Share

Bab 4. Pergi

last update Huling Na-update: 2024-05-24 19:35:54

Setelah pembicaraannya dengan Dirga dan setelah pertemuannya dengan Delisha beberapa hari yang lalu. Nada memang tinggal di satu atap yang sama dengan Dirga, tapi sudah tak tidur di satu kamar yang sama.

Di setiap sepertiga malam, pukul 3 dini hari, Nada selalu membisikkan kata cinta di telinga sang suami yang tengah tertidur pulas. Bahkan setelah orang ketiga itu masuk ke rumah tangga mereka pun, diam-diam ia masuk ke kamar di mana Dirga tertidur dan berbisik lirih. 

Seperti yang selalu ia lakukan.

Siang ini, Nada duduk sendirian di meja makan. Ia sama sekali tidak berselera untuk mengisi perut, padahal jam di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul 2 siang.

Drrrrttt drrttt.

Pandangan mata Nada beralih pada ponselnya yang bergetar di samping piring. Dahinya mengernyit saat pesan masuk dari nomor yang tidak ia save terlihat di notifikasi. 

Dengan dahi yang mengernyit, Nada mengambil ponselnya dan membaca pesan masuk tersebut. 

Mata Nada terbelalak saat sebuah foto terlihat di layar. Dadanya dengan seketika terasa sesak dan tenggorokannya tercekat.

[Suami kita, Nad.]

Deg!

Foto tersebut memperlihatkan suaminya dan Delisha yang memakai baju pengantin sederhana. Mereka terlihat baru saja selesai melakukan akad.

[Aku tidak merebut. Sudah aku suruh berbagi dan jangan jadi penghalang, tapi kamu malah mempersulit. Egois kamu! Setelah ini maaf kalau Mas Dirga akan lebih sering sama aku. Soalnya kita menikah saling cinta. Beda sama kamu.]

Bulir bening kristal tiba-tiba saja keluar dari mata Nada.

“Jahat! Kalian jahat!” ucap Nada lirih. Menahan sesak di dada yang terasa perih.

Nada merapatkan kedua tangannya di atas meja, kemudian menenggelamkan wajahnya di sana. “Ya Allah … sakit ….” 

***

Nada sudah memutuskan jika keputusan yang ia ambil ialah meninggalkan suaminya. Pesan dari Delisha tadi siang adalah sebuah pukulan yang membuatnya langsung sadar.

Dirga tidak menghargai permintaannya, jadi untuk apa ia bertahan untuknya?

Nada duduk di atas kursi di mana Dirga biasa mengerjakan pekerjaannya, ia menulis surat untuk Dirga dan ia juga sudah menyiapkan kado ‘terindah’ untuk suaminya.

Setelah selesai menulis surat untuk Dirga, ia berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan seluruh bajunya dari dalam sana.

Air mata terus menetes membasahi pipi, rasanya sangat berat jika harus pergi dari rumah ini. Tapi cepat atau lambat rumahnya ini akan datang seorang tamu yang akan menetap lama, istri kedua suaminya. 

Dan ia tak sanggup dan tak pernah mau jika harus melihat itu terjadi tepat di depan matanya. Dan mungkin saja setelah kepergiannya nanti, kamar yang ia tinggali sekarang akan menjadi milik Delisha.

Setelah siap semua, Nada mendorong kopernya menuju halaman rumah sembari menunggu taksi online. Ia harus segera pergi sebelum Dirga kembali, dan mungkin membawa Delisha ke sini.

Nada memegang perutnya yang masih datar. "Maafin Ummi sayang,” ucap Nada pelan, air mata kembali menetes lagi.

Semarang. Satu-satunya tempat yang bisa ia tuju adalah kediaman Alm Eyangnya, tinggal bersama sang ibu di sana. Karena setelah sang Eyang tiada, Dian sang ibu kembali ke kota di mana dia di lahirkan.

Tapi apa yang harus ia katakan nanti pada sang ibu? Penjelasan seperti apa yang harus ia jelaskan nanti?

5 menit kemudian taksi itu datang. Sebelum ke stasiun, Nada memutuskan untuk menemui ibu mertuanya terlebih dulu. Bagaimanapun, beliau adalah orangtuanya selama di sini.

“Mah?" Nada tersenyum dan mencium punggung tangan Marwah, ibunya Dirga ketika wanita paruh baya itu membuka pintu.

"Loh? Kenapa?" tanya Marwah bingung ketika melihat Nada tiba-tiba muncul di depannya. “Kok kamu bawa koper besar? Mau menginap di sini? Dirga-nya mana?”

Tenggorokan Nada tercekat saat menatap Marwah, ia bingung bagaimana cara menjelaskannya. Nada memeluk Marwah dan menghapus air matanya cepat.

Marwah pun meraih pergelangan tangan Nada dan menariknya ke arah sofa.

"Ma," ucap Nada, "Nada mau minta tolong sama Mama, boleh?"

Marwah mengerutkan alis bingung "Minta tolong apa?" tanya Marwah semakin tak mengerti setelah tadi ia melihat Nada menitikkan air mata.

Dengan sangat ragu-ragu Nada mulai menceritakan semuanya pada sang ibu mertua. Air mata terus menetes saat ia bercerita, sesekali ia menghentikan ucapannya saat tenggorokannya kembali tercekat hingga ia sulit untuk berbicara dan mengucapkan kata.

Marwah ikut menitikkan air mata tak percaya jika putra kesayangannya itu akan melakukan tindakan bodoh sejauh itu.

"Maaf Mah, maaf karena Nada gak bisa terus berada di samping Mas Dirga, Nada gak sanggup kalau harus ada wanita lain. Maaf kalo Nada durhaka…."

"Ya Allah, Nad ... Kenapa kamu ngomong gitu?" Marwah sontak langsung memeluk sang menantu, "Mama mohon, bertahan sebentar ya? Biar Mama yang ngomong sama Dirga," ucap Marwah.

Nada melepas tubuh Marwah di pelukannya. "Nada datang ke sini bukan untuk mempengaruhi Mama agar berada di kubu Nada.” Nada menggeleng. “Nada cuma mau pamit sama Mama.”

"Tapi, Nada—"

"Mah ... Mama tentu tidak mau kan Mas Dirga terus berbuat dosa? Mama gak mau kan Mas Dirga terus menumpukkan dosa? Mama juga tentu mau kan Mas Dirga bahagia?" tanya Nada.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
semoga nada g menye2 dg keputusannya.
goodnovel comment avatar
Yati Syahira
nada keren lepasin laki pengkhianat dan pecundang jgn mau diajak rujuk nad buanag
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku   114. Melawan Badai (SELESAI)

    "Siapa bilang aku mencintainya?" Pandangan semua orang yang ada di ruangan itu sontak langsung beralih pada asal suara. Melihat kedatangan mantan suaminya, dada Marwah dengan seketika terasa sesak. Jantungnya mulai berdegup kencang saat melihat pria yang menemaninya lebih dari 30 tahun itu kini berdiri di depan mata. "Aku menikahi perempuan itu bukan karena cinta, tapi karena khilaf. Aku tidak bisa menahan nafsu, dan lagi aku terbuai dengan kata-kata manisnya yang palsu. Jadi aku menikahinya, bukan karena murni mencintainya." ucap Dendi. Dia lalu menghampiri Marwah. "Kalau aku mencintainya, aku pasti tetap mempertahankannya dan tidak akan menceraikannya. Aku pasti akan bersikap seperti saat kamu meminta aku untuk menceraikanmu, dengan mati-matian mempertahankanmu, Marwah. Faktanya tidak, kan? Itu karena aku tidak mencintainya. Wanita yang kucintai dari dulu sampai sekarang masih kamu." Bulir bening kristal tiba-tiba saja luruh dari mata Marwah. "Bohong!" jawab Marwah dengan nada

  • Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku   113. Kembali Bersama

    Seminggu kemudian. "Lailahaillallah. ..." Suara adzan selesai Dirga kumandangkan di telinga putri kecilnya yang baru lahir. Tangannya sedikit bergetar saat ia mendekatkan bibir ke telinga mungil itu. Begitu selesai, ia menatap wajah bayi yang masih merah dan kecil sekali. Senyuman lirih muncul di bibirnya. Fisya Adreena Hafshah. Nama yang sudah ia dan Nada siapkan untuk bayi cantik mungilnya. Setelah menyerahkan bayinya pada suster, Dirga kembali menghampiri Nada. Nafasnya sempat tersengal pelan, seperti masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia menunduk dan mengecup pucuk kepala Nada begitu lama, hangat, dan penuh rasa syukur. Nada yang masih tampak lelah hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia masih tidak menyangka jika kini ia sudah menjadi seorang ibu. "Terima kasih ya, Sayang. Terima kasih karena kamu sudah mau bertahan sama pria hina kayak aku. Terima kasih karena udah ngasih aku kesempatan, tetap berada di samping aku walau aku pernah nyakitin

  • Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku   112. Tidak Lagi Berguna

    "Maksudnya?" tanya Dendi, kini melepaskan cengkeramannya dari lengan Delisha. Napasnya masih berat, tapi suaranya mulai lebih terkontrol. "Dia berada di tangan yang tepat," jawab Delisha pelan, bibirnya terangkat membentuk senyuman smirk yang membuat Dendi makin muak. Dendi menatapnya tajam. “Siapa? Ada di mana dia sekarang?” Delisha mengangkat dagu sedikit, seolah bangga dengan perbuatannya. “Marwah. Mantan istrimu.” “Apa?” Dendi hampir tak bisa menelan ludahnya sendiri. Muka Dendi langsung memerah, matanya membelalak. “Anakku … ada di tangan Marwah? Bagaimana bisa?” Dengan santainya, Delisha melipat kedua tangan di bawah dada. “Aku bayar orang untuk naruh anak itu di depan rumahnya dengan mengatakan kalau anakmu itu adalah cucu haramnya. Biar dramatis sedikit, biar terlihat kayak bayi tak diinginkan. Dan lihat? Mantan istrimu yang tidak waras itu langsung iba. Dia ambil bayi itu, bahkan … dia sampai jual rumah dan pindah demi anakku. Hahaha … rencanaku berjalan mulus dan sempur

  • Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku   111. Di Tangan Yang Tepat

    "Apa kita lapor polisi saja untuk mencari keberadaan Mbak Nia?" tanya Dirga, suaranya terdengar ragu-ragu."Enggak, jangan," potong Marwah cepat, “Dari tadi kan Mama sudah bilang, Mama pengin membesarkan bayi ini. Kalau kita lapor polisi, urusannya bakal panjang banget, Dirga. Belum lagi nanti bayi ini diambil, terus kalau Mama mau adopsi secara resmi, ribetnya bisa setengah mati. Jadi jangan melibatkan polisi."Dirga menghela napas. “Terus, gimana?”"Ya … sudah. Biarkan saja," jawab Marwah,“Kita tahu asal-usul bayi ini, kan? Kita tahu siapa keluarganya. Mbak Nia itu orangnya baik kok. Cuma ya mungkin anaknya tidak terdidik dengan baik. Dia single parent, kerja dari pagi sampai sore buat anak-anaknya. Mama nggak mau bilang didikannya salah atau benar, tapi ya mungkin anaknya khilaf saja. Tapi ya udah, Mama nggak mau pusing sama gimana bayi ini lahir ke dunia. Mama cuma ingin membesarkan bayi ini saja.”"Tapi, Mah—"“Mama mohon. Mama hidup sendirian di rumah sebesar ini, Dirga. Anak-an

  • Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku   110. Mencari Keluarganya

    Assalamualaikum WR. WB. Saya minta maaf sebelumnya Bu Marwah, saya tidak ada pilihan lain. Hanya Bu Marwah satu-satunya orang yang bisa saya percaya. Tolong jaga bayi ini Bu Marwah. Saya tidak sanggup membesarkannya karena himpitan ekonomi. Dia cucu saya. Tapi anak saya masih dibawah umur, dia masih sekolah. Saya tidak tahu kalau selama ini dia hamil. Ayah bayi ini kabur entah kemana dan tidak mau bertanggung jawab. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Jadi tolong, jaga anak ini dan besarkan dia. Sekali lagi saya minta maaf. Tertanda, Nia. “Nia ini asisten rumah tangga yang kerja di rumah tetangga sebelah?” tanya Dirga pelan, meski keningnya jelas mengerenyit. Surat yang barusan ia baca masih ada di tangannya, sementara matanya sesekali menatap bayi mungil yang terbungkus selimut lembut di pangkuan ibunya. Marwah mengangguk. “Iya. Dia kerja di rumah Bu Mira. Mama kenal cukup baik sama dia. Soalnya tiap pagi suka lewat depan rumah, kadang berhenti ngobrol sebentar sama Mama. Ru

  • Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku   109. Bayi Didepan Pintu

    Beberapa bulan kemudian.Mentari pagi hari Minggu baru saja menyapa komplek perumahan. Udara masih terasa sejuk.Di gerbang utama, Pak Dani, satpam pos, tengah asyik menyesap kopi hitam kental dan mengunyah gorengan bakwan. Pandangannya lalu menangkap sosok yang familiar, seorang wanita yang dikenal sebagai salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di salah satu rumah di dalam komplek yang datang di pagi hari dan akan pulang di sore hari.Namun, dahinya mengernyit karena wanita itu datang di hari Minggu. Dan yang membuatnya bingung, dia juga datang seraya menggendong bayi. "Tumben hari Minggu datang, Mbak Nia," ucap Pak Dani menyapa dengan ramah, bingung melihat jam kedatangannya yang terlalu pagi. "Pagi-pagi begini lagi."Wanita bernama Nia itu menghentikan langkah, tubuhnya sedikit kaku. Sebuah senyum canggung dan gugup tersungging di bibirnya, tak seperti biasanya. Matanya tampak gelisah."I—iya, lagi ada perlu mendadak sama Bu Marwah, Pak," jawabnya, suaranya sedikit bergetar.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status