Beranda / Romansa / PACAR SEWAAN 24 JAM / 05: Siapa yang hamil?

Share

05: Siapa yang hamil?

Penulis: Penulis RD
last update Tanggal publikasi: 2026-08-06 00:32:33

"Loh, nggak ke kantor?"

Nerian menoleh dari layar laptopnya sekilas, memandangi Ayya yang baru keluar dari dapur.

"Enggak, aku ngontrol perusahaan dari rumah. Kerjaan kantor juga nggak terlalu banyak," sahut Nerian santai sambil tersenyum tipis.

Suara bising terdengar di telinga Nerian dari earphone yang ia pakai. Di seberang sana, Riyan tengah mengomel sambil mengerjakan semua pekerjaan kantor yang menumpuk.

"Kamu mau makan buah nggak? Atau yang asem-asem?"

Kedua alis Ayya menukik. Ia melirik Nerian bingung sambil terus menenggak minumannya.

"Nggak mau."

"Apa mau makan yang lain?"

Ayya semakin meliriknya ngeri. Tumben sekali laki-laki acuh itu mendadak perhatian.

"Bilang aja, mau ngasih kerjaan apa? Ngusir keluarga itu lagi atau mantan tunangan lo itu?" ujar Ayya menghampiri Nerian yang duduk di sofa.

"Masih mual?" Nerian mengalihkan pertanyaan Ayya.

"Nggak," sahutnya lemas sambil mengusap-usap perut.

"Makan dulu gih. Aku udah tambahin bahan-bahan masakan di dapur. Masak apa pun yang kamu mau." Suara Nerian serta tatapannya begitu lembut, membuat Ayya tertegun.

Mendadak, ia menjadi salah tingkah.

Jam menunjukkan pukul tiga sore. Suasana rumah itu begitu sunyi karena penghuninya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Terlihat Nerian masih duduk di sofa sambil memantau pekerjaan lewat layar laptopnya.

Nerian menoleh saat mendengar langkah kaki menuruni tangga. Ia mendapati Ayya yang tampak cantik dengan dress bunga-bunga dan pita besar tersemat di belakang kepalanya.

"Mau ke mana?"

"Mau ke luar, jalan-jalan," sahut Ayya.

"Cantik nggak?" Ayya memutar tubuhnya menunjukkan detail dari penampilannya.

Tanpa sadar Nerian mengangguk, lalu menggeleng cepat. "Biasa aja," sahutnya gengsi.

Ayya berdecak sebal dengan bibir mengerucut.

"Aku ikut, tungguin!" ujar Nerian kemudian berlari menaiki tangga menuju kamarnya.

Ayya yang kebingungan hanya diam memperhatikan laki-laki itu. Dalam secepat kilat, Nerian kembali muncul dengan penampilan sederhana yang santai; kaos hitam dan jeans hitam yang terdapat sedikit robekan di dengkulnya.

"Wow! CEO bisa mode berandalan juga, ya," ujar Ayya menilik penampilan Nerian dari atas sampai bawah.

"Udah ayo, mau ke mana?" sahut Nerian mengambil kunci mobilnya.

Ayya tak henti-hentinya memuji laki-laki itu. Penampilannya begitu pas. Warna hitam dari pakaiannya tampak begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih cerah terawat.

"Eh, nggak usah bawa mobil. Gue cuman mau jalan-jalan di mal sebelah." Ayya bahkan baru ingat ke mana tujuannya saking terpananya dengan penampilan Nerian.

Nerian mengangguk samar. Hatinya sedikit lega karena setidaknya Ayya tidak berniat ke rumah sakit atau ke tempat yang berbahaya.

Laki-laki itu masih dengan kesimpulannya: Ayya sedang hamil.

Keduanya pun menghampiri mal besar yang berada di tengah kota dan tak jauh dari kediaman mereka. Suasana mal cukup ramai. Banyak orang berlalu-lalang membawa tentengan hasil belanja atau hanya sekadar mampir untuk cuci mata.

Nerian terus mengekori gadis itu. Ia bahkan terlihat seperti melindungi Ayya dari hal-hal yang menurutnya bahaya.

Bahkan mainan anak kecil yang jatuh pun ia tendang jauh agar tidak mengenai Ayya. Alhasil, Ayya yang harus meminta maaf dengan wajah menahan malu sekaligus kesal.

"Lain kali jangan kaya gitu!! Gua nggak bakal mati cuman gara-gara ditabrak mobilan kecil."

"Ya kalo kamu jatuh gimana?" sahut Nerian tak mau kalah.

"Ya tinggal jatuh," sahut Ayya ketus.

"Bukan itu, ka—" Ucapan Nerian terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya.

Itu Siren dan temannya. Matanya yang tajam seketika berbinar saat melihat Nerian, seperti melihat sebongkah berlian raksasa.

"Kamu juga di sini? Pasti karena liat feed aku, ya?" tebaknya yang terlalu percaya diri.

"Nggak, aku nemenin dia."

Ayya hampir tertawa mendengar suara dingin Nerian. Siren menatapnya tajam penuh kebencian.

"Kok ada dia, sih!"

"Dia siapa? Asisten Nerian?"

"Bukan! Ini loh, Kar, pelakor yang gue bilang," sahut Siren menunjuk ganas ke arah Ayya.

Nerian menarik tangan gadis itu ke belakang tubuhnya. Ia melindunginya, takut Siren nekat melukai Ayya.

"Sembarangan kalo ngomong!" hardik Ayya yang terpancing emosi.

"Dih! Pelakor nggak tau diri. Nerian itu emang tunangan Siren, kocak," seru Karin sewot.

"Dia bukan pelakor dan Siren bukan tunangan gue. Sejak awal pihak keluarga yang memulai perjodohan tanpa seizin gue," jelas Nerian menatap tajam Karin dan Siren.

Kedua mata Ayya membeliak mendengarnya. Ia pikir Nerian itu kaku karena selalu memakai aku-kamu. Tak disangka, ia bisa sedikit kasar juga.

"Tapi kita dari kecil bareng-bareng! Bahkan kamu bilang mau nikahin aku," sahut Siren tak terima. Wajahnya memerah sampai ke leher dan matanya menahan tangis.

Nerian terkekeh geli. "Siren, saat itu gue baru umur enam tahun dan baru aja kehilangan orang tua gue. Gue mana tau apa itu menikah. Dan lagi juga, bagi gue lo tetep anak dari Tante Vada alias sepupu gue. Nggak lebih."

Siren tertegun mendengarnya. Kalimat sopan itu menusuk begitu dalam hingga hatinya hancur berkeping-keping.

"Nerian..." Suaranya serak dan ia mulai menangis.

"Jahat banget sih. Siren itu selalu belain lo. Dia itu tulus sama lo, tau," omel Karin membela sahabatnya.

"Kadang harus jadi jahat biar orang bebal bisa paham," Nerian menyahut dingin.

"Tapi nggak gitu juga! Selama ini Siren yang selalu nemenin lo, bahkan di saat terhancur di hidup lo," hardik Karin tak puas.

"Lo tau apa sih? Apa menurut lo gue sebodoh itu? Sampai nggak tau apa yang udah dilakuin?"

Karin menutup rapat mulutnya. Keberaniannya menciut saat mata setajam belati itu menatapnya.

"Nerian... Aku harus gimana sih biar kamu balik lagi ke aku? Aku harus apa?"

"Nggak perlu usaha apa pun. Karena mau lo punya satu dunia pun, kalo gue nggak suka, bakal percuma."

Tangisan Siren semakin kencang mendengar kalimat menyakitkan itu. Ia berusaha memegang Nerian, namun laki-laki itu mundur seolah menghindari hal yang paling menjijikkan di hidupnya.

"Ayo kita pulang." Ayya mengangguk lalu memeluk lengan Nerian sambil tersenyum manis.

"Kesian dia, kok lo tega sih," ujar Ayya yang kasihan dengan Siren. Meskipun gadis itu menyebalkan, tapi dia hanya jatuh cinta—jatuh cinta bukan kejahatan.

"Biarin aja." Ayya menutup rapat mulutnya saat Nerian menyahut dingin.

Matanya turun menatap genggaman Nerian di tangannya. Sepertinya laki-laki itu belum menyadarinya.

"Kamu mau beli apa?"

"Nggak ada, kan cuman liat-liat."

Nerian menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Ayya.

"Dasar." Ia menyentil lembut kening Ayya, membuat sang empunya memejamkan mata ketakutan.

"Ish!"

Ayya memalingkan wajahnya yang merona. Jantungnya seketika jatuh ke dasar dada saking kencangnya berdetak. Lagi-lagi perlakuan Nerian membuatnya tersentuh.

Selepas dari mal, keduanya memilih untuk jalan-jalan di sekitar taman sambil menikmati matahari sore yang begitu indah. Langit jingga dengan semburat kemerahan yang menawan membuat mata yang melihatnya seperti terhipnotis.

Termasuk Ayya. Ia tak henti-hentinya memperhatikan langit yang begitu cantik. Semilir angin berhembus menebarkan aroma harum yang samar-samar tercium di hidung mancung Nerian.

Laki-laki yang duduk berselonjor dengan satu kaki menekuk serta kedua tangan menopang tubuhnya pun menatap Ayya. Gadis itu tampak bersinar di bawah siraman sinar oranye yang indah. Untuk beberapa saat, Nerian justru terpaku oleh Ayya.

"Nerian." Ayya menoleh sambil tersenyum manis.

"Kita naik sepeda, yuk."

Nerian menggeleng. "Nggak, itu bahaya."

"Bahaya apanya? Lo nggak bisa naik sepeda?" tanya Ayya yang mendapat gelengan kepala dari Nerian.

"Terus? Apa yang bahaya? Aku bisa kok naik sepeda."

"Nggak boleh, Aina. Istirahat dulu aja, kita habis jalan jauh loh."

Seketika Ayya merasa sedih. Lagi-lagi ia menyesali dirinya yang menyembunyikan nama aslinya.

Ayya membayangkan akan lebih baik kalau Nerian menyebut nama aslinya dengan nada rendah yang lembut.

"Kamu sedih?" tanya Nerian menyentuh bahu Ayya lembut.

Ayya menggeleng. "Nggak."

Ia ingin memberitahu kebenaran pada Nerian, tapi rasanya sedikit aneh karena mereka hanya sebatas penyewa dan disewa.

"Kita main sepatu roda, gimana?" Ayya menunjuk antusias ke penyewa sepatu roda di taman.

"Jangan, itu lebih bahaya. Udah duduk aja di sini, istirahat."

"Ish!! Bosen tau duduk terus. Kalo lu penakut bilang aja, gue bisa naik sendiri!!" teriak Ayya kesal lalu bangkit menghampiri penyewa sepatu roda.

"Aina!!" Nerian berseru memanggilnya, namun Ayya tak peduli.

Ia benci dikekang, apalagi dilarang dalam segala hal.

Nerian yang panik langsung berlari menyusul Ayya. Ia menarik sepatu roda dari tangan gadis itu.

"Apaan sih! Gue mau main," sentak Ayya emosi.

"Nggak boleh! Kamu nggak boleh main ini."

Ayya tercengang, kemudian ia melotot tajam. "Kamu apa-apaan sih!! Kalo nggak mau nemenin, ya udah nggak usah!! Aku bisa main sendiri," omel Ayya dengan suara tingginya.

"Aku ngelarang kamu demi kebaikan kamu dan kandungan kamu!!"

Ayya melotot mendengarnya. Jantungnya berdetak pelan saking shock-nya.

"SIAPA YANG HAMIL!!?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   13: Jangan lari!

    Reno yang melihat calon istrinya datang dengan gaun seksi berwarna merah menyala seketika membuat kedua matanya membulat sempurna liur nya hampir menetes saat pikiran cabul menari-nari di benak nya. " Tuan Reno, apa kabar " Ragas menyapa hangat " Baik, baik. Sangat baik " sahutnya penuh kegirangan yang tidak bisa di tutupi. Mata liarnya tak lepas dari tubuh memikat Ayya " Ini Alayya, dia baru pulang dari studi nya. Dia sengaja tampil kaya gini demi Pak Reno " Ayya yang mendengarnya ikut tersenyum manis, jauh dalam dirinya ia menahan mual yang bergejolak diperut. Rasanya ingin sekali ia membenturkan dua kepala pelontos itu sampai pecah. " Wahh, cantik sekali. Benar-benar sesuai selera saya " Ujar Reno, dari segi wajah kentara sekali dia itu pria cabul. " Ayya, cepet temenin Pak Reno sambut tamu " Dengan penuh keterpaksaan Ayya menurut, ia menemani laki-laki plontos berperut buncit dan bergigi emas----menyambut tamu yang berdatangan. Saat tangan kasar dan gemuk Re

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   12: Pukulan telak

    Kamar yang semula bernuansa putih gading dengan ornamen warna-warna pastel kini terlihat begitu gelap dan banyak barang-barang yang rusak----dan barang bekas yang di taruh disana. Cahaya matahari mengintip masuk melalui sela papan kayu yang melapisi jendela di kamar itu. Di sisinya seorang perempuan lusuh tampak duduk dengan mata terpejam menunjukkan guratan merah dari urat mata yang menyembul. Tampak mengerikan sekaligus menyedihkan. Ayya memeluk tubuhnya yang meringkuk pedih di atas kasur usang. Perlahan matanya terbuka, sorot mata yang semula terlihat berbinar ceria kini jauh lebih redup dan dingin. Ia mengangkat pelan tubuhnya diiringi rasa sakit menjalar di seluruh syaraf nya. " Nih makanan nya, abisin " Seorang pelayan menaruh kasar piring berisi nasi dan lauk sisa kemudian berlenggang pergi dengan wajah sombong seolah dia baru saja memberi makan seekor peliharaan. Ayya melirik tanpa minat, ia tidak akan menyentuh makanan itu. Dirumah ini tidak ada yang aman ba

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   11: Dia menghilang

    Jarum jam menunjukkan pukul 8 malam saat Nerian menyambangi kedai ayam goreng tempat Ayya bekerja. Sang pemilik toko langsung menyambutnya dengan senyuman ramah " Mau pesen apa Kak? " tanyanya ramah " Saya mau tanya, kurir makanan anda kemana ya? saya suaminya " Ujar Nerian langsung tanpa basa-basi Keterkejutan terlihat di sorot mata wanita itu, tatapannya menyapu penampilan Nerian dari atas hingga bawah. " Tadi siang saya suruh dia antar pesanan ke kantor Winata tapi sampe sekarang dia belum juga pulang, nomernya nggak aktif. Pak " Sahutnya cemas bercampur kesal " Ck! mana motor kurir dibawa dia " Gumam nya menyuarakan keresahan hatinya " Soal motor nanti saya ganti, saya permisi " Setelah itu Nerian bergegas pergi Perasaan nya semakin kacau, sejak tadi ia sudah menghubungi Ayya namun nomernya masih belum aktif. " Nggak mungkin dia kabur " Nerian kembali mengecek ponselnya dan pas sekali saat itu Riyan menghubungi nya. " Apa udah ada kabar dari Aina? " ta

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   10: Kurir cantik

    " Ini, hati-hati di ya. Awas! jangan sampe hancur makanan nya " Ayya mengangguk cepat " Okey! tenang aja " serunya riang menerima bungkusan isi makanan yang akan ia antarkan. " Harus di anter ke tujuan ya!! fotoin penerima nya " pemilik kedai ayam goreng itu berteriak sambil memperhatikan Ayya yang keluar dengan dua kantong plastik penuh dengan makanan. Dengan penuh semangat Ayya mengendarai motor matic yang pakai untuk mengirim makanan. Ia mengantarkan beberapa makanan ke beberapa rumah dan beberapa toko yang memesan. " Terimakasih, order lagi ya " Ujar Ayya membuat si penerima tersenyum manis. Ayya menceklis lalu memgirim foto pesanan yang telah ia kirim. Kemudian Ayya memeriksa pesanan terkahir yang tersisa " Winata group!! " Pekik nya kemudian meriksa kembali alamat yang tertera. Dan benar, itu alamat kantor Nerian. Jantung nya berdebar tak karuan mendadak ia ingin menghilang atau pingsan saat ini juga. Ayya memikirkan banyak cara yang terlintas di kepalany

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   09: Aku pergi!

    Semenjak kejadian siang tadi, disaat ia melihat Nerian bersama seorang perempuan----entah kenapa hatinya terus berdenyut sakit. Seperti ada luka kecil tak kasat mata yang perih dan menuntut sembuh. Berulang-kali Ayya menepis perasaan aneh itu, tapi rasa sakit bercampur sesak justru semakin menghimpit dadanya. Apa lagi senyuman manis Nerian saat melihat perempuan itu memakai gaun pernikahan, begitu terlihat bahagia dan tulus dan sulit hilang dari benaknya. " Curang! dia ngehindarin gue gara-gara Dion. Padahal dia sendiri yang main belakang! " gerutu nya cemburu seolah mereka memang pasangan resmi. Tubuhnya tersentak saat pintu panthouse terbuka menampilkan sosok yang sejak tadi menghantui pikiran nya. Nerian menatap nya sekilas kemudian berlalu menaiki tangga dengan wajah datar seperti biasa. " Nerian " Panggil Ayya menghentikan langkah laki-laki itu. " Kenapa? " Tidak ada senyuman tulus atau nada hangat dari laki-laki itu. " Gua mau pindah dari sini, tapi ten

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   8: Dia punya pacar

    Ayya mematung ketila mendengar suara dingin Nerian memanggil nya seperti itu. Suasana dapur seketika berubah dingin dan senyap. " Kenapa Dion manggil kamu kaya gitu? kalian pasti pernah ada hubungan kan " Ayya tergagap, lidahnya kelu dan seluruh kulit kepalanya terasa kebas. Ayya terlihat seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan: gugup, bengong dan berusaha kabur dari pertanyaan itu " Dia dari dulu manggil nya gitu, bukan karena ada hubungan. Kam Aina, Ai Ai sama kaya Ayy. Gitu.... mungkin " Semakin menjelaskan semakin terlihat celah kecurigaan nya. Ayya mematikan kompor lalu berseru senang karena opor nya sudah matang. Aroma harum masakan itu mengalihkan sejenak pikiran Nerian, ditatap nya kuah kuning kental yang terlihat menggiurkan dengan kepulan asam pembangkit rasa lapar. " Ini spesial buat lo, bagian paling enak dari ayam" Ujar Ayya menaruh sepotong paha dalam mangkuk lalu meletakkannya ke depan Nerian. " Aku tau kamu lagi nyembunyiin sesuatu " Nerian mencecar nya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status