LOGIN"Loh, nggak ke kantor?"
Nerian menoleh dari layar laptopnya sekilas, memandangi Ayya yang baru keluar dari dapur.
"Enggak, aku ngontrol perusahaan dari rumah. Kerjaan kantor juga nggak terlalu banyak," sahut Nerian santai sambil tersenyum tipis.
Suara bising terdengar di telinga Nerian dari earphone yang ia pakai. Di seberang sana, Riyan tengah mengomel sambil mengerjakan semua pekerjaan kantor yang menumpuk.
"Kamu mau makan buah nggak? Atau yang asem-asem?"
Kedua alis Ayya menukik. Ia melirik Nerian bingung sambil terus menenggak minumannya.
"Nggak mau."
"Apa mau makan yang lain?"
Ayya semakin meliriknya ngeri. Tumben sekali laki-laki acuh itu mendadak perhatian.
"Bilang aja, mau ngasih kerjaan apa? Ngusir keluarga itu lagi atau mantan tunangan lo itu?" ujar Ayya menghampiri Nerian yang duduk di sofa.
"Masih mual?" Nerian mengalihkan pertanyaan Ayya.
"Nggak," sahutnya lemas sambil mengusap-usap perut.
"Makan dulu gih. Aku udah tambahin bahan-bahan masakan di dapur. Masak apa pun yang kamu mau." Suara Nerian serta tatapannya begitu lembut, membuat Ayya tertegun.
Mendadak, ia menjadi salah tingkah.
Jam menunjukkan pukul tiga sore. Suasana rumah itu begitu sunyi karena penghuninya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Terlihat Nerian masih duduk di sofa sambil memantau pekerjaan lewat layar laptopnya.
Nerian menoleh saat mendengar langkah kaki menuruni tangga. Ia mendapati Ayya yang tampak cantik dengan dress bunga-bunga dan pita besar tersemat di belakang kepalanya.
"Mau ke mana?"
"Mau ke luar, jalan-jalan," sahut Ayya.
"Cantik nggak?" Ayya memutar tubuhnya menunjukkan detail dari penampilannya.
Tanpa sadar Nerian mengangguk, lalu menggeleng cepat. "Biasa aja," sahutnya gengsi.
Ayya berdecak sebal dengan bibir mengerucut.
"Aku ikut, tungguin!" ujar Nerian kemudian berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Ayya yang kebingungan hanya diam memperhatikan laki-laki itu. Dalam secepat kilat, Nerian kembali muncul dengan penampilan sederhana yang santai; kaos hitam dan jeans hitam yang terdapat sedikit robekan di dengkulnya.
"Wow! CEO bisa mode berandalan juga, ya," ujar Ayya menilik penampilan Nerian dari atas sampai bawah.
"Udah ayo, mau ke mana?" sahut Nerian mengambil kunci mobilnya.
Ayya tak henti-hentinya memuji laki-laki itu. Penampilannya begitu pas. Warna hitam dari pakaiannya tampak begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih cerah terawat.
"Eh, nggak usah bawa mobil. Gue cuman mau jalan-jalan di mal sebelah." Ayya bahkan baru ingat ke mana tujuannya saking terpananya dengan penampilan Nerian.
Nerian mengangguk samar. Hatinya sedikit lega karena setidaknya Ayya tidak berniat ke rumah sakit atau ke tempat yang berbahaya.
Laki-laki itu masih dengan kesimpulannya: Ayya sedang hamil.
Keduanya pun menghampiri mal besar yang berada di tengah kota dan tak jauh dari kediaman mereka. Suasana mal cukup ramai. Banyak orang berlalu-lalang membawa tentengan hasil belanja atau hanya sekadar mampir untuk cuci mata.
Nerian terus mengekori gadis itu. Ia bahkan terlihat seperti melindungi Ayya dari hal-hal yang menurutnya bahaya.
Bahkan mainan anak kecil yang jatuh pun ia tendang jauh agar tidak mengenai Ayya. Alhasil, Ayya yang harus meminta maaf dengan wajah menahan malu sekaligus kesal.
"Lain kali jangan kaya gitu!! Gua nggak bakal mati cuman gara-gara ditabrak mobilan kecil."
"Ya kalo kamu jatuh gimana?" sahut Nerian tak mau kalah.
"Ya tinggal jatuh," sahut Ayya ketus.
"Bukan itu, ka—" Ucapan Nerian terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya.
Itu Siren dan temannya. Matanya yang tajam seketika berbinar saat melihat Nerian, seperti melihat sebongkah berlian raksasa.
"Kamu juga di sini? Pasti karena liat feed aku, ya?" tebaknya yang terlalu percaya diri.
"Nggak, aku nemenin dia."
Ayya hampir tertawa mendengar suara dingin Nerian. Siren menatapnya tajam penuh kebencian.
"Kok ada dia, sih!"
"Dia siapa? Asisten Nerian?"
"Bukan! Ini loh, Kar, pelakor yang gue bilang," sahut Siren menunjuk ganas ke arah Ayya.
Nerian menarik tangan gadis itu ke belakang tubuhnya. Ia melindunginya, takut Siren nekat melukai Ayya.
"Sembarangan kalo ngomong!" hardik Ayya yang terpancing emosi.
"Dih! Pelakor nggak tau diri. Nerian itu emang tunangan Siren, kocak," seru Karin sewot.
"Dia bukan pelakor dan Siren bukan tunangan gue. Sejak awal pihak keluarga yang memulai perjodohan tanpa seizin gue," jelas Nerian menatap tajam Karin dan Siren.
Kedua mata Ayya membeliak mendengarnya. Ia pikir Nerian itu kaku karena selalu memakai aku-kamu. Tak disangka, ia bisa sedikit kasar juga.
"Tapi kita dari kecil bareng-bareng! Bahkan kamu bilang mau nikahin aku," sahut Siren tak terima. Wajahnya memerah sampai ke leher dan matanya menahan tangis.
Nerian terkekeh geli. "Siren, saat itu gue baru umur enam tahun dan baru aja kehilangan orang tua gue. Gue mana tau apa itu menikah. Dan lagi juga, bagi gue lo tetep anak dari Tante Vada alias sepupu gue. Nggak lebih."
Siren tertegun mendengarnya. Kalimat sopan itu menusuk begitu dalam hingga hatinya hancur berkeping-keping.
"Nerian..." Suaranya serak dan ia mulai menangis.
"Jahat banget sih. Siren itu selalu belain lo. Dia itu tulus sama lo, tau," omel Karin membela sahabatnya.
"Kadang harus jadi jahat biar orang bebal bisa paham," Nerian menyahut dingin.
"Tapi nggak gitu juga! Selama ini Siren yang selalu nemenin lo, bahkan di saat terhancur di hidup lo," hardik Karin tak puas.
"Lo tau apa sih? Apa menurut lo gue sebodoh itu? Sampai nggak tau apa yang udah dilakuin?"
Karin menutup rapat mulutnya. Keberaniannya menciut saat mata setajam belati itu menatapnya.
"Nerian... Aku harus gimana sih biar kamu balik lagi ke aku? Aku harus apa?"
"Nggak perlu usaha apa pun. Karena mau lo punya satu dunia pun, kalo gue nggak suka, bakal percuma."
Tangisan Siren semakin kencang mendengar kalimat menyakitkan itu. Ia berusaha memegang Nerian, namun laki-laki itu mundur seolah menghindari hal yang paling menjijikkan di hidupnya.
"Ayo kita pulang." Ayya mengangguk lalu memeluk lengan Nerian sambil tersenyum manis.
"Kesian dia, kok lo tega sih," ujar Ayya yang kasihan dengan Siren. Meskipun gadis itu menyebalkan, tapi dia hanya jatuh cinta—jatuh cinta bukan kejahatan.
"Biarin aja." Ayya menutup rapat mulutnya saat Nerian menyahut dingin.
Matanya turun menatap genggaman Nerian di tangannya. Sepertinya laki-laki itu belum menyadarinya.
"Kamu mau beli apa?"
"Nggak ada, kan cuman liat-liat."
Nerian menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Ayya.
"Dasar." Ia menyentil lembut kening Ayya, membuat sang empunya memejamkan mata ketakutan.
"Ish!"
Ayya memalingkan wajahnya yang merona. Jantungnya seketika jatuh ke dasar dada saking kencangnya berdetak. Lagi-lagi perlakuan Nerian membuatnya tersentuh.
Selepas dari mal, keduanya memilih untuk jalan-jalan di sekitar taman sambil menikmati matahari sore yang begitu indah. Langit jingga dengan semburat kemerahan yang menawan membuat mata yang melihatnya seperti terhipnotis.
Termasuk Ayya. Ia tak henti-hentinya memperhatikan langit yang begitu cantik. Semilir angin berhembus menebarkan aroma harum yang samar-samar tercium di hidung mancung Nerian.
Laki-laki yang duduk berselonjor dengan satu kaki menekuk serta kedua tangan menopang tubuhnya pun menatap Ayya. Gadis itu tampak bersinar di bawah siraman sinar oranye yang indah. Untuk beberapa saat, Nerian justru terpaku oleh Ayya.
"Nerian." Ayya menoleh sambil tersenyum manis.
"Kita naik sepeda, yuk."
Nerian menggeleng. "Nggak, itu bahaya."
"Bahaya apanya? Lo nggak bisa naik sepeda?" tanya Ayya yang mendapat gelengan kepala dari Nerian.
"Terus? Apa yang bahaya? Aku bisa kok naik sepeda."
"Nggak boleh, Aina. Istirahat dulu aja, kita habis jalan jauh loh."
Seketika Ayya merasa sedih. Lagi-lagi ia menyesali dirinya yang menyembunyikan nama aslinya.
Ayya membayangkan akan lebih baik kalau Nerian menyebut nama aslinya dengan nada rendah yang lembut.
"Kamu sedih?" tanya Nerian menyentuh bahu Ayya lembut.
Ayya menggeleng. "Nggak."
Ia ingin memberitahu kebenaran pada Nerian, tapi rasanya sedikit aneh karena mereka hanya sebatas penyewa dan disewa.
"Kita main sepatu roda, gimana?" Ayya menunjuk antusias ke penyewa sepatu roda di taman.
"Jangan, itu lebih bahaya. Udah duduk aja di sini, istirahat."
"Ish!! Bosen tau duduk terus. Kalo lu penakut bilang aja, gue bisa naik sendiri!!" teriak Ayya kesal lalu bangkit menghampiri penyewa sepatu roda.
"Aina!!" Nerian berseru memanggilnya, namun Ayya tak peduli.
Ia benci dikekang, apalagi dilarang dalam segala hal.
Nerian yang panik langsung berlari menyusul Ayya. Ia menarik sepatu roda dari tangan gadis itu.
"Apaan sih! Gue mau main," sentak Ayya emosi.
"Nggak boleh! Kamu nggak boleh main ini."
Ayya tercengang, kemudian ia melotot tajam. "Kamu apa-apaan sih!! Kalo nggak mau nemenin, ya udah nggak usah!! Aku bisa main sendiri," omel Ayya dengan suara tingginya.
"Aku ngelarang kamu demi kebaikan kamu dan kandungan kamu!!"
Ayya melotot mendengarnya. Jantungnya berdetak pelan saking shock-nya.
"SIAPA YANG HAMIL!!?"
" Coba aja kalo berani " Rahang perempuan kesetanan itu bergetar hebat saat mendengar ucapan dingin dan kejam dari Nerian. Matanya yang memerah terus melayangkan tatapan penuh kebencian ke arah Ayya Jika bisa mungkin dia sudah membunuh perempuan cantik itu saat ini juga. " Aku nggak bakal diem aja ngeliat kalian bahagia! aku nggak ikhlas Nerian!!! " Berang nya dengan suara yang pecah bercampur sesak dan sakit. Nerian menatap nya dingin " Aku nggak peduli " Sahutnya acuh " Wlek! " Ayya menjulurkan lidahnya meledek " Sana pergi nanti meledak loh matanya ngeliat kita, yakan sayang " Nerian hanya tersenyum saat dagunya di usap manja oleh Ayya, terlihat seperti seekor serigala yang dijinakkan. Dengan penuh amarah dan luka Siren pun pergi dari hunian mewah itu. Ia tak kuasa menahan sakit luka di hatinya, hingga sepanjang perjalanan pulang airmata nya terus menderai dengan begitu pilu. Sementara itu Nerian dan Ayya terpaku kaku dalam keheningan yang menyelimuti keduany
Ayya terduduk dengan wajah kesalnya. Ia tak habis pikirdengan apa yang Nerian pikirkan tentang dirinya. Bisa-bisanya laki-laki itumenganggapnya hamil."Aku minta maaf. Aku bener-bener nggak tau. Please,"ujar Nerian untuk kesekian kalinya.Sejak kejadian di taman tadi sore dan sampai saat ini pukul8 malam Ayya terus mendiaminya."Maafin aku."Nerian pindah duduk di sisi Ayya dan perempuan itu langsungmemutar tubuhnya. Ia enggan menatap Nerian."Aku transfer 10 juta! Tapi maafin aku, ya." Ayyasemakin merajuk.Nerian kembali bernegosiasi untuk mendapatkan maafnya."Aku checkout semua keranjang belanja kamu! Maafin aku, tapi. Please."Ayya berdecak sinis. Ia menatap Nerian tajam dan penuhkemarahan. "Nggak semua hal bisa diselesaikan dengan uang!!"Tatapan berbinar Nerian seketika meredup. Ia tidak tahuharus bagaimana menghadapi wanita yang merajuk."Aku nggak tau harus gimana lagi. Aku tau aku salah,aku tau pikiran aku bodoh. Aku minta maaf."Satu hal yang tidak mereka sadari, hu
"Loh, nggak ke kantor?"Nerian menoleh dari layar laptopnya sekilas, memandangi Ayyayang baru keluar dari dapur."Enggak, aku ngontrol perusahaan dari rumah. Kerjaankantor juga nggak terlalu banyak," sahut Nerian santai sambil tersenyumtipis.Suara bising terdengar di telinga Nerian dari earphoneyang ia pakai. Di seberang sana, Riyan tengah mengomel sambil mengerjakan semuapekerjaan kantor yang menumpuk."Kamu mau makan buah nggak? Atau yang asem-asem?"Kedua alis Ayya menukik. Ia melirik Nerian bingung sambilterus menenggak minumannya."Nggak mau.""Apa mau makan yang lain?"Ayya semakin meliriknya ngeri. Tumben sekali laki-laki acuhitu mendadak perhatian."Bilang aja, mau ngasih kerjaan apa? Ngusir keluargaitu lagi atau mantan tunangan lo itu?" ujar Ayya menghampiri Nerian yangduduk di sofa."Masih mual?" Nerian mengalihkan pertanyaan Ayya."Nggak," sahutnya lemas sambil mengusap-usapperut."Makan dulu gih. Aku udah tambahin bahan-bahan masakandi dapur. Masak apa pun yang
Ayya gelagapan dan kepanikan terpancar jelas di sorotmatanya. Ia berusaha untuk tenang saat Nerian melangkah menghampiri mereka."Kita pernah ketemu dulu, dan mungkin dia masihinget," Ayya berkilah di sela kerisauannya.Nerian terdiam memandangi keduanya bergantian kemudianmengangguk. Ayya tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran laki-laki itu,karena sorot matanya yang begitu tenang."Ayo kita pulang. Aku mau ke toko sayuran dulu, ya. Maubelanja buat masak sehari-hari," ujar Ayya memeluk lengan Nerian.Gerakannya terkesan terburu-buru.Nerian tak menyahut. Ia hanya mengangguk sekali. Matatajamnya menatap Dion. "Kita duluan.""Hati-hati," sahut Dion. Ia terus menatapkepergian Ayya dan Nerian hingga keduanya benar-benar hilang dari pandangannya."Seandainya kamu bisa sedikit buka hati buat aku,Ayy," bisiknya di sela kesunyian.Nerian menyalakan mesin mobilnya saat Ayya sudah duduk disisi kemudi. Ia memandangi perempuan cantik itu sekilas."Dion pernah jadi pacar sewaan?"Ayya
Seruan itu memecah keheningan kantor bagai petir di siangbolong.Dari arah belakang, Siren melangkah dengan wajah menghitamsaking emosinya."Kamu ngapain sama dia?!"Suasana seketika berubah canggung, persis seperti istri yangmemergoki suaminya berselingkuh."Cium pacarku," jawab Nerian santai, lengankekarnya semakin erat melingkar di pinggang Ayya.Tatapan Siren yang setajam belati terhunus ke arah Ayya."Ngapain sih dia ke sini?" Ayya membalas denganlirikan sinis."Heh! Mau ngapain pun gue ke sini bukan urusan lo,dasar pelakor!" sentak Siren kesetanan."Loh, jelas urusan gue. Kan gua pacarnya Nerian."Wajah tengil dan gestur sombong Ayya sukses membuat Siren kelabakan.Mata Siren menatap tajam tangan Nerian yang bertenggernyaman di pinggul Ayya. Ia menarik paksa lengan pria itu. "Lepasin!Lepasin!"Nerian menepisnya kasar, sementara Ayya ikut mendorong bahuSiren menjauh."Jangan pegang cowok gue! Dasar perempuanmurahan!" Ayya mencibir pedas, pura-pura mengusap lengan Nerian
"Ini syarat dan perjanjian buat kerja sama. Mohon dibaca sebaik mungkin dan tanda tangan."Ayya menaruh secarik kertas yang baru saja ia cetak—lengkap dengan pulpen dan juga materai."Pihak B tidak boleh menyentuh Pihak A tanpa seizin Pihak A."Ayya mengangguk. "Iya, karena gue nggak mau dirugiin sedikit pun."Terdengar dengusan geli dari laki-laki tampan itu dan ia kembali membaca perjanjian yang tercantum. Ayya sedikit terkejut karena orang-orang yang ia temui biasanya langsung tanda tangan atau hanya membaca inti dari perjanjian."Tidak ada ciuman, pelukan, adegan intim yang merugikan Pihak A, adegan romantis tanpa kondisi penting, dan tidak ada pegangan tangan selama tidak ada orang."Nerian kembali membacakan syarat yang menurutnya sedikit menggelikan, karena tidak mungkin juga dia melakukan hal seperti itu."Kenapa? Kalo nggak setuju, ya udah, batal aja," ujar Ayya arogan."Sebentar, nama kamu siapa?" Ini sudah keempat kalinya Nerian bertanya, karena sejak tadi Ayya terus berkil







