MasukRISE ABOVE THE ZODIACS SERIES | Dos - PISCES Free Phillian Zodiac is a frustrated painter and a full-time fisherman. Mula gabi hanggang madaling araw ay nasa gitna ito ng karagatan kasama ang mga tauhan para mangisda, at sa umaga naman ay tulog at nagtatago sa araw. In the afternoon, when the sky is red, he would go out of his room and sit on his veranda overlooking the mountains and the sea, and from there, he would start painting. He paints everything his eyes could see, and not a lot of people know this. Isang hapon, habang nasa veranda siya ng kaniyang silid at ipinipinta ang karagatan ay may nakita siyang palutang-lutang na kahoy sa dalampasigan. Using his binoculars, he learns that it isn't just a piece of wood but a raft with a person on it. An unconscious--probably almost dead person who might need some help. Naisip niyang baka isa iyon sa mga mangingisdang nagkaroon ng aksidente sa gitna ng karagatan. At dahil siya ang nakakita ay responsibilidad niyang tulungan ang taong iyon, lalo at nasa bahagi ito ng beach na pag-aari na ng pamilya niya. Nang marating niya ang baybayin ay saka niya napagtantong hindi mangingisda ang naroon, but a woman wearing a bridal gown. Nakadapa ito at nanginginig sa lamig. He saved her and brought her to his place. His female assistant nursed her, and when she woke up the next morning, she claimed to have no memory of the night before. Naisip niya na maaaring nagka-trauma ito kaya nalimot ang nangyari, pero anong gulat niya nang magkaharap sila sa unang pagkakataon ay bigla siya nitong pinagmumumura at binato ng kung anu-anong madampot nito. Odd, but she knows him, and she is furious at him. Bakit daw hindi siya sumipot sa kasal nila? Like, what the f*ck?
Lihat lebih banyak"Jaga dia dimanapun berada Ya Allah, titip dan temani Zahra selalu."
Antara sadar dan tidak aku terhenyak seketika mendengar doa yang dipanjatkan suamiku di atas sejadah, kulirik jam di atas nakas menunjukan pukul tiga dini hari. Hal yang biasa dilakukan suamiku yaitu shalat tengah malam. Tapi kali ini ada yang membuatku terkejut hingga mata ini mendadak awas.
Khawatir salah mendengar, aku mencoba tetap tenang bersembunyi di balik selimut memastikan suamiku akan menyebut kembali nama perempuan lain, bukan namaku atau nama ibunya sekalipun. Zahra? Nama siapa yang disebutnya?
Lama menunggu tapi Mas Raihan tak menyebut nama itu lagi. Kuhempas jauh pikiran negatif yang mendadak hadir, mungkin aku salah mendengar. Perlahan aku bangkit tentu saja membuat Mas Raihan menoleh.
"Sudah bangun?" tanyanya dengan senyum yang selalu membuatku selalu jatuh cinta.
"Sudah Mas, kenapa gak bangunkan aku. Kita bisa sholat sama-sama."
Mas Raihan tersenyum, lalu bangkit dan berjalan menuju ke arahku. Terduduk di sampingku, lalu ia menatap wajah ibu begitu lekat. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapannya.
"Ada apa sih, Mas. Kok menatap aku kayak gitu?"
"Nggak apa-apa, kamu cantik kalau bangun tidur."
"Ish, mulai gombal. Udah ah, gak bakalan bener kalau Mas Raihan udah kayak gitu, aku ke air dulu."
"Habis ke air?" tanyanya penuh arti.
Aku tak menjawab pertanyaan Mas Raihan yang disertai tatapan genit, berjalan menuju kamar mandi. Menatap diri di cermin, mendadak pikiranku kembali kacau. Lima tahun menikah dengan Mas Raihan, meski belum dikaruniai buah hati tapi Mas Raihan tak pernah sedikitpun membuatku kecewa, bahagiaku di atas kebahagiaannya. Tapi kenapa ada nama perempuan lain yang disebutnya dalam doa malam ini, sekian malam selalu kulewati dengannya tak pernah ku dengar nama itu disebut.
Hani, Lani dan Kiana adalah tiga perempuan yang sempat mewarnai hari-hari Mas Raihan saat muda dulu, ya ketiga nama itu Mas Raihan ceritakan. Tidak sempat berpacaran dengan mereka hanya saja sempat dekat dan sempat terbesit untuk menikahi salah satu di antara mereka. Sedangkan Zahra? Ah, nama itu belum pernah Mas Raihan ceritakan atau sengaja Mas Raihan tak menceritakan hal itu.
Ketukan pintu membuyarkan lamunan, bayangan akan peristiwa singkat tapi mampu membangkitkan insting terpekaku menjadi seorang istri, aku mengusap wajah.
"Kamu baik-baik saja, kan sayang?"
"Iya, Mas. Biasa mules jadi senyap," ucapku berbohong saat Mas Raihan bertanya dari luar.
Segera kuselesaikan aktivitas di dalam kamar mandi agar Mas Raihan tak mencurigaiku. Bibir ini mengguratkan senyum di antara hati yang penuh tanya, ingin rasanya kutanyakan langsung pada lelaki yang sudah memberikan aku banyak kebahagiaan meski pernikahan kami terjadi karena sebuah perjodohan.
Ya, aku dijodohkan dengan Mas Raihan. Orang tua Mas Raihan adalah sahabat dekat orang tuaku, mereka dulu satu gengs di sekolah. Lama tak bertemu lalu media sosial kembali mempertemukan mereka dan menyadari mereka sudah memiliki anak gadis dan bujangan. Hingga perjodohan itu terjadi, tapi sikap Mas Raihan tak ada yang janggal atau menolak justru dia sangat hangat hingga membuatku tak menolak perjodohan ini.
"Sayang, Mas berangkat lebih pagi hari ini."
Aku sedikit mengerutkan dahi, ucapan Mas Raihan sesaat setelah aku sembahyang membuat pikiranku kembali tak benar.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Nggak apa-apa, Mas. Kok tumben, ini kan hari Jumat biasanya agak siang."
"Ya, kebetulan ada kerjaan yang harus segera selesai daripada besok Mas harus masuk, nanti istri Mas yang cantik manyun gara-gara weekend masuk kerja," ucapnya seraya mencubit pipi ini.
Wanita mana yang tak terbuai dengan kalimat itu, aku pun menahan malu mendengarnya tapi pipi ini mungkin sudah memancarkan warna pink kemerah-merahan yang menggambarkan suasana hati. Ah, bagaimana bisa aku berpikir Mas Raihan memiliki wanita idaman lain sementara sikapnya selama ini tak ada yang berubah sedikitpun.
"Sini," ajaknya menarik tanganku agar ikut duduk di tepi ranjang.
"Aku lepas mukena dulu, Mas."
"Gak perlu, aura kecantikan kamu lebih terpancar saat memakai mukena."
Lagi, hati ini bak dibawa terbang ke langit ke tujuh, terbuai dan sungguh melenakan. Lelaki itu menatapku penuh cinta, fiks tadi aku hanya cemburu. Bisa saja tadi aku salah mendengar, membuang semua itu dan menikmati waktu ini bersama lelaki yang namanya selalu tersemat di dalam hati ini.
"Hati-hati di rumah ya, kalau mau keluar jangan lupa kabari aku," pesannya sesaat sebelum berangkat bekerja.
"Siap komandan, hati-hati juga untuk kamu Mas. Jaga hatiku tetap di hati kamu," ucapku.
Ada senyum di wajahnya yang kubaca dengan sesuatu yang aneh. Ah, lagi-lagi insting ini berkata lain tapi aku harus coba menepisnya. Lambaian tangan dan ucapan salam menuntaskan perpisahan pagi ini, aku kembali masuk ke dalam rumah baru tiba di ruang tamu langkah ini terhenti saat mendengar sebuah sepeda motor terparkir di luar pagar.
"Hanifa," gumamku.
"Assalamualaikum, Mbak."
"Waalaikumsalam, Mas Raihan baru saja berangkat. Ada apa?" tanyaku.
"Aku bukan mau ke Mas Raihan kok, Mbak. Aku mau ke Mbak," ucapnya.
"Oh, ayo masuk."
Aku pun mengajak Hanifa, adik Mas Raihan satu-satunya. Tampilan sudah rapi dan sangat berbeda dari biasanya, Hanifa masih kuliah di semester lima. Dia memang sering main ke rumah, tapi kali ini beda kenapa sepagi ini sudah datang.
"Mbak, aku boleh pinjam dress warna pink. Kebetulan aku gak punya, hari ini ada acara spesial soalnya dresscode nya pink."
Pink
Tetiba aku teringat Mas Raihan pun barusan pakai baju Pink? Apa ini sebuah kebetulan atau?
"Acara apa dek?" tanyaku.
"Launching butik kakak kelas waktu di SMA, mbak. Dia baru balik dari luar negeri terus buka butik gitu. Aku pengen banget ketemu dia," jelasnya dengan gembira.
"Oh, sebentar Mbak ambilkan."
Tanpa menunggu lama aku pun mengambil baju yang akan kupinjamkan kebetulan ada beberapa baju dengan warna yang diinginkan Hanifa, tubuh kami memang tak jauh berbeda, Hanifa memang sering meminjam baju, kerudung, sepatu, tas dan itu semua tak aku permasalahkan. Aku yang hanya anak tunggal, merasa bersyukur diberikan kesempatan merasakan punya adik apalagi Hanifa adalah anak yang baik.
"Terima kasih ya, Mbak."
Aku hanya mengangguk dan tersenyum, Hanifa pamit mengganti bajunya. Sementara aku kembali memikirkan kejanggalan pagi ini, teringat tadi pagi Mas Raihan menanyakan kemeja pink hadiah ulang tahunnya dariku dua tahun yang lalu, kemeja yang hanya dipakai saat aku memakai baju yang sama kebetulan baju itu memang aku pesan berpasangan. Aku tak menaruh curiga apapun tapi saat Hanifa datang dan dia pun menggunakan baju yang sama mendadak pikiran ini kembali berkecamuk. Ada apa dengan hati ini?
Dering ponsel menarikku dari lamunan, itu dering ponsel Hanifa. Aneh, biasanya aku paling tak peduli tapi kali ini merasa penasaran dengan penelpon yang sejak tadi melakukan panggilan terus. Perlahan aku dekati tas Hanifa, lalu mencari ponselnya dan saat menemukannya.
Mata ini membulat sempurna menatap nama kontak yang melakukan panggilan pada Hanifa "Kak Zahra"?
"Come on, honey," si Charles na kanina pa nakangising nakikinig sa likuran. "You are being too harsh on Calley." Nilapitan siya nito at tinulungang makatayo.Nasusuka siya sa itsura ni Charles Xiu; gusto niya itong itulak, sampalin, saktan. Sigawan at sabihing napakasama nilang mga tao, pero pinili pa rin niyang maging kalmado. Hindi nga lang niya mapigilan ang mga luha.Hindi niya alam kung gaano pa katagal ang kailangan niyang hintayin bago dumating ang tulong, but she had to buy time. And she had to keep them talking."Charles, please convince Esther to let me know..." kunwari ay pagmamakaawa niya sa hayop. Alam niyang hindi rin ito naiiba kay Esther; pareho ang mga itong mas masahol pa sa hayop.
Anim na pulgada lang ang laki ng binata sa banyo at may taas na dalawang metro mula sa tiled floor. Kahit pumatong siya sa toilet bowl at maabot ng bintanang iyon ay hindi pa rin niya magagawang mailabas ang sarili mula roon.Not with the size of boobs she had. Not with the size of her thighs, and her bum. Hindi kakasya ang katawan niya sa bintanang iyon, kaya walang pag-asang makalalabas siya roon kahit pa maabot niya.Binuksan niya ang gripo upang lumikha ng ingay ang tubig na nasa-sahod na balde. Malakas ang pressure ng tubig kaya malakas din ang ingay na nililikha niyon—ingay na sapat upang takpan ang balak niyang gawin. Ni-lock niya ang pinto ng banyo at humakbang siya sa pinaka-dulong section ng CR upang lalong lumayo sa pinto. She then took the billing paper and her phone out. Mabilis niyang ni-t
Mabilis na naitago ni Calley ang cellphone sa loob ng pants nang maramdaman ang pag-unlock ng trunk ng kotse kung saan siya kasalukuyang nakayupyop. Hindi nagtagal ay bumukas iyon, at ang bumungad sa kaniya ay ang isa sa dalawang lalaki na pwersahang kumuha sa kaniya kanina sa harap ng beach house. "Labas na, tisay," utos nito na ikina-igtad niya. Sumakit ang kaniyang likod sa pagkaka-baluktot kaya hindi siya kaagad na nakakilos. Dagdagan pa ang labis na takot na nararamdaman niya sa mga sandaling iyon. "Bingi ka ba?" untag lalaki ng lalaki nang hindi siya kumilos. He was a man in his mid-thirties, mahaba ang buhok na naka-ponytail ay balbas-sarado. Nakasuot ito ng denim jacket at itim na tshirt. Ang anyo ay na
"Hey, hindi pa rin ba bumabalik si Calley?" Ang pagdadala ni Aris ng tasa ng kape sa bibig ay naudlot nang marinig ang tanong ni Phillian. Nasa mukha ng huli ang labis na pag-aalala, ang mga kilay ay magkasalubong, ang buhok ay magulo pa. Itinuloy ni Aris ang paghigop ng kape habang ang tingin ay hindi humihiwalay sa kapatid. "What do you mean? Didn't you sleep in one room?" Hindi pinansin ni Phillian ang panunukso ng kapatid. Itinuloy nito ang pagpasok sa kusina at sumilip sa labas ng bintana habang itinutuloy ang pagbubutones ng suot na shirt.
Naramdaman niya ang pagkalat ng init sa magkabila niyang mga pisngi matapos ang sinabi ni Phillian. She didn't expect that at her age, she would still blush with a compliment.
Hindi alam ni Calley kung ano ang unang mararamdaman nang marinig ang tinig ni Phillian. Nahahati siya sa labis na tuwa at pag-aalala.Natutuwa siya dahil wala siya sa pa
Bago sumakay sa pick up truck ay muling humugot nang malalim na paghinga si Calley. Mula sa kinatatayuan ay ramdam niya ang bigat ng awra sa loob ng sasakyan. Hindi na siya magugulat kung bumangga sila mamaya at hindi makarating nang
Tahimik na pumasok si Phillian sa kusina ng beach house bitbit ang isang malaking blue marlin fish na isa lamang sa mga nahuli nila kaninang madaling araw. Inilagay nito iyon sa lababo saka binuksan ang gripo at naghugas ng mga kamay






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ulasan-ulasan