首頁 / Romansa / PAK BOS MAU CLBK / 4 - Gerard Ke Apartemen Rachel

分享

4 - Gerard Ke Apartemen Rachel

作者: Siez
last update publish date: 2026-07-23 12:33:31

Hujan turun dengan sangat deras di Bronx malam itu.

Langit New York yang biasanya dihiasi cahaya lampu gedung-gedung pencakar langit, malam itu hanya berwarna hitam pekat dan kelam. Air hujan menghantam atap-atap seng apartemen murah dengan suara yang keras, mengalir menjadi sungai kecil di jalanan yang berlubang.

Di depan pintu Apartemen 3B, sebuah gedung petak yang catnya sudah mengelupas dan lampunya yang berkedip-kedip, berdiri seorang pemuda.

Pemuda itu adalah Gerard Winston.

Pakaian yang ia kenakan basah kuyup. Jaket varsity kesayangannya yang berwarna biru tua itu sudah tidak lagi terlihat biru, melainkan hitam karena air hujan. Rambutnya yang biasanya tertata rapi, kini menempel lepek di dahinya. Wajahnya pucat, bibirnya membiru karena kedinginan, tetapi matanya... matanya masih menyala dengan api yang sama. Api cinta yang terluka, api kebingungan yang mendalam, dan api penolakan yang tidak bisa ia terima.

Sudah tiga jam ia berdiri di sana.

Setelah menerima pesan putus yang kejam dari Rachel via W******p, Gerard tidak percaya. Ia tidak bisa percaya. Ia mengenal Rachel. Ia mengenal gadis yang setiap kali ia demam, akan datang membawakan bubur ayam yang ia buat sendiri meskipun rasanya keasinan. Ia mengenal gadis yang akan tertawa terbahak-bahak ketika ia mencoba memasak mi instan dan gagal. Rachel yang ia kenal bukanlah Rachel yang matre dan kejam seperti di dalam pesan itu.

Pasti ada sesuatu. Pasti ibunya mengatakan sesuatu yang sangat kejam kepada Rachel. Pasti ada yang mengancam Rachel.

Oleh karena itu, Gerard berlari. Ia berlari dari kantin NYU yang sudah tutup, menerobos hujan deras tanpa payung, naik kereta bawah tanah yang bau, dan berlari lagi sejauh dua kilometer dari stasiun ke apartemen Rachel di Bronx. Ia harus bertemu dengan Rachel. Ia harus mendengar semuanya langsung dari bibir Rachel.

Ia mengetuk pintu.

Tok. Tok. Tok.

"Rachel? Rachel, ini aku, Gerard."

Tidak ada jawaban dari dalam.

"Rachel, aku tahu kamu di dalam. Tolong buka pintunya, Sayang. Kita bicara. Kumohon."

Dari dalam apartemen, terdengar suara langkah kaki yang ragu-ragu. Lalu terdengar suara isakan yang ditahan. Itu suara Rachel. Gerard mengenal suara isakan itu.

"Gerard... tolong pergi," terdengar suara Rachel dari balik pintu yang tipis itu. Suaranya serak dan pecah. "Aku sudah bilang semuanya di pesan. Kita sudah selesai. Jangan ganggu aku lagi."

"Rachel, jangan seperti ini! Aku tidak percaya dengan pesan kamu itu! Kamu bukan seperti itu! Apa yang ibuku katakan kepada kamu? Katakan kepada aku! Kita hadapi bersama!"

"Aku tidak mau! Aku sudah tidak mencintai kamu lagi! Aku bosan dengan kamu! Pergi!"

Kebohongan itu terdengar sangat menyakitkan, bahkan melalui pintu yang tertutup.

Pada saat itu, pintu kamar sebelah terbuka. Maria Vels, ibu Rachel, keluar dengan wajah bingung dan khawatir. Wanita itu masih mengenakan celemek dapur yang kotor.

"Gerard? Nak Gerard? Ya Tuhan, kamu basah kuyup! Kamu kenapa di sini malam-malam begini dalam hujan? Masuklah, Nak!"

Maria Vels sangat menyayangi Gerard. Bagi wanita itu, Gerard adalah satu-satunya cahaya di tengah kehidupan mereka yang suram. Pemuda kaya yang tidak pernah memandang rendah mereka, yang selalu sopan memanggilnya "Tante Maria", yang selalu membawakan buah-buahan untuknya.

"Gerard, ada apa? Rachel bilang kalian bertengkar?"

Belum sempat Gerard menjawab, pintu utama apartemen yang reyot itu kembali terbuka dengan kasar dari dalam. Frank Vels, ayah Rachel, muncul dengan wajah merah padam karena alkohol dan amarah.

Frank baru saja mendengar semua percakapan itu. Dan bagi seorang ayah yang pemabuk dan penuh dengan rasa rendah diri, melihat seorang pemuda kaya raya berdiri di depan pintu rumahnya dalam hujan adalah sebuah penghinaan. Ia merasa bahwa pemuda ini adalah penyebab semua masalah keluarganya.

"JADI KAMU ANAK WINSTON ITU, YA?" teriak Frank dengan napas yang bau alkohol. "ANAK MILIARDER YANG MENGHINA KELUARGA KAMI?"

"Tuan, bukan ..."

"DIAM! ANAK KU SUDAH BILANG DIA TIDAK MAU BERTEMU DENGAN KAMU! APA KAMU TULI? PERGI DARI SINI! KAMI ORANG MISKIN TIDAK SUDI MENERIMA BELAS KASIHAN DARI KELUARGA KAYA SEPERTI KALIAN!"

"Tuan, tolong dengarkan saya ..."

Frank yang sudah kehilangan akal sehat karena alkohol dan utang tidak mau mendengarkan. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia mengayunkan tangannya dan memukul wajah Gerard dengan keras.

BUK!

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • PAK BOS MAU CLBK   86 - Kembali Ke Kara Farm

    "Ya sudah. Mau bagaimana lagi." Rachel juga tak tahu harus berbuat apa."Hmm ... lebih baik kita ganti nama Rachel saja. Mungkin dengan mengganti namanya, Gerard akan sulit mengingat." usul Pak Osborn."Ide Bagus.""Lalu, nama apa yang kamu suka, Rae?" tanya Vincent."Venetta?""Baiklah. Mulai sekarang, kami akan memanggilmu Venetta atau Netta?"Rachel menganggukkan kepalanya.Bahkan sekarang, Pak Osborn sudah memerintahkan semua pegawainya untuk memanggil nama Netta saja kepada Rachel.*Keesokan harinya, jam tujuh pagi. Gerard sudah keluar dari rumah sakit. Rasa penasarannya akan Vincent sudah tak terbendung lagi. Bahkan semalaman, ia sulit tidur.Ia menumpang truk pickup petani yang kebetulan lewat, yang mau ke Millfield untuk menjual susu."Anak kota mau apa ke Millfield pagi-pagi begini?" tanya petani tua itu sambil menyetir."Mau ketemu seseorang, Pak" jawab Gerard singkat.D

  • PAK BOS MAU CLBK   85 - Dan Kalau Dia Kembali Lagi?

    Kara Farm"Sebenarnya kamu bicara apa sama Gerard... sehingga dia bisa pingsan?" tanya Rachel yang terlihat penasaran sekaligus kesal kepada Vincent.Pertanyaan itu membuat Ibu Kara dan Pak Osborn langsung menatap Vincent juga.Vincent terdiam, menunduk, memegang cangkir tehnya erat."Aku... aku tidak bicara apa-apa yang berat, Rae...""Jangan bohong, Vin. Aku lihat kamu bicara dengan Gerard sebelum dia pingsan. Katakan sejujurnya!"Vincent menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa bohong lagi kepada Rachel."Oke... oke aku jujur..."Vincent menatap Rachel, lalu menatap Ibu Kara dan Pak Osborn."Tadi Gerard tanya aku, apa aku kenal dia. Dia curiga aku bohong. Terus aku bilang... aku bilang...""Apa, Vin? Bilang apa?" tanya Rachel dengan cemas."Aku bilang kalau aku sudah janji sama seseorang untuk tidak mengatakan apapun kepada dia. Tapi kalau kamu mau tahu yang sebenarnya tentang masa lalunya mak

  • PAK BOS MAU CLBK   84 - Gerard Cari Alasan

    "Tapi, kamu harus tetap ditemani oleh Elena. Takutnya ada masalah dan tak ada yang membantu kamu. Takutnya pingsan lagi dan tidak ada yang tahu, Ger." Tamara berkata itu sambil meremas tas Hermes-nya erat. Matanya tidak lepas dari wajah anaknya yang masih terlihat pucat itu.Elena langsung mengangguk cepat, hampir terlalu cepat. Ia langsung meraih tangan Gerard yang terpasang infus."Iya, Tante. Aku temani Gerard di sini. Aku tidak akan kemana-mana. Aku tidur di sini juga tak apa-apa."Gerard menarik tangannya pelan. Tidak kasar, tapi tegas.Lalu pria itu berkata, dengan suara yang lebih tegas lagi, bahkan urat di lehernya sedikit menegang. "Aku butuh sendiri saja, Ma. Tenang saja, aku tak akan kemana-mana. Aku hanya butuh sendiri. Berikan aku waktu untuk istirahat sendirian."Ruangan IGD bed 3 yang hanya dibatasi tirai tipis itu langsung hening. Suara berisik dari bed sebelah jadi terdengar jelas.Tamara ragu. Alisnya mengernyit."Sendiri? Di rumah sakit kecil seperti ini? Sendiri ba

  • PAK BOS MAU CLBK   83 - Kebohongan

    Gerard diam lama, menatap langit-langit IGD, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Kepalanya masih berdenyut, tapi ia tahan."Aku... aku tidak ingat apapun. Mungkin... aku hanya lelah dan kepanasan sehingga aku pingsan," Gerard berbohong.Suaranya dibuat datar, lelah. Ia menatap Tamara tanpa ekspresi. Terus terang saja, ia ingin menyelidikinya sendiri. Ia tak mau kalau nantinya Tamara maupun Elena ikut campur dalam pencarian masa lalunya. Jika ia jujur, maka mereka semua akan curiga. Tamara pasti akan mengunci semua akses, sama seperti yang Tamara lakukan selama ini.Tamara duduk di samping bed, memegang tangan Gerard erat. Tangannya dingin, cincin berlian besar di jarinya menekan kulit Gerard."Apakah kamu bertemu dengan orang yang berkata sesuatu kepadamu?" lanjut Tamara seperti menginterogasi anaknya saja. Nada suaranya pelan, tapi matanya tajam, menyelidik."Bertemu? Bertemu siapa, Ma?" tanya Gerard pura-pura bingung. Ia mengernyitkan dahi, memas

  • PAK BOS MAU CLBK   82 - Apa Ingatanmu Sudah Pulih?

    "Tekanan darah cukup tinggi, 148 tadi. Stres tinggi, kurang istirahat, banyak pikiran, dan juga terlalu sering makan obat insomnia dan pain killer. Kombinasi itu membuat sistem sarafnya sensitif. Jika ada satu pemicu saja, bisa membuat Gerard kehilangan kesadaran. Pemicu itu bisa banyak: kelelahan, udara dingin, emosi, atau kelelahan mental. Sinkop vasovagal karena stres."Tamara langsung menatap Elena dengan tajam."Stres tinggi? Kurang istirahat? Terlalu sering makan obat insomnia? Elena, kamu kan tunangannya, kamu tidak jaga dia?"Elena tertunduk. Bahkan dia sendiri tak tahu apa saja obat yang sering dimakan oleh Gerard. Pria itu tak pernah memberitahukannya. Bahkan saat Elena ingin pindah ke apartemen Gerard saja, pria itu tak mau. Dia butuh waktu sendiri."Aku sudah suruh dia istirahat, Tante... tapi dia tidak mau..."Dr. Arasto menepuk bahu Elena."Bukan salah kamu, Elena. Ini akumulasi. Gerard ini memang sejak operasi selesai da

  • PAK BOS MAU CLBK   81 - Gerard Di Rumah Sakit

    Ngin... ngin... ngin...Sirine ambulans putih North Country Hospital meraung memecah jalan raya Route 7 yang sepi. Mobil-mobil pickup petani Vermont menepi memberi jalan. Di dalam ambulans, suasananya tegang dan dingin ber-AC.Gerard terbaring di tandu dengan selang oksigen di hidung, mata masih terpejam, wajah pucat. Di sampingnya, Elena duduk memegang tangan Gerard erat, coat bulu putihnya masih kotor lumpur Millfield di bagian bawah, tapi ia tidak peduli. Tangannya yang satu memegang ponsel, mencoba menelepon dengan tangan gemetar.Tim paramedis di depan fokus menyetir cepat."Tekanan darah 150/95, agak tinggi. Nadi 98. Saturasi 96. Stabil tapi sinkop," kata paramedis kepada partnernya.Elena mendengar itu langsung menelepon.Akhirnya Gerard sampai di rumah sakit bersama dengan Elena. Ambulans berhenti di depan IGD kecil North Country Hospital di Newport, rumah sakit yang bangunannya hanya dua lantai, jauh berbeda dengan Mount Sinai di Manhattan yang gedungnya 20 lantai.Pintu IGD

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status