ホーム / Romansa / PAK BOS MAU CLBK / 5 - Kamu Pembawa Sial

共有

5 - Kamu Pembawa Sial

作者: Siez
last update 公開日: 2026-07-23 12:36:25

Pukulan itu mengenai pelipis Gerard. Gerard terhuyung ke belakang, hampir jatuh ke genangan air hujan. Darah segar langsung mengalir dari pelipisnya, bercampur dengan air hujan yang dingin.

"AYAH! APA YANG AYAH LAKUKAN!" Rachel yang mendengar keributan itu langsung membuka pintu dan menjerit histeris. Melihat Gerard yang berdarah dan basah kuyup, hati Rachel hancur berkeping-keping untuk kedua kalinya malam itu.

"GERARD!"

Rachel ingin berlari dan memeluk Gerard, ingin membersihkan darah di pelipisnya, tetapi Frank mendorong Rachel kembali masuk ke dalam.

"Masuk kamu! Jangan pernah bertemu dengan anak ini lagi! Keluarga mereka sudah menghina kita! Mereka pikir kita bisa dibeli dengan uang!"

"Pergi kamu! Pergi dari sini, anak manja!" teriak Frank kepada Gerard, lalu ia membanting pintu apartemen itu dengan keras hingga seluruh gedung bergetar.

Suara kunci pintu yang dikunci dari dalam terdengar.

Maria Vels yang melihat semuanya hanya bisa menangis dan memeluk Rachel yang sudah terduduk lemas di lantai sambil menjerit memanggil nama Gerard.

Di luar, Gerard masih berdiri.

Ia tidak pergi.

Meskipun pelipisnya berdarah, meskipun tubuhnya menggigil kedinginan, meskipun hujan semakin deras menghantam tubuhnya, ia tetap berdiri di depan pintu Apartemen 3B itu.

Ia menatap pintu yang tertutup itu. Ia berharap Rachel akan membukanya.

Satu jam berlalu.

Dua jam berlalu.

Hujan tidak berhenti. Justru semakin deras. Petir menyambar-nyambar langit Bronx.

Tubuh Gerard yang memang sudah lemah karena alergi dan kelelahan mulai tidak kuat lagi. Pandangannya mulai kabur. Lututnya mulai lemas. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk berdiri. Ia bersandar di dinding yang dingin.

"Rachel... tolong..." gumamnya pelan, suaranya hampir tidak terdengar karena tertutup suara hujan. "Aku di sini... aku tidak akan pergi..."

Di dalam apartemen, Rachel mendengar gumaman itu. Melalui jendela kecil yang berembun, ia bisa melihat bayangan Gerard yang masih berdiri di bawah hujan.

Hati Rachel menjerit. Ia ingin berlari keluar. Ia ingin membawa Gerard masuk, mengeringkan tubuhnya, mengobati lukanya. Tetapi ia tahu, jika ia melakukannya, semua pengorbanannya akan sia-sia. Tamara Winston akan menghancurkan mereka. Ayahnya akan dibunuh oleh rentenir. Ibunya akan dipecat.

Ia harus tega. Ia harus menjadi monster malam ini demi menyelamatkan semua orang.

Akhirnya, setelah jam menunjukkan pukul dua dini hari, tubuh Gerard tidak kuat lagi.

Matanya memutih, tubuhnya yang tinggi itu ambruk ke depan, jatuh ke dalam genangan air hujan yang kotor di depan Apartemen 3B. Ia pingsan.

"GERARD!"

Melihat itu, Rachel tidak peduli lagi dengan semua janji dan ancaman. Ia berlari keluar, menerobos ayahnya yang mencoba menahannya, dan menghambur ke dalam hujan.

"Gerard! Gerard, bangun! Ya Tuhan, Gerard!"

Rachel memeluk tubuh Gerard yang basah dan dingin itu. Tubuh Gerard menggigil hebat, napasnya tersengal-sengal, dan darah dari pelipisnya masih terus mengalir.

Dengan tangan yang gemetar, Rachel mengambil ponselnya yang tadi ia matikan. Ia menyalakannya dan segera menghubungi 911.

"Halo! Ambulans! Tolong! Seorang pria pingsan di depan apartemenku ! Di Bronx, 1234 Park Avenue, Apartemen 3B! Cepat! Dia berdarah!"

Setelah menghubungi ambulans, dengan sisa kesadaran terakhirnya, Rachel melakukan hal yang paling menyakitkan kedua malam itu. Ia harus menghubungi orang yang paling ia benci di dunia: Tamara Winston.

Ia mencari nomor yang tadi siang diberikan oleh sekretaris Tamara.

Halo.

Suara Tamara yang dingin dan angkuh terdengar di seberang telepon.

"Ini... ini Rachel," kata Rachel dengan suara bergetar, sambil memeluk tubuh Gerard yang pingsan di dalam hujan. "Anak Ibu... Gerard... dia pingsan di depan apartemenku ... dia berdarah... tolong..."

Apa?!

Jeritan Tamara terdengar sangat panik, untuk pertama kalinya kehilangan keanggunannya.

"Di mana?! Di mana anakku?! Jangan sentuh anakku, dasar wanita murahan!"

Sepuluh menit kemudian, suara sirene ambulans meraung-raung memecah keheningan hujan di Bronx. Bersamaan dengan itu, tiga mobil Maybach hitam berhenti di depan gang sempit itu. Para pengawal pribadi keluarga Winston berlari dengan payung hitam besar.

Tamara Winston keluar dari mobil dengan wajah pucat pasi, tanpa mantel, hanya mengenakan piyama sutra. Melihat anak laki-lakinya yang tergeletak tidak sadarkan diri di genangan air kotor dalam pelukan Rachel, Tamara menjerit histeris.

"GERARD! ANAKKU!"

Para paramedis segera mengangkat tubuh Gerard ke atas tandu. Tamara mendorong Rachel dengan kasar hingga Rachel jatuh terduduk di genangan air.

"Jangan pernah dekati anakku lagi! Kamu lihat apa yang kamu lakukan kepadanya?! Kamu pembawa sial!"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • PAK BOS MAU CLBK   7 - Dunia Tanpa Rachel

    Gerard Winston masih berlutut di tengah lantai kayu yang berdebu itu. Pakaian pasien rumah sakitnya yang tipis sudah kotor, darah dari bekas infus di lengannya menetes pelan ke lantai, dan pelipisnya yang diperban kembali mengeluarkan darah segar."Rachel..."Namanya ia bisikkan seperti sebuah doa yang tidak pernah dijawab.Di luar, suara ambulans dan suara teriakan para pengawal keluarga Winston semakin mendekat. Tamara Winston yang panik karena putranya kabur dari rumah sakit, menyusul ke sana dengan wajah yang pucat pasi."Gerard! Anakku!"Tamara berlari masuk ke dalam apartemen kosong itu dan memeluk putranya dari belakang. Tubuh Gerard yang tinggi dan dulu selalu hangat, kini dingin dan gemetar seperti es."Sayang, ayo pulang. Kita pulang, ya? Lupakan wanita itu. Dia sudah pergi. Dia tidak pantas untuk kamu." tukas Tamara.Gerard tidak menjawab. Ia membiarkan ibunya memeluknya, tetapi matanya tetap kosong menatap sudut ruangan tempat dulu meja belajar kecil Rachel berada. Di sudu

  • PAK BOS MAU CLBK   6 - Apartemen Yang Kosong

    Rachel tidak menjawab. Ia hanya duduk di genangan air hujan, basah kuyup, melihat ambulans yang membawa Gerard pergi menjauh dengan sirene yang meraung-raung.Pada saat itulah, Rachel tahu bahwa ia harus benar-benar pergi. Malam ini juga.Pukul empat pagi. Hujan sudah reda.Ambulans telah pergi. Mobil mewah keluarga Winston telah pergi. Gang sempit di Bronx itu kembali sepi.Rachel masuk ke dalam apartemennya dengan tubuh yang basah kuyup. Ia membangunkan ibu dan ayahnya yang masih tertidur karena mabuk."Bu, Ayah, kita pergi sekarang," kata Rachel dengan suara yang sangat tenang, tetapi matanya kosong."Rachel, kamu kenapa? Kamu basah kuyup, Nak ""Kita pergi dari New York malam ini juga, Bu. Aku sudah melunasi semua utang Ayah. Semua bunganya juga sudah aku lunasi. Aku masih punya sisa uang untuk kita menyewa apartemen kecil di Boston. Aku sudah diterima kerja sambilan di sana. Kita mulai hidup baru, ya, Bu? Tanpa utang, tanpa rentenir, tanpa kenangan di sini."Rachel menunjukkan bu

  • PAK BOS MAU CLBK   5 - Kamu Pembawa Sial

    Pukulan itu mengenai pelipis Gerard. Gerard terhuyung ke belakang, hampir jatuh ke genangan air hujan. Darah segar langsung mengalir dari pelipisnya, bercampur dengan air hujan yang dingin."AYAH! APA YANG AYAH LAKUKAN!" Rachel yang mendengar keributan itu langsung membuka pintu dan menjerit histeris. Melihat Gerard yang berdarah dan basah kuyup, hati Rachel hancur berkeping-keping untuk kedua kalinya malam itu."GERARD!"Rachel ingin berlari dan memeluk Gerard, ingin membersihkan darah di pelipisnya, tetapi Frank mendorong Rachel kembali masuk ke dalam."Masuk kamu! Jangan pernah bertemu dengan anak ini lagi! Keluarga mereka sudah menghina kita! Mereka pikir kita bisa dibeli dengan uang!""Pergi kamu! Pergi dari sini, anak manja!" teriak Frank kepada Gerard, lalu ia membanting pintu apartemen itu dengan keras hingga seluruh gedung bergetar.Suara kunci pintu yang dikunci dari dalam terdengar.Maria Vels yang melihat semuanya hanya bisa menangis dan memeluk Rachel yang sudah terduduk

  • PAK BOS MAU CLBK   4 - Gerard Ke Apartemen Rachel

    Hujan turun dengan sangat deras di Bronx malam itu.Langit New York yang biasanya dihiasi cahaya lampu gedung-gedung pencakar langit, malam itu hanya berwarna hitam pekat dan kelam. Air hujan menghantam atap-atap seng apartemen murah dengan suara yang keras, mengalir menjadi sungai kecil di jalanan yang berlubang.Di depan pintu Apartemen 3B, sebuah gedung petak yang catnya sudah mengelupas dan lampunya yang berkedip-kedip, berdiri seorang pemuda.Pemuda itu adalah Gerard Winston.Pakaian yang ia kenakan basah kuyup. Jaket varsity kesayangannya yang berwarna biru tua itu sudah tidak lagi terlihat biru, melainkan hitam karena air hujan. Rambutnya yang biasanya tertata rapi, kini menempel lepek di dahinya. Wajahnya pucat, bibirnya membiru karena kedinginan, tetapi matanya... matanya masih menyala dengan api yang sama. Api cinta yang terluka, api kebingungan yang mendalam, dan api penolakan yang tidak bisa ia terima.Sudah tiga jam ia berdiri di sana.Setelah menerima pesan putus yang ke

  • PAK BOS MAU CLBK   3 - Kalimat Seperti Belati Yang Menusuk

    Selama satu menit penuh, tidak ada balasan. Tanda centang dua biru itu menunjukkan bahwa Gerard telah membaca pesannya, tetapi tidak ada balasan. Rachel bisa membayangkan dengan jelas apa yang terjadi di kantin kampus yang sudah hampir tutup itu. Gerard pasti sedang mengerutkan keningnya, menatap layar ponselnya dengan bingung, mengira bahwa pacarnya sedang melontarkan lelucon yang sama sekali tidak lucu.Gerard: Apa maksud kamu, Rachel? Jangan bercanda seperti ini. Aku tidak suka bercanda seperti ini.Gerard: Rachel? Jawab aku.Gerard: Sayang?Air mata Rachel kembali mengalir. Ia menggigit bibirnya yang sudah pecah-pecah sampai berdarah agar tidak mengeluarkan suara isakan yang keras. Ia harus lebih kejam. Ia harus menjadi pisau yang lebih tajam.Rachel: Aku tidak bercanda, Gerard. Aku bosan. Aku benar-benar bosan dengan kamu dan dengan hubungan kita.Rachel: Aku bertemu dengan ibumu hari ini. Mrs. Tamara Winston menemuiku di kantornya.Balasan Gerard kali ini lebih cepat.Gerard: AP

  • PAK BOS MAU CLBK   2 - Kita Putus!

    Apartemen petak di Bronx itu terasa lebih sempit daripada biasanya pada malam itu.Bau apek dari dinding yang lembap bercampur dengan bau alkohol murahan yang menyengat dari ruang tamu. Di luar jendela yang kacanya retak, suara sirene polisi New York meraung-raung, menjadi musik latar yang akrab bagi warga Bronx. Namun, bagi Rachel Vels yang sedang duduk bersila di lantai kamarnya yang dingin, dunia di luar jendela itu seolah-olah telah berhenti berputar.Di hadapannya, di atas lantai kayu yang sudah lapuk, tergeletak dua buah benda.Benda pertama adalah selembar cek dari Chase Bank. Cek itu tampak sangat bersih, sangat putih, dan sangat kejam. Di sudut kanannya, tertulis angka dengan tinta hitam yang tegas: $200.000. Di bawahnya, ada tanda tangan yang anggun dan tajam: Tamara Winston. Dua ratus ribu dolar. Jumlah yang tidak pernah dilihat Rachel seumur hidupnya. Jumlah yang bisa melunasi semua utang judi ayahnya, membiayai operasi katarak ibunya, dan membawa mereka pindah dari aparte

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status