Share

04: Dia hamil

Author: Penulis RD
last update publish date: 2026-08-04 11:06:15

Ayya gelagapan dan kepanikan terpancar jelas di sorot matanya. Ia berusaha untuk tenang saat Nerian melangkah menghampiri mereka.

"Kita pernah ketemu dulu, dan mungkin dia masih inget," Ayya berkilah di sela kerisauannya.

Nerian terdiam memandangi keduanya bergantian kemudian mengangguk. Ayya tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran laki-laki itu, karena sorot matanya yang begitu tenang.

"Ayo kita pulang. Aku mau ke toko sayuran dulu, ya. Mau belanja buat masak sehari-hari," ujar Ayya memeluk lengan Nerian. Gerakannya terkesan terburu-buru.

Nerian tak menyahut. Ia hanya mengangguk sekali. Mata tajamnya menatap Dion. "Kita duluan."

"Hati-hati," sahut Dion. Ia terus menatap kepergian Ayya dan Nerian hingga keduanya benar-benar hilang dari pandangannya.

"Seandainya kamu bisa sedikit buka hati buat aku, Ayy," bisiknya di sela kesunyian.

Nerian menyalakan mesin mobilnya saat Ayya sudah duduk di sisi kemudi. Ia memandangi perempuan cantik itu sekilas.

"Dion pernah jadi pacar sewaan?"

Ayya nyaris tersedak liurnya sendiri. Ia menggeleng cepat. "Nggak," selorohnya.

"Gua pernah ketemu dia dulu di perpustakaan." Itu tak sepenuhnya bohong, karena pertemuan pertama mereka memang di perpustakaan sekolah.

Nerian tak berminat melanjutkan pembahasan mereka. Mata indahnya fokus menatap jalan raya yang ramai dan terik matahari yang masih menyengat.

"Kamu kenapa nggak makan masakan luar?"

Pertanyaan itu membuat Ayya terdiam sejenak. Kemudian sambil tersenyum, ia menjawab, "Nggak biasa aja. Lebih enak masak sendiri. Lo nanti gue masakin menu andalan gue."

Lagi, Nerian kembali diam. Ia hanya bertanya sekali kemudian kembali diam setelah mendapat jawabannya.

"Jangan diem terus. Kalo ngajak ngobrol tuh diterusin gitu loh. Jangan nanya, terus diem, terus nanya lagi. Kaya apa tau!" cerocos Ayya kesal.

Suasana terasa begitu dingin dan kaku. Bahkan Ayya merasa seperti ada dinding pemisah di antara mereka.

"Ya udah, ngomong. Aku dengerin."

Ayya berdecak sebal dan memalingkan wajahnya ke sisi jalan.

Pada akhirnya mereka hanya diam dan sibuk dengan pikiran sendiri. Ayya sangat dongkol karena Nerian begitu tidak peka.

Dia hanya diam dan bukan memulai obrolan lagi, seolah memaksa Ayya untuk memecahkan keegoisannya untuk tetap diam.

Hingga tibalah di supermarket yang dekat dengan kediaman penthouse Nerian. Di saat mesin mobil belum benar-benar mati, Ayya sudah lebih dulu keluar dari mobil. Nerian hanya diam memperhatikan tingkah gadis itu.

"Mau beli apa?"

Ayya tak menyahut. Ia melengos mendorong troli dan mengambil asal apa yang ada di hadapannya.

Sekilas, mereka terlihat seperti sepasang suami-istri yang sedang bertengkar. Nerian mengejarnya, namun Ayya melangkah cepat menghindari laki-laki itu. Nerian menghela napas kasar. Soal urusan bujuk-membujuk, dia bukanlah ahlinya.

"Jalan pelan-pelan," ujar Nerian, namun Ayya justru semakin mempercepat langkahnya.

Ayya memilih beberapa buah jeruk dan saat Nerian ikut membantunya, ia langsung mengeluarkan semua jeruk yang Nerian pilih. Lagi-lagi ia hanya bisa diam dengan wajah kebingungan.

Satu hal yang Nerian sadari: Ayya sangat keras kepala.

Ting!

Pintu lift khusus menuju penthouse Nerian terbuka. Ayya yang baru pertama kali melihat hal ini pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Dari dalam lift ia bisa melihat dengan jelas pemandangan kota karena hampir seluruh elemen lift itu terbuat dari kaca yang berlapis.

"Ini seriusan?"

Nerian meliriknya. "Baru pertama kali kan naik lift kaya gini?"

Ayya mengangguk. Matanya yang dipenuhi sinar lampu perkotaan terlihat seperti bintang-bintang kecil. Kepalanya sontak mendongak saat pintu lift kembali terbuka di lantai 50.

"Sini."

Ayya mengedip cepat kemudian keluar dari lift. Lantai teratas dari gedung ini hanya memiliki satu pintu. Benar-benar sangat mewah.

"Ini kode pintunya. 010800."

Ayya tetap diam, tapi isi kepalanya sibuk menebak-nebak tentang kode itu.

Apa ini tanggal ulang tahunnya?

Atau tanggal ulang tahun pacarnya?

Suara ting dalam otaknya berbunyi saat teringat usia Nerian yang genap 28 tahun. Itu artinya, ini bukan tanggal ulang tahunnya. Mendadak rasa panas memenuhi hatinya dan wajahnya kian muram.

"Kamu keliling aja dulu. Bebas mau masuk ke ruang mana," ujar Nerian sambil melepas jasnya dan beberapa kancing kemejanya.

"Nggak! Mau tidur!" ketus Ayya. Bahkan keindahan hunian itu pun tak mampu mencerahkan suasana hatinya.

"Itu kamarnya. Ka—" Belum sempat Nerian menyelesaikan ucapannya, gadis itu sudah lebih dulu berlenggang pergi dengan langkah sedikit dihentakkan.

Pagi harinya Ayya terbangun dengan tubuh yang begitu segar. Ia meregangkan tubuhnya kemudian menatap langit biru yang begitu cerah dari balik kaca.

"Nggak rugi nerima tawarannya. Kapan lagi nikmati hidup mewah!" serunya lalu menarik napas dalam-dalam sambil terus tersenyum cerah.

Suara perutnya yang lapar tiba-tiba terdengar. Buru-buru ia turun dari kasur lalu keluar dari kamarnya.

Suasana rumah begitu sunyi dan sangat sejuk. Matanya melirik ke sekitar mencari-cari si pria tampan kaya raya itu.

"Sarapan dulu. Aku udah masak."

Ayya nyaris terjatuh dari tangga saat suara dingin Nerian menyapa telinganya.

Matanya bergerak cepat kemudian terpaku saat menatap kepala Nerian yang tengah duduk di sofa. Bisa-bisanya dia tidak melihat dengan jelas keberadaan laki-laki itu.

"Gue bisa masak sendiri," sahut Ayya sedikit tak enak.

Nerian menoleh. Ia menyimpan ponselnya kemudian menghampiri Ayya. Buru-buru Ayya pergi ke dapur, seolah Nerian serigala buas yang hendak menerkamnya. Di atas meja makan telah tersedia sarapan sederhana yang Nerian buat.

"Kamu nggak suka salad atau sandwich-nya?"

Ayya menatap makanan itu. Ia benar-benar tidak enak untuk menolak, apalagi ini sarapan pertama yang orang lain buat untuknya.

"Atau emang bener, nggak bisa makan masakan orang lain?" Nada suaranya begitu tenang namun penuh kecurigaan.

Ayya menoleh menatapnya. Ia terdiam sejenak memikirkan jawaban apa yang harus diberikan.

"Seberapa deket kamu sama Dion?"

"Nggak deket!" sanggahnya cepat.

"Gue bener-bener nggak biasa makan masakan orang lain, karena gue biasa masak sendiri."

Nerian terdiam menatapnya lekat-lekat. Tatapan yang sulit diartikan namun mampu menelan kepercayaan diri Ayya hingga habis. Gadis itu menunduk menatap ujung kakinya yang dilapisi sandal kelinci.

"Mulai sekarang harus terbiasa. Cepet duduk," ujar Nerian menarik kursi untuknya.

Ayya tak bisa lagi menghindar. Ia duduk canggung dan memperhatikan Nerian yang begitu telaten mengiris sandwich agar mudah dimakan lalu menaruh sedikit salad sayur.

Matanya berbinar bersamaan dengan kerongkongan yang tercekat serta hidung yang mendadak perih. Garpu masih menggantung di udara dan tampak sedikit bergetar karena Ayya sedang berusaha menahan sesuatu di dirinya.

Nerian yang duduk di hadapannya terus menatapnya. Ia memperhatikan seluruh gerak-gerik Ayya yang aneh. Wajahnya pucat dan tubuhnya bergetar halus. Sesekali ia menelan salivanya lalu samar-samar terdengar suara napas yang berat.

Detik berikutnya, Ayya berdiri lalu melesat pergi menuju kamar mandi. Nerian hanya diam dalam kebingungan. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu.

"Aina, kamu gapapa?"

"Nggak. Lo pergi aja ke kantor. Gue nggak apa-apa." Sahutan terdengar dari dalam. Suaranya pecah seolah dipaksa untuk keluar dari kerongkongan.

Nerian tak menyahut. Ia hanya diam menatap pintu kamar mandi di hadapannya. Lalu menyimpulkan satu hal.

"Dia hamil."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   07: Desakan intens

    " Coba aja kalo berani " Rahang perempuan kesetanan itu bergetar hebat saat mendengar ucapan dingin dan kejam dari Nerian. Matanya yang memerah terus melayangkan tatapan penuh kebencian ke arah Ayya Jika bisa mungkin dia sudah membunuh perempuan cantik itu saat ini juga. " Aku nggak bakal diem aja ngeliat kalian bahagia! aku nggak ikhlas Nerian!!! " Berang nya dengan suara yang pecah bercampur sesak dan sakit. Nerian menatap nya dingin " Aku nggak peduli " Sahutnya acuh " Wlek! " Ayya menjulurkan lidahnya meledek " Sana pergi nanti meledak loh matanya ngeliat kita, yakan sayang " Nerian hanya tersenyum saat dagunya di usap manja oleh Ayya, terlihat seperti seekor serigala yang dijinakkan. Dengan penuh amarah dan luka Siren pun pergi dari hunian mewah itu. Ia tak kuasa menahan sakit luka di hatinya, hingga sepanjang perjalanan pulang airmata nya terus menderai dengan begitu pilu. Sementara itu Nerian dan Ayya terpaku kaku dalam keheningan yang menyelimuti keduany

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   06: Kesalah pahaman yang menerus

    Ayya terduduk dengan wajah kesalnya. Ia tak habis pikirdengan apa yang Nerian pikirkan tentang dirinya. Bisa-bisanya laki-laki itumenganggapnya hamil."Aku minta maaf. Aku bener-bener nggak tau. Please,"ujar Nerian untuk kesekian kalinya.Sejak kejadian di taman tadi sore dan sampai saat ini pukul8 malam Ayya terus mendiaminya."Maafin aku."Nerian pindah duduk di sisi Ayya dan perempuan itu langsungmemutar tubuhnya. Ia enggan menatap Nerian."Aku transfer 10 juta! Tapi maafin aku, ya." Ayyasemakin merajuk.Nerian kembali bernegosiasi untuk mendapatkan maafnya."Aku checkout semua keranjang belanja kamu! Maafin aku, tapi. Please."Ayya berdecak sinis. Ia menatap Nerian tajam dan penuhkemarahan. "Nggak semua hal bisa diselesaikan dengan uang!!"Tatapan berbinar Nerian seketika meredup. Ia tidak tahuharus bagaimana menghadapi wanita yang merajuk."Aku nggak tau harus gimana lagi. Aku tau aku salah,aku tau pikiran aku bodoh. Aku minta maaf."Satu hal yang tidak mereka sadari, hu

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   05: Siapa yang hamil?

    "Loh, nggak ke kantor?"Nerian menoleh dari layar laptopnya sekilas, memandangi Ayyayang baru keluar dari dapur."Enggak, aku ngontrol perusahaan dari rumah. Kerjaankantor juga nggak terlalu banyak," sahut Nerian santai sambil tersenyumtipis.Suara bising terdengar di telinga Nerian dari earphoneyang ia pakai. Di seberang sana, Riyan tengah mengomel sambil mengerjakan semuapekerjaan kantor yang menumpuk."Kamu mau makan buah nggak? Atau yang asem-asem?"Kedua alis Ayya menukik. Ia melirik Nerian bingung sambilterus menenggak minumannya."Nggak mau.""Apa mau makan yang lain?"Ayya semakin meliriknya ngeri. Tumben sekali laki-laki acuhitu mendadak perhatian."Bilang aja, mau ngasih kerjaan apa? Ngusir keluargaitu lagi atau mantan tunangan lo itu?" ujar Ayya menghampiri Nerian yangduduk di sofa."Masih mual?" Nerian mengalihkan pertanyaan Ayya."Nggak," sahutnya lemas sambil mengusap-usapperut."Makan dulu gih. Aku udah tambahin bahan-bahan masakandi dapur. Masak apa pun yang

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   04: Dia hamil

    Ayya gelagapan dan kepanikan terpancar jelas di sorotmatanya. Ia berusaha untuk tenang saat Nerian melangkah menghampiri mereka."Kita pernah ketemu dulu, dan mungkin dia masihinget," Ayya berkilah di sela kerisauannya.Nerian terdiam memandangi keduanya bergantian kemudianmengangguk. Ayya tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran laki-laki itu,karena sorot matanya yang begitu tenang."Ayo kita pulang. Aku mau ke toko sayuran dulu, ya. Maubelanja buat masak sehari-hari," ujar Ayya memeluk lengan Nerian.Gerakannya terkesan terburu-buru.Nerian tak menyahut. Ia hanya mengangguk sekali. Matatajamnya menatap Dion. "Kita duluan.""Hati-hati," sahut Dion. Ia terus menatapkepergian Ayya dan Nerian hingga keduanya benar-benar hilang dari pandangannya."Seandainya kamu bisa sedikit buka hati buat aku,Ayy," bisiknya di sela kesunyian.Nerian menyalakan mesin mobilnya saat Ayya sudah duduk disisi kemudi. Ia memandangi perempuan cantik itu sekilas."Dion pernah jadi pacar sewaan?"Ayya

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   03: Dion?

    Seruan itu memecah keheningan kantor bagai petir di siangbolong.Dari arah belakang, Siren melangkah dengan wajah menghitamsaking emosinya."Kamu ngapain sama dia?!"Suasana seketika berubah canggung, persis seperti istri yangmemergoki suaminya berselingkuh."Cium pacarku," jawab Nerian santai, lengankekarnya semakin erat melingkar di pinggang Ayya.Tatapan Siren yang setajam belati terhunus ke arah Ayya."Ngapain sih dia ke sini?" Ayya membalas denganlirikan sinis."Heh! Mau ngapain pun gue ke sini bukan urusan lo,dasar pelakor!" sentak Siren kesetanan."Loh, jelas urusan gue. Kan gua pacarnya Nerian."Wajah tengil dan gestur sombong Ayya sukses membuat Siren kelabakan.Mata Siren menatap tajam tangan Nerian yang bertenggernyaman di pinggul Ayya. Ia menarik paksa lengan pria itu. "Lepasin!Lepasin!"Nerian menepisnya kasar, sementara Ayya ikut mendorong bahuSiren menjauh."Jangan pegang cowok gue! Dasar perempuanmurahan!" Ayya mencibir pedas, pura-pura mengusap lengan Nerian

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   02: Lupa nama.

    "Ini syarat dan perjanjian buat kerja sama. Mohon dibaca sebaik mungkin dan tanda tangan."Ayya menaruh secarik kertas yang baru saja ia cetak—lengkap dengan pulpen dan juga materai."Pihak B tidak boleh menyentuh Pihak A tanpa seizin Pihak A."Ayya mengangguk. "Iya, karena gue nggak mau dirugiin sedikit pun."Terdengar dengusan geli dari laki-laki tampan itu dan ia kembali membaca perjanjian yang tercantum. Ayya sedikit terkejut karena orang-orang yang ia temui biasanya langsung tanda tangan atau hanya membaca inti dari perjanjian."Tidak ada ciuman, pelukan, adegan intim yang merugikan Pihak A, adegan romantis tanpa kondisi penting, dan tidak ada pegangan tangan selama tidak ada orang."Nerian kembali membacakan syarat yang menurutnya sedikit menggelikan, karena tidak mungkin juga dia melakukan hal seperti itu."Kenapa? Kalo nggak setuju, ya udah, batal aja," ujar Ayya arogan."Sebentar, nama kamu siapa?" Ini sudah keempat kalinya Nerian bertanya, karena sejak tadi Ayya terus berkil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status