Home / Rumah Tangga / PELAN PELAN SAYANG / 393 - MOBILNYA DITEMUKAN DITENGAH HUTAN?

Share

393 - MOBILNYA DITEMUKAN DITENGAH HUTAN?

last update Last Updated: 2025-11-24 19:52:45

Pukul 10 malam, Gendis baru saja terbangun dari tidurnya dan mendapati Rain duduk di kursi kerja sambil menatap monitor dengan mata lelah.

“Sayang? Belum tidur?” tanya Gendis pelan, suaranya masih serak. Ia bangkit perlahan dan memeriksa bayinya yang terlelap di ranjang kecilnya.

“Belum. Tanggung... biar besok bisa tiduran siang,” ucap Rain sambil mengurut keningnya, lalu tersenyum tipis pada Gendis meski jelas terlihat capek.

“Aku ambilin susu buat kamu, ya,” ucap Gendis sambil turun dari ranjang dan mengikat tali piyamanya yang longgar.

“Jangan, Sayang. Saya aja...” ucap Rain cepat sambil bangkit dari kursi dan mendekatinya.

“Aku aja deh. Kamu pasti capek. Tadi teman Mas pulang jam berapa?” tanya Gendis sambil tersenyum lembut menatap suaminya.

“Jam berapa ya... jam sembilan deh kayaknya. Tunggu, Sayang. Saya ambil susu dulu,” ucap Rain sambil mengusap bahu Gendis sebelum keluar kamar.

“Oke...” sahut Gendis pelan. Ia kemudian mendekati meja kerja Rain dan melihat apa s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PELAN PELAN SAYANG   525. NIAT HATI MEMPERMALUKAN ANAK MANTU, MALAH...

    “Sayang, ini pasti Mama yang sengaja menghubungi mereka semua buat datang ke rumah kita, kan?” tanya Gendis dengan nada cemas. Ia segera berganti pakaian menggunakan celana kulot berwarna cokelat tua dan kaus oblong putih polos. Rambut pendek sebahunya ia biarkan terurai rapi, memberikan kesan sederhana namun tetap bersahaja.“Iya, Sayang, itu udah pasti. Udah, nggak perlu khawatir, ayo kita temui mereka sekarang,” sahut Rain dengan nada rendah. Ia mengangkat tubuh Bima yang sedang terlelap dengan sangat hati-hati, memindahkannya ke dalam ranjang bayi berukuran besar yang terletak di sudut kamar mereka agar putranya bisa tidur dengan lebih nyaman.Setelah memastikan Bima aman, keduanya melangkah keluar kamar. Rain menggenggam erat jemari Gendis saat mereka berjalan menuju ruang tengah, tempat keluarga besar sudah menunggu dengan berbagai macam ekspresi.“Mas Cipta jam berapa sampai di sini, Mas?” tanya Gendis pelan sambil terus berjalan bergandengan tangan dengan suaminya.“Sebentar l

  • PELAN PELAN SAYANG   524. KELUARGA BESAR DATANG

    “Dia udah tidur, Sayang. Lihat, dotnya udah lepas sendiri,” bisik Gendis dengan suara nyaris tak terdengar. Ia tersenyum tipis sembari perlahan mengambil botol susu dari tangan mungil Bima agar tidak membangunkan jagoan kecil mereka yang baru saja terlelap.Rain melangkah mendekat, lalu melingkarkan lengannya di bahu Gendis. Ia menarik istrinya ke dalam pelukan hangat yang terasa penuh beban.“Saya minta maaf ya, Sayang. Perbuatan Mama saya udah terlalu menyakiti anak kita. Saya benar-benar gagal menjaga dan mencegah semuanya” ucap Rain dengan nada yang bergetar hebat. Ada ketulusan sekaligus kemarahan yang tertahan dalam setiap kata yang diucapkannya.Gendis mendongak, menatap mata suaminya yang tampak kuyu dan dipenuhi rasa bersalah. “Iya, Mas... Aku udah memaafkan, tapi memang butuh waktu untuk melupakan semuanya,” sahut Gendis lembut, mencoba menjadi pilar kekuatan bagi suaminya.Rain terdiam sejenak. Ia melepaskan pelukannya, lalu menyugar rambutnya dengan frustrasi. Langkah kaki

  • PELAN PELAN SAYANG   523. IBU RAIN MALAH MENGADU PADA KELUARGA BESAR

    “Sayang, kira-kira... Mama bakal ngamuk nggak?" tanya Gendis cemas. Tangannya dengan telaten menyeka sisa makanan di mulut Bima menggunakan tisu basah, sementara Yuni sigap merapikan kursi bayi dan membersihkan remahan di sekitarnya.“Dia nggak akan banyak bicara lagi, Sayang. Saya udah mengaturnya sama Cipta ," sahut Rain tenang. Ia kemudian menoleh ke arah asisten rumah tangganya. "Yuni, gimana sama Omanya Bima? Dia udah makan?"Rain bersiap beranjak dari meja makan bersama Gendis dan Bima.“Tadi saya iseng mengecek di ruang monitor, Pak. Omanya makan banyak banget, makannya lahap," lapor Yuni sembari merapikan sisa alat makan di meja.“Baguslah kalau gitu," ucap Rain singkat.Gendis hanya bisa mengangguk pelan, merasa sedikit lega namun tetap waspada. Mereka berdua segera meninggalkan ruang makan pagi itu, memulai hari dengan beban yang sedikit terangkat namun penuh rencana baru.“Jadwal pasien hari ini jam sebelas siang, ya, Mas... Dan ada lagi jam dua siang dan jam empat sore,” u

  • PELAN PELAN SAYANG   522. RAIN DAN CIPTA SEPAKAT AKAN MEMENJARAKAN IBUNYA

    “Apa buktinya cukup?” tanya Cipta dingin. Pertanyaan itu seketika menambah ketakutan Wanda yang berdiri di sisinya.“Sayang... jangan, dong...” bisik Wanda lirih pada suaminya, memohon agar Cipta tidak menanggapi niat Rain secara profesional sebagai polisi. Namun, Cipta hanya diam, mencengkeram jemari Wanda dengan erat tanpa menoleh sedikit pun padanya. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada laporan Rain.“Bukti lebih dari cukup. Rekaman CCTV sangat jelas menunjukkan kejadiannya. Gendis juga udah foto bekas memar merah di tangan dan kaki Bima sebagai bukti tambahan,” sahut Rain dengan nada bicara yang sangat serius dan tanpa keraguan.Di seberang meja, Gendis tampak sangat tenang. Ia seolah tidak terganggu dengan pembicaraan suaminya yang sedang membahas kemungkinan memenjarakan ibu mertuanya sendiri. Dengan santai, Gendis terus menikmati sarapan paginya sembari sesekali menyuapi Bima, seakan-akan keberadaan ibu mertuanya yang sedang dikurung di kamar sebelah sudah tidak lagi memiliki ruang

  • PELAN PELAN SAYANG   521. EFEK JERA DARI RAIN UNTUK SANG IBU

    “Yuni…” Gendis baru saja keluar dari kamar tidurnya sembari menggandeng tangan mungil Bima.“Iya, Bu…” sahut Yuni yang segera berlari kecil mendekati Gendis. Bima tertawa riang melihat kedatangan Yuni, seolah-olah ia baru saja melihat teman bermainnya sendiri.“Omanya masih ngomel?” tanya Gendis pelan saat mereka melangkah di lorong kamar.“Tadi masih, Bu. Cuma kata Pak Rain pintu nggak usah dibukain dulu,” bisik Yuni yang kemudian membalas senyum lebar Bima.“Iya, nggak usah dibukain. Biar kapok,” sahut Gendis tegas namun tenang. “Sarapan pagi udah siap?”“Udah semua, Bu, termasuk punya Oma Bima. Tadinya mau saya antarin ke kamar, tapi saya takut…” akui Yuni jujur. Sementara itu, Bima langsung berlarian menuju ruang tengah begitu mendengar suara dari siaran TV kesukaannya yang mulai diputar.“Ya udah, biar nanti suami aku aja yang urus. Kamu udah makan? Jangan nunggu disuruh, makan aja kalau lapar, ya,” ucap Gendis perhatian sembari melangkah menuju ruang makan.“Tenang, Bu… udah dua

  • PELAN PELAN SAYANG   520. PAGI PAGI, IBU RAIN SUDAH MEMBUAT ULAH

    “Kurang ajar! Nggak ada yang mau buka pintu ini?! Yuni! Yuni, buka pintunya! Kurang ajar kamu, pembantu sialan!” teriak Ibu Rain sambil menggedor pintu kamar Bima dengan brutal. Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang asisten rumah tangga.Setelah lelah berteriak, ia kembali mencoba menghubungi Wanda. "Kalau sampai dia nggak menjawab juga, aku anggap dia sudah mati," geramnya ketus. Ia masih menyimpan dendam karena panggilannya semalam diabaikan begitu saja.Di tempat lain, suasana tampak jauh lebih tenang namun menyimpan kesan berbahaya.“Sayang... mama kamu telepon, nih...” ucap Cipta santai. Pagi itu, ia sedang sibuk menyiapkan sarapan di ruang makan. Handuk putih masih melilit pinggulnya, sementara sebuah earphone terpasang di salah satu telinganya.Di atas meja makan, sebuah walkie-talkie tergeletak dan terus mengeluarkan suara statis serta potongan percakapan beberapa anggota kepolisian. Saat ia bergerak, sebuah tato berinisi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status