LOGINAyya gelagapan dan kepanikan terpancar jelas di sorot matanya. Ia berusaha untuk tenang saat Nerian melangkah menghampiri mereka.
"Kita pernah ketemu dulu, dan mungkin dia masih inget," Ayya berkilah di sela kerisauannya.
Nerian terdiam memandangi keduanya bergantian kemudian mengangguk. Ayya tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran laki-laki itu, karena sorot matanya yang begitu tenang.
"Ayo kita pulang. Aku mau ke toko sayuran dulu, ya. Mau belanja buat masak sehari-hari," ujar Ayya memeluk lengan Nerian. Gerakannya terkesan terburu-buru.
Nerian tak menyahut. Ia hanya mengangguk sekali. Mata tajamnya menatap Dion. "Kita duluan."
"Hati-hati," sahut Dion. Ia terus menatap kepergian Ayya dan Nerian hingga keduanya benar-benar hilang dari pandangannya.
"Seandainya kamu bisa sedikit buka hati buat aku, Ayy," bisiknya di sela kesunyian.
Nerian menyalakan mesin mobilnya saat Ayya sudah duduk di sisi kemudi. Ia memandangi perempuan cantik itu sekilas.
"Dion pernah jadi pacar sewaan?"
Ayya nyaris tersedak liurnya sendiri. Ia menggeleng cepat. "Nggak," selorohnya.
"Gua pernah ketemu dia dulu di perpustakaan." Itu tak sepenuhnya bohong, karena pertemuan pertama mereka memang di perpustakaan sekolah.
Nerian tak berminat melanjutkan pembahasan mereka. Mata indahnya fokus menatap jalan raya yang ramai dan terik matahari yang masih menyengat.
"Kamu kenapa nggak makan masakan luar?"
Pertanyaan itu membuat Ayya terdiam sejenak. Kemudian sambil tersenyum, ia menjawab, "Nggak biasa aja. Lebih enak masak sendiri. Lo nanti gue masakin menu andalan gue."
Lagi, Nerian kembali diam. Ia hanya bertanya sekali kemudian kembali diam setelah mendapat jawabannya.
"Jangan diem terus. Kalo ngajak ngobrol tuh diterusin gitu loh. Jangan nanya, terus diem, terus nanya lagi. Kaya apa tau!" cerocos Ayya kesal.
Suasana terasa begitu dingin dan kaku. Bahkan Ayya merasa seperti ada dinding pemisah di antara mereka.
"Ya udah, ngomong. Aku dengerin."
Ayya berdecak sebal dan memalingkan wajahnya ke sisi jalan.
Pada akhirnya mereka hanya diam dan sibuk dengan pikiran sendiri. Ayya sangat dongkol karena Nerian begitu tidak peka.
Dia hanya diam dan bukan memulai obrolan lagi, seolah memaksa Ayya untuk memecahkan keegoisannya untuk tetap diam.
Hingga tibalah di supermarket yang dekat dengan kediaman penthouse Nerian. Di saat mesin mobil belum benar-benar mati, Ayya sudah lebih dulu keluar dari mobil. Nerian hanya diam memperhatikan tingkah gadis itu.
"Mau beli apa?"
Ayya tak menyahut. Ia melengos mendorong troli dan mengambil asal apa yang ada di hadapannya.
Sekilas, mereka terlihat seperti sepasang suami-istri yang sedang bertengkar. Nerian mengejarnya, namun Ayya melangkah cepat menghindari laki-laki itu. Nerian menghela napas kasar. Soal urusan bujuk-membujuk, dia bukanlah ahlinya.
"Jalan pelan-pelan," ujar Nerian, namun Ayya justru semakin mempercepat langkahnya.
Ayya memilih beberapa buah jeruk dan saat Nerian ikut membantunya, ia langsung mengeluarkan semua jeruk yang Nerian pilih. Lagi-lagi ia hanya bisa diam dengan wajah kebingungan.
Satu hal yang Nerian sadari: Ayya sangat keras kepala.
Ting!
Pintu lift khusus menuju penthouse Nerian terbuka. Ayya yang baru pertama kali melihat hal ini pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Dari dalam lift ia bisa melihat dengan jelas pemandangan kota karena hampir seluruh elemen lift itu terbuat dari kaca yang berlapis.
"Ini seriusan?"
Nerian meliriknya. "Baru pertama kali kan naik lift kaya gini?"
Ayya mengangguk. Matanya yang dipenuhi sinar lampu perkotaan terlihat seperti bintang-bintang kecil. Kepalanya sontak mendongak saat pintu lift kembali terbuka di lantai 50.
"Sini."
Ayya mengedip cepat kemudian keluar dari lift. Lantai teratas dari gedung ini hanya memiliki satu pintu. Benar-benar sangat mewah.
"Ini kode pintunya. 010800."
Ayya tetap diam, tapi isi kepalanya sibuk menebak-nebak tentang kode itu.
Apa ini tanggal ulang tahunnya?
Atau tanggal ulang tahun pacarnya?
Suara ting dalam otaknya berbunyi saat teringat usia Nerian yang genap 28 tahun. Itu artinya, ini bukan tanggal ulang tahunnya. Mendadak rasa panas memenuhi hatinya dan wajahnya kian muram.
"Kamu keliling aja dulu. Bebas mau masuk ke ruang mana," ujar Nerian sambil melepas jasnya dan beberapa kancing kemejanya.
"Nggak! Mau tidur!" ketus Ayya. Bahkan keindahan hunian itu pun tak mampu mencerahkan suasana hatinya.
"Itu kamarnya. Ka—" Belum sempat Nerian menyelesaikan ucapannya, gadis itu sudah lebih dulu berlenggang pergi dengan langkah sedikit dihentakkan.
Pagi harinya Ayya terbangun dengan tubuh yang begitu segar. Ia meregangkan tubuhnya kemudian menatap langit biru yang begitu cerah dari balik kaca.
"Nggak rugi nerima tawarannya. Kapan lagi nikmati hidup mewah!" serunya lalu menarik napas dalam-dalam sambil terus tersenyum cerah.
Suara perutnya yang lapar tiba-tiba terdengar. Buru-buru ia turun dari kasur lalu keluar dari kamarnya.
Suasana rumah begitu sunyi dan sangat sejuk. Matanya melirik ke sekitar mencari-cari si pria tampan kaya raya itu.
"Sarapan dulu. Aku udah masak."
Ayya nyaris terjatuh dari tangga saat suara dingin Nerian menyapa telinganya.
Matanya bergerak cepat kemudian terpaku saat menatap kepala Nerian yang tengah duduk di sofa. Bisa-bisanya dia tidak melihat dengan jelas keberadaan laki-laki itu.
"Gue bisa masak sendiri," sahut Ayya sedikit tak enak.
Nerian menoleh. Ia menyimpan ponselnya kemudian menghampiri Ayya. Buru-buru Ayya pergi ke dapur, seolah Nerian serigala buas yang hendak menerkamnya. Di atas meja makan telah tersedia sarapan sederhana yang Nerian buat.
"Kamu nggak suka salad atau sandwich-nya?"
Ayya menatap makanan itu. Ia benar-benar tidak enak untuk menolak, apalagi ini sarapan pertama yang orang lain buat untuknya.
"Atau emang bener, nggak bisa makan masakan orang lain?" Nada suaranya begitu tenang namun penuh kecurigaan.
Ayya menoleh menatapnya. Ia terdiam sejenak memikirkan jawaban apa yang harus diberikan.
"Seberapa deket kamu sama Dion?"
"Nggak deket!" sanggahnya cepat.
"Gue bener-bener nggak biasa makan masakan orang lain, karena gue biasa masak sendiri."
Nerian terdiam menatapnya lekat-lekat. Tatapan yang sulit diartikan namun mampu menelan kepercayaan diri Ayya hingga habis. Gadis itu menunduk menatap ujung kakinya yang dilapisi sandal kelinci.
"Mulai sekarang harus terbiasa. Cepet duduk," ujar Nerian menarik kursi untuknya.
Ayya tak bisa lagi menghindar. Ia duduk canggung dan memperhatikan Nerian yang begitu telaten mengiris sandwich agar mudah dimakan lalu menaruh sedikit salad sayur.
Matanya berbinar bersamaan dengan kerongkongan yang tercekat serta hidung yang mendadak perih. Garpu masih menggantung di udara dan tampak sedikit bergetar karena Ayya sedang berusaha menahan sesuatu di dirinya.
Nerian yang duduk di hadapannya terus menatapnya. Ia memperhatikan seluruh gerak-gerik Ayya yang aneh. Wajahnya pucat dan tubuhnya bergetar halus. Sesekali ia menelan salivanya lalu samar-samar terdengar suara napas yang berat.
Detik berikutnya, Ayya berdiri lalu melesat pergi menuju kamar mandi. Nerian hanya diam dalam kebingungan. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu.
"Aina, kamu gapapa?"
"Nggak. Lo pergi aja ke kantor. Gue nggak apa-apa." Sahutan terdengar dari dalam. Suaranya pecah seolah dipaksa untuk keluar dari kerongkongan.
Nerian tak menyahut. Ia hanya diam menatap pintu kamar mandi di hadapannya. Lalu menyimpulkan satu hal.
"Dia hamil."
Reno yang melihat calon istrinya datang dengan gaun seksi berwarna merah menyala seketika membuat kedua matanya membulat sempurna liur nya hampir menetes saat pikiran cabul menari-nari di benak nya. " Tuan Reno, apa kabar " Ragas menyapa hangat " Baik, baik. Sangat baik " sahutnya penuh kegirangan yang tidak bisa di tutupi. Mata liarnya tak lepas dari tubuh memikat Ayya " Ini Alayya, dia baru pulang dari studi nya. Dia sengaja tampil kaya gini demi Pak Reno " Ayya yang mendengarnya ikut tersenyum manis, jauh dalam dirinya ia menahan mual yang bergejolak diperut. Rasanya ingin sekali ia membenturkan dua kepala pelontos itu sampai pecah. " Wahh, cantik sekali. Benar-benar sesuai selera saya " Ujar Reno, dari segi wajah kentara sekali dia itu pria cabul. " Ayya, cepet temenin Pak Reno sambut tamu " Dengan penuh keterpaksaan Ayya menurut, ia menemani laki-laki plontos berperut buncit dan bergigi emas----menyambut tamu yang berdatangan. Saat tangan kasar dan gemuk Re
Kamar yang semula bernuansa putih gading dengan ornamen warna-warna pastel kini terlihat begitu gelap dan banyak barang-barang yang rusak----dan barang bekas yang di taruh disana. Cahaya matahari mengintip masuk melalui sela papan kayu yang melapisi jendela di kamar itu. Di sisinya seorang perempuan lusuh tampak duduk dengan mata terpejam menunjukkan guratan merah dari urat mata yang menyembul. Tampak mengerikan sekaligus menyedihkan. Ayya memeluk tubuhnya yang meringkuk pedih di atas kasur usang. Perlahan matanya terbuka, sorot mata yang semula terlihat berbinar ceria kini jauh lebih redup dan dingin. Ia mengangkat pelan tubuhnya diiringi rasa sakit menjalar di seluruh syaraf nya. " Nih makanan nya, abisin " Seorang pelayan menaruh kasar piring berisi nasi dan lauk sisa kemudian berlenggang pergi dengan wajah sombong seolah dia baru saja memberi makan seekor peliharaan. Ayya melirik tanpa minat, ia tidak akan menyentuh makanan itu. Dirumah ini tidak ada yang aman ba
Jarum jam menunjukkan pukul 8 malam saat Nerian menyambangi kedai ayam goreng tempat Ayya bekerja. Sang pemilik toko langsung menyambutnya dengan senyuman ramah " Mau pesen apa Kak? " tanyanya ramah " Saya mau tanya, kurir makanan anda kemana ya? saya suaminya " Ujar Nerian langsung tanpa basa-basi Keterkejutan terlihat di sorot mata wanita itu, tatapannya menyapu penampilan Nerian dari atas hingga bawah. " Tadi siang saya suruh dia antar pesanan ke kantor Winata tapi sampe sekarang dia belum juga pulang, nomernya nggak aktif. Pak " Sahutnya cemas bercampur kesal " Ck! mana motor kurir dibawa dia " Gumam nya menyuarakan keresahan hatinya " Soal motor nanti saya ganti, saya permisi " Setelah itu Nerian bergegas pergi Perasaan nya semakin kacau, sejak tadi ia sudah menghubungi Ayya namun nomernya masih belum aktif. " Nggak mungkin dia kabur " Nerian kembali mengecek ponselnya dan pas sekali saat itu Riyan menghubungi nya. " Apa udah ada kabar dari Aina? " ta
" Ini, hati-hati di ya. Awas! jangan sampe hancur makanan nya " Ayya mengangguk cepat " Okey! tenang aja " serunya riang menerima bungkusan isi makanan yang akan ia antarkan. " Harus di anter ke tujuan ya!! fotoin penerima nya " pemilik kedai ayam goreng itu berteriak sambil memperhatikan Ayya yang keluar dengan dua kantong plastik penuh dengan makanan. Dengan penuh semangat Ayya mengendarai motor matic yang pakai untuk mengirim makanan. Ia mengantarkan beberapa makanan ke beberapa rumah dan beberapa toko yang memesan. " Terimakasih, order lagi ya " Ujar Ayya membuat si penerima tersenyum manis. Ayya menceklis lalu memgirim foto pesanan yang telah ia kirim. Kemudian Ayya memeriksa pesanan terkahir yang tersisa " Winata group!! " Pekik nya kemudian meriksa kembali alamat yang tertera. Dan benar, itu alamat kantor Nerian. Jantung nya berdebar tak karuan mendadak ia ingin menghilang atau pingsan saat ini juga. Ayya memikirkan banyak cara yang terlintas di kepalany
Semenjak kejadian siang tadi, disaat ia melihat Nerian bersama seorang perempuan----entah kenapa hatinya terus berdenyut sakit. Seperti ada luka kecil tak kasat mata yang perih dan menuntut sembuh. Berulang-kali Ayya menepis perasaan aneh itu, tapi rasa sakit bercampur sesak justru semakin menghimpit dadanya. Apa lagi senyuman manis Nerian saat melihat perempuan itu memakai gaun pernikahan, begitu terlihat bahagia dan tulus dan sulit hilang dari benaknya. " Curang! dia ngehindarin gue gara-gara Dion. Padahal dia sendiri yang main belakang! " gerutu nya cemburu seolah mereka memang pasangan resmi. Tubuhnya tersentak saat pintu panthouse terbuka menampilkan sosok yang sejak tadi menghantui pikiran nya. Nerian menatap nya sekilas kemudian berlalu menaiki tangga dengan wajah datar seperti biasa. " Nerian " Panggil Ayya menghentikan langkah laki-laki itu. " Kenapa? " Tidak ada senyuman tulus atau nada hangat dari laki-laki itu. " Gua mau pindah dari sini, tapi ten
Ayya mematung ketila mendengar suara dingin Nerian memanggil nya seperti itu. Suasana dapur seketika berubah dingin dan senyap. " Kenapa Dion manggil kamu kaya gitu? kalian pasti pernah ada hubungan kan " Ayya tergagap, lidahnya kelu dan seluruh kulit kepalanya terasa kebas. Ayya terlihat seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan: gugup, bengong dan berusaha kabur dari pertanyaan itu " Dia dari dulu manggil nya gitu, bukan karena ada hubungan. Kam Aina, Ai Ai sama kaya Ayy. Gitu.... mungkin " Semakin menjelaskan semakin terlihat celah kecurigaan nya. Ayya mematikan kompor lalu berseru senang karena opor nya sudah matang. Aroma harum masakan itu mengalihkan sejenak pikiran Nerian, ditatap nya kuah kuning kental yang terlihat menggiurkan dengan kepulan asam pembangkit rasa lapar. " Ini spesial buat lo, bagian paling enak dari ayam" Ujar Ayya menaruh sepotong paha dalam mangkuk lalu meletakkannya ke depan Nerian. " Aku tau kamu lagi nyembunyiin sesuatu " Nerian mencecar nya







