หน้าหลัก / Romansa / PAK BOS MAU CLBK / 3 - Kalimat Seperti Belati Yang Menusuk

แชร์

3 - Kalimat Seperti Belati Yang Menusuk

ผู้เขียน: Siez
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-23 12:25:43

Selama satu menit penuh, tidak ada balasan. Tanda centang dua biru itu menunjukkan bahwa Gerard telah membaca pesannya, tetapi tidak ada balasan. Rachel bisa membayangkan dengan jelas apa yang terjadi di kantin kampus yang sudah hampir tutup itu. Gerard pasti sedang mengerutkan keningnya, menatap layar ponselnya dengan bingung, mengira bahwa pacarnya sedang melontarkan lelucon yang sama sekali tidak lucu.

Gerard: Apa maksud kamu, Rachel? Jangan bercanda seperti ini. Aku tidak suka bercanda seperti ini.

Gerard: Rachel? Jawab aku.

Gerard: Sayang?

Air mata Rachel kembali mengalir. Ia menggigit bibirnya yang sudah pecah-pecah sampai berdarah agar tidak mengeluarkan suara isakan yang keras. Ia harus lebih kejam. Ia harus menjadi pisau yang lebih tajam.

Rachel: Aku tidak bercanda, Gerard. Aku bosan. Aku benar-benar bosan dengan kamu dan dengan hubungan kita.

Rachel: Aku bertemu dengan ibumu hari ini. Mrs. Tamara Winston menemuiku di kantornya.

Balasan Gerard kali ini lebih cepat.

Gerard: APA? Ibuku menemuimu? Kapan? Di mana? Apa yang dia katakan kepada kamu? Rachel, dengarkan aku, apa pun yang ibuku katakan, jangan kamu dengarkan! Ibu memang seperti itu orangnya!

Rachel: Dia tidak salah, Ger. Semua yang dikatakan ibumu itu benar. Kita memang tidak selevel. Kamu sadar tidak, sih, selama ini aku seperti apa? Aku harus pura-pura bahagia makan sandwich murahan di kantin sambil kamu dengan enaknya menceritakan liburan kamu ke Eropa. Aku muak, Ger. Aku muak menjadi pacar miskin dari anak orang terkaya di New York.

Gerard: Rachel, hentikan! Kamu bukan seperti itu! Kamu bukan wanita seperti itu! Kita sudah berjanji, kan? Kita akan lulus bersama, kita akan membangun semuanya bersama! Aku janji aku akan meyakinkan orang tua ku!

Rachel: Janji kamu itu tidak ada harganya, Gerard! Kamu itu anak manja! Kamu pikir kamu hebat? Semua yang kamu punya itu dari orang tua kamu! Kartu kredit kamu, mobil kamu, apartemen kamu, semuanya atas nama orang tua kamu! Kamu tidak punya apa-apa tanpa nama Winston! Kamu itu kosong!

Rachel mengetik kebohongan itu sambil dadanya terasa seperti diremas-remas. Ia tahu bahwa Gerard adalah pria yang paling pekerja keras yang pernah ia kenal. Gerard bekerja paruh waktu di perpustakaan kampus demi membuktikan kepada ayahnya bahwa ia bisa mandiri, meskipun ayahnya adalah miliarder.

Rachel: Ibumu menawarkan aku uang, Ger. Dua ratus ribu dolar untuk meninggalkan kamu. Dan kamu tahu apa jawaban aku? Aku menerimanya. Karena uang itu jauh lebih nyata daripada semua janji palsu kamu tentang masa depan.

Rachel: Aku sudah mendapatkan pria lain, Ger. Pria yang jauh lebih dewasa, jauh lebih kaya, dan tidak perlu meminta izin kepada ibunya untuk membelikan pacarnya tas mahal. Jangan pernah cari aku lagi. Anggap saja dua tahun ini aku hanya mengasihani kamu.

Setelah mengirim pesan terakhir itu, Rachel langsung mematikan ponselnya. Ia melemparkannya ke sudut ruangan. Ia tidak sanggup melihat balasan dari Gerard lagi.

Dari ponsel yang sudah mati itu, beberapa detik kemudian, terdengar notifikasi panggilan masuk yang tidak terjawab, berulang kali. Gerard meneleponnya. Satu kali, dua kali, sepuluh kali, dua puluh kali. Hingga akhirnya berhenti sendiri.

Rachel memeluk lututnya di lantai yang dingin itu. Cek dua ratus ribu dolar itu masih tergeletak di sampingnya. Ia akhirnya menangis sejadi-jadinya. Tangisannya pecah, keras, dan menyakitkan. Bukan tangis manja, melainkan tangis seorang wanita yang baru saja membunuh satu-satunya hal indah dalam hidupnya dengan tangannya sendiri demi menyelamatkan keluarganya.

Di kamarnya yang sempit dan bau apek, di tengah isak tangis ayahnya yang mabuk dan ibunya yang kelelahan, Rachel Vels mengucapkan selamat tinggal pada cinta pertamanya.

Sementara itu, di kantin NYU yang sudah kosong dan remang-remang, Gerard Winston masih duduk di sana. Sandwich tuna yang sudah dingin itu masih ada di atas meja, belum tersentuh. Di hadapannya, layar ponselnya masih menampilkan pesan terakhir dari wanita yang sangat ia cintai.

"Tidak ... tidak mungkin Rachel seperti ini. Pasti ibu mengancamnya! Aku harus meyakinkan Rachel untuk tak meninggalkan aku!" tukas Gerard dengan tangannya yang bergetar hebat.

Ia tidak percaya. Ia tidak bisa percaya bahwa Rachel, Rachel-nya yang manis, yang selalu memeluknya erat ketika ia ketakutan, yang selalu berkata bahwa ia akan mencintainya apa adanya, tega menuliskan kata-kata sekejam itu demi uang.

Hati Gerard yang berusia dua puluh satu tahun itu, pada malam itu, untuk pertama kalinya merasakan apa itu kebencian yang lahir dari cinta yang terlalu dalam.

"Aku harus cari Rachel sekarang!" 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • PAK BOS MAU CLBK   95 - Siapa Venetta?

    Monitor jantung di Bed 3 berbunyi keras. Tututututut!Nadi Gerard naik ke 185, tidak teratur."Mr. Winston! Mr. Winston! Tarik napas! Tenang!" kata dokter, panik.Tapi Gerard tidak bisa tenang. Kepalanya sakit luar biasa, seperti ada film yang diputar cepat di dalam kepalanya. Bayangan wanita hamil baju pengantin seperti menghantui dirinya sendiri. Rasanya seperti terus berputar dan tak mau diam saja."Rachel... Venetta... wanita hamil... baju pengantin..." gumam Gerard dengan mata setengah terbuka, menatap tirai biru tipis di sebelahnya yang bergoyang karena angin AC."Rachel itu siapa... siapa..."Gerard sangat berpikir keras. Ia mencoba mengingat semuanya. Tapi sulit. Ingatannya seperti tak bisa berkompromi dengan keadaannya sekarang. Yang ada, dia hanya sakit kepala dan dadanya sakit karena denyut jantungnya semakin kencang

  • PAK BOS MAU CLBK   94 - Rachel Vels

    Di waktu yang sama - Di jalan raya yang berbeda - 30 menit sebelumnyaDi dalam mobil SUV hitam W-Hotel yang melaju kencang dari Newport menuju New York, Gerard duduk di kursi belakang bersama Elena. Tamara ada di mobil lain di belakang, bersama Dr. Arasto.Gerard sudah dijemput jam delapan pagi tadi sesuai janji, setelah kabur ke Millfield pagi-pagi. Ia sudah kembali ke hotel, sudah mandi, sudah ganti baju. Tapi wajahnya masih pucat, kepalanya masih berdenyut sejak melihat Rachel, eh Venetta, di Kara Farm pagi tadi."Sayang, kamu pucat banget, kamu kenapa?" tanya Elena sambil memegang tangan Gerard.Gerard tidak menjawab. Ia menatap jendela mobil, menatap hutan yang sama yang tadi pagi ia lewati dengan truk pickup petani. Hutan tempat bus Greyhound itu sekarang terguling.Tiba-tiba saja, tepat di perba

  • PAK BOS MAU CLBK   93 - Dibawa Ambulans

    Suara benturan keras memecah keheningan hutan malam. Bus Greyhound yang besar ditabrak dari depan samping oleh sedan hitam yang melaju 100 km/jam. Kaca depan bus pecah berhamburan. Badan bus oleng ke kanan, menabrak pembatas jalan, lalu terguling miring ke parit kecil di pinggir jalan pegunungan.Jeritan penumpang terdengar."Aaaaaa!!!"Rachel yang sedang bersandar di bahu Vincent, langsung terlempar ke depan, kepalanya membentur bangku depan. Tapi kedua tangannya langsung refleks memegangi terus perutnya, melindungi perutnya dengan seluruh tenaga. Entah bisa atau tidak, yang pasti Rachel berusaha melindungi anak di dalam kandungannya."Bayi aku... bayi aku..." teriak Rachel dengan suara kesakitan, memegangi perutnya erat, tidak peduli lututnya berdarah karena tergores besi bangku.Bus berhenti terguling miring, mesin masih menyala, asap keluar

  • PAK BOS MAU CLBK   92 - Kecelakaan Bus

    "Rae, Nak... kamu hati-hati ya di jalan, Nak. Jaga bayi kamu, Nak. Jangan banyak pikiran. Kalau sudah lahir, kasih tahu Ibu ya. Ibu kangen." kata Ibu Kara yang lembut dan menyejukkan bagi Rachel yang sudah kehilangan sosok ibu di hidupnya."Iya, Bu. Pasti aku kasih tahu." Rachel mengangguk perlahan.Pak Osborn memeluk Vincent dan Rachel bergantian."Vincent, jaga Rachel ya. Dia titipan kami. Jaga baik-baik. Jangan sampai kenapa-kenapa di jalan." tukas Pak Osborn yang sudah seperti ayah bagi dua orang itu.Ibu Kara dan Pak Osborn adalah sosok orang tua yang mereka butuhkan. Yang selalu mendukung mereka."Iya, Pak. Aku jaga Rae." janji Vincent dengan sepenuh hati.Lalu mereka berdua diantarkan oleh dua orang itu ke stasiun terdekat. Stasiun bus kecil di Newport, bukan stasiun kereta. Stasiun yang hanya ada satu loket dan dua bangku kayu.Mobil pickup tua Pak Osborn melaju pelan di jalan gelap Route 7 yang h

  • PAK BOS MAU CLBK   91 - Ingin Pergi Dari Kara Farm

    "Saya dari W-Hotel, tim legal. Kami ingin membatalkan perjanjian kerja sama dengan Kara Farm?"Vincent kaget, menatap Rachel."Iya baiklah. Tolong dibatalkan.""Kami akan mengirimkan surat pembatalannya, Pak.""Terima kasih."Sebenarnya, Rachel tak enak. Harusnya ini menjadi keuntungan untuk Ibu Kara dan Pak Osborn. Tapi karena dirinya, kerja sama itu pun dibatalkan.Rachel menatap ke arah Bu Kara."Bu, maaf ya. Karena aku ... perjanjian kerja itu menjadi batal.""Tak apa, Rae. Kamu sudah aku anggap sebagai anakku sendiri. Perjanjian kerja sama bisa dengna perusahaan lain. Kami tak masalah." balas Bu Kara.Rachel memeluk wanita paruh baya itu sambil menangis."Maafkan aku, Bu.""Tak apa, Nak. Jangan menangis.""Lebih baik ... kalian bersiap untuk pergi dulu dari sini. Sudah ... masalah pembatalan ini bukan akhir dari segalanya. Tak perlu minta maaf lagi, Rae." tegas Pak Osborn.Rachel me

  • PAK BOS MAU CLBK   90 - Apa Harus Kabur Lagi?

    Reagen berpikir sebentar."Aku janji, aku akan mencari tahu maksimal dalam waktu 1 bulan. Aku akan bongkar semua. Siapa Vincent, siapa Venetta itu, siapa wanita di mimpi kamu, dan kenapa keluarga kamu tutup semua akses masa lalu kamu. Dalam satu bulan, aku akan kasih laporan lengkap ke kamu. Dengan foto, dengan alamat, dengan bukti.""Satu bulan kelamaan. Tidak bisa lebih cepat?" Gerard rasanya sudah susah menahan untuk mendapatkan informasi. Dia haus akan informasi yang selama ini ditutupi oleh keluarganya sendiri. Mimpi buruk itu harusnya sudah bisa dihempaskan kalau dia tahu siapa sebenarnya wanita yang ada di dalam mimpinya.Kalau tidak, Gerard akan semakin sulit untuk tidur. Dan kesehatannya bisa semakin buruk saja."Mr. Winston, kalau mau cepat, bayar detektif biasa. Kalau mau tembus tembok yang dibangun oleh keluargamu yang sangat kaya itu, maka tetap saja aku membutuh waktu."Gerard terdiam."Keluargamu itu bukan keluarga sembara

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status