LOGIN"Ya, Pak. Saya baik-baik saja," jawab Rachel dengan suara pelan, menatap Vincent dengan tatapan meminta maaf. "Vincent, kamu pulang dulu saja, ya. Nanti aku telepon kamu."
Vincent akhirnya pergi dengan wajah yang kecewa dan dengan langkah yang gontai, diiringi oleh dua orang satpam yang memang sudah dipanggil oleh Gerard via ponselnya sejak tadi.
Setelah Vincent pergi, suasana di kantin masih hening. Semua karyawan menahan napas, menatap drama yang terjadi di sudut kantin itu.
"Kamu tahu siapa dia, kan?" tanya Gerard, suaranya tiba-tiba melemah, tidak lagi mengancam, tapi memohon. "Tolong, Vincent. Kalau kamu tahu, bilang. Aku mohon."Vincent menatap Gerard yang sekarang terlihat sangat lelah, sangat rapuh, tidak seperti CEO yang mengancam dengan detektif tadi. Ia menatap pria yang ternyata menderita karena tidak ingat.Tapi ia ingat janji kepada Rachel."Maaf, Gerard. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu siapa wanita di mimpi kamu. Aku hanya petani di Millfield."Gerard tertawa pahit."Petani yang baca artikel tentang amnesia di internet...""Iya."Hening lama di teras itu. Hanya suara ayam berkokok dan angin pagi.Akhirnya Vincent yang membuka suara lagi, dengan nada lelah."Gerard... kalau tidak ada perlu lagi, aku minta kamu pergi dari Kara Farm."Gerard mengangkat kepala."Apa?""Tolong pergi dari sini. Mungkin perjanjian dengan W-Hotel juga bisa dibatalkan. Aku tidak peduli. Kami tidak butuh kontrak dengan W-Hotel kalau harus seperti ini. Kami bisa jual tel
Rachel menggelengkan kepalanya cepat, terlalu cepat."Tidak. Tidak pernah. Saya tidak pernah bertemu Anda. Uhm ... anda duduk saja di bangku teras. Saya akan panggilkan Vincent." Rachel semakin gugup saja. Ia tak bisa menutupi ekspresi terkejutnya kepada Gerard.Gerard pun mengikuti Rachel sampai ke teras. Teras kayu Kara Farm yang sederhana, dengan dua bangku kayu panjang dan meja kayu kecil tempat biasanya Ibu Kara menaruh teh.Rachel berjalan cepat masuk ke dalam gudang, hampir berlari, dengan napas terengah.Di dalam gudang, Vincent baru saja merapikan barang-barang."Vin! Vin!" bisik Rachel dengan panik, menarik tangan Vincent."Rae? Kenapa? Kamu kenapa pagi-pagi sudah panik?""Gerard... Gerard ada di luar! Di teras!"Vincent langsung menyemburkan kopinya."Apa? Gerard? Dia di luar?""Iya! Dia tanya kamu! Dia di teras sekarang! Cepat temui dia!"Rachel memegang tangan Vincent erat. Wanita itu sangat ta
"Ya sudah. Mau bagaimana lagi." Rachel juga tak tahu harus berbuat apa."Hmm ... lebih baik kita ganti nama Rachel saja. Mungkin dengan mengganti namanya, Gerard akan sulit mengingat." usul Pak Osborn."Ide Bagus.""Lalu, nama apa yang kamu suka, Rae?" tanya Vincent."Venetta?""Baiklah. Mulai sekarang, kami akan memanggilmu Venetta atau Netta?"Rachel menganggukkan kepalanya.Bahkan sekarang, Pak Osborn sudah memerintahkan semua pegawainya untuk memanggil nama Netta saja kepada Rachel.*Keesokan harinya, jam tujuh pagi. Gerard sudah keluar dari rumah sakit. Rasa penasarannya akan Vincent sudah tak terbendung lagi. Bahkan semalaman, ia sulit tidur.Ia menumpang truk pickup petani yang kebetulan lewat, yang mau ke Millfield untuk menjual susu."Anak kota mau apa ke Millfield pagi-pagi begini?" tanya petani tua itu sambil menyetir."Mau ketemu seseorang, Pak" jawab Gerard singkat.D
Kara Farm"Sebenarnya kamu bicara apa sama Gerard... sehingga dia bisa pingsan?" tanya Rachel yang terlihat penasaran sekaligus kesal kepada Vincent.Pertanyaan itu membuat Ibu Kara dan Pak Osborn langsung menatap Vincent juga.Vincent terdiam, menunduk, memegang cangkir tehnya erat."Aku... aku tidak bicara apa-apa yang berat, Rae...""Jangan bohong, Vin. Aku lihat kamu bicara dengan Gerard sebelum dia pingsan. Katakan sejujurnya!"Vincent menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa bohong lagi kepada Rachel."Oke... oke aku jujur..."Vincent menatap Rachel, lalu menatap Ibu Kara dan Pak Osborn."Tadi Gerard tanya aku, apa aku kenal dia. Dia curiga aku bohong. Terus aku bilang... aku bilang...""Apa, Vin? Bilang apa?" tanya Rachel dengan cemas."Aku bilang kalau aku sudah janji sama seseorang untuk tidak mengatakan apapun kepada dia. Tapi kalau kamu mau tahu yang sebenarnya tentang masa lalunya mak
"Tapi, kamu harus tetap ditemani oleh Elena. Takutnya ada masalah dan tak ada yang membantu kamu. Takutnya pingsan lagi dan tidak ada yang tahu, Ger." Tamara berkata itu sambil meremas tas Hermes-nya erat. Matanya tidak lepas dari wajah anaknya yang masih terlihat pucat itu.Elena langsung mengangguk cepat, hampir terlalu cepat. Ia langsung meraih tangan Gerard yang terpasang infus."Iya, Tante. Aku temani Gerard di sini. Aku tidak akan kemana-mana. Aku tidur di sini juga tak apa-apa."Gerard menarik tangannya pelan. Tidak kasar, tapi tegas.Lalu pria itu berkata, dengan suara yang lebih tegas lagi, bahkan urat di lehernya sedikit menegang. "Aku butuh sendiri saja, Ma. Tenang saja, aku tak akan kemana-mana. Aku hanya butuh sendiri. Berikan aku waktu untuk istirahat sendirian."Ruangan IGD bed 3 yang hanya dibatasi tirai tipis itu langsung hening. Suara berisik dari bed sebelah jadi terdengar jelas.Tamara ragu. Alisnya mengernyit."Sendiri? Di rumah sakit kecil seperti ini? Sendiri ba
Gerard diam lama, menatap langit-langit IGD, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Kepalanya masih berdenyut, tapi ia tahan."Aku... aku tidak ingat apapun. Mungkin... aku hanya lelah dan kepanasan sehingga aku pingsan," Gerard berbohong.Suaranya dibuat datar, lelah. Ia menatap Tamara tanpa ekspresi. Terus terang saja, ia ingin menyelidikinya sendiri. Ia tak mau kalau nantinya Tamara maupun Elena ikut campur dalam pencarian masa lalunya. Jika ia jujur, maka mereka semua akan curiga. Tamara pasti akan mengunci semua akses, sama seperti yang Tamara lakukan selama ini.Tamara duduk di samping bed, memegang tangan Gerard erat. Tangannya dingin, cincin berlian besar di jarinya menekan kulit Gerard."Apakah kamu bertemu dengan orang yang berkata sesuatu kepadamu?" lanjut Tamara seperti menginterogasi anaknya saja. Nada suaranya pelan, tapi matanya tajam, menyelidik."Bertemu? Bertemu siapa, Ma?" tanya Gerard pura-pura bingung. Ia mengernyitkan dahi, memas







