ANMELDENKetika Nada mengetahui dirinya sedang mengandung anak Dirga, sang suami, laki-laki itu malah meminta izin untuk menikahi wanita lain. Terlebih wanita itu adalah teman lama Nada, Delisha yang mengatakan kalau mereka sudah saling mencintai, dan Nada hanyalah penghalang cinta mereka. Bagaimana cara menghadapinya. Memilih bertahan dan menerima dengan pasrah keputusan sang suami demi anak mereka? Atau melepaskan pria yang dia cinta untuk si pelakor?
Mehr anzeigenPeter's pov
I woke up in this dark room, the same room that I have been staying in for 3 days now. I realized my arms still above my head chained to the ceiling. My whole body hurts. I feel so sore, my blood everywhere. I look miserable. I had bruises all over my face, on my arms, my legs, scratches on my back and the color of my wrist turned dark blue from the rope. I feel dizzy too.
Next thing I knew I heard the door was opened and the light was turned on. I looked around the room, it was painted gray without windows. There were metallic tables with things on them used to torment. They haven’t used them on me yet.
" Finally, you wake up. I was so bored so I want to play." My torturer's voice filled my ears with his stupid grin. his perfect body and his shiny blue eyes
" Play in another fucking place bitch. "
" haha, that's awesome." He winked to someone
That man came with a big stole and poured icy water on me. Oh I feel so cold so I shivered and jerked from my place. I was surprised that I'm not wrapped.
" Sir?"
" Get out." The blue-eyed said sternly
The man got out without a word ahead
" Let's see if he can challenge me." He said smirking
" Ohh really so you are dead." I said with a lot of confidence
I'm really good at fistfighting. I hope that my body will help me
We grinned at each other. I leaped forward, charging my enemy. Unprepared, the man recoiled from a punch to his jaw with a wince. He touched his jaw and smiled at me
" Nice one, son of bitch."
" It's like what your father said the last time I saw him but about you."
He got up with a rage of anger filled his eyes. I prepared to strike my assailant in the groin with a balled fist. He grabbed my arm and twisted as I swung. I recoiled in pain but got over it. I grabbed his legs and pulled him down onto the concrete. His head slammed against the sidewalk.
He elbowed me on my neck, I lost balance then he kicked me on my stomach. I got on my feet and I tried to hit him when he easily caught my hand and aimed a punch to my nose. when his fist hit the bridge of my nose, my blood splattered all over the ground.
He grabbed my head, his fingers digging into my scalp, and lifted me until I'm dangling on the tips of my toes. He slammed his hand into my ribs and I winced. The pain ripples across my chest
" Don't dare you to talk about my father, trash, I was so gentle I guess."
I smiled at him and he threw me, I winced ohh my body. I heard him unbuckle his belt and folded on two ohh no... Not the belt!
I looked at him, my eyes narrowed with fear. He started landing his belt everywhere, whip after whip, none stop. I tried to bear them but he hit so harsh better than his men
" ohh, please please stop."
" Why? What will I take in return?" He asked giving me another swat
" Ohh I don't know. Ow! Choose." I said under the torture
I won't give him a shit, I'm just fooling him so he can end this torture.
" Who sent you?"
Swat!
" T-The B-Blackstone. Stop please." I said in a scared tone
" Why?"
" To... K-kill you, I s-swear I'm not a killer, they threatened me by my mother."
" I don't give a fuck."
SWAT
" AHH, please please stop .. I'll be your slave if you want but stop."
Just let me get out of here, I will make you regret every hit.
Swat
" Hhh so good, how did you know my father?"
" I don't know him."
Swat
" So stupid to lie to me."
" I- I swear I d-don't k-know him t-they told me when I kill you I n-need to say something about your father. I swear that's a-all." I stuttered trying to catch my breath and talk under his hits
" I don't know why I can't believe you." He said with so calm and dark tone
He looked at his men and winked at them
" No, please . Don't leave me here, I want to help my mother."
" Shut the fuck up."
" You are a bastard. Do you like to be threatened by your mother? Do you like to make you do things you don't like to? Do you like to get tortured? I can say that your father was disappointed in you, especially that you didn't find your brother."
" Shut your hole." He yelled, getting his belt up
" No, I'm sorry."
He threw it and smirked, " I think this is better." He grabbed a gun from his back and pulled in front of me aiming at my face.
I was so weak to move or to do anything, I felt cold. I looked at him with pleading eyes, " I'm sorry, just a chance please."
I don't want to die before saving mom! God, save me from here!
I saw darkness filled his eyes that the only thing will satisfy him is the blood
He was pressing the trigger. " Say bye to your life, trash." He chuckled like a freak
There is no escape now! God, protect my mother!
The door was opened by a woman. She was beautiful with a worried expression on her face.
" Put the gun down, Cole."
" I will kill this dick."
" No, you can't, Cole."
" Who is the boss here? Get out or I'll shoot you too." He looked at me and strengthen his grip with a firm look on his face while she was getting enough of his shit
I'm dying... It's over!
She stood in front of me and yelled," He is your brother."
This sentence landed like a bomb to our ears. He looked at her with a non-believing look. Out of anger, he glanced at me and pressed the trigger many times in the air.
While the sound of the gunfire filled the cell. I looked at them relieved... I'm alive, I'm gonna see my mother again then my eyelids weakened and I blacked out.
To be continued...
New story. New characters.
Hey guys I hope you like it ❤️
Wait for the next chapter...
"Siapa bilang aku mencintainya?" Pandangan semua orang yang ada di ruangan itu sontak langsung beralih pada asal suara. Melihat kedatangan mantan suaminya, dada Marwah dengan seketika terasa sesak. Jantungnya mulai berdegup kencang saat melihat pria yang menemaninya lebih dari 30 tahun itu kini berdiri di depan mata. "Aku menikahi perempuan itu bukan karena cinta, tapi karena khilaf. Aku tidak bisa menahan nafsu, dan lagi aku terbuai dengan kata-kata manisnya yang palsu. Jadi aku menikahinya, bukan karena murni mencintainya." ucap Dendi. Dia lalu menghampiri Marwah. "Kalau aku mencintainya, aku pasti tetap mempertahankannya dan tidak akan menceraikannya. Aku pasti akan bersikap seperti saat kamu meminta aku untuk menceraikanmu, dengan mati-matian mempertahankanmu, Marwah. Faktanya tidak, kan? Itu karena aku tidak mencintainya. Wanita yang kucintai dari dulu sampai sekarang masih kamu." Bulir bening kristal tiba-tiba saja luruh dari mata Marwah. "Bohong!" jawab Marwah dengan nada
Seminggu kemudian. "Lailahaillallah. ..." Suara adzan selesai Dirga kumandangkan di telinga putri kecilnya yang baru lahir. Tangannya sedikit bergetar saat ia mendekatkan bibir ke telinga mungil itu. Begitu selesai, ia menatap wajah bayi yang masih merah dan kecil sekali. Senyuman lirih muncul di bibirnya. Fisya Adreena Hafshah. Nama yang sudah ia dan Nada siapkan untuk bayi cantik mungilnya. Setelah menyerahkan bayinya pada suster, Dirga kembali menghampiri Nada. Nafasnya sempat tersengal pelan, seperti masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia menunduk dan mengecup pucuk kepala Nada begitu lama, hangat, dan penuh rasa syukur. Nada yang masih tampak lelah hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia masih tidak menyangka jika kini ia sudah menjadi seorang ibu. "Terima kasih ya, Sayang. Terima kasih karena kamu sudah mau bertahan sama pria hina kayak aku. Terima kasih karena udah ngasih aku kesempatan, tetap berada di samping aku walau aku pernah nyakitin
"Maksudnya?" tanya Dendi, kini melepaskan cengkeramannya dari lengan Delisha. Napasnya masih berat, tapi suaranya mulai lebih terkontrol. "Dia berada di tangan yang tepat," jawab Delisha pelan, bibirnya terangkat membentuk senyuman smirk yang membuat Dendi makin muak. Dendi menatapnya tajam. “Siapa? Ada di mana dia sekarang?” Delisha mengangkat dagu sedikit, seolah bangga dengan perbuatannya. “Marwah. Mantan istrimu.” “Apa?” Dendi hampir tak bisa menelan ludahnya sendiri. Muka Dendi langsung memerah, matanya membelalak. “Anakku … ada di tangan Marwah? Bagaimana bisa?” Dengan santainya, Delisha melipat kedua tangan di bawah dada. “Aku bayar orang untuk naruh anak itu di depan rumahnya dengan mengatakan kalau anakmu itu adalah cucu haramnya. Biar dramatis sedikit, biar terlihat kayak bayi tak diinginkan. Dan lihat? Mantan istrimu yang tidak waras itu langsung iba. Dia ambil bayi itu, bahkan … dia sampai jual rumah dan pindah demi anakku. Hahaha … rencanaku berjalan mulus dan sempur
"Apa kita lapor polisi saja untuk mencari keberadaan Mbak Nia?" tanya Dirga, suaranya terdengar ragu-ragu."Enggak, jangan," potong Marwah cepat, “Dari tadi kan Mama sudah bilang, Mama pengin membesarkan bayi ini. Kalau kita lapor polisi, urusannya bakal panjang banget, Dirga. Belum lagi nanti bayi ini diambil, terus kalau Mama mau adopsi secara resmi, ribetnya bisa setengah mati. Jadi jangan melibatkan polisi."Dirga menghela napas. “Terus, gimana?”"Ya … sudah. Biarkan saja," jawab Marwah,“Kita tahu asal-usul bayi ini, kan? Kita tahu siapa keluarganya. Mbak Nia itu orangnya baik kok. Cuma ya mungkin anaknya tidak terdidik dengan baik. Dia single parent, kerja dari pagi sampai sore buat anak-anaknya. Mama nggak mau bilang didikannya salah atau benar, tapi ya mungkin anaknya khilaf saja. Tapi ya udah, Mama nggak mau pusing sama gimana bayi ini lahir ke dunia. Mama cuma ingin membesarkan bayi ini saja.”"Tapi, Mah—"“Mama mohon. Mama hidup sendirian di rumah sebesar ini, Dirga. Anak-an
"Dia di sini?" gumam Dirga saat membaca pesan dari Ryan yang mengatakan jika Delisha kini sedang berada di ruangan yang sama dengannya. "Kenapa, Mas?" tanya Nada saat dengan tak sengaja mendengar gumaman Dirga. Dirga lantas memperlihatkan layar ponselnya pada Nada seraya berkata, "Ryan bilang kalau
“Bertemu Delisha? Di dokter kandungan?” tanya Dirga, matanya menatap serius ke arah Nada, penuh rasa ingin tahu yang mendalam. “Aku nggak tahu dia habis dari dokter kandungan atau dokter yang lain,” jawab Nada dengan nada serius, mencoba menjelaskan sebaik mungkin. “Tapi dia memang sempat berada d
"Kenapa?""Hm?" Dirga sontak menoleh, "Enggak, gak pa-pa.""Dih! Gak jelas! Senyum-senyum sendiri kek orang gak waras. Ati-ati keterusan, kasian Nada masih muda masa harus ngurusin orang gak waras. BTW aku juga ogah punya ipar gak waras, nanti pasti nyusahin!" Mata Dirga dengan seketika memicing tajam
2 Bulan kemudian."Maasss?"Dirga yang baru saja akan masuk ke mobil itu mengurungkan niatnya saat sang istri memanggilnya. "Kenapa, Sayang?" tanya Dirga. Nada tak langsung menjawab, dengan senyuman yang manis ia menghampiri suaminya. "Ini ... makan siang buat kamu," ucap Nada seraya memberikan kanton


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rezensionen