LOGIN“Waduh, ini mah K-Pop, Mas. Tampangnya sama semua,” keluh si abang ojol, semangatnya amblas.
Mampus. Yang mana, nih?! Matanya melesat liar dari satu bus ke bus lainnya.
Si abang ojol menunjuk ke depan, ke layar countdown timer lampu lalu lintas.
"Gawat, Mas," katanya sambil menelan ludah. "Itu bentar lagi ijo. Masalahnya, ini perempatan besar. Semua bus itu bakal mencar, Mas."
Ia menoleh ke Dimas. "Mas cuma punya waktu 15 detik buat nentuin mau buntutin yang mana. Mas tadi sempet liat nomor jurusannya, nggak?"
Dimas blank. Lupa memperhatikan detail seperti itu.
Alhasil abang ojek langsung membuang muka sambil meluncurkan komentar-komentar tidak membangun.
Dimas belum menyerah. “Bang, jalan pelan-pelan di samping bus,” nadanya tegas kayak komandan pasukan khusus. “Aku cek penumpangnya.”
Rencana rempong itu pun dijalankan. Dimas bangkit berdiri di pijakan kaki belakang, berpegangan pada bahu si abang. Sesekali badannya goyang, berusaha menjaga keseimbangan. Motor mereka merayap pelan di samping bus pertama, bus paling kiri.
Matanya memindai cepat dari jendela ke jendela. Seorang mbak-mbak pakai masker putih? Bukan. Cowok rambut pirang? Bukan. Bapak-bapak berkumis tebal? Bukan. Ibu-ibu tidur mangap? Jelas bukan! Ia terus mengamati sampai motor mereka sejajar dengan pintu depan bus.
Zonk! Bukan yang ini!
Tepat saat itu, lampu lalu lintas di depan mereka berubah.
“MAS! UDAH IJO! GIMANA INI?!" teriak si abang ojol.
Mesin-mesin bus di samping mereka menggeram serempak.
Bus pertama (yang sudah Dimas periksa) menyalakan sein dan berbelok ke kiri. Dua bus lainnya bergerak maju, berpisah di tengah perempatan.
Dimas membeku. Otaknya konslet.
Kendaraan di belakang mereka—ratusan motor dan mobil yang tidak sabar—langsung mengklakson dengan buas.
Si Abang menjerit, “CEPETAN, MAS! BISA DIMASSA KITA!”
Mata Dimas mencelat panik antara bus yang berbelok ke kanan dan bus yang lurus. Peluangnya fifty-fifty. Dua-duanya belum dicek. Yang mana? Yang mana? Aduh! Kanan? Kiri? Eh, lurus?
"MAS!" bentak si abang lagi.
Tepat saat Dimas hampir pasrah menunjuk acak … ia melihatnya.
Sekelebat bayangan hitam.
Di jendela paling belakang bus yang mengambil jalur lurus. Sesuatu berwarna hitam pekat yang kontras. Hanya beberapa detik, sebuah siluet yang langsung menghilang tertutup penumpang lain.
"LURUS, BANG!" teriak Dimas, tangannya menunjuk lurus ke depan. "IKUTI YANG LURUS!"
Mendengar komando itu, mesin motor si abang ojol meraung. Dia banting setir ke kanan, nyelip tipis di antara bemper mobil boks dan angkot yang saling mengekor. Begitu berhasil mengunci posisi tepat di belakang pantat bus yang mereka incar, si abang menurunkan kecepatan, menjaga jarak aman.
Jadilah mereka stalker pro dadakan.
Halte pertama. Bus mendesis dan berhenti. Mata Dimas melotot awas. Turun, nggak? Turun, nggak? Yang turun serombongan ibu-ibu berseragam oranye. Bukan. Bus jalan lagi.
Halte kedua. Rombongan anak SMA. Bukan.
Halte ketiga. Sepi. Bus hanya lewat. Panasnya Jogja di siang bolong mulai memanggang kulit. Debu jalanan membuat mata terasa perih.
Bus berhenti lagi di halte keempat, di area yang lebih sepi. Pintu mendesis terbuka. Satu-dua penumpang turun. Lalu ….
Dia.
"ITU DIA, BANG! ORANGNYA!" pekik Dimas, tangannya menunjuk heboh.
Si abang ojol ngerem mendadak di seberang jalan, berlindung di bawah bayangan pohon.
Gadis bercadar hitam itu turun dengan langkah tenang namun cepat, tidak menoleh ke kanan atau kiri. Ia berjalan lurus, melewati kios rokok, masuk ke sebuah celah di antara dua ruko kecil. Gadis itu menaiki sebuah gang sempit bertangga batu yang menanjak curam. Tangga itu berkelok-kelok dan tinggi, lebih mirip candi purbakala daripada jalan umum.
Saking tingginya, Dimas dan abang ojek sampai mendongak ke atas.
“Wah, kalau manjat gitu motor saya nyerah, Mas.”
Dimas terpaksa turun. Aksi kejar-kejaran intens bikin kakinya gemetaran.
“Mas ngikutin cewek, ya?” Si abang tiba-tiba kepo kayak detektif.
Dimas mengangguk polos.
“Sini, Mas. Lepas dulu maskernya bentar.”
“Hah? Buat apa?”
“Saya foto dulu.”
Meski otaknya penuh tanda tanya, Dimas nurut. Si abang ojol mengeluarkan ponselnya, lalu membidik pemuda itu. Jepret.
“Kok saya difoto, kenapa, Bang?” Dimas mengerutkan dahinya.
“Awas lho, ya," Jari driver itu menunjuk-nunjuk ke arah Dimas. “Kalau sampai besok ada berita cewek diculik, foto Mas saya kasih ke polisi.”
Kepret. Aku dikira penjahat kelamin. Dimas kesal. “Nanggung banget, Bang! Kenapa nggak KTP aja sekalian?!” tantangnya sarkastis sambil menyodorkan kartu itu dari dompet.
Jepret.
Abang ojol itu dengan polos memfoto KTP Dimas juga. “Makasih, Mas. Buat data,” katanya tanpa dosa. Tiba-tiba, ponselnya bunyi. “Alhamdulillah, orderan masuk.” Si abang pun menyalakan motornya, meninggalkan Dimas yang bengong kena mental.
Sambil menggerutu, Dimas mulai bergegas menaiki anak tangga sambil lompat-lompat kecil ala parkour.
Tapi baru sepuluh anak tangga, paru-parunya yang biasa rebahan langsung ngajuin surat protes. Larinya turun derajat jadi jalan cepat.
Dua puluh anak tangga, keringat mulai membanjiri pelipisnya.
Tiga puluh anak tangga. “NGIIIK … HOSH … NGIIIK … HOSH ….” Napasnya tersengal di balik masker, bunyinya kayak robot asma.
Empat puluh anak tangga, dunia terasa berputar. Ia terpaksa berhenti, bersandar di dinding gang yang kotor. Oksigen di balik maskernya terasa menipis. Dengan berat hati, ia melepas maskernya sejenak, menghirup udara dengan rakus. Tak lama, dari balik semak muncullah makhluk gaib seperti onggokan lumpur. Dimas buru-buru pakai maskernya lagi, lebih baik sesak napas daripada harus berurusan dengan monster itu.
Lima puluh anak tangga. Kakinya udah selemes bakmi. Dengan harga diri yang terkikis habis, ia mulai merangkak, menggunakan tangan dan lututnya untuk menaiki sisa tangga.
Akhirnya tangan Dimas yang kotor menggapai tepi tangga terakhir. Dengan sisa-sisa tenaga, ia gemetaran mengangkat badannya hingga terkapar sampai ke puncak. Seluruh tubuhnya kini berlapis lumpur, lumut, ludah, lendir, dan entah apa lagi.
Dengan mata berkunang-kunang, Dimas memaksa dirinya untuk fokus pada pemandangan di seberang jalan. Ia pun melihatnya. Sosok gadis bercadar hitam itu mendekati seorang nenek yang sedang menyapu teras ruko. Mereka saling mengucap salam singkat. Dengan gerakan yang penuh hormat, gadis itu meraih dan mencium tangannya.
Lalu, terjadilah semacam perdebatan bisu yang hanya bisa Dimas lihat. Gadis itu mencoba mengambil alih sapu lidi, tapi si nenek menggeleng cepat, menarik kembali sapunya sambil balas bicara—sepertinya sedikit mengomel. Gadis itu tampak mengalah dan menurut saat disuruh masuk ke dalam ruko.
Terdengar samar suara pintu terbuka. Tak lama kemudian, setelah selesai nyapu, ibu tua itu tersenyum puas dan ikut masuk ke dalam.
Akhirnya, kutemukan rumah gadis itu. Berpegangan pada sebuah pohon, Dimas memaksa dirinya berdiri. Dimas menyipitkan mata, berusaha fokus pada plang nama di atas ruko tersebut.
Nama itu terasa familiar. Sangat familiar. Kok rasanya nggak asing, ya? Kayaknya itu ….
Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. Ia membongkar tas punggungnya dengan panik, lalu menarik keluar stopmap birunya. Dengan jari-jari yang kotor, ia membuka lembaran daftar lowongan kerja. Matanya mencermati kertas itu. Baris pertama: PT Printing Prima Karya, sudah dicoret.
Lalu matanya berhenti di baris kedua. Dimas terbelalak. Ia menatap nama di kertas itu, lalu kembali menatap plang ruko di seberang jalan. Cocok. Sama persis.
“LAYLA BADAR”
Dimas lemas.
Oh, tidak. Dari semua neraka dunia, kenapa harus di sini?
Materi terakhir telah tertutup bersamaan dengan aroma sisa praktikum yang menguap di udara kelas. Azura berdiri di depan meja laboratoriumnya, merapikan beberapa catatan dengan gerakan yang tenang dan khidmat. Ia kemudian menengadah, menatap kedua muridnya dengan binar mata yang jernih."Alhamdulillah," ucap Azura lirih namun terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan. "Puji syukur kepada Sang Pemilik Segala Aroma, seluruh materi telah tuntas kita pelajari bersama. Tidak ada lagi teori yang tersisa, yang ada kini hanyalah pembuktian."Ia menjeda sejenak, membiarkan suasana senyap itu menekankan bobot kata-katanya. "Satu minggu setelah hari raya Idul Fitri nanti, kompetisi 'Legenda Layla' akan resmi diadakan. Ini bukan sekadar ujian, melainkan perjalanan untuk memanggil kembali ingatan yang telah lama hilang."Azura
Kabar itu datang seperti petir di siang bolong bagi Dimas. Azura tumbang karena kelelahan, dan di saat yang sama, Layla Badar menerima pesanan masif: sepuluh ribu botol parfum yang harus selesai dalam waktu singkat."Secara kontrak, kau itu pustakawan aroma, Dimas. Tugas kau melayani tamu dan menawarkan parfum, bukan meracik," ujar Pak Badar sambil menyiapkan meja lab."Saya mau bantu, Pak. Di luar jam kerja tidak ada masalah," balas Dimas tegas. Ia tidak bisa diam saja membayangkan Azura yang sedang terbaring sakit sementara beban toko menumpuk.Malam itu, laboratorium Layla Badar menjadi saksi sebuah kerja keras. Dimas terpaku melihat kecepatan tangan Pak Badar. Namun, yang lebih mengejutkan adalah Eyang. Wanita tua itu bergerak sedikit lebih cepat, tangannya menari di antara botol-botol esens dengan presisi yang
Aroma sabun yang segar masih menguar dari tubuh Dimas saat ia duduk di ruang tengah. Matanya berbinar menatap sebuah meja kayu yang sudah tertata rapi. Di sana, Pak Badar duduk bersila dengan tenang, tangannya bertumpu pada sebuah tudung saji anyaman tua yang menyembunyikan harta karun paling berharga di dunia."Kau siap?" tanya Pak Badar dengan nada penuh misteri.Dimas mengangguk mantap, napasnya tertahan."Saksikanlah!" Pak Badar mengangkat tudung saji itu dengan heroik.Seketika, cahaya putih menyilaukan keluar dari bawah tudung tersebut. Dimas refleks memicingkan mata. Saat sinar itu mereda, wajahnya tampak begitu takjub, di hadapannya tersaji hidangan yang baru saja turun dari langit."Sayur bening tanpa garam!" teriak
Di dalam dimensinya, Dimas sedang berpesta. Ia melenting ringan, berputar di udara, dan mendarat dengan ujung kaki yang lincah di atas matras. Di sekelilingnya, belasan prajurit chibi Bergamot—dengan perut buncit dan helm kulit jeruknya—berlarian kacau."Eits, ketinggalan!" goda Dimas sambil melompat melewati kepala salah satu monster mungil itu. Ia menyentil daun di helm mereka satu per satu, membuat mereka terjungkal seperti bola pingpong. Dimas tertawa, rasa percaya dirinya membubung tinggi. Hidungnya kini terasa seperti benteng yang tak tertembus. "Ayo, cuma segini kemamp—"Tiba-tiba, cahaya di sekitarnya meredup. Sebuah bayangan masif merayap cepat dari arah belakang,
Pak Badar berdiri bersedekap, matanya yang tajam mengawasi Dimas yang baru saja menyelesaikan set burpees terakhir dengan napas menderu. Keringat membanjiri matras, namun satu hal yang biasanya menjadi penutup rutin sesi mereka tidak kunjung terjadi. Tidak ada suara mual, tidak ada tubuh yang tersungkur memegangi perut, dan tidak ada muntahan di lantai."Dimas," panggil Pak Badar, suara beratnya bergema di langit-langit gym yang sunyi. "Kau masih berdiri. Bagus."Dimas menyeka peluh di kening dengan lengan bawahnya yang kini tampak lebih kokoh. "Badan saya terasa ... ringan, Coach. Tidak ada rasa mual sam
Layar gawai di tengah meja itu menampilkan pendar cahaya biru yang tajam. Di sana, Chad berdiri dengan kemeja slim-fit yang sempurna, memegang sebuah alat sensor berbentuk futuristik yang mendesis halus saat menyedot partikel udara di sekitarnya."Dengan teknologi Headspace terbaru ini," ucap Chad ke arah kamera dengan senyum kemenangannya, "rahasia alam bukan lagi misteri. Di masa depan yang dekat, saya bisa merekonstruksi aroma apa pun ke dalam kode digital. Keabadian kini ada dalam genggaman kita."Melia dan Yunita memekik gemas, mata mereka berbinar menatap siaran langsung tersebut."Gila, Rara! Dengan bantuan Chad, Layla Badar bakal meroket







