Home / Rumah Tangga / PELAN PELAN SAYANG / 50 - DIPAKSA BERPISAH. RAIN MAU MENINGGALKAN GENDIS?

Share

50 - DIPAKSA BERPISAH. RAIN MAU MENINGGALKAN GENDIS?

last update Last Updated: 2025-08-22 14:56:24

“Dia… ada di sini, Ma,” ucap ayah Rain dengan nada terkejut kala melihat Gendis baru saja keluar dari ruangan Rain. Perempuan itu tampak membawa dompet, seolah hendak membeli sesuatu di luar gedung klinik.

“Maksudnya? Gendis ada?” tanya ibu Rain, matanya membelalak.

“Iya, dia baru saja keluar dari ruangan Rain,” jawab ayahnya dengan suara menahan resah.

“Nekat banget, Pa. Jangan-jangan mereka…” desis ibu Rain dengan penuh kecurigaan.

“Ma, jangan berpikir aneh-aneh dulu. Ini klinik,” potong ayah Rain dengan nada menahan emosi.

“Mama nggak sabar. Mama mau ke sana sekarang juga!” sergah ibunya dengan nada tinggi.

“Ma, sabar… masih ada satu pasien lagi di dalam,” ucap ayah Rain mencoba menenangkan, lalu menarik lengan istrinya agar duduk bersandar di kursi tunggu.

Tak lama kemudian, Gendis kembali masuk ke ruangan Rain sambil membawa dua gelas kopi hangat yang baru saja ia beli dari coffee shop terdekat.

Beberapa menit kemudian, pasien terakhir meninggalkan ruangan. Saat itulah ib
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PELAN PELAN SAYANG   567. RAIN DAN CIPTA SEDANG BERHADAPAN DENGAN MARTHA.

    “Rain? Cipta?” tanya Martha dengan suara parau saat melihat keduanya melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini beraroma lavender itu. “Ma...” Cipta menyapa ibu mertuanya dengan nada ramah yang dipaksakan. Ia berusaha menekan rasa sesak di dadanya melihat wanita yang biasanya angkuh itu kini tampak begitu rapuh. Keduanya duduk dengan jarak yang cukup lebar dari sang ibu di atas sofa yang sama, menciptakan ruang kosong yang seolah menggambarkan jurang pemisah di antara mereka. Rain hanya terdiam, matanya menatap lekat jemari ibunya yang gemetar. “Kalian udah makan?” tanya Martha sambil melirik deretan makanan enak di atas meja. Hidangan itu sengaja disiapkan oleh Cipta sebelum ia harus mengikuti rapat penting di lantai lima bersama para petinggi kepolisian lainnya. “Udah, Ma...” sahut keduanya nyaris bersamaan. Jawaban singkat itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan. Martha mengangguk-angguk pelan, lalu pandangannya mulai berkeliling ruangan seolah m

  • PELAN PELAN SAYANG   566. RAIN DAN CIPTA MELIHAT SENDIRI

    “Dia bisa ketawa seolah-olah dia nggak pernah menyakiti Gendis atau hampir mencelakai Bima. Apa dia benar-benar sakit, atau ini hanya perlindungan dirinya agar tidak masuk penjara?” ucap Cipta sambil melirik Rain sekilas.Rain tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan bagaimana Dokter Retno merespons tawa Martha dengan anggukan kecil yang empati, namun matanya tetap jeli mengobservasi.“Dalam psikologi, ada yang disebut represi, Cipta. Dia mengubur ingatan yang membuatnya merasa bersalah dan hanya memunculkan yang indah-indah aja. Tapi kita harus pastikan apakah ini permanen atau cuma akting sesaat,” balas Rain tenang, meski hatinya pun ikut geram melihat manipulasi emosi di depan matanya.“Kamu sedikit banyak paham kondisi kayak gini, Rain,” ucap Cipta sambil melirik iparnya itu sekilas.Rain mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari sosok ibunya di balik kaca. “Saya memang psikolog reproduksi, walau kedengarannya jauh, tapi kami para psikolog mempelajari bagaimana pasien berbicara,

  • PELAN PELAN SAYANG   565. MARTHA BOLEH LUPA. TAPI KITA SEMUA INGAT!

    Kembali ke suasana di kantor polisi yang mulai memanas. Cipta melangkah dengan tegas menyusuri lorong setelah keluar dari ruang rapat di lantai lima. Seragam kepolisiannya tampak rapi, namun wajahnya menunjukkan guratan kelelahan setelah berhadapan dengan para petinggi. Sambil berjalan menuju tangga, ia menempelkan ponsel ke telinga.“Halo, Gendis? Rain udah jalan ke sini?” tanya Cipta pagi itu. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai keramik menggema di sepanjang lorong sunyi.“Oh, Mas Cipta. Udah dari tadi, kok. Mungkin sebentar lagi sampai atau malah udah di parkiran,” ucap Gendis dari seberang telepon. Di latar belakang, terdengar suara tawa kecil Bima yang sedang asyik bermain.“Oke, thanks. Sorry ganggu pagi-pagi. Salam kangen buat Bima ganteng dari uncle pakde, ya,” ucap Cipta sambil tersenyum tipis, sejenak melupakan ketegangan kasus Martha saat mendengar nama keponakannya.“Ahahaha... siap deh, Pakde Uncle!” sahut Gendis ceria sebelum mengakhiri percakapan tersebut.Cipta m

  • PELAN PELAN SAYANG   564. TINGKAH ANEH MARTHA. GERAK GERIK RETNO.

    “Ya, Cipta. Gimana?” sahut Rain sambil mengunyah makanannya dengan tenang. “Rain, nanti ke kantor, kan?” tanya Cipta yang suaranya terdengar renyah, seolah sedang menikmati sarapan pagi yang hangat bersama Wanda. “Iya, ke sana. Sesuai pesan kamu semalam,” ucap Rain. Ia melirik Gendis yang duduk di sampingnya, mencoba mencari ketenangan di mata istrinya sebelum menghadapi kerumitan urusan ibunya kembali. “Oke. Soalnya Dokter Retno jam tujuh nanti mau ke sana. Kamu harus jadi wali Mama juga untuk persetujuan pengobatan beliau,” tutur Cipta. Suaranya kini sedikit merendah, menyadari betapa berat beban yang harus dipikul Rain untuk menghadapi kondisi psikis Martha. “Oh, oke,” balas Rain singkat. Ia mengangguk pelan, meski dalam hati ada sedikit rasa pahit yang tersisa setiap kali nama sang ibu disebut sebagai pasien. “Bima mana? Biasa... Wanda kangen nih,” ucap Cipta kembali ceria, mencoba mencairkan suasana. “Oh, ada dong. Video call aja,” sahut Rain. Ia segera mengusap layar

  • PELAN PELAN SAYANG   563. TELEPON DARI SIAPA?

    Suasana kamar yang tadinya penuh kecemasan berubah drastis saat matahari pagi mulai naik. Ketukan sopan dari luar pintu menjadi penanda hari baru telah dimulai. “Bu... Pak... Sarapan sudah siap...” ucap Yuni, asisten rumah tangga mereka, dengan nada ramah. “Iya, Yuni! Terima kasih ya!” sahut Gendis lantang agar suaranya terdengar sampai keluar. Mendengar Yuni sudah menjauh, Rain melirik ke arah Bima yang ternyata sudah bangun sepenuhnya. Mata bulat balita itu berbinar, sisa-sisa air mata semalam telah hilang digantikan oleh binar kejenakaan. “Sarapan dulu, Sayang. Saya juga mau olahraga sebentar dan... kayaknya ada yang sudah bangun tidur nih...” ucap Rain sambil melirik jahil, berpura-pura tidak melihat Bima yang sedang berusaha menarik perhatiannya dengan senyum lebar. Gendis yang baru saja selesai mengancingkan pakaiannya setelah memberikan ASI, ikut masuk ke dalam permainan suaminya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat. “Um... masa

  • PELAN PELAN SAYANG   562. MIMPI BURUK

    Suasana hening pukul empat pagi pecah seketika. Suara tangisan Bima dari monitor bayi tidak terdengar seperti tangisan lapar biasanya; itu adalah jeritan ketakutan yang menyayat hati, seolah ia tengah terjebak dalam mimpi yang sangat buruk. “Bima?” ucap Rain dengan nada panik yang jarang ia tunjukkan. Tanpa sempat memakai alas kaki, ia segera beranjak dari ranjang dengan gerakan kilat, membuat Gendis yang sedang terlelap langsung terjaga. “Mas? Kenapa?” tanya Gendis dengan suara serak karena terkejut. Namun, begitu telinganya menangkap suara teriakan Bima yang semakin melengking dari monitor kecil di atas nakas, kesadarannya pulih seratus persen. “Bima!” Gendis segera menyibak selimut dan mengejar punggung Rain yang sudah lebih dulu berlari menuju kamar anak mereka. Jantungnya berdegup kencang, memenuhi dadanya dengan firasat buruk. Begitu pintu kamar Bima terbuka, mereka mendapati anak gempal itu sedang meronta dalam tidurnya, dengan mata yang masih tertutup rapat namun air mata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status