Di sebuah unit yang letaknya di lantai delapan. Emiko yang masih terkejut bercampur keheranan, hanya mengikuti Zayn yang sedang memamerkan setiap kamar tidur dengan kamar mandi di dalamnya.“Ruangan itu dapur, tembus dengan balkon kecil di belakangnya. Jadi, kalau masak, baunya tidak sampai masuk ke dalam ruangan,” ujar Zayn.“Wow!” sahut Emiko tidak bisa berkata-kata.“Ini ruangan keluarga, menjadi satu dengan ruang tamu. Well, sebenarnya bisa saja dipisah, misalnya ruang tamu di dekat pintu masuk dan di sini ruang keluarga. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, aku tidak berencana menerima tamu di unit ini ….”“Lebih tepatnya, kita memang jarang menerima tamu. Biasanya, kita selalu melakukan pertemuan di luar rumah,” sambung Emiko.“Itu dia. Hanya orang-orang terdekat yang mengunjungi kita,” sahut Zayn.Emiko hanya mengangguk-angguk sebagai respons.“Seperti yang kamu lihat, ini unit yang aku katakan sebagai tempat persembunyian
“Tepat waktu!” seru Anna dengan senyum yang semakin lebar.“Jangan menyebar gosip, An!” sahut Emiko, “aku sudah berkali-kali terlambat, tetapi hasilnya masih negatif.”“Jangan pesimis! Coba saja lagi! Barangkali kali ini positif,” ujar Anna.Emiko yang merasa tidak enak badan tidak memberi respons atas perkataan Anna lagi. Sahabatnya itu kadang-kadang terlalu cerewet. Dia justru memilih untuk mengalihkan perhatian ke arah laki-laki tampan yang masih termangu di tempatnya, lebih tepatnya melirik tangan kanan suaminya yang sedang membawa satu tas spunbond berwarna hitam.“Apa yang kamu bawa?” tanya Emiko.“Ah! Tadi aku membeli bubur ayam kesukaanmu dan membawa obat ….”“Jangan meminum obat sembarangan! Sebaiknya kamu membawa istrimu periksa, Zayn! Firasatku mengatakan kalau dia mungkin hamil,” potong Anna buru-buru.“Tidak tidak! Aku tidak ingin membuat kalian kecewa untuk sekian kalinya,” jawab Emiko.Zayn berjalan mendekat dan mencium kening istr
“Ketika seorang laki-laki memutuskan untuk menikah, itu berarti dia memilih istrinya sebagai prioritas hidupnya. Itu sebabnya, aku tidak akan setengah-setengah dalam menjalani pernikahan ini. Sebagai suami, tugasku adalah melindungimu, bukan hanya saat keadaan mudah, tapi terutama saat kamu berada dalam situasi yang tidak nyaman. Apalagi, bila itu melibatkan keluargaku sendiri. Aku tetap menghormati Mama sebagai orang tua. Itu tidak akan berubah. Tapi, aku tidak akan membiarkanmu merasa tidak diterima atau disakiti, siapa pun pelakunya. Aku ingin kamu tahu, kamu tidak berdiri sendirian di sini. Aku ada di pihakmu. Kita tetap akan menghadiri acara keluarga, tapi bukan berarti kita harus menerima perlakuan yang membuat kita tidak nyaman. Bahkan setelah beberapa waktu lamanya, keadaan belum berubah. Intinya, aku akan mengambil sikap. Kita boleh menjaga jarak. Bukan karena kita menghindar, tapi karena aku ingin melindungi rumah tangga kita dari hal-hal yang tidak perlu terjadi.” Zayn mela







