Masuk"Tadi pagi di rumah sakit, Gerard mengatakan pada saya bahwa ia ingin menikah denganmu besok. Apakah itu benar?" tukas Tamara perlahan.
Rachel agak bingung. Ia tak berbicara kapan akan menikah dengan Gerard. Tapi Gerard memang sudah bilang kepadanya akan menikahinya.
"Gerard tidak bicara tentang itu, Nyonya."
Tamara menghela napas panjang, napas yang dibuat terdengar seperti napas seorang ibu yang khawatir.
"Ms. Vels, apakah Gerard sudah menceritakan kondisi
Ibu Kara yang baru sampai, ia melihat Rachel berdiri di ambang pintu dengan perut besar terlihat jelas, langsung menarik tangan Rachel masuk ke dalam gudang, ke balik tumpukan karung pakan ayam yang tinggi."Rae! Masuk! Masuk dulu, Nak! Jangan di sini! Nanti perempuan itu lihat kamu!"Ibu Kara memeluk Rachel erat, menyembunyikan tubuh Rachel yang gemetar di balik karung."Bu... Gerard... dia pingsan, Bu," bisik Rachel dengan suara putus-putus, menangis di bahu Ibu Kara."Ibu tahu, Nak. Ibu lihat. Tapi kamu jangan keluar, Nak. Kamu janji tidak mau memperlihatkan wajah, kan? Kalau kamu keluar sekarang, semua janji kita gagal, Nak. Bayi kamu bisa ketahuan, Nak."Rachel mengangguk di dalam pelukan Ibu Kara, tapi matanya tetap mengintip dari celah karung pakan, melihat Gerard dari kejauhan.Vincent berdiri mematung, melihat dua wanita yang mencintai pria yang sama, dalam versi yang berbeda, berada di tempat yang sama tapi tidak bisa saling mendek
"TOLONG!" teriak Vincent dengan suara yang memecah seluruh lembah Millfield. Teriakan panik, teriakan takut, teriakan orang yang merasa bersalah karena hampir saja membongkar kebenaran."Gerard! Hei! Bangun! Gerard!"Tidak ada jawaban. Napas Gerard pendek-pendek, tidak teratur. Wajahnya yang biasanya pucat karena terlalu banyak kerja di ruangan AC, sekarang pucat kebiruan. Bibirnya mulai kering.Elena yang sedang jongkok di kandang ayam dengan sarung tangan plastik, sedang menjelaskan kepada tim quality control tentang standar kebersihan W-Hotel, mendengar teriakan Vincent."Gerard?"Ia menoleh. Telur organik yang sedang ia pegang untuk difoto, jatuh dan pecah di tanah. Kuning telur premium yang harganya lima dolar per butir di New York, pecah begitu saja.Begitu melihat Gerard tergeletak, Elena langsung berlari."Sayang! Ya Tuhan!"Ia berlari dengan rok span hitam dan coat bulu putih, dengan boots mahal yang haknya tingg
Vincent menatap Gerard, menatap tongkat hitam berukir W itu, menatap cara Gerard berdiri yang masih tertatih."Serius? Kamu tidak kenal aku?" tanya Vincent bingung."Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Pak Vincent?""Harusnya kamu kenal aku. Kita pernah ketemu. Kenapa sekarang kamu seperti tidak kenal sama sekali?" Vincent benar-benar heran.Gerard menghela napas. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, ia jujur kepada orang asing tanpa disuruh Zack atau Tamara."Aku amnesia. Setelah kecelakaan beberapa bulan lalu. Sejak itu aku tidak ingat apa-apa. Tidak ingat masa lalu." jelas Gerard.Vincent mengangguk pelan. Wajah tegangnya berubah menjadi prihatin."Oh... jadi begitu. Pantas..."Gerard menatap Vincent lekat-lekat."Jadi, kamu kenal aku? Apakah kita sangat dekat?" tanya Gerard, suaranya mulai pelan tapi menekan.Vincent menggeleng cepat, mencoba terlihat santai."Aku han
Elena yang tidak menyadari ketegangan itu tersenyum lebar dan melambai ke Gerard."Sayang, sini! Ini dia peternakannya! Bagus kan? Udara segar banget kan?"Gerard berjalan pelan dengan tongkat, mendekati Vincent yang masih melotot."Hi, selamat siang. Kalian dari Kara Farm?" sapa Gerard dengan suara tenang, suara CEO yang dingin, tanpa tahu bahwa pria di depannya adalah orang yang selama ini menjaga wanita yang ia mimpikan setiap malam.Vincent masih tidak bisa berkata-kata.Setelah sapaan awal yang canggung, Elena langsung masuk ke mode profesional. Ia mengeluarkan clipboard, memberi isyarat ke tim quality control untuk mulai foto-foto kandang, cek suhu cooler, dan ambil sampel telur langsung dari sarang."Oke, kita mulai dari kandang ayam ya. Saya mau lihat kebersihan, sirkulasi udara, dan pakan," kata Elena sambil memakai sarung tangan plastik.Tim quality control langsung menyebar. Ibu Kara dan Pak Osborn mengikuti Elena dengan se
Elena turun dari armrest, jongkok di depan Gerard, memegang kedua lutut Gerard dengan lembut."Ayolah, sayang. Sekali saja. Biar sekalian refresh otak.""Refresh otak?""Iya. Kamu sejak operasi itu selesai dan kamu pulih, kamu terlalu sibuk. Terlalu lelah. Kamu kerja setiap hari, Senin sampai Minggu. Tidak pernah libur. Ayahku juga bilang kamu butuh udara segar, bukan hanya AC kantor."Gerard diam, tidak menjawab.Elena melanjutkan, dengan suara yang dibuat selembut mungkin."Setidaknya bisa melihat alam, sayang. Aku sudah cek di sekitar Vermont banyak tempat yang menarik. Ada hutan maple yang daunnya masih merah, ada danau yang beku, ada peternakan-peternakan kecil yang cantik. Bisa melepaskan penat. Kamu kan suka alam, sayang. Dulu waktu di Wharton kamu suka hiking, kan?"Gerard menatap Elena. Kata hiking terasa asing. Ia tidak ingat pernah suka hiking. Semua cerita tentang Wharton terasa asing. Tapi kata alam, kata melepaskan penat
"Rae! Kami pulang!" seru Vincent.Rachel turun pelan dari tangga loteng."Bagaimana? Bagaimana di W-Hotel? Lancar?""Lancar banget, Rae. Mereka suka sampel kita," kata Ibu Kara sambil melepas sepatu.Vincent duduk di kursi kayu, minum air putih seteguk."Iya, Rae. Mereka bilang proposal kita paling rapi. Mereka suka cerita family-owned."Rachel mengangguk, tapi wajahnya masih tegang. Ia memegang perut."Vin, yang nemuin kalian siapa? Orang W-Hotel yang mana?""Namanya Elena. Dia yang pegang kendali kurasi supplier selain finance. Baik orangnya, profesional banget."Mendengar nama Elena, jantung Rachel langsung berdegup kencang. Ia ingat nama itu. Tapi, wanita dengan nama Elena juga banyak. Dia tak bisa memaksakan kalau Elena yang ada di W-Hotel adalah anak dari dokter Arasto."Elena? Siapa nama panjangnya?" ulang Rachel pelan."Entalah. Dia tidak memberitahukannya. Kenapa? Kamu kenal?"Rachel m







