Home / Pendekar / PEDANG NAGA LANGIT / Bab 87 – Perjalanan ke Medan Perang Baru

Share

Bab 87 – Perjalanan ke Medan Perang Baru

Author: Andi Iwa
last update Last Updated: 2025-04-13 08:15:46

“Apa... mereka sudah menyeberangi Sungai Jing?” Suara Panglima Wei terdengar berat, menggantung di udara seperti awan gelap sebelum hujan badai. Angin pagi di halaman istana terasa dingin menusuk, seolah menyesap ketegangan dari seluruh penjuru kekaisaran.

Li Feng berdiri di sampingnya, mengenakan zirah perang yang baru saja diserahkan oleh istana. “Benar, Panglima. Utusan dari Benteng Liang membawa kabar bahwa pasukan Negeri Barat sudah membakar dua desa perbatasan.”

“Celaka! Mereka datang lebih cepat dari yang kita perkirakan!”

Deg. Hati Li Feng mencelos. Ia baru saja menyelesaikan pertarungan hidup-mati dengan Jenderal Zhao, luka di dada belum benar-benar sembuh, dan kini... perang lain menanti.

Kaisar memandang ke kejauhan dari balkon utama istana. “Li Feng,” ucapnya pelan, tapi penuh tekanan. “Sebagai Jenderal Muda Kekaisaran, aku tugaskan engkau memimpin lima ribu pasukan utama menuju perbatasan barat. Negeri ini tak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 144: Kekalahan di Lembah Tujuh Langit

    Bumi bergetar di bawah kaki Li Feng, tanah yang menjadi saksi dari perjuangan terakhirnya kini mengalirkan darah dan debu. Lembah Tujuh Langit, tempat yang dulu dijuluki sebagai tempat suci bagi para pendekar, kini berubah menjadi medan pertempuran yang dipenuhi dengan kematian dan kehancuran. Pedang Naga Langit, yang telah menjadi simbol kekuatan dan takdir, kini terasa lebih berat dari sebelumnya. Li Feng memegang pedang itu dengan tangan gemetar, matanya yang penuh rasa kehilangan menatap ke arah medan perang yang telah hancur. “Lembah Tujuh Langit…” bisiknya, suara itu hampir hilang oleh gemuruh pertempuran. Ia mengingat masa-masa indah ketika tempat ini masih menjadi rumah bagi para pendekar sejati. Namun kini, tempat itu telah jatuh, dihancurkan oleh pasukan Shen Lu yang dipimpin oleh Jenderal Bayangan. Pasukan mereka tak terhitung jumlahnya, dan meskipun Li Feng bersama Jenderal Bai hanya memiliki 3000 pasukan tersisa, mereka telah berjuang mati-matian, mempert

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 143: Keputusan Mei Yue

    Dunia itu terasa asing—terlalu sunyi, terlalu kosong. Mei Yue terbangun di tanah yang tidak dikenalnya, hanya mendengar desir angin yang dingin menyapu wajahnya. Langit, di sini, berwarna kelabu, hampir seperti mendung yang tak pernah menebar hujan. Tanah yang diinjaknya berdebu, kasar dan keras, seperti dunia yang sudah lama terlupakan. Namun, hatinya yang terguncang belum sempat memikirkan hal-hal itu. Pikirannya masih terikat pada kenyataan pahit yang baru saja ia alami. Li Feng—suaminya, pria yang telah menjadi seluruh hidupnya—sudah terpisah darinya. Ia melihat bayangannya, wajahnya yang begitu akrab, namun bukan Li Feng yang ia kenal. Wajah itu adalah wajah yang penuh kebencian, kegelapan yang merasuki segala pikiran dan perasaan. "Tidak..." Mei Yue berbisik, suaranya serak, bahkan untuk dirinya sendiri. "Tidak mungkin." Dunia ini adalah cermin dari dunia yang telah ia tinggalkan. Cermin yang menunjukkan wajah Li Feng, namun bukan y

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 142 – Dunia Cermin

    Mei Yue terbangun dengan perasaan tercekik, seolah seluruh napasnya ditahan oleh suatu kekuatan yang tak terlihat. Matanya terbelalak, mencoba menangkap jejak dunia yang ia kenal. Namun, yang ia temui hanyalah kekosongan yang mengerikan, dunia yang tampak seperti bayangan dari yang pernah ada. Langit di atasnya berwarna abu-abu, seakan-akan langit itu tak pernah tahu bagaimana warna biru yang sesungguhnya. "Di mana ini?" suara Mei Yue tercekat, namun tak ada yang menjawab. Hanya gema suaranya yang bergema kembali, menyebar tanpa arah. Ia mencoba bangkit, tubuhnya terasa lemah, seolah seluruh energinya terhisap keluar dari tubuhnya saat ia tersedot ke dalam celah realitas beberapa waktu yang lalu. Berkali-kali ia menatap sekeliling, matanya mencari-cari petunjuk apa yang telah terjadi. Dunia ini, yang begitu familiar dan sekaligus asing, seakan terdistorsi dalam setiap detilnya. Bangunan yang pernah dikenalnya kini terlihat seperti siluet tanpa wujud, ru

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 141 – Perang Dua Pedang

    Langit di atas Lembah Tujuh Langit seakan menjadi saksi bisu dari pertarungan yang akan mengubah nasib dunia. Dua pedang, dua jiwa, dua takdir yang saling bertabrakan. Li Feng berdiri tegak di hadapan lawannya, Jenderal Bayangan, kembaran dirinya, dengan Pedang Naga Langit di tangannya. Keringat mengalir di pelipisnya, wajahnya tegang, namun matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Pedang di tangan kanan Jenderal Bayangan bersinar gelap, seperti bayangan yang siap menelan segalanya. Itu adalah Pedang Naga Kegelapan—ciptaan Shen Lu, senjata yang diciptakan untuk menandingi Pedang Naga Langit, pedang legendaris yang kini dipegang Li Feng. Kedua pedang ini, simbol cahaya dan kegelapan, menjadi lambang dari pertarungan yang lebih besar dari sekadar duel antara dua individu. Ini adalah pertarungan antara dua dunia, dua kekuatan yang tak bisa dipisahkan. "Ini adalah takdir kita, Li Feng," suara Jenderal Bayangan terdengar, berat dan dingin. "Kau dan ak

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 140 – Saudara dari Dunia Lain

    Li Feng terengah-engah, napasnya terputus-putus, matanya terbelalak seiring dengan pelan terbukanya rahasia yang paling kelam dari pertempuran yang tak kunjung berakhir. Di hadapannya, Jenderal Bayangan, musuh yang selama ini mengancam kehidupannya, berdiri tegak. Wajah yang terungkap setelah topeng itu terkelupas, membuat dunia terasa berputar. Ternyata, wajah yang tertangkap oleh matanya adalah wajahnya sendiri. Li Feng mengusap wajahnya dengan tangan yang gemetar, seolah mencari pegangan. Tetapi, betapa pun ia mencoba untuk menegaskan apa yang dilihatnya, kenyataan itu tetap mengguncang jiwanya. Apa yang baru saja terjadi? Jenderal Bayangan, pria yang telah mengorbankan begitu banyak dalam peperangan ini, ternyata… sama seperti dirinya. "B-Bukan mungkin," Li Feng bergumam pada dirinya sendiri. Tangan yang memegang Pedang Naga Langit terasa lebih berat dari biasanya. Ia hampir tidak bisa mengendalikan pikirannya yang berkecamuk, yang se

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 139 – Topeng Jenderal Bayangan

    Li Feng berdiri dengan napas terengah-engah di tengah medan perang yang terbakar. Api masih menyala di sekelilingnya, melahap sisa-sisa pasukan yang kalah dan menimbulkan asap pekat yang mengaburkan pandangan. Namun, segala kekacauan ini tidak lagi menghalangi pandangannya. Semua perhatiannya tertuju pada satu sosok, yang berdiri di hadapannya, seperti bayangan yang tak bisa disentuh oleh api. Jenderal Bayangan. “Ha!” Li Feng mengangkat Pedang Naga Langit, menghunusnya ke udara. Setiap kilatan pedang itu menciptakan cahaya yang bersinar lebih terang dari api yang menghanguskan tanah. Di hadapannya, Jenderal Bayangan berdiri dengan tenang, matanya yang tersembunyi di balik topeng perak memancarkan aura dingin, tak bisa dibaca. “Mereka bilang kau tak akan bisa menembus pertahananku,” kata Jenderal Bayangan dengan suara serak yang menggema di telinga Li Feng. “Namun kau terus datang. Keterampilanmu memang luar biasa, tetapi kau belum cukup kuat.”

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 138 – Jebakan Api dari Langit

    Lembah Tujuh Langit telah menjadi saksi bisu dari ribuan pertarungan legendaris. Terkubur dalam sejarah panjang yang berabad-abad, tempat ini terkenal sebagai medan yang hanya bisa ditaklukkan oleh mereka yang benar-benar memiliki jiwa seorang pendekar. Namun, saat ini, tanah yang dipenuhi dengan aura kekuatan tersebut terasa semakin sunyi dan mencekam. Hanya ada dua pasukan yang mengisi kesunyian itu, satu pasukan yang terdesak, dan satu lagi yang datang dengan harapan untuk merenggut kehidupan mereka. Li Feng berdiri di bibir jurang yang menatap lembah yang terhampar luas di bawah kakinya. Hanya ada tiga ribu prajurit yang tersisa di pihaknya—pasukan yang tersisa setelah bertahan melawan serangan pasukan Shen Lu yang tak kenal ampun. Angin malam yang dingin berdesir melalui rambutnya, menciptakan ketenangan yang seolah bertentangan dengan pertempuran yang sudah di depan mata. “Bai,” panggilnya, suaranya sedikit tercekat, “Apakah kau yakin ini satu-satunya cara?”

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 137 – Satu Pasukan Terakhir

    Lembah Tujuh Langit—tempat yang dikenal sebagai tanah suci bagi para pendekar sejati—menjadi saksi dari perjuangan yang semakin mendekati garis akhir. Di sini, Li Feng berdiri tegak di samping Jenderal Bai, memandang lurus ke depan dengan tatapan tajam yang tak terhalang. Di belakang mereka, tiga ribu pasukan yang tersisa, masing-masing dengan wajah yang penuh keteguhan, namun tak bisa menutupi ketegangan yang terasa di udara. "Jenderal Bai," suara Li Feng menggema di antara batu-batu besar yang mengelilingi lembah. "Ini adalah satu-satunya tempat di mana kita bisa bertahan." Jenderal Bai mengangguk perlahan, meski raut wajahnya penuh kerut mendalam, seolah beban sejarah masa lalunya kembali menghantui setiap langkah yang ia ambil. "Tujuh Langit... tempat ini menyimpan banyak rahasia," jawabnya, suaranya serak. "Dan aku tidak yakin kita akan keluar dari sini hidup-hidup." Li Feng merasakan beratnya kata-kata itu, namun ia tahu bahwa pilih

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 136 – Pertarungan Jiwa Jenderal Bai

    Li Feng berdiri tegap di hadapan gua yang gelap. Udara di sekitar Padang Asin ini terasa lebih berat dari biasanya. Angin yang seharusnya menyegarkan malah menambah kesan angker, menggulung sepi yang semakin menyesakkan. Pikirannya berkelana, meraba ke segala arah, berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk menyentuh hati seorang pria yang telah terasing begitu lama—Jenderal Bai. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa mengubah arah pertempuran yang akan datang. Bai, yang dulu dikenal sebagai Jenderal Perang terkuat, kini tinggal bayangannya sendiri, seolah terlupakan oleh dunia. Namun, ada satu hal yang Li Feng tahu pasti: hanya Bai yang bisa menghentikan pasukan Shen Lu yang datang bagaikan badai, menggulung semua yang ada di hadapannya. Li Feng melangkah memasuki gua, diikuti oleh Putri Ling’er yang setia. Setiap langkahnya terasa semakin berat. Mereka mendekati tempat di mana Bai mengasingkan diri, tempat di mana dia memilih untuk melupakan semua

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status