로그인
“MBAK! TUNGGU!”
Dimas berlari, napasnya memburu.
Di depannya, sosok gadis bercadar hitam itu bergerak cepat, melangkah lebar menaiki jalanan yang menanjak.
Kenapa lari?! Apa salahku?
Tas punggung dan kantong belanjaan besar di tangan kanan Dimas—berisi waifu edisi terbatas—terayun-ayun tak terkendali.
Dikit lagi! Dikit lagi!
Dimas mengulurkan tangan kirinya, mencoba meraih lengan gadis itu. Jaraknya hanya tinggal sejengkal. Tidak menyadari tali kantong yang tipis mulai meregang, hingga menjerit tak mampu lagi menahan beban mainan mahalnya.
Sebuah kotak action figure terlepas dari situ, menghantam aspal dengan kasar. Dan—karena jalanan turun—kotak itu langsung menggelinding ke bawah dengan kecepatan yang menyebalkan.
“WADUH! MAI-CHAN!”
Dimas membeku. Dilema paling horor dalam hidupnya.
Ia menoleh ke bawah. Waifu-nya, patung ninja Mai Shiranui seharga cicilan motor, menggelinding menjauh. Ia menoleh ke atas. Si gadis bercadar sudah hampir sampai di puncak, tempat halte bus berada.
Sial! Sial! Sial! Pilih, Dimas, pilih! Cintaku atau … gadis itu?!
Instingnya mengambil alih. Dengan jeritan tertahan, Dimas berbalik dan berlari menuruni jalanan, mengejar kotaknya. “Tunggu! Istriku!”
Ia baru berlari beberapa langkah ke bawah saat ia melirik ke atas lagi. Ragu.
Gadis itu sudah sampai di halte. Sebuah bus kota berwarna hijau berhenti tepat di depannya. Pintu bus terbuka.
Aduh! Tidak ada waktu!
Dimas berhenti berlari. Ia menatap nanar kotak mainannya yang terus menggelinding, pasrah. Lalu ia memejamkan mata sejenak, hatinya menjerit.
Maafkan aku, Mai!
Tanpa menoleh lagi ke belakang, ia memfokuskan seluruh sisa tenaganya, berbalik, dan berlari menanjak sekuat tenaga. Sayangnya, takdir sepertinya hobi sekali mengerjainya.
Tepat saat ia hampir mendekat, pintu bus tertutup. Si gadis sudah naik.
Dimas menambah kecepatan, tangannya menggapai-gapai udara.
“Tungguuu! Pak! Berhenti, Pak!”
Percuma. Bus itu menjawabnya dengan kepulan asap hitam tebal sebelum melaju pergi.
Dimas refleks menghentikan langkahnya. Untuk sesaat ia tak lagi memikirkan bus itu. Sesuatu yang lain merebut perhatiannya.
Asap itu.
Asap hitam pekat yang ditinggalkan bus tadi tidak menipis. Tidak menyebar ditiup angin. Justru sebaliknya. Asap itu menggumpal di tengah jalan, memadat, berdenyut pelan seperti sesuatu yang hidup. Jelaga hitam itu menarik debu dan kerikil dari aspal, lalu mulai meninggi.
Ia membentuk sebuah siluet. Sesuatu yang samar-samar menyerupai postur manusia, tapi terlalu tinggi dan bengkok. Bagaikan bayangan yang berdiri tegak di siang bolong, sosok itu menoleh, menatap Dimas.
Dimas membeku. Seluruh darah di wajahnya serasa ditarik keluar. Rasa putus asa kehilangan si gadis seketika lenyap, tergantikan oleh jenis teror yang jauh lebih primal.
Oh, tidak. Jangan sekarang.
Tangannya gemetar hebat memasang masker respirator ke wajahnya. Dengan gerakan panik dan terburu-buru, ia membentangkan tali-talinya dan memasangkannya ke wajah, menekan segelnya kuat-kuat.
KLIK. HSSSS.
Begitu kedua cartridge filter terpasang dengan benar, ia menarik napas pertamanya yang bersih dan steril. Ia memberanikan diri membuka mata yang tadi terpejam erat.
Sosok itu ... berangsur menghilang.
Awan jelaga yang tadi menggumpal itu lenyap tak berbekas, tersedot kembali ke dalam aspal, meninggalkan Dimas sendirian di sana, terengah-engah di balik masker setengah robotnya.
Belum puas bernapas lega, ia melihat pemandangan yang memacu jantungnya lagi: bus hijau itu kini hampir terlihat seperti titik, semakin menjauh di ujung jalan.
Sial, aku harus cepat.
Saat itulah matanya menangkap satu-satunya harapan: seorang abang ojek online yang sedang mangkal di bawah pohon, asyik mencet-mencet layar ponselnya. Tanpa pikir panjang, Dimas berlari menghampirinya.
“Bang! Kejar bus ijo di depan itu, Bang! Cepet!” seru Dimas sambil menunjuk-nunjuk.
Si abang ojol bermuka bulat berkumis tebal ini bahkan tidak mau repot-repot menoleh. “Lewat aplikasi, Mas,” katanya sambil sibuk main geser-geser permen di layar.
“Nggak sempet, Bang! Ini darurat! Nanti keburu ilang!”
Si abang akhirnya mengangkat kepala, menatapnya dengan tenang, dari ujung rambut sampai ujung sepatu. “Darurat?” Seulas senyum licik tersungging di bibirnya. “Banget?”
Sepercik harapan muncul di wajah Dimas. “Iya, Bang, darurat tingkat dewa ini!”
Si abang memasang muka prihatin yang dibuat-buat. “Waduh, kalau setingkat itu ya ….” Ia berhenti bicara, lalu menggesekkan ibu jarinya ke telunjuk dan jari tengah. Sebuah gestur purba yang artinya cuma satu.
Dimas langsung paham. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan dompet, dan menyodorkan lembaran uang terbesarnya. “Nih, Bang! Seratus ribu! Tunai!”
Si abang melirik uang itu, lalu mendengus. “Cepek buat ngebut-ngebutan? Walah, resiko, Mas. Kena tilang, bensin, belum kalo nyerempet.”
“Dua ratus!” tawar Dimas lagi, suaranya serak makin putus asa.
Si abang tampak berpikir, mengelus-elus dagunya seolah sedang menimbang proposal bisnis miliaran rupiah. “Masalahnya, saya lagi nunggu orderan prioritas, e,” katanya dengan tampang belimbing wuluh.
Dimas pasrah. Ia merogoh semua uang di dompetnya. “Nih! Tiga ratus empat puluh lima ribu lima … eh, tujuh ratus perak! Semua duitku! Ambil, Bang! Ayo berangkat!”
Si abang menatap tumpukan uang dengan jumlah yang sangat spesifik itu. Ia tampak ragu. “Nanggung amat, Mas. Digenepin empat ratus ribu gitu kan enak ….”
Tepat saat Dimas hendak mengumpat, terdengar suara motor mendekat. Seorang ojek lain hendak ikutan mangkal.
Seketika, sikap si abang ojol berputar 180 derajat kayak kepala burung hantu. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung menyambar tumpukan uang dari tangan Dimas.
“OKE, DEAL! NAIK, MAS! CEPET!” suaranya terdengar panik.
Dimas, yang masih agak bingung dengan perubahan drastis itu, buru-buru naik ke jok belakang.
“Pegangan, Mas, kita gasken!”
Motor matic itu melesat, mesinnya meraung-raung kayak jagoan Bollywood. Tapi percuma, jarak mereka sudah terlalu jauh. Tepat di persimpangan, bus itu menyalakan sein kiri dan berbelok, lenyap di balik bangunan.
“Yah! Ilang, Bang!” jerit Dimas panik.
“Santai, Mas.” Si abang ojol dengan ketenangan seorang maestro berbelok tajam ke kiri, masuk ke sebuah gang perkampungan yang lebarnya cuma pas buat satu motor.
“Lho? Kok lewat sini?”
“Ini namanya jalan tikus, Mas,” jawab si abang sambil menaikkan alisnya dua kali.
Bener aja. Tak jauh di depan mereka, seekor induk tikus got seukuran anak kucing bersama lima bocilnya sedang menyeberang gang dengan riangnya.
Dimas tak sadar meremas pundak si abang ojek. “ADA TIKUS, BAAAAANG!”
“MINGGEEEER!” Persona cool si abang ojol hancur berkeping-keping.
Alih-alih ngerem, si abang justru refleks tancap gas. Melindas polisi gendut yang tiduran di depan mereka buat bikin momentum lompat. Untuk sepersekian detik, Dimas dan si abang jadi duo akrobat dadakan, melayang di atas keluarga tikus yang lari kocar-kacir. Dimas hanya bisa memejamkan mata, kakinya diangkat setinggi mungkin, merasakan sensasi terbang yang bikin anunya linu.
GEDEBRUS!
Roda belakang menghantam aspal duluan, mengirimkan guncangan hebat sampai ke tulang ekor. Motornya oleng liar, setangnya bergoyang-goyang kayak orang kesurupan. Tapi dengan kombinasi rem, gas, dan doa orang tua, si abang berhasil menstabilkan motornya kembali.
Mereka balik ke jalan besar. Harapan Dimas membuncah tinggi saat melihat sebuah bus hijau di depan. “Itu dia, Bang!” Serunya penuh semangat.
Tapi seketika ambyar saat motor mereka mendekati perempatan lampu merah. Di hadapan mereka, berjajar rapi, bukan cuma satu, tapi tiga bus kota kembar berwarna hijau.
Halo, Sahabat Pembaca yang luar biasa,Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Sampailah kita pada titik ini. Sebuah titik yang mungkin bagi sebagian orang terasa mendadak, namun bagi saya, ini adalah pelabuhan paling tepat untuk mengistirahatkan pena sejenak. Melalui surat ini, saya ingin menuangkan rasa terima kasih yang paling dalam, paling tulus, dan paling hangat dari lubuk hati saya yang terdalam. Terima kasih karena kalian sudah bersedia berjalan beriringan, menghirup aroma yang sama, dan ikut merasakan mual serta debar jantung yang dialami oleh Dimas dan Azura sejak bab pertama hingga kalimat terakhir di NOTE 138.Mungkin ada yang bertanya-tanya, "Kenapa berakhir di sini? Kenapa tidak ada pesta p
Satu bulan telah berlalu sejak bara di Pasar Agung padam, aroma kehidupan baru justru mulai merebak di toko “Layla Badar”.Dimas berdiri di sana, merapikan kemeja batiknya yang licin. Ketukannya di pintu kayu itu terdengar mantap. Ia mengucap salam. Tak lama, terdengar balasan salam dari dalam. Pintu terbuka, menampilkan sosok Pak Badar yang nyaris tak dikenali. Kepalanya yang plontos tampak bersinar, jenggot lebatnya tersisir rapi, dan ia mengenakan setelan jas yang pas di tubuh kekarnya.Pak Badar memandang Dimas dari ujung sepatu hingga tatanan rambut, lalu sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Ia mengangguk kecil, mempersilakan tamu-tamunya masuk.Eyang menyambut dari balik pintu, langsung menyambar pipi Dimas. “Cah lucu, cah lucu …
Kyai Khalid memutar tasbihnya perlahan, lalu berhenti tepat saat matanya menyipit ke arah Pak Badar. "Kau berulang kali menyebut pemuda itu mengecewakan, Badar. Bahkan Al-Fatihah saja dia tidak hafal. Lantas, apa yang membuatmu memutuskan untuk menerima lamaran kerjanya?"Pak Badar terdiam, lidahnya mendadak kelu menghadapi tatapan menyelidik Kyai Khalid. Ia melirik Azura, yang seketika menunduk dalam, jemarinya meremas kain gamis seolah sedang mencoba menahan debaran jantungnya sendiri.Ingatan Pak Badar melesat kembali ke sore itu, tepat setelah Dimas melangkah keluar dari toko dengan bahu lunglai usai wawancara yang kacau balau. Pak Badar hanya mendengus, memisahkan map biru milik Dimas dari tumpukan stopmap pelamar lainnya. Baginya, pemuda itu hanyalah angin lalu yang tak layak untuk diingat lagi.Namun, di lant
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."Pintu kamar 302 berderit pelan. Kepala Hasan muncul dari balik celah pintu, gerakannya sangat hati-hati seolah takut memecah kesunyian ruangan. Saat tatapannya bertemu dengan Dimas yang sedang bersandar, sebuah senyum lebar nan tulus langsung terbit di wajahnya yang bersih."Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Silakan masuk," jawab Dimas, berusaha menegakkan punggungnya.Hasan melangkah mendekat dengan langkah yang tenang, tubuhnya sedikit membungkuk sebagai tanda hormat. Ia mengulurkan tangan, telapaknya menghadap ke atas dalam gestur menjabat yang sangat rendah hati. "Salam kenal, Kak Dimas. Saya Hasan."Dimas sempat tertegun sejenak. Kejadian luar biasa yang m
Besoknya, lorong rumah sakit yang biasanya sunyi dan berbau karbol itu mendadak punya atmosfer yang ganjil—campuran antara ketegangan asmara, drama keluarga, dan reuni lintas generasi yang bising.Di barisan kursi tunggu paling pojok, Setya sedang mengalami "hari kiamat" versinya sendiri. Di sisi kiri dan kanannya, dua gadis berdiri dengan tangan bersedekap dan tatapan yang sanggup melubangi tembok. Setya berkali-kali menyeka keringat dingin di pelipisnya, terjepit di antara dua aroma parfum berbeda yang sedang beradu tajam. Tampaknya, manajemen jadwal kencan sang playboy baru saja mengalami system crash karena kedua "klien"-nya datang di jam besuk yang sama."Jadi, kamu bilang tadi l
Sang Monster menjulurkan tangannya, tidak lagi sebagai ancaman, melainkan kebersatuan. Dimas menyambutnya dengan mantap. Begitu kedua telapak tangan itu bersentuhan, partikel-partikel atomik sang Monster berpindah dalam pusaran spiral yang liar, meresap masuk melalui pori-pori tubuh arang Dimas.Seketika, tubuh hitam legam itu menyala hebat. Cahaya kemerahan seperti bara api yang ditiup angin kencang merambat dari jemari hingga ke ubun-ubunnya. Retakan di sekujur tubuh Dimas bukan lagi tanda kehancuran, melainkan jendela bagi kekuatan yang tak terbendung.Hingga akhirnya, sang Monster meluruh sepenuhnya, menyatu dalam satu denyut nadi yang sama. Tubuh Dimas meledak dalam cahaya putih keperakan yang menyilaukan—sebuah pendaran murni yang aromanya mengingatkan Dimas pada satu hal: Aroma tubuh Azura. Keharuman yang suci, dingin, dan menenangkan. Tubuhnya ter







