Share

Bab 5. Melepaskan

last update Terakhir Diperbarui: 2024-06-06 10:23:38

Marwah diam tak menjawab apa yang Nada tanyakan. 

"Nada juga mau Mas Dirga bahagia, Mah, dan kebahagiaan itu bukan bersama Nada.” 

"Maafin Mama Nad ... Maafin Mama ... Maaf Mama tidak bisa mendidik Dirga, Maaf telah membuat kamu terluka separah ini," ucap Marwah sembari menghapus air mata di pipinya, 

Mata Nada mulai berkaca-kaca lagi. "Mama gak salah kok. Nada malah seneng, setidaknya Nada pernah bahagia sama Mas Dirga. Kita pernah saling jatuh cinta dan memadu kasih," ucap Nada, ia menyentuh perutnya yang masih datar.

‘Kita bahkan akan menjadi orangtua,’ batin Nada berucap.

Sambil masih terisak, Nada kembali berucap. “Nanti kalo Mas Dirga udah pulang, bilang sama dia, Nada udah siapin semuanya di kamar. Nada pamit ya. Assalamualaikum," pamit Nada mencium punggung tangan Marwah.

***

Semarang. 

Nada duduk sendirian di kamarnya dengan tatapan kosong. Ia masih memikirkan pria yang akan menjadi ayah dari buah hatinya itu. Ia merindukan Dirga, ia rindu senyum dan tawa pria itu. Ia masih tak menyangka jika kisahnya dengan Dirga hanya berjalan singkat.

“Sekarang dia pasti lagi sama perempuan itu….”

Nada jadi membayangkan waktu mereka di awal pernikahan dulu. Dirga sangat manja, tidak mau keluar dari kamar ketika akhir pekan.

Dan sekarang, mungkin pria itu sedang melakukan hal yang sama dengan madunya. Membayangkannya, membuat Nada sesak. 

“Siapa?” suara ibunya tiba-tiba terdengar.

Dian, ibunya Nada, masuk ke kamar, lalu duduk di samping Nada. Ia melihat mata putrinya yang berkaca-kaca. Semenjak pulang kemarin Lusa, Dian sering sekali memergoki putrinya yang diam-diam menangis. 

“Hm? Ng–nggak, Mi,” jawab Nada. 

“Jujur sama Ummi, kamu sedang ada masalah kan dengan Dirga? Kenapa?” tanya Dian.

Nada diam sebentar sebelum akan menjawab. Membuka mulut malah membuat tenggorokannya tercekat.

“M–Mas Dirga ….” ucap Nada dengan suara yang gemetar. 

“Dirga kenapa? Dia menyakiti kamu? Mengangkat tangannya sama kamu jadi kamu memilih pulang ke sini karena tidak tahan?” tanya Dian.

Nada yang menunduk itu menggelengkan kepalanya. “Nada mungkin lebih memilihkan disakiti fisik daripada batin seperti ini.” 

“Terus?” 

Nada mengambil ponsel, ia lantas memperlihatkan sebuah foto pada sang ibu.

“Astaghfirullahaladzim! Dirga … dia menikah lagi?” tanya Dian menatap sang putri dengan tatapan kaget. 

Nada menatap sang ibu dengan air mata yang sudah berurai. Kemudian mengangguk. 

“Iya, sama Delisha…..” 

Nada langsung terisak sesegukan. Dian yang merasakan sakit yang dirasakan sang putri sontak memeluk Nada. 

“Harusnya kalau dia gak mau dijodohin, ngomong dari awal! Kita semua tidak ada yang memaksa! Bukan malah menyakiti kamu seperti ini!” ucap Dian kesal. “Kamu tenang saja, besok Ummi temui ibunya!” 

Nada terduduk tegak dan menatap sang ibu. Kemudian menggelengkan kepalanya dan berkata.

“Jangan, Ummi kan gak tau apa-apa!”

“Terus? Mau diam saja?” tanya Dian emosi.

Nada menundukkan kepala. “Nada ingin berpisah saja, Nada gak mau jadi orang ketiga di cinta mereka. Nada mau fokus dengan kehamilan Nada saja.” 

Mata Dian kembali terbelalak. “Kamu … hamil?” 

Nada mengangguk.

“Kurang ajar si Dirga itu!” 

*** 

Hari demi hari Nada lalui di kampung ibunya. Memang tidak mudah, tapi ia berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya. Ia sadar kalau lebih banyak orang yang menyayanginya di sini.

“Remaja masjid di sini aktif lho, Nad. Ummi juga baru tau kemarin dari Qia,” ucap Dian bersemangat.

Nada dan Dian sedang berjalan bersama setelah pulang menghadiri Tabligh Akbar. Sejak berada di sini, Dian selalu membawa Nada ke dalam kajian-kajian agama agar anaknya tidak diam di rumah terus.

“Beberapa akhi-akhi ada yang anterin ukhti-ukhtinya pulang karena kan malem pulangnya. Jadi mereka itu sebelum masuk masjid, sama yang ada di sana ditanya, pulangnya sama siapa gitu. Kalau sendirian, ada yang anterin,” ibunya kembali bercerita. 

Nada tersenyum tipis. “Akhi-akhi? Ukhti-ukhti? Pfffttt ….” Nada tertawa pelan. 

Akhirnya ia bisa tertawa sejenak setelah stress menghadapi masalah rumah tangganya. 

“Ck! Ummi serius Nada!” sahut Dian dengan mata yang memicing. “Kamu ikutan sana remaja masjid. Siapa tau kan nanti ada salah satu laki-laki yang suka sama kamu.” 

“Jadi ikutan remaja masjid cuma buat begitu? Bukan buat cari ilmu?”

“Ya kan siapa tau aja, Nad. Ini anak remaja masjid lho. Akhlaknya pasti bagus, buktinya dia ikut yang bermanfaat.” 

Nada hanya menggelengkan kepala. Padahal putusan pengadilan belum ada, statusnya secara resmi masih menjadi istri seorang Dirga.

Lagipula, para remaja masjid pun belum tentu benar-benar sholeh.

‘Seperti Mas Dirga… aku takut dikecewakan lagi,’ gumam Nada dalam hati.

“Aku mau datang, tapi kalau niatnya untuk memikat laki-laki nggak ya, Mi!” ucap Nada pada akhirnya karena sang ummi terus mengoceh.

“Kalau Pak Ustadz-nya mau sama kamu gimana?” 

Nada baru saja membuka mulut hendak menjawab. Namun, getaran ponsel di saku gamisnya sudah lebih dulu terasa. Ia lantas menghentikan langkah dan merogoh saku celananya mengambil ponsel.

Terlihat pesan masuk dari nomor yang tak ia kenali lagi. Nomor itu terlihat mengirimi sebuah foto. Akhir-akhir ini sering kali nomor tak dikenal masuk, dan Nada langsung memblokir nomor itu. 

Namun sekarang, ia dilanda rasa penasaran, Nada akhirnya menyentuh nomor itu dan melihat foto yang kini terpampang di pesan chat.

“Astagfirullah!” Nada sontak berucap dengan tangan yang bergetar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku   114. Melawan Badai (SELESAI)

    "Siapa bilang aku mencintainya?" Pandangan semua orang yang ada di ruangan itu sontak langsung beralih pada asal suara. Melihat kedatangan mantan suaminya, dada Marwah dengan seketika terasa sesak. Jantungnya mulai berdegup kencang saat melihat pria yang menemaninya lebih dari 30 tahun itu kini berdiri di depan mata. "Aku menikahi perempuan itu bukan karena cinta, tapi karena khilaf. Aku tidak bisa menahan nafsu, dan lagi aku terbuai dengan kata-kata manisnya yang palsu. Jadi aku menikahinya, bukan karena murni mencintainya." ucap Dendi. Dia lalu menghampiri Marwah. "Kalau aku mencintainya, aku pasti tetap mempertahankannya dan tidak akan menceraikannya. Aku pasti akan bersikap seperti saat kamu meminta aku untuk menceraikanmu, dengan mati-matian mempertahankanmu, Marwah. Faktanya tidak, kan? Itu karena aku tidak mencintainya. Wanita yang kucintai dari dulu sampai sekarang masih kamu." Bulir bening kristal tiba-tiba saja luruh dari mata Marwah. "Bohong!" jawab Marwah dengan nada

  • Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku   113. Kembali Bersama

    Seminggu kemudian. "Lailahaillallah. ..." Suara adzan selesai Dirga kumandangkan di telinga putri kecilnya yang baru lahir. Tangannya sedikit bergetar saat ia mendekatkan bibir ke telinga mungil itu. Begitu selesai, ia menatap wajah bayi yang masih merah dan kecil sekali. Senyuman lirih muncul di bibirnya. Fisya Adreena Hafshah. Nama yang sudah ia dan Nada siapkan untuk bayi cantik mungilnya. Setelah menyerahkan bayinya pada suster, Dirga kembali menghampiri Nada. Nafasnya sempat tersengal pelan, seperti masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia menunduk dan mengecup pucuk kepala Nada begitu lama, hangat, dan penuh rasa syukur. Nada yang masih tampak lelah hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia masih tidak menyangka jika kini ia sudah menjadi seorang ibu. "Terima kasih ya, Sayang. Terima kasih karena kamu sudah mau bertahan sama pria hina kayak aku. Terima kasih karena udah ngasih aku kesempatan, tetap berada di samping aku walau aku pernah nyakitin

  • Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku   112. Tidak Lagi Berguna

    "Maksudnya?" tanya Dendi, kini melepaskan cengkeramannya dari lengan Delisha. Napasnya masih berat, tapi suaranya mulai lebih terkontrol. "Dia berada di tangan yang tepat," jawab Delisha pelan, bibirnya terangkat membentuk senyuman smirk yang membuat Dendi makin muak. Dendi menatapnya tajam. “Siapa? Ada di mana dia sekarang?” Delisha mengangkat dagu sedikit, seolah bangga dengan perbuatannya. “Marwah. Mantan istrimu.” “Apa?” Dendi hampir tak bisa menelan ludahnya sendiri. Muka Dendi langsung memerah, matanya membelalak. “Anakku … ada di tangan Marwah? Bagaimana bisa?” Dengan santainya, Delisha melipat kedua tangan di bawah dada. “Aku bayar orang untuk naruh anak itu di depan rumahnya dengan mengatakan kalau anakmu itu adalah cucu haramnya. Biar dramatis sedikit, biar terlihat kayak bayi tak diinginkan. Dan lihat? Mantan istrimu yang tidak waras itu langsung iba. Dia ambil bayi itu, bahkan … dia sampai jual rumah dan pindah demi anakku. Hahaha … rencanaku berjalan mulus dan sempur

  • Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku   111. Di Tangan Yang Tepat

    "Apa kita lapor polisi saja untuk mencari keberadaan Mbak Nia?" tanya Dirga, suaranya terdengar ragu-ragu."Enggak, jangan," potong Marwah cepat, “Dari tadi kan Mama sudah bilang, Mama pengin membesarkan bayi ini. Kalau kita lapor polisi, urusannya bakal panjang banget, Dirga. Belum lagi nanti bayi ini diambil, terus kalau Mama mau adopsi secara resmi, ribetnya bisa setengah mati. Jadi jangan melibatkan polisi."Dirga menghela napas. “Terus, gimana?”"Ya … sudah. Biarkan saja," jawab Marwah,“Kita tahu asal-usul bayi ini, kan? Kita tahu siapa keluarganya. Mbak Nia itu orangnya baik kok. Cuma ya mungkin anaknya tidak terdidik dengan baik. Dia single parent, kerja dari pagi sampai sore buat anak-anaknya. Mama nggak mau bilang didikannya salah atau benar, tapi ya mungkin anaknya khilaf saja. Tapi ya udah, Mama nggak mau pusing sama gimana bayi ini lahir ke dunia. Mama cuma ingin membesarkan bayi ini saja.”"Tapi, Mah—"“Mama mohon. Mama hidup sendirian di rumah sebesar ini, Dirga. Anak-an

  • Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku   110. Mencari Keluarganya

    Assalamualaikum WR. WB. Saya minta maaf sebelumnya Bu Marwah, saya tidak ada pilihan lain. Hanya Bu Marwah satu-satunya orang yang bisa saya percaya. Tolong jaga bayi ini Bu Marwah. Saya tidak sanggup membesarkannya karena himpitan ekonomi. Dia cucu saya. Tapi anak saya masih dibawah umur, dia masih sekolah. Saya tidak tahu kalau selama ini dia hamil. Ayah bayi ini kabur entah kemana dan tidak mau bertanggung jawab. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Jadi tolong, jaga anak ini dan besarkan dia. Sekali lagi saya minta maaf. Tertanda, Nia. “Nia ini asisten rumah tangga yang kerja di rumah tetangga sebelah?” tanya Dirga pelan, meski keningnya jelas mengerenyit. Surat yang barusan ia baca masih ada di tangannya, sementara matanya sesekali menatap bayi mungil yang terbungkus selimut lembut di pangkuan ibunya. Marwah mengangguk. “Iya. Dia kerja di rumah Bu Mira. Mama kenal cukup baik sama dia. Soalnya tiap pagi suka lewat depan rumah, kadang berhenti ngobrol sebentar sama Mama. Ru

  • Orang Ketiga Di Rumah Tanggaku   109. Bayi Didepan Pintu

    Beberapa bulan kemudian.Mentari pagi hari Minggu baru saja menyapa komplek perumahan. Udara masih terasa sejuk.Di gerbang utama, Pak Dani, satpam pos, tengah asyik menyesap kopi hitam kental dan mengunyah gorengan bakwan. Pandangannya lalu menangkap sosok yang familiar, seorang wanita yang dikenal sebagai salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di salah satu rumah di dalam komplek yang datang di pagi hari dan akan pulang di sore hari.Namun, dahinya mengernyit karena wanita itu datang di hari Minggu. Dan yang membuatnya bingung, dia juga datang seraya menggendong bayi. "Tumben hari Minggu datang, Mbak Nia," ucap Pak Dani menyapa dengan ramah, bingung melihat jam kedatangannya yang terlalu pagi. "Pagi-pagi begini lagi."Wanita bernama Nia itu menghentikan langkah, tubuhnya sedikit kaku. Sebuah senyum canggung dan gugup tersungging di bibirnya, tak seperti biasanya. Matanya tampak gelisah."I—iya, lagi ada perlu mendadak sama Bu Marwah, Pak," jawabnya, suaranya sedikit bergetar.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status